
"Tas lo tinggal aja, nanti biar gue yang bawa. Lo izin apapun itu ke satpam biar bisa keluar," ujar Alix memberi saran.
Devan menggeleng kagum. Laki-laki itu segera meletakkan tasnya kembali di bangkunya lalu menepuk pundak Alix berkali-kali.
"Lo emang sepupu terbaik di alam semesta ini. Thanks bro, gue pergi dulu," ujar Devan.
Alix hanya menggelengkan kepalany menatap langkah Devan yang keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun pada ketua kelasnya.
Devan keluar hanya membawa dompet dan ponselnya. Dengan beralasan ingin menemui papanya di luar sekolah, Devan mendapat izin walau hanya beberapa menit. Tentu saja Devan mengiyakan persyaratan satpam sekolahnya.
...🌻...
Tuk tuk tuk
Langkah kaki Devan memecahkan keheningan koridor rumah sakit. Dengan hoodie hitamnya Devan berjalan sambil sesekali bersiul ria. Sebuah keranjang buah di tangan kanannya tidak menyusahkan jalan Devan.
Sempat bingung akan membawakan apa, namun akhinya dia memilih membawakan Lya seperangkat buah-buah karena takut jika membawa makanan tapi Lya tidak boleh memakannya.
Mata Devan memicing menatap seseorang yang berjalan di depan dengan membawa sekotak pizza. Devan rasa dia mengenali orang ini, dengan langkah pelan dia menyamakan langkahnya dan terkejut melihat laki-laki di sampingnya.
"Papa ngapain disini?" Tanya Devan masih terkejut.
"Kamu ngapain disini?"
Devan berdecak. "Devan mau jenguk Lya. Papa ngapain?"
"Jenguk anak teman," jawab papa Devan. "Ini masih jam sekolah, kamu bolos ya?"
Devan mengeluarkan cengirannya. "Gurunya gak masuk, jadi Devan kabur deh!"
Papa Devan hanya mendengus mendengar jawaban anaknya. Mereka berjalan bersama menuju tujuan masing-masing. Saat Devan sudah sampai di depan ruangan Lya, dia kembali terkejut saat papanya ikut berhenti di depan pintu.
"Papa ngapain berhenti disini?"
"Tadi kan papa udah jawab."
"Ini ruangan Lya!"
"Ini ruangan anak teman papa, minggir!"
Bruk
Hampir saja Devan mencium lantai jika dia tidak berpegangan pada dinding. Papanya dengan tega mendorong tubuh Devan dan masuk dengan tanpa bersalah. Devan merasa sangat sakit hati dan ingin sekali berteriak mengumpati orang tua itu.
Devan mendengus lalu membuka pintu dan masuk. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah papanya yang tengah tertawa bersama dengan papi Agung dan Lya yang tengah tidur.
"Eh ada Devan juga, ayo masuk!" Ujar papi Agung.
Devan tersenyum dan masuk, dia menyalami papi Agung lalu menatap garang pada papanya.
__ADS_1
"Mata kamu mau papa colok?" Tanya papa Devan.
"Papa? Devan anak kamu?" Tanya papi Agung terlihat terkejut.
"Iya. Agung, ini Devan anak tunggalku!"
"Wah, aku gak nyangka kalau Devan anak kamu, Doni. Kebetulan sekali."
Devan hanya tersenyum simpul.
"Wah kalau pacar kamu yang ini mah papa setuju pastinya."
Devan merotasikan matanya malas. Tentu saja setuju, papanya pasti tau seberapa kaya keluarga Lya.
"Lya udah lama tidurnya ya om?" Tanya Devan mengabaikan papanya.
"Baru beberapa jam, semalam ddia gak tidur. Baru tidur jam delapan tadi terus bangun sekitar jam sepulub dan tidur lagi."
"Kenapa semalam gak tidur? Waktu di chat, dia bilang mau tidur."
"Kalau malam, Lya sering kesakitan. Tangannya lebih parah kalau malam hari."
Devan terdiam. Matanya tidak lepas dari Lya yang tengah tertidur pulas. Dengan langkah pelan, dia mendekati Lya dan duduk di kursi. Tangan Devan terulur mengusap lengan Lya.
"Keputusan dokter bagaimana?" Tanya papa Devan pada papi Agung.
Devan hanya diam mendengar ucapan papi Agung. Hatinya sakit mendengar kondisi Lya yang semakin parah.
"Tok tok.. assalamualaikum, Devan ganteng datang," ucap Devan mengetuk pipi Lya dengan telunjuknya dengan pelan.
"Devan!" Tegur papanya. "Biarin Lya istirahat!"
"Gak apa-apa! Lya udah tidur dari jam sebelas. Biarin dia bangun," ujar papi Agung tidak mempermasalahkan.
"LYAAAAA!"
Plak
"AW!" Devan mengaduh kesakitan saat Lya menepuk wajahnya dengan keras.
"Lo kalau mau ngerusuh mending keluar aja deh!" Rutuk Lya pada Devan.
"Rasain!" Celetuk papa Devan.
Devan menekuk wajahnya. "Gue ganggu ya?"
"Iya!"
"Ck.. ya udah gue keluar!"
__ADS_1
"Keluar aja!"
Devan menatap Lya tajam. Dia pikir Lya akan menahannya. "Enak aja. Gue udah capek-capek bolos, rugi banget gue kalau keluar gitu aja."
"Berisik tau gak sih!"
"Jahat banget sih lo," ujar Devan.
"Wihh ada pizza!" Lya dengan cepat mendudukkan dirinya. "Lo yang bawa?"
Devan menggeleng.
"Ini om yang bawa." Papa Devan mendekati Lya. "Kenalin, papa Doni. Calon papa mertua kmau!"
Lya tersenyum. Dia menoleh pada Devan dan Devan mengangguk membenarkan ucapan papanya.
"Widihh di jenguk papa mertua, senangnya." Ujar Lya.
Papa Devan ikut tersenyum. "Kamu cantik banget ya, pantes aja Devan suka."
"Wah iya om, Devan sampai tergila-gila sama saya. Kemarin Devan ngajak saya pacaran, karena saya kasihan jadi saya terima."
Devan melototi Lya. "Enak aja, lo sendiri yang bilang gue ganteng. Adanya lo yang tergila-gila sama gue," balas Devan tidak terima.
"Halahh, gue yakin semalam lo hanpir gila karena isi chat gue," tebak Lya membuat telinga Devan memerah.
"PD banget lo," jawab Devan.
Papa Devan tersenyum miring. "Ngaku aja. Papa dengar kamu teriak-teriak manggil nama Lya semalam. Udah kayak orang kesurupan!"
Lya tertawa melihat reaksi Devan. Papa Devan dan papi Agung juga ikut tertawa melihat Devan yang tengah menahan malu.
"Lucu banget sih pacar gue!" Lya mencoel hidung Devan membuat pipi Devan semakin merah.
"Lya stop!" Ujar Devan.
"Iya sayang!" Goda Lya.
Devan tidak bisa menahan diri. Dia menjatuhkan kepalanya ke paha Lya, menenggelamkan wajahnya yang sangat merah. Bahkan Devan menarik selimut Lya untuk menutupi kepalanya. Papa Devan dan papi Agung tertawa geli melihat tingkah Devan.
Bisa-bisanya Devan di buat seperti ini, niatnya dia ingin membalas perbuatan Lya semalam. Bukannya membalas, Devan malah dibuat semakin gila. Lya benar-benar keterlaluan.
...🌻...
...Tbc...
Kalian sudah vote belum nih? Atau hadiahnya pren? Jangan minta up up terus tapi gak support.
See you again beb.
__ADS_1