GELYA

GELYA
CHAPTERS 63


__ADS_3

Hari senin tentu saja jadi waktu termalas bagi semua peserta didik. Harus berjemur di bawah terik matahari dan mengikuti upacara bendera membuat mereka lebih banyak menggerutu meminta upacara cepat selesai. Padahal itu tidak ada apa-apanya dibanding bagaimana perjuangan para pahlawan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dahulu kala.


Tapi pagi ini berbeda, tidak ada cicitan dari murid untuk segera menyelesaikan upacara melainkan keheningan yang tengah melanda. Mereka semua tengah menunduk dan berdoa untuk teman mereka yang telah meninggal dua hari yang lalu. Kabar kematian Eadred sudah heboh sejak kemarin, banyak yang tidak menyangka Eadred akan meninggal dunia dengan tragis.


Setelah upacara selesai, Karta dan Lya dipanggil ke ruang BK. Mengetahui jika Karta di panggil membuat inti Rakasa lainnya memaksa untuk ikut.


"Lo masuk, kita juga masuk!" Ujar Juna pada Karta yang menolak mereka ikut masuk. Namun tetap saja Karta akan kalah melawan keempat temannya, jadilah mereka semua ikut masuk bersama Lya.


"Saya sebagai kepala sekolah meminta kalian semua untuk berhenti melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kalian lakukan di dalam maupun di luar sekolah. Berita meninggalnya Eadred terdengar sangat tragis, di kroyok geng motor hingga meregang nyawa," ujar pak Bintang tanpa basa basi.


"Karta!" Panggil pak Bintang membuat Karta menatapnya. "Kamu ketuanya kan? Bubarkan saja geng kamu itu, ini untuk kebaikan kalian semua!"


"Maaf pak saya tidak bisa," jawab Karta tenang.


"Apa kamu tidak belajar dari kejadian ini? Coba kamu lihat Gelya ini, bagaimana kalau malam itu dia ikut menjadi korban?"


"Maaf pak jika menyela! Seperti yang bapak lihat saya baik-baik saja. Meninggalnya Eadred bukan kesalahan Karta atau geng motor kami melainkan takdir pak," ujar Lya.


"Saya tidak akan membubarkan anggota saya. Jika bapak keberatan, saya rasa mungkin bapak butuh libur. Sedikit panjang tidak masalah bukan?" Timpal Karta.


Inti Rakasa lainnya tersenyum bangga dengan ucapan Karta, mereka tidak lupa jika sekolah ini milik ayah Karta.


"Saya paham posisi saya dan posisi kamu Karta, saya hanya berusaha menjadi kepala sekolah yang baik. Kamu juga pasti akan bertindak seperti apa yang saya lakukan jika kamu berada di posisi saya. Saya hanya menyarankan, lebih baik jika kamu ikuti namun kamu punya pilihan untuk mempertahankan geng kamu itu. Hanya saja bisa kamu berjanji untuk tidak ada lagi kejadian seperti ini nantinya? Karena kamu akan mendapat banyak masalah, kamu tau itu," balas pak Bintang dengan tenang.


"Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha menjaga anggota saya pak!"


Pak Bintang mengangguk. "Saya rasa tidak ada lagi yang harus saya sampaikan. Saya permisi keluar dulu pak," ujarnya pada pak Burhan yang sedari tadi hanya duduk di sampingnya.


Pak Burhan mengangguk. Sepeninggalan pak Bintang, Karta dan teman-temannya berniat untuk ikut pergi namun pak Burhan segera menghentikan mereka. "Mau kemana?" Tanya pak Burhan.


"Keluarlah pak! Kan udah selesai," jawab Juna.


"Siapa yang bilang udah selesai? Urusan kalian sama saya masih ada!"


Karta kembali duduk di kursinya. Dirinya hanya menatap pak Burhan dengan tatapan datarnya, Kevin dan Juna terang-terangan menatal guru BK mereka dengan kesal. Lya? Gadis itu hanya diam.


"Kalian bisa pilih, kalian berlima yang di jemur atau seluruh anggota kalian yang ikut tawuran tadi malam juga ikut di jemur?" Tanya pak Burhan membuat mereka semua melotot.


"Loh pak? Kok kita dihukum?" Tanya Elang.


"Lagian kita gak tawuran, kita cuma balas dendam," timpak Kevin.


"Sama aja!"


"Kita gak ngelakuin itu di jam sekolah pak!" Karta ikut bersuara.


"Tapi kalian anak sekolahan. Jadi silahkan di jawab mau kalian saja atau semua teman-teman kalian juga ikut bapak hukum!"


"Kita aja pak!" Jawab Lya membuat mereka semua menatapnya.


"Li gak ikut!" Ucap Noah yang berdiri tepat di belakang Lya.


"Gue juga bermasalah disini, lagian gue lebih milih di hukum bareng kalian dibanding bersihin toilet sendirian." Lya yakin jika pak Burhan pasti akan ikut menghukumnya juga.


"Kamu gak usah," ujar pak Burhan.

__ADS_1


"Serius pak?" Tanya Lya.


Pak Burhan mengangguk. "Mereka aja! Lagian mau di taruh dimana muka mereka berlima kalau kamu ikut di hukum, malu dong. Gayanya anggota inti geng motor tapi rela kalau anggotanya ikut di hukum, cewek lagi!"


"Berapa jam?" Tanya Karta tidak ingin berbasa-basi.


"Samllpai istirahat! Saya akan mengawasi kalian," ujar pak Burhan. "Kamu balik saja ke kelas," tambahnya lagi pada Lya.


Mereka semua keluar dari ruangan itu dan berjalan beriringan, inti Rakasa berjalan menuju lapangan sedangkan Lya berjalan menuju kelasnya.


"Nanti gue traktir makan di kantin," ujar Lya menepuk bahu Karta.


"Serius?" Tanya Juna tersenyum lebar.


Lya mengangguk membuat Juna bersorak kegirangan. "Boleh nambah kan?" Tanya Juna lagi. Kevin mendorong tubuh Juna membuat laki-laki itu hampir saja terjatuh.


"Gak tau diri!" Cibir Kevin.


"Dih suka-suka gue, Lya aja gak keberatan!"


"Iya lo bebas nambah," ujar Lya tertawa. "Kalau gitu gue ke kelas dulu ya, semangat!" Tambah Lya lagi sembari berlari menjauh.


Inti Rakasa mulai berjalan ke tengah lapangan, mereka berdiri sejajar di depan tiang bendera. Keberadaan mereka menarik perhatian para murid yang tengah berada di lapangan, karena jam olahraga terlebih para siswi. Mereka tidak membuang kesempatan untuk menatap para laki-laki tampan yang menjadi most wanted di sekolah ini, apalagi mereka masih kelas sepuluh membuat mereka sangat jarang bisa melihat Karta dan teman-temannya. Kesempatan emas ini pasti mereka gunakan semaksimal mungkin.


Ya ampun kak Karta ganteng banget!


Udah punya pacar, tapi gak apa-apa deh. Jodoh gak ada yang tau!


Kak Tiara beruntung banget bisa pacaran sama kak Karta.


Kak Noah ganteng banget sih, mana pintar lagi. Idaman banget ih!


Kak Juna gak kalah ganteng!


Gue kak Kevun aja deh, ramah orangnya.


Enakan yang ketua OSIS.


Kenapa mereka paket lengkap banget sih, bisa gila gue mikirin mereka terus kaya gini.


Sebenarnya Karta dan teman-temannya mendengar ucapan adik kelas mereka itu, namun lebih memilih untuk tidak menanggapi. Lagi pula hal seperti itu sangat tidak penting.


Sampai dimana mereka bisa merasakan kelegaan saat bunyi bell istirahat. Mereka segera berjalan ke kantin, memesan banyak minuman dan juga makanan untuk mengisi perut mereka.


Seperti biasa, Tiara dan Dara akan duduk bersama mereka. "Habis di hukum?" Tanya Tiara pada Karta.


Laki-laki itu mengangguk dan menyenderkan kepalanya di bahu Tiara, gadis itu terkekeh. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Karta. Hal itu tidak luput dari pandangan banyak murid yang tengah berada disana, tidak sedikit yang merasa iri dengan Tiara. Berharap bisa bertukar tempat menjadi kekasih seorang Karta Angkasa.


"LYAAAA!" Teriak Juna membuat Lya yang baru saja datang bersama Diki dkk menjadinpusat perhatian.


Lya menghampiri meja Juna dan memukul kepala laki-laki yang baru saja berteriak memanggilnya tanpa malu. "Gak usah teriak bego! Malu gue."


Lya juga menjadi salah satu perempuan yang di irikan oleh banyak siswi di sekolah ini, dekat dengan Diki, Keenan dan alm. Eadred yang bisa di bilang most wanted setelah inti Rakasa. Sekarang juga dia terluhat sangat dekat dengan inti Rakasa membuat para siswi semakin iri kepadanya.


"Kita pesan di mang Udin. Bayar yah!" Ujar Juna membuat Lya mendengus.

__ADS_1


"Biar gue aja!" Celetuk Karta menegakkan kepalanya.


Lya menggeleng. "Gue udah janji, lagian cuma bayar begian gak bakalan bikin duit gue habis!" Balas Lya dibumbui dengan kesombongan.


Diki merangkul pundak Lya. "Betul! Jangan merendahkan sepupu gue kaya gitu dong bang. Lo pesan aja yang banyak, bakal kita bayar."


"Kalian pesan duluan gak apa-apa kan?" Bisik Lya pada Mira dan Keenan.


Keenan mengangguk. "Biar kita aja yang pesan," ujarnya lalu pergi bersama Mira.


"Duduk sana!" Lya mendorong Clarissa yang sedari tadi terdiam di meja yang sudah Lya kosongkan untuk mereka makan.


Tanpa mereka semua sadari, ada seseorang yang tengah menatap Clarissa dalam.


"Nanti gue bayar sekalian punya gue," ujar Lya pada Juna lalu ikut duduk di mejanya.


"Kalau cinta bilang! Jangan kemahalan jadi orang!" Celetuk Kevin menatap Noah karena dia tau sedari tadi Noah terus melirik Clarissa.


"Biarin aja! Entar kalau tu bocah udah sama yang lain baru dia nyesel!" Timpal Karta yang mengerti siapa yang dimaksud Kevin. Noah yang menyadari teman-temannya tengah menyindirnya hanya diam.


Dara terkekeh mendengar Karta dan Kevin menyindir Noah. "Bener tuh, gemes gue liat lo. Gue surub Cla deketin Alixy aja deh, kan Alixy ganteng juga!" Ujarnya menyetujui Karta.


Kini Noah menatap tajam Dara. "Gak usah ikut-ikutan!" Ujarnya.


"Biasa aja kali, mau gue colok tuh mata?" Tanya Elang yang melihat Noah menatap tajam kekasihnya.


"Berani?" Tanya Noah balik. Elang tidak menjawab, laki-laki itu malah mendengus.


"Ngomong-ngomong soal Alixy. Devan sama Alix gak sekolah?" Tanya Tiara.


Karta menggeleng. "Dia pergi sama Alix, gak berdua doang sih. Sama papanya juga, urusan bisnis kali."


"Devan sama Alix masih muda begitu udah sibuk ngurusin bisnis. Lah gue? Baru juga sampai rumah udah di suruh jaga toko sama bokap!" Ujar Juna.


Mereka tertawa melihat Juna yang tengah membandingkan nasibnya dengan nasib Devan dan Alix. Jika Alix sebagai sepupu Devan dan teman kecil Devan mempunyai bakat di bidang bisnis hingga di percaya ayahnya untuk membantu keluarga mengurus beberapa urusan bisnis di perusahaan mereka meski hanya urusan kecil.


Sedangkan Devan harus belajar mengurus bisnis ayahnya yang akan dia kelola setelah lulus sekolah, berbeda dengan Alix, Devan tidak memiliki keinginan dan kemampuan untuk mengurus hal-hal yang berbau perusahaan, namun dia tidak punya pilihan. Selagi ayahnya masih meminta baik-baik padany, dia akan membantu sebisa mungkin. Untung saja ayahnya tidak pernah memaksa Devan terlalu keras.


Berbeda dengan Juna. Ayahnya memang tidak memiki perusahaan, namun ayahnya juga masih berbisnis meski tidak besar. Ayah Juna mempunyai beberapa toko, ayahnya mengelola toko sembako, sedangkan ibunya mengelola toko kue. Tidak besar namun juga tidak kecil, meski begitu hidup Juna tidak pernah kekurangan. Usaha yang di bangun orang tuanya semakin berkembang sekarang, itulah mengapa Juna sering disuruh membantu ayahnya menjaga toko karena ayahnya sibuk memperbesar usahanya.


"Bersyukur, hidup lo udah enak banget itu," ujar Tiara pada Juna.


"Ho'oh! Kalau bukan lo yang bantuin ibu terus siapa lagi? Adik lo masih bocah!" Kevin ikut berujar. Mengingat adik Juna satu-satunya masih berada di sekolah dasar.


"Gue bersyukur. Cuma lo semua kan tau, penyakit iri hati itu menyerang semua manusia," jawab Juna.


"Iya bener, asal jangan sering-sering!" Balas Tiara.


"Gue selalu bantuin ibu sama ayah kalau dirumah. Lo semua aja yang gak tau."


"Iya, lo mah hebat," jawab Kevin dengan nada malas.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


__ADS_2