
Jenazah Eadred di bawa ke rumah Mira. Eadred yang hidup sendiri di apartement karena orang tuanya sudah meninggal beberapa tahun lalu membuatnya sangat dekat dengan keluarga Mira.
Pemakaman dilakukan pagi hari. Karta, Devan, Diki, Keenan, Juna dan Kevin membawa keranda jenazah Eadred. Seluruh anggota Rakasa ikut serta dalam pemakaman. Mereka menggunakan jaket Rakasa mereka untuk mengantar Eadred keperistirahatan terakhirnya. Mira bersama Clarissa dan ibu Mira berdiri di samping kuburan Eadred.
Lya berdiri sedikit lebih jauh dari kuburan Eadred, dengan kacamata hitam yang bertengker di hidungnya dan selendang hitam di kepalanya. Lya berusaha kuat dengan ayah David yang berada di sampingnya.
Setelah jenazah Eadred dimakamkan, seorang ustadz memimpin doa untuk Eadred.
"Kita kerumah sakit ya?" Tanya ayah David sesaat setelah berdoa.
Lya menggeleng. Memang saat jenazah Eadred dibawa kerumah Mira, Lya langsung ikut tanpa di obati sedikitpun. Padahal Devan dan Diki sudah memaksa Lya untuk di obati tapi gadis itu menolak.
"Lya mau pulang aja yah."
"Nak, kamu belum di obati dari semalam, ayha takut kamu kenapa-kenapa."
"Lya baik-baik aja yah. Eadred yang gak baik-baik aja," jawab Lya dengan suara bergetar.
Ayah David memeluk Lya. "Ikhlas ya nak, biar Eadred tenang."
Lya hanya mengangguk.
"Kita kerumah sakit aja ya, tadi kamu ngeluh sakit di bahunya."
Lya kembali menggeleng. "Balik aja yah, Lya mau tidur. Lya gak kenapa-kenapa, bahunya udah gak sakit."
Ayah David tidak bisa memaksa. Dia menuruti keinginan Lya dan pergi meninggalkan pemakaman meski yang lain masih disana. Ayah David tau bahwa Lya kelelahan dan butuh istirahat. Dia hanya berharap Lya memang baik-baik saja.
🌻
Malam ini Lya tampak sangat gelisah. Dia tidak mendapati Diki dirumah dan yakin bahwa sepupunya itu pasti sedang bersama gengnya untuk membalaskan dendam atas kematian Eadred. Sebenarnya Lya tidak masalah jika mereka memang ingin balas dendam, kematian Eadred bukanlah hal yang sepele. Jika gadis itu sedang baik-baik saja maka dia akan bersi keras untuk ikut.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi mata Lya belum juga mengantuk, itu mungkin juga akibat dari dia yang tidur dari siang hingga sore hari. Seperti biasa, keringat membanjiri tubuhnya. Lya pikir dia sangat gelisah menunggu Diki pulang, dia tidak ingin hal yang tidak dia inginkan terjadi.
Sibuk melamun, akhirnya Lya mendengar suara motor memasuki halaman rumah. Lya mengintip dari jendela kamarnya saat menyadari bahwa Diki tidak datang sendirian.
Inti Rakasa datang bersama Diki. Lya sedikit bingung, kenapa mereka kesini di tengah malam begini. Pintu dibuka oleh ayah David yang sudah tau apa yang dilakukan anaknya hingga pulang larut malam.
"Assalamualaikum," ucap Diki menyalami tangan ayah David.
Teman-temannya yang lain ikut menyalami ayah David. "Waalaikumsalam," jawab ayah David. "Kalian baik-baik aja kan?"
Diki mengangguk, pasalnya memang seluruh anggota yang pergi juga pulang dengan selamat.
"Ayo masuk. Obati luka kalian," ujar ayah David. Sebenarnya laki-laki paruh baya itu juga tengah khawatir menunggu anak laki-lakinya pulang, mengingat bagaimana Diki meminta izin kepada dia dan istrinya untuk ikut gengnya menyerang geng motor yang menyebabkan kematian Eadred.
__ADS_1
"Lya sudah tidur om?" Tanya Karta.
"Sudah."
Mereka hanya mengangguk mengerti. Padahal niat mereka ikut bersama Diki adalah untuk melihat keadaan Lya. Karta khawatir mengingat bagaimana kondisi Lya saat pertama kali mereka sampai di rumah sakit, Karta yakin bahwa Lya pasti juga tidak baik-baik saja.
"Mereka mau ngeliat Lya yah, Diki juga." Diki menundukkan kepalanya, dia masih belum bicara dengan Lya bahkan setelah dari pemakaman. Dia takut menemui Lya, dia takut Lya masih marah padanya. Sebelum pergi, Diki menyempatkan diri untuk menemui Lya yang sedang tidur, setidaknya dia tau Lya berada dirumah dan baik-baik saja.
"Lya baik-baik saja. Dia ngeluh sakit di bahunya tapi kata dia udah sembuh, ayah gak bisa paksa dia untuk kerumah sakit."
"Lya gak kerumah sakit om? Maksud saya, setelah pemakaman bukannya om dan Lya pulang duluan," tanya Devan membuka suara.
Ayah David mengangguk. "Kita pulang. Lya minta pulang!"
"Diki naik sebentar ya yah," ujar Diki beranjak dari duduknya.
Ayah David hanya mengangguk dan kembali fokus mengobati luka Juna. Laki-laki itu yang paling parah, bibirnya sobek, sudut matanya juga berdarah, hidungnya pun sama. Tidak jauh beda dengan Kevin, sedangkan yang lain cukup parah juga tapi masih bisa obati diri mereka sendiri.
Ceklek
Diki membuka pintu kamar Lya dengan pelan, kepalanya menyembul kedalam untuk melihat keadaan. Diki mencari keberadaan Lya yang tidak terlihat di matanya.
"Ya!" Panggilnya pelan.
"Ya, Lya!"
Diki berbalik dan tersenyum kikuk, tangannya bergerak menggaruk tangannya yang tidak gatal. "Belum tidur?" Tanyanya.
Gelengan dari Lya menambah kegugupan Diki. "Uhm.. ada bang Karta dibawah."
"Tau!"
"Ya maaf!" Diki berlutut di depan Lya yang tengah duduk di pinggiran kasur. Lya sedikit terkejut melihat Diki berlutut tiba-tiba. "Maaf Ya! Maafin gue."
Lya memejamkan matanya, entah kenapa air matanya kembali mengalir begitu aja. "Ini bukan salah lo, ini takdir!"
Diki memeluk Lya erat. "Tapi gue masih berharap kalau ini cuma mimpi." Diki tidak bersuara, namun dia berusaha menenangkan Lya.
"Mau turun?" Tanya Diki menatap Lya. Gadis itu mengangguk, Diki menarik tangan Lya keluar kamar.
"Loh? Belum tidur?" Tanya ayah David yang melihat Lya berjalan di belakang Diki.
Lya hanya menggeleng. Mata dan hidungnya merah akibat menangis tadi, menggunakan baju tidur bermotif polkadot berwarna biru dan putih membuatnya terlihat menggemaskan. Seluruh teman-temannya hanya bisa menatapnya dengan tersenyum.
Lya duduk di samping ayah David.
__ADS_1
Ayah David menatap Lya. "Ada yang sakit?" Tanyanya yang dijawab gelengan Lya. Ayah David menekan bahu kiri Lya membuat gadis itu meringis.
"Mungkin bahu kamu keseleo, besok ke rumah sakit ya?" Bujuk ayah David.
Lya mengerucutkan bibirnya dan menggeleng.
"Kalau gitu ke tukang urut aja?"
Lya kembali menggeleng. "Sakit!" Cicut gadis itu membuat mereka yang melihatnya sangat merasa gemas. Pasalnya Lya terlihat sangat mungil dengan rambut yang dia cepol asal dan bibir yang mengerucut.
Ayah David tertawa gemas. "Nanti kita cari tukang urut, kamu ngobrol sama teman-teman kamu dulu. Ayah keatas!"
Ayah Dabid berjalan meninggalkan Lya dan yang lainnya. Diki yang tadinya berdiri karena tidak mendapat tempat duduk pun langsung mendudukkan dirinya di samping Lya.
"Mau di urut? Gue bisa!" Celetuk Elang. Lya menatapnya dengan horor, dengan cepat gadis itu menggeleng takut.
"Gak usah! Gue gak kenapa-kenapa, lagian gue gak yakin sama lo. Yang ada tangan gue makin parah!" Lya menolak, Juna tertawa bersama Kevin. Juna bahkan sangat ingin memeluk Lya, kenapa Lya makin terlihat imut jika sedang mengoceh.
"Lo bisa tanya ke mereka, gue inu tukang urutnya anak-anak. Ya gak jago banget sih, cuma kalau soal benerin tulang yang keseleo, bisa lah." Elang beranjak dan berjongkok di depan Lya.
Lya sontak memundurkan tubuhnya, matanya melotot takut. "Ngapain lo? Udah gak usah, udah sembuh!" Tolak Lya ketakutan. Devan dan Karta bahkan ikut tertawa melihat wajah panik Lya.
"Percaya aja, cuma di cek doang. Kalau parah nanti langsung ke tukang urutnya!" Celetuk Noah yang sedari tadi menyimak.
"Minggir Dik!" Ujar Elang. Diki segera menyingkir dan digantikan Elang yang duduk di sebelah kiri Lya.
Lya ikut berdiri namun segera di tahan Karta. Dia berlutut di depan Lya. "Gue pagangin. Gak akan sakit kalau emang lo gak kenapa-kenapa!" Ujar Karta.
Lya hanya mendengus kesal. Mau kabur bagaimanapun juga, dia hanya sendirian melawan delapan laki-laki.
"Aaakkhhhhh!"
Elang memukul kepala Lya. "Belum gue sentuh bego!" Ujarnya.
Lya menyengir tanpa dosa, wajahnya memelas meminta pertolongan. "Dev! Lo gak ada niat nolongin gue?" Tanya Lya pada Devan.
Laki-laki itu tersenyum tapi juga menggeleng. "Biar di cek Elang dulu, kalau gak di obatin nanti makin parah!" Ujar Devan menatap Lya lembut.
Karta mengambil tisu di meja dan mengelap kening Lya yang berkeringat. "Lo belum di apa-apain tapi udah keringatan gini, santai aja Ya!"
Pemandangan itu tidak luput dari pandangan Devan, laki-laki itu tengah menahan diri untuk tidak mendorong Karta ke jurang.
Lya menghela nafas. "Pelan-pelan bang," ujar Lya pada Elang.
...🌻...
__ADS_1
Mana vote dan hadiahnya nih pren? Ditunggu loh xixi.