GELYA

GELYA
CHAPTERS 79


__ADS_3

"Lya!"


"Iya pi?"


"Kamu sama Devan dulu ya, papi sama om Doni mau keluar sebentar," ujar papi Agung.


"Ih jangan tinggalin Lya sama Devan berdua. Nanti kalau Lya di apa-apain gimana?" Tolak Lya yang langsung mendapat delikan mata dari Devan.


"Sembarangan lo kalau ngomong," ujar Devan menjitak kening Lya.


"Tuh kan, belum juga di tinggal udah di giniin. Nanti kalau Lya di mutilasi sama Devan gimana?"


"Lya!" Tegur papi Agung. "Kamu ini kalau ngomong."


Lya mengerucutkan bibirnya. Dia menatap tajam Devan dan dibalas juluran lidah dari laki-laki itu.


Papa Devan tertawa. "Kamu tenang aja, kalau Devan macam-macam biar om yang hajar dia."


Saat kedua laki-laki tua itu sudah keluar, Devan tersenyum miring kepada Lya.


Bruk


"Aduhh!" Pekik Lya saat Devan tiba-tiba saja memeluknya hingga tubuh keduanya terbaring di brangkar pesakitan Lya. "Woy, sakit nih!"


"Biarin!"


"Devan lepas gak?"


"Ogah!"


"Kalau ini tempat tidur roboh gimana?" Lya mendelik pada Devan.


"Tinggal ganti aja apa susahnya? Duit gue banyak!"


"Songong lo, lepas Dev!"


"Gak mau! Pilih gue peluk atau gue cium?"


"Enak aja main cium-cium, gue tonjok juga lo!"


"Ini hukuman karena lo udah bikin gue hampir gila semalam, sekaligus karena lo bikin gue malu di depan papa sama om Agung tadi."


"Salah lo sendiri lemah!"


"Gue lemah cuma sama lo Ya," bisik Devan membuat Lya merinding seketika.


Devan menaikkan kakinya hingga tubuhnya benar-benar berada di atas brangkar. Tangannya melingkar di perut Lya, sedangkan kepala Devan menumpu pada bahu kanan Lya.


"Dev!" Panggil Lya pelan.


"Hm?"


"Dev!"


"Apa Ya?"


"Devan!"


"Apa sayang?"

__ADS_1


"Hehe gak ada, senang aja nyebut nama lo "


Devan tersenyum. "Ya!"


"Apa?"


"Kalau nanti gue beneran cinta mati sama lo, jangan salahin gue ya."


Lya tersenyum, tangannya terulur menyisir ramhut Devan dengan jari-jarinya. "Gak akan! Kalau gue bilang, gue senang gimana?"


"Bagus, lo punya gue. Gelya Rawangsa milik Devano Hanumadya, gak ada yang boleh ambil lo dari gue."


"ASTAGFIRULLAHALADZUM! ZINA WOY!"


Lya dan Devan menoleh kearah pintu, teriakan dari Juna menggema di ruang rawat Lya.


"Astagfirullah kalian ini berdosa banget," cibir Elang menggelengkan kepalanya.


"Mata gue ternodai," celetuk Kevin.


"Ck.. ganggu aja lo pada!" Rutuk Devan. Laki-laki itu bahkan tidak bergerak sedikitpun, tetap pada posisinya dan malah mengeratkan pelukannya pada Lya.


"Bangun woy!" Diki memukul kepala Devan. "Kesempatan banget lo peluk-peluk sepupu gue."


Dengab kesal Devan melepaskan Lya. Laki-laki itu membantu Lya duduk dan dia ikut duduk di depan Lya.


"Lya gimana kabarnya?" Tanya Tiara.


"Baik kok mba, paling besok juga udah boleh pulang."


"Tangan lo masuh sakit?" Kini Karta bertanya.


Juna menatap Devan. "Lo kok bisa cepat banget ada disini?"


"Suka-suka gua lah," jawab Devan ketus.


"Biasa aja jawabnya!"


Diki mengetuk lengan Lya. "Keenan sama Mira titip salam, mereka gak bisa kesini soalnya Mira ada urusan keluarga terus si Keenan harus ngantar bundanya."


Lya mengangguk. "Bang Noah kemana?" Tanya Lya yang merasa inti Rakasa kekurangan personilnya.


"Lagi ngebucin," jawab Juna.


"Hah?"


"Noah lagi nemenin Clarissa beli makanan buat kamu, kata Clarissa kamu pengen makan makanan dari luar," jawab Tiara.


Mulut Lya menganga. "Cla? Noah sama Clarissa?" Tanya Lya menolak percaya.


Ealng tertawa. "Gak nyangka kan? Noah diam-diam udah mulai luluh tuh sama si Clarissa."


"Noah tuh udah suka sama Cla itu udah dari lama. Dianya aja yang sok jual mahal!" Juna ikut bersuara.


"Tapi kan Noah sama Zia," ujar Lya. "Kemarin aja sok perhatian gitu ke Zia, jangan bilang Noah cuma mau mainin Cla."


Diki mengangguk heboh. "Wah bener juga. Kasihan banget bule gue!"


Juna, Kevin dan Elang tertawa. Tiara dan Karta hanya terkekeh kecil sedangkan Devan menatap Lya dengan seringai kecil.

__ADS_1


"Zia itu saudara Noah!" Ujar Karta.


"Hah?" Beo Lya dan Diki tidak mengerti.


"Zia itu saudara tiri Noah. Bojap Noah nikah sama nyokap Zia waktu Noah kelas 2 SMP," jelas Karta.


Lya dan Diki saling pandang. Kenapa mereka tidak tau hal ini, pantas saja Noah terlihat sangat khawatir pada Zia.


"Wahh bisa-bisanya gue gak tau kalau bang Noah sama Zia ternyata sodaraan."


Ceklek


"Gel Gellllllll!"


"Ini rumah sakit, jangan teriak-teriak," tegur Noah pada Clarissa.


Clarissa hanya menunjukkan cengirannya. "Maaf kak!"


Clarissa melangkah mendekati Lya. Tangannya menenteng dua buah plastik dengan isi makanan yang dia beli bersama Noah. Moodnya sangat bagus hari ini, pertama kalinya Noah mengizinkan Clarissa untuk ikut bersamanya bahkan Noah mau mengikuti kemauan Clarissa untuk mencari makanan.


"Aku bawain kamu mie ayam bakso sesuai sama keinginan kamu semalam. Terus aku juga beli cilok dan satu lagi aku beli martabak. Kamu harus cobain semuanya."


Lya tersenyum melihat Clarissa yang terlihat sangat antusias. "Bahagia lo sederhana banget ya Cla," ujar Lya.


Clarissa melebarkan senyumnya. Masih tidak menyangka kalau Noah mau meliriknya, apalagi kalau Clarissa mengingat kalau Noah sering memulai chat dengannya.


Clarissa menuangkan mie ayam bakso ke dalam mangkuk, gadis itu sangat telaten menyiapkan makanan untuk Lya. Sedangkan yang lain tengah sibuk memakan cemilan yang Noah bawa untuk mereka semua.


"Nih, kamu makan dulu. Makannya yang cepat, takut mami sama bunda datang. Entar kita di omelin!"


"Bilang aja Diki yang bolehin!"


"Enak aja lo berdua. Gaj kasihan sama gue? Kuping gue udah panas karena di omelin bunda sama mami gara-gara lo masuk rumah sakit. Pas di rumah bunda ngomelin gue lagi sampai ini kuping rasanya kecelup kuah seblak."


"Rasain!" Rutuk Lya.


"Gak apa-apa Dik, itu derita kamu bukan derita kita," ujar Clarissa. Lya dan Clarissa tertawa sambil bertos ria. Sedangkan Diki sibuk menggerutu kesal.


"Ini mie nya di makan buruan," tegur Devan yang sedari tadi menyimak.


Lya segera memakan makanannya, dengan sesekali menoleh menatap inti Rakasa yang tengah duduk di lantai beralaskan karpet yang papi Agung bawa, Diki dan Clarissa juga sudah bergabung bersama mereka menikmati martabak yang Noah dan Clarissa beli.


"Ikar rambut lo mana?" Tanya Devan. Tangannya terulur merapikan helai rambut Lya yang jatuh karena tidak terikat.


Lya tidak menjawab. Kepalanya hanya menggeleng menandakan bahwa dia juga tidak tau dimana letak benda kecil itu. Karena tau jika Lya kesulitan, Devan mengambil semua gelai rambut Lya. Laki-laki itu berdiri di belakang Lya sambil memegangi rambut Lya.


"Makan aja, biar gue pegangin rambutnya," ujar Devan pada Lya.


Lya tersenyum. Perlakuan Devan sangat manis padanya, bohong jika Lya tidak merona. Setiap perlakuan Devan padanya selalu berdampak besar pada Lya, namun kembali lagi pada Lya yang sangat pintar menjaga ekspresi wajahnya.


"So sweet banget sih," celetuk Clarissa menatap Devan dan Lya.


"Iya, Devan diam-diam begitu bisa pengertian banget!" Tiara menyetujui ucapan Clarissa.


"Devan sudah terkena virus bucin," ujar Kevin.


...🌻...


Terima kasih buat kalian yang selalu support aku, aku terharuuuu 😭

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2