GELYA

GELYA
CHAPTERS 65


__ADS_3

Rio mencoba menenangkan diri. Dia mengangguk pelan berusaha mengurangi kegugupannya.


Sepanjang jalan Lya tidak bersuara, Rio juga hanya diam saja. Dia sudah merasa biasa saja dengan posisi Lya yang memeluknya. Mungkin dia hanya tidak terbiasa dengan sikap gadis barbar yang selalu bermasalah dengannya tiba-tiba berubah seperti itu.


Tidak memerlukan waktu yang lama, mereka sudah smapai di rumah sakit. Lya segera turun dari motor Rio.


"Lo sakit apa sih?" Tanya Rio pada Lya.


"Belum tau," jawab Lya seadanya. Mereka berjalan masuk ke rumah sakit. "Bahu gue sering sakit. Ayah nyuruh gue buat periksa ke dokter."


Rio hanya diam mengikuti langkah Lya. "Suster, dokter David nya ada?" Tanya Lya pada salah satu perawat.


"Dokter David masih ada jadwal sekarang. Tapi beliau menitip pesan kepada saya untuk mengantar mba Lya menemui dokter Rizal."


Lya hanya mengangguk dan mengikuti langkah perawat yang ada di depannya. Dia memberi kode pada Rio untuk mengikutinya.


"Dokter Rizal ada di dalam, mba Lya masuk aja."


"Makasi suster!" Lya tersenyum pada perawat itu.


"Gue ikut?" Tanya Rio saat Lya baru ingin membuka pintu ruangan.


Lya menoleh. "Lo mau tunggu diluar?" Tanya Lya sembari membuka pintu.


Rio menggeleng. Dia segera mengikuti Lya masuk ke dalam ruangan.


"Permisi," ucap Lya.


"Gelya?" Tanya seorang dokter yang Lya yakini usianya tidak jauh beda dari ayah David.


Lya mengangguk. "Iya dokter."


Dokter Rizal tersenyum. Dia memgisyaratkan kepada Lya dan Rio untuk duduk.


"Dokter David sudah membuat janji dengan saya, dia bilang anaknya akan datang. Jadi gimana kalau kita langsung mulai pemeriksaan saja, kamu pasti capek baru pulang sekolah langsung kesini?"


Lya mengeluarkan cengirannya. "Dokter tau aja!" Balasnya.


Dokter Rizal tertawa. "Jadi apa keluhan kamu?"


"Bahu saya sering sakit dok! Kadang saya ngerasa lemas banget, terus sering keringatan. Awalnya sih nyerinya hanya di lengan atas, tapi sekarang bahunya lebih sering sakit," jawab Lya menjelaskan keluahan yang sering dia alami.


Rio hanya diam menyimak.


"Kamu duduk disana dulu," ujar dokter Rizal menunjuk sebuah ranjang pesakitan yang ada di ruangannya.


Lya segera mengikuti perintah dokter. Dengan menjalani beberapa pemeriksaan bahkan sampai melakukan CT scan.


Lya dan Rio tengah duduk di depan ruangan dokter Rizal sambil menunggu hasil pemeriksaan.


"Gue jadi deg-degan banget nih," ujar Lya pada Rio.


"Lebay lo, santai aja kali," balas Rio.


Rio sebenarnya juga ikut deg-degan, dia hanya tidak ingin membuat Lya semakin takut. Laki-laki itu merasa Lya sedang sakit parah hingga harus melakukan CT Scan.


Hingga sampai dokter Rizal datang bersama ayah David. Lya dan Rio segera berdiri.


"Kita ngobrol di dalam saja!" Ujar dokter Rizal masuk ke dalam ruangannya.


Ayah David merangkul pundak Lya sedangkan tangan Lya menarik Rio untuk ikut ke dalam.


"Gimana Rizal? Anak mas gak kenapa-kenapa kan?" Tanya ayah David.


"Dari hasil pemeriksaan yang sudah kita lakukan, aku rasa Lya butuh pengobatan lebih lanjut mas."


Lya menelan ludah mendengar jawaban dokter Rizal. Dia tampak gelisah apalagi melihat ayah David yang langsung merebut hasil pemeriksaannya. Lya menoleh kearah Rio, laki-laki itu tengah tersenyum padanya. Tangannya terulur mengusap punggung tangan Lya yang ada di lututnya, Rio merasakan tangan Lya berkeringat.

__ADS_1


"Ini pasti salah Zal, kita periksa ulang aja gimana?" Tanya ayah David dengan wajah keruh.


Lya semakin yakin bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Jantungnya berpacu dengan cepat, rasanya dia tidak siap menerima keadaan. Lya menggenggam tangan Rio untuk mengurangi kepanikannya.


"Ini udah hasil akhir mas, maacin aku tapi kondisi Lya memang seperti itu."


Lya memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa yah? Lya sakit apa?"


Ayah David meremas hasil pemeriksaan yang ada di tangannya, kepalanya tertunduk tidak mampu menatap apalagi menjawab pertanyaan dari Lya.


"Dari semua hasil pemeriksaan yang kita jalani tadi, ternyata kamy mengidap kanker tulang stadium awal," jawab dokter Rizal.


Lya merasa pasokan udara di sekitarnya menghilang tiba-tiba, matanya memanas dan tubuhnya bergetar. Genggamannya pada Rio semakin mengerat, Rio bahkan tidak bisa menutupi keterkejutannya.


Ayah David berdiri dari duduknya dan memeluk Lya. "Gak apa-apa! Lya kan kuat, nanti kita berobat biar sembuh."


Lya melingkarkan tangannya di perut ayah David, air matanya mengalir tanpa isakan. Lya masih merasa syok berat, rasanya dia ingin semua ini hanya mimpi saja.


"Yang kuat ya nak, ayah yang bakal temenin Lya berobat."


Lya mencoba untuk tersenyum. "Gak apa-apa! Lya gak sedih kok, cuma kaget aja hehe," ujar Lya mencoba menghibur diri.


Lya mencoba menguatkan diri, bukankah kankernya masih stadium awal. Lya punya ayah David yang bisa mengoperasi Lya kapan saja, Lya punya dokter Rizal yang akan membantu pengobatannya. Lya ounya Diki dan Clarissa yang akan menemani dia, Lya tidak sendirian.


"Jangan bilang ke Diki sama Clarissa dulu ya yah! Biar Lya aja," ujar Lya pada ayah David saat mereka sudah keluar dari ruangan dokter Rizal.


Ayah David mengangguk. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Lya dengan sayang. "Kamu pulang duluan ya!"


Lya mengangguk. "Titip Lya ya nak Rio, tolong di antar sampai rumah."


"Iya om, om bisa percayain Lya sama saya."


Setelah pamitan pada ayah David, Lya dan Rio pergi meninggalkan rumah sakit.


"Makan dulu ya!"


"MAKAN!'


"APA?"


"KITA MAKAN DULU, GUE LAPER!" Teriak Lya pada Rio. Jika sedang tidak berada di atas motor, Lya pasti sudah memukul kepala Rio.


Rio memberhentikan motornya di sebuah tempat makan.


"Ih rame," ujar Lya melihat sekitar.


"Kalau mau sepi di hutan aja!" Balas Rio melangkah masuk.


Lya mencebik kesal. Dia mengikuti langkah Rio yang sudsh masuk ke dalam tempat makan itu.


"WOY!"


Baik Rio maupun Lya menoleh kearah salah satu meja yang ada. Mata Lya membulat melihat Lioniel bersama dua temannya juga berada disana. Rio menarik Lya mendekati teman-temannya.


"Ngapain lo bareng anak Rakasa?" Tanya Dion salah satu teman Rio.


"Gue nemu dia dijalan. Kasihan, jadi gue pungut!" Jawab Rio. Lya langsung memberikan pukulan sayang di lengan Rio.


Lioniel menarik sebuah kursi. "Duduk!" Ujarnya pada Lya.


Lya segera menduduki dirinya di samping Lioniel. "Emang gue gak boleh bareng Rio? Dia tuh tetangga gue bang. Kita teman kecil tau," ujar Lya menatap Dion.


Rio mencibir Lya. "Mana punya gue teman modelan begini!"


"Kita lagi gak punya masalah sama Rakasa. Terserah mereka aja," timpal Lioniel menyeruput kopinya.


Lya menepuk pundak Rio. "Panggil kek pelayannya, laper nih gue!"

__ADS_1


Rio mendengus kesal. Dia segera memanggil pelayan dan memesan makanan, Lya memesan banyak makanan padahal dia hanya berdua dengan Rio.


Setelah pesanan mereka datang, Lya tidak menghiraukan sekitarnya. Dia hanya fokus pada makanan yang sangat menggugah selesa.


"Kayaknya lo beneran habis mungut dia deh, kelaparan gitu, kayak gak pernah nemu makanan!" Celetuk Arga yang duduk di samping Rio.


Rio tersenyum miring. "Gak pernah makan enak makanya begitu!"


Lya menyelesaikan makannya dan membersihkan mulutnya dengan tisu. "Gak usah ngeremehin, gue tabok pakek black card nyahok lo!" Balas Lya menyeruput jus alpukat yang dia pesan.


"Gaya lo black card!" Cibir Dion.


Lya hanya merotasikan matanya malas. Tangannya terangkat memanggil pelayan yang berada tidak jauh dari meja mereka.


"Minta bill nya dong mba, sekalian sama mereka juga," ujar Lya menunjuk Lioniel dan teman-temannya.


Pelayan itu segera kembali ke meja kasir dan mengambil kertas tagihan yang Lya minta.


"Lo mau bayarin kita juga?" Tanya Lioniel yang diangguki Lya. "Gak usah! Gue gak miskin."


"Ho'oh mau di taruh dimana muka gue kalau dibayarin sama lo!" Dion ikut menolak.


"Gue mah terima-terima aja, kan lo udah janji bakal traktir gue!" Celetuk Rio menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar!" Arga tersenyum pada Lya.


"Anggap aja traktiran gue buat pertemanan kita!" Balas Lya mendiami keempat laki-laki yang ada disana.


"Total semuanya jadi delapan ratus lima puluh ribu rupiah mba," ujar pelayan tadi. Dengan total segitu banyak tidak membuat Lya terkejut, terlihat jelas dari pesanan mereka yang banyak dan mahal membuat harganya pastinya juga tidak main-main.


"Biar gue aja yang bayar!" Ujar Lioniel namun Lya sudah memberikan sebuah kartu hitam pada pelayan itu.


Mereka yang melihat kartu hitam milik Lya itu terdiam cengo.


"Pembayarannya segera di proses ya mba," ujar pelayan itu meninggalkan meja mereka.


Mereka tengah menatap Lya dengan mulut terbuka, bahkan Rio tidak menyangka bahwa Lya memiliki kartu itu.


"I-itu beneran black card?" Tanya Dion.


Lya tersenyum miring. Niat dia memang ingin membayar semua makanan yang mereka pesan, namun tentu saja ada niat lain yaitu menyombongkan diri. "Lo kira itu kartu remi?" Tanya Lya balik.


"Ini kartunya mba, terima kasih!" Pelayan itu mengembalikan kartu Lya. Lya hanya tersenyum kepada pelayan itu.


Dion dan Arga menatap kagum pada kartu hitam milik Lya yang sengaja gadis itu letakkan di atas meja.


"Anjir.. adek gue sering banget pamer kalau suami dia yang di Jepang ounya black card. Gak nyangka kalau hue duluan yang bisa liat versi aslinya!" Celetuk Arga.


"Dapat dari mana lo kartu begini?" Tanya Rio pada Lya.


"Lo pikir orang tua gue kerja banting tulang di negeri orang buat apa?" Balas Lya.


"Ini beneran kartu yang unlimited itu?" Tanya Lioniel. Lya menggangguk menjawabnya.


"Boleh gue foto gak?"


Dion memukul kepala Arga. "Buat apa bego?"


"Buat pamer sama adek gue!"


Lya tertawa geli. "Foto aja!" Ujarnya membuat Arga dengan cepat mengambil kartu itu dan mengambil banyak foto, bahkan dia melakukan selfi dengan memegang kartu milik Lya itu.


"Norak!" Ujar Rio, Dion dan Lioniel bersamaan.


Lya hanya menanggapi mereka dengan tertawa. Setidaknya dia bisa mengembalikan sedikit moodnya setelah mendapati kenyataan pahit yang menimpanya.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2