
Devan berteriak kesetanan. Padahal hanya pesan singkat dari Lya namun bisa membuatnya terbang menabrak langit.
Ting!
Gelya sayang❣️
Gak usah baper, gue cuma bercanda.
"BANGSAT!" Devan menendang gulingnya sampai jatuh ke lantai. Wajahnya sangat merah sampai-sampai dia menggigit bantal.
^^^Gue gak baper!^^^
Devan membalas pesan Lya, setengah kesal karena dengan mudah gadis itu membuatnya melayang lalu menjatuhkannya begitu saja.
Ting!
Gelya sayang❣️
Tau gak kenapa happytos gambarnya jagung?
^^^Mana gue tau.^^^
^^^Bukan urusan gue!^^^
Soalnya kalau gambar kita berdua jadi happy wedding!
"LYA, GUE BAPER BANGSATTTT!"
Devan berguling-guling seperti cacing kepanasan. Perutnya terasa di gelitik ribuan kupu-kupu.
^^^Gak usah sok ngegombal. Gue udah kebal.^^^
Iya deh iya!
Eh tau Ayla gak?
^^^Ayla siapa? Mobil? Apa gak gak paham?^^^
Aylafyyuuu😘
"GELYAAAAAAA!"
Sudah tidak memperdulikan jika ayahnya atau asisten rumah tangganya akna mendengar teriakan Devan, laki-laki itu sudah tidak bisa menahan diri. Sudah sampai di langit ketujuh sehingga sulit untuk kembali ke bumi. Lya benar-benar bisa membuatnya seperti orang gila.
"Anjing! Coba aja lo disini, udah gue terkam lo! Aadrhhhh."
Devan jatuh cinta. Lya selalu punya cara membuat Devan semakin jatuh padanya.
"Awas aja lo besok. Lo harus tanggung jawab udah buat gue begini!" Ujar Devan dengan wajah yang masih memerah.
...🌻...
Pagi ini Devan tengah sarapan bersama papahnya.
"Nanti Devan pulang telat!"
"Kamu kan selalu pulang telat," jawab papahnya.
"Pah!" Panggil Devan. Ayahnya mendongak menatap Devan yang duduk di depannya. "Kalau mau jenguk pacar tuh bawa apaan?"
Papah Devan menahan tawa. Tumben sekali anaknya bertanya seperti ini.
"Pacar siapa!" Papa Devan memancing Devan untuk bercerita.
"Pacar Devan lah!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Kepo!"
"Gadis yang di bully Clara kemarin itu?"
Devan tidak menjawab, laki-laki itu menelan makanannya dengan cepat dan menegak air di gelasnya.
Papa Devan tersenyum miring. "Sudah papa duga!"
"Jadi di bawain apa?" Tanya Devan malas menanggapi ucapan papahnya.
"Kamu kok bodoh banget sih? Tinggal bawain makanan atau buah-bauhan. Jangan merendahkan derajat papa dong Dev, papa dulu punya banyak pacar waktu sekolah. Masa anaknya kagok begini? Gak tau apa-apa, gak keren banget!"
Devan mendengus. Jika mengingat cerita almh. Mamanya, papa Devan memang seorang playboy dulu. Tapi bisa tobat saat berpacaran dengan mamanya.
"Ini pacar pertama Devan. Lagian Devan gak mau kayak papa, muka pas-pasan tapi sok jadi playboy!"
"Sembarang kamu! Papa ini pangeran sekolah dulu. Gadis-gadis itu semuanya ngantri untuk jadi pacar papa, yang mana mau papa tinggal tunjuk!"
Devan merotasikan matanya, menatap jengah papanya. "Ya ya ya terserah papa aja."
"Memangnya pacar kamu sakit apa? Dirawat dirumah sakit atau dirumah? Pacar kamu lumayan cantik sih, papa gak terlalu ngeliat muka dia di video itu. Orang kaya gak?"
"Kepo banget sih pah? Lagian ngapain ngurusin pacar Devan? Pakek nanya dia kaya atau gak, lagi."
"Ck.. kita harus cari yang sederajat kalau bisa. Bukan merendahkan, papa cuma takut kalau kamu cuma di manfaatkan. Secara kan kita kaya raya, ya walaupun pacar kamu itu bukan dari keluarga kaya juga papa gak.masalah sih, asal dia baik dan manfaatin kamu aja. Lagian harta kita gak akan habis juga kalau cuma untuk menghidupkan pacar kamu sama keluarganya."
Devan menganga. Matanya melotot tidak percaya. Inilah sifat asli papanya, dan Devan sangat jengah jika papanya sudah mulai menyombongkan diri.
Cocok banget nih sama Lya. Batin Devan.
"Sombongnya papa tu udah kelewatan, ingat di atas langit masih ada langit."
"Iya tau. Tapi kita ada di langit teratas!"
Ting..
Papa Devan menjatuhkan sendoknya, laki-laki paruh baya itu menatap anaknya dengan kagum.
"Ini pertama kalinya papa dengar kamu beristighfar, setelah sekian lamanya. Papa pikir kamu lupa bagaimana cara nyebut istighfar."
"Astagfirullah pah, sehina itu Devan di mata papa?"
Papa Devan tertawa. "Kayaknya papa harus sering-sering pamer kekayaan di depan kamu deh, biar kamu sering-sering nyebut gitu."
Devan memejamkan matanya menahan kesal. "Devan berankat dulu," ujar Devan. Dengan cepat dia menyambar tasnya dan berdiri dari duduknya.
Baru saja hendak pergi, namun terdiam melihat papanya menyodorkan tangannya. Devan menatap tangan papanya dengan bingung.
"Salim dulu sama papa!"
Devan cengo. Jangan-jangan papanya tadi pagi jatuh di kamar mandi sampai otaknya bergeser. Tumben sekali dia seperti ini.
"Malah bengong. Salim dulu baru berangkat sekolah!"
Dengan kikuk Devan mendekati papahnya dan menyalami tangan papanya.
"Assalamualaikum gak?"
Kening Devan mengkerut. Namun dia mengerti maksud papanya.
"Assalamualaikum!" Ujar Devan pelan.
"Waalaikumsalam. Belajar yang rajin ya anak ganteng." Papa Devan mengelus rambut Devan sembari tersenyum.
__ADS_1
Hampir saja Devan memuntahkan sarapan paginya. Otak papa Devan benar-benar bergeser sepertinya.
"Papa baik-baik aja kan? Gak habis jatuh kan? Otaknya baik-baik aja kan? Papa gak kesurupan kan?" Tanya Devan beruntun.
Senyum papa Devan luntur seketika. "Kamu berangkat sekarang aja, sebelum papa tendang pantat semok kamu itu!" Niat hati ingin memanjakan anak semata wayangnya itu, maalh dikira kesurupan. Kurang ajar sekali. Batinnya.
Devan tertawa dan segera berlari keluar rumah. Merasa konyol dengan perlakuan papanya pagi ini, namun tidak bisa di pungkiri kalau Devan merasa senang. Papanya kembali lagi, setelah tiga tahun mereka ditinggalkan mama Devan. Papa Devan yang dulunya sangat hangat dan selalu menemani Devan bermain berubah menjadi orang yang subuk bekerja, sampai-sampai dia lupa jika ada Devan yang dia tinggalkan dirumah. Devan senang papanya kembali lagi, Devan berharap papanya bisa menjadi papanya yang seperti dulu. Karena Devan sudah bisa mengikhlaskan kepergian mamanya dan papanya juga harus begitu.
Motor Devan memasuki kawasan sekolah. Masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya, Devan berjalan menuju kelasnya. Melewati banyak murid yang memandang penasaran, jarang sekali Devan tersenyum seperti ini. Tentu saja momen ini akan diabadikan oleh siswi-siswi yang melihatnya.
"Happy banget kayaknya," celetuk Alix yang muncul di sampingnya.
Devan menatap Alix sekilas. "Gak boleh gue happy?"
"Boleh aja sih, cuma penasaran aja. Lagi kenapa lo?"
"Lagi senang!"
"Si anjing!" Umpat Alix. "Yang namanya happy pasti senang, begi. Gue tanya alasan lo bisa senang itu apa?"
"Kepo!"
"The real bangsat!"
Devan tertawa sedangkan wajah Alix sangat masam. Mereka masuk ke kelas dengan santai tanpa menghiraukan penghuni kelas lainnya.
Sudah tidak sabar untuk mengunjungi Lya, masih jam istirahat saja Devan sudah ingin meninggalkan sekolah. Jika Alix tidak melarangnya, sudah dipastika laki-laki itu membolos sekolah sekarang.
"Bucin banget lo, sabar dong. Lo udah sering bolos," peringat Alix pada Devan.
"Ck.. jamnya di cepatin aja bisa gak sih."
"Bego emang!"
Alixy menggelengkan kepalanya. Sudah dia duga dari awal, jika Devan akan benar-benar jatuh cinta pada Lya. Laki-laki yang menjabat sebagai sepupu sekaligus sahabatnya ini sudah menjadi korban bodak cinta dari seorang Gelya. Lihat saja tingkahnya yang sudah seperti cacing kepanasan menunggu waktu pulang. Alixy tidak menyangkal bahwa dia cukup terkejut melihat Devan yang bisa berubah seperti ini pada Lya, Alixy ingat betul bagaimana Devan yang seperti es kutub Utara jika ada wanita yang mendekatinya. Cukup kagum pada Lya yang bisa membuat Devan berubah menjadi lelaki bucin seperti ini.
"BU RESTI GAK MASUK WOY! KITA DI SURUH KERJAIN LATIHAN DI HALAMAN 60, MINGGU DEPAN DI KUMPULIN, SOALNYA BANYAK!" Ketua kelas Devan berteriak mengumumkan.
Senyum Devan mengembang seketika. Dia segera menarik tasnya dan berniat untuk segera keluar.
"Mau kemana?" Tanya Alix.
"Rumah sakit!"
"Ck.. baru juga di bilang gak usah bolos!"
"Jam bu Resti sampai kita pulang. Ngapain gue disini kalau gurunya gak masuk."
"Lo mau keluar gimana? Gerbang pasti masih di kunci!"
Devan terdiam berpikir akan benarnya ucapan Alix.
"Tas lo tinggal aja, nanti biar gue yang bawa. Lo izin apapun itu ke satpam biar bisa keluar," ujar Alix memberi saran.
Devan menggeleng kagum. Laki-laki itu segera meletakkan tasnya kembali di bangkunya lalu menepuk pundak Alix berkali-kali.
"Lo emang sepupu terbaik di alam semesta ini. Thanks bro, gue pergi dulu," ujar Devan.
Alix hanya menggelengkan kepalany menatap langkah Devan yang keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun pada ketua kelasnya.
Devan keluar hanya membawa dompet dan ponselnya. Dengan beralasan ingin menemui papanya di luar sekolah, Devan mendapat izin walau hanya beberapa menit. Tentu saja Devan mengiyakan persyaratan satpam sekolahnya.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1
...Tbc....