GELYA

GELYA
CHAPTERS 68


__ADS_3

Lya menatap laki-laki yang tengah fokus pada jalanan. "Kita pergi jauh gak masalah kan?" Tanya Devan lagi. "Gue pengen ajak lo ke suatu tempat."


Lya mengangguk membuat Devan tersenyum.


Lya tidak menyangka bahwa Devan akan benar-benar membawanya pergi jauh. Melihat mobil yang mereka gunakan tengah melintas di jalan tol menuju keluar Jakarta.


Devan masih fokus menyetir sedangkan Lya tengah menikmati semilir angin dari jendela yang dia buka. Melihat sisi jalan tanpa sadar mereka sudah berjalan sejauh beberapa jam.


Senyum Lya mengembang. Devan benar-benar membawanya pergi jauh.


Dengan senyum yang masih setia di bibirnya, Lya menoleh pada laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya.


"Makan dulu ya," ujar Devan menarik tangan Lya menuju sebuah tempat makan yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Seragam Lya dia tutupi dengan sweater putih milik Devam. Sedangkan laki-laki itu menggunakan sweater hitamnya.


Memesan beberapa makanan khas dari tempat itu. Lya sangat menikmati makanan yang ada disana.


Setelah makan, mereka berkeliling di sekitar tempat itu hingga hari menuju gelap.


"Lo benar-benar bawa gue pergi jauh," celetuk Lya yang tengah duduk di pasir.


"Suka?" Tanya Devan.


Lya mengangguk. Bibirnya tidak berhenti tersenyum. "Suka! Makasi Dev."


"Senyum terus ya Ya! Walaupun lo selalu cantik di mata gue. Tapi senyum lo candu buat gue!"


Lya tidak menjawab, namun dia tetap tersenyum.


"Terakhir kali gue liat senja itu bareng Dika. Di ulang tahun gue yang ke-14 tahun," ujar Lya.


Devan menatap Lya. "Harus belajar dari senja. Dimana dia meyakinkan bahwa seindah apapun yang datang, pasti akan pergi juga akhirnya."


"Semesta selalu punya cara untuk menyakiti penghuninya. Tapi dua juga punya banyak cara untuk membuat penghuninya merasa bahagia," ujar Lya. "Dulu gue ngerasa lengkap banget, bahkan setelah kepergian Dika pun gue udah bisa terima hidup gue. Meski harus jauh dari orang tua, gue ngerasa baik-baik aja. Ada Diki yang selalu temenin gue, ada bunda sama ayah, ada Clarissa, ada Rakasa dan ada lo."


Senyum Lya menipis. "Kemarin gue bahagia banget karena bang Karta ngakuin gue sebagai adiknya. Liat dia perhatian sama gue, Karta ngelengkapin kosongnya posisi Dika di hidup gue. Tapi kadang realitas bakal kelihatan bodoh kalau dibanding dengan ekspektasi. Seharusnya gue gak terlalu berharap lebih ke orang lain."


Devan menggeleng. "Percaya sama gue, Karta gak niat ngomong begitu. Dia emosi, dia rapuh juga Ya. Karta gak sekeren yang lo liat, dia gak sekuat yang lo pikir."


"Lo dekat banget sama Karta?"


Devan tersenyum, menatap Lya dengan lembut. "Semua orang punya masa lalu, entah itu menyenangkan atau menyedihkan. Kebetulan banget Karta punya masa lalu buruk dan ternyata abang lo adalah salah satu karakter yang ikut andil dalam masa lalu Karta."


"Gue gak marah Dev! Gue cuma kecewa. Gue gak tau dan gak ngerti. Kalau nanti ada yang jelasin ke gue tentang hal ini, gue harap gue bisa bijak buat mengerti keadaan."

__ADS_1


Angin laut menerpa tubuh Lya dan Devan. Seakan mengingatkan untuk segera kembali karena langit semakin gelap.


"Ayo pulang!" Devam berdiri dan mengulurkan tangannya.


Lya menggapai tangan Devan dan ikut berdiri. Berjalan menyusuri pantai dengan suasana yang sangat menenangkan. Lya benar-benar beristirahat hari ini dengan Devan yang menemaninya.


Lya bersyukur, setidaknya dia harus melakukan itu agar tidak di cap sebaagi manusia hina oleh Tuhan. Meski Tuhan tidak pernah menghardik hamba-Nya, bukankah sudah kewajiban dari setiap mereka untuk selalu bersyukur.


Atas apa yang mereka dapatkan hari ini.


Atas udara yang di hirup.


Atas matahari yang masih bersinar.


Atas air yang masih mengalir.


Atas senyum yang masih bisa terukir.


Atas makanan yang mengenyangkan.


Dan atas pakaian yang menghangatkan tubuh.


Setidaknta kita bisa mensyukuri nikmat Tuhan dari beberapa hal kecil yang ternyata berdampak besar bagi diri kita.


Bersyukurlah untuk merasa bahagia!


...🌻...


"Rame," celetuk Devan.


"Mami pulang!" Balas Lya tersenyum.


"Masuk gih. Mandi, terus istirahat!"


Lya mengangguk. "Sekali lagi makasi ya Dev!"


Devan tersenyum menatap Lya. "Kapan-kapan kita jalan lagi."


Lya turun dari mobil. Dia melambaikan tangannya pada Devam yang mulai mengjidupkan kembali mesin mobilnya.


Setelah mobil Devan sudah tidak terlihat, Lya berjalan masuk kedalam rumah.


"Assalamualaikum," salam Lya pelan.


"Waalaikumsalam!"

__ADS_1


"Lyaaaa!" Mami Risma memeluk Lya.


Lya tau bahwa ibunya itu tengah menangis. Lya membalas pelukan ibunya sambil menatap orang-orang yang ada disana, ada Clarissa yang juga tengah menangis bersama bunda Intan, ada papi Agung yang matanya terlihat sangat merah. Duku dan ayah David hanya diam menatap Lya.


"Maafin mami nak, maaf!"


Lya yakin bahwa mereka pasti sudah tau tentang penyakitnya.


"Ini bukan salah mami."


Papi Agung berjalan mendekati Lya dan mami Risma, laki-laki paruh baya itu memeluk kedua wanita yang sangat dia cintai. "Maaf! Maaf Ya, maafin papi. Papi gagal menjadi orang tua yang baik untuk kamu."


"Ini bukan salah mami atau papi, tolong jangan nyalahin diri kalian. Lya gak mau."


"Mami akan jagain Lya, mami akan temani Lya disini. Kita balik kerumah ya nak."


Lya tersenyum. Pelukan kedua orang tuanya terlepas. Gadis itu mengangguk. "Ayo balik. Lya mau tinggal sama mami sama papi!"


Kedua orang tua Lya tersenyum.


"Gel gel!" Cicit Clarissa.


Lya terkekeh geli melihat wajah Clarissa yang memerah karena menangis. "Sini!" Ujar Lya merentangkan tangannya.


Clarissa segera memeluk Lya. Gadis itu kembali menangis. "Pasti sakit banget."


Lya menggeleng. "Gue akn kuat!" Balas Lya tertawa kecil. "Lo mau diam diaitu aja?" Tanya Lya pada Diki.


Laki-laki jangkung itu mengerucutkan bibirnya dan berjalan mendekati Lya dan Clarissa. Diki memeluk kedua gadis dihadapannya. "Ayo bahagia bareng!" Bisik Lya pada keduanya. "Tolong bersikap seperti biasa, gue bakal baik-baik aja asal kalian selalu ada buat gue."


Clarissa mengangguk. "We will always be there for you! Trust me."


"Ayo kita ngerusuh lagi. Ada ban mobil bu Lidya yang nunggu buat di kempesin!" Ujar Diki membuat Lya dan Clarissa tertawa.


"Kali ini lo harus ikut!" Ujar Lya pada Clarissa.


"Will not! Aku gak mau nyusahin diri, nanti kalau ketahuan gimana?"


"Paling di hukum!" Jawab Lya dan Diki barengan.


Orang tua Diki dan orang tua Lya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga remaja itu.


...🌻...


Jangan lupa bersyukur ya pren.

__ADS_1


Peluk hangat dari aku untuk kalian semua xoxo.


__ADS_2