
Denting jarum jam mengalun merdu menemani malam sunyi Lya, rintik hujan menjadi teman paling menenangkan baginya.
Di bagian ini Lya yakin tentang suatu hal yang sangat nyata. "Dunia emang sebercanda ini ya? Perasaan baru kemarin kita bahagia. Dulu kita sedekat nadi, seketika kita jauh seperti bumi dan langit.
Air mata mengiringi lantun isakan dari bibirnya. Merasa kasihan pada dirinya sendiri, terlihat sangat menyedihkan.
"Dunia memang sebercanda ini ya? Orang yang selalu mengaku bahwa dia adalah yang terkuat, sekarang tengah mengeluh kesakitan. Dia yang selalu tertawa dibuat menangis sejadi-jadinya. Dunia memaksa kita untuk tersenyum, tapi dia menimpa kita dengan kesakitan."
"Hujan bahkan tau gimana sakitnya gue sekarang Ka, hujan turun menutupi isakan gue sekarang. Hujan gak mau mereka semua tau kalau gue ini sebenarnya lemah. Kita berdua suka hujan Ka. Gue rindu main hujan bareng sama lo, gue rindu di omelin mami karena kita demam abis main hujan-hujanan. Gue rindu hari dimana lo masih sama gue, lo gak rindu gue?"
Tangan Lya bergerak melepaskan sebuah foto yang sedari tadi dia peluk, tubuhnya masih menyender di ujung jendela. Berniat menghubungi seseorang karena dia membutuhkan tempat pengaduan sekarang.
"Hai dear!"
"Mi!"
"Kenapa sayang? Kok belum tidur?"
"Mami!"
"Kenapa nak?"
"Hiks.. mami!"
"Kamu kenapa sayang? Kenapa nangis? Lya kenapa nak?"
"Lya rindu!"
"Mami juga rindu Gelya, jangan nangis dear. Mami khawatir!"
"Pulang ya mi, Lya sakit!"
"Astagfirullahaladzim! Kamu sakit apa nak? Lya kenapa?"
"Sakit mi!"
"Mami pulang sekarang. Kamu tungguin mami ya nak."
"Gelya rindu Dika mi!"
Tidak ada suara balasan dari sana, hujan malam ini semakin deras. Hujan benar-benar mengerti keadaan gadis itu.
Isakan Lya semakin keras seiring isakan dari wanita yang masih menggenggam erat ponsel di tangannya.
"Mami juga rindu Dika, Lya sabar ya nak. Mami sama papi bakal pulang, Lya tungguin kita ya!"
Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki juga tengah menangis meratapi nasib gadis yang selama ini dia jaga. Dengan berbangga hati dia berteriak kepada semua orang bahwa gadis itu miliknya. Dia lah yang selalu ada untuk gadisnya, dia lah yang tau jelas kehidupan gadis itu. Dia lah yang tengah menangis merutuki diri karena gagal menjaga gadisnya, dia yang tengah menyumpahi dirinya karena tidak tau apapun tentang gadisnya.
"Lya kena kanker tulang bun!"
"Bahu Lya pernah cidera tapi gak diobati dengan benar."
"Kanker Lya sudah berada di stadium awal. Maafin ayah bun!"
"Lya sakit!"
Diki runtuh, dia benci ini. Mengapa dunia sekejam ini padanya dan Lya. Diki ingin berteriak protes pada Tuhan, Diki marah. Namun dia tidak bisa melakukan apapun, dia tidak bisa.
...🌻...
"Mau kemana sih rapi amat?" Tanya Lya yang tengah memangku sebuah toples berisi nastar keju.
"Main! Lo jangan kemana-mana. Nanti kalau mami pulang terus lo gak ada jadi repot."
__ADS_1
"Ikut!"
"Gak boleh. Sebentar doang, mau nganter teman nyari buku," jawab remaja laki-laki yang usianya hanya berbeda satu tahun lebih itu.
"Dika ikut!" Gadis itu memaksa ikut. Bergelayut di tangan sang kakak sembari menampilkan wajah melasnya.
"Sebentar doang Ya! Nanyi gue beliin es krim deh kalau pulang."
"Janji?"
Dika tersenyum menatap jari kelingking dari adiknya yang dia sodorlan. Dengan lembut dia mengaitkan jari kelingkingnya lalu mengangguk. "Janji!"
Senyum Lya mengembang, matanya masih menatap guyuran hujan yang membasahi bumi, ingatannya bersama Dika kembali berputar di kepalanya.
"Jangan manjat-manjat Lya, kalau jatuh gimana?"
"Ya ke bawah lah!"
"Ck.. kalau di kasih tau orang dewasa tuh dengerin!"
"Iya iya! Orang tua mah beda."
"Turun Ya! Nanti kalau jatuh gue yang di omelin papi."
"Bilang dulu kalau gue cantik, baru gue turun."
"Gelya cantik ayo turun, nanti jatuh!" Suara Dika terdengar sangat lembut.
Lya yang tengah berada di atas pohon itu tersenyum senang lalu segera melompat turun. Tangannya terentang kepada sang kakak yang tengah mendengus padanya, laki-laki itu berjongkok membuat Lya yang ada di belakangnya segera naik di punggung Dika.
--
"Mi liat nih, Lya nyebelin banget!" Adu sang kakak pada maminya.
"Kali ini apa lagi?" Tanya sang mami pada kakaknya.
"Lya numpahin air ke novel baru Dika!"
"Gak sengaja mi, serius!" Lya membela diri.
Wanita yang di panggil mami oleh kedua remaja itu hanya menghela nafas panjang.
--
"Kalian bisa gak sih tenang sedikit? Gue lagi belajar!"
"Ampun bang!" Diki menunjukkan cengiran.
"Dika lagi pms ya? Sensi banget," ujar Lya.
"Sembarangan! Keluar sana. Kamar gue bukan tempat bermain."
Dika mengusir adik dan sepupunya keluar dari kamarnya.
--
"Lya kenapa?"
"Pusing!"
"Badan lo panas, gue panggil bi Tini dulu ya?"
"Gak usah. Gua sama lo aja!"
__ADS_1
Dika menatap adiknya sendu lalu merebahkan tubuhnya di samping Lya, memeluk tubuh mungil itu berharap tubuhnya bisa menyerap panas dari tubuh adiknya.
"Kan udah gue bilang, jangan lama-lama main hujannya," ujar Dika mengusap rambut Lya lembut.
"Lo sayang gue kan?" Tanya Lya.
"Sayanglah! Lo adik gue Lya, lo segalanya buat gue."
"Gua juga sayang sama lo. Jangan tinggalin gue!"
"Gak akan! Gue akan selalu jagain lo."
Air mata Lya kembali mengalir. Jika boleh dia protes, dia ingin protes pada Tuhan yang sudah mengambil nyawa kakaknya secepat itu.
"Dika anak baik. Dika penybar, sikap dia manis, dia penyayang. Dika selalu ada buat gue, kalau akhirnya gue juga bakal sakit begini, kenapa bukan gue aja yang pergi waktu itu. Dika masih punya banyak mimpi, Dika pengen jadi dokter. Kalau dia masih hidup, pasti dia bakal jadi dokter gue. Dika gak akan biarin gue luka, dia pasti jagain gue."
Sibuk dengan lamunannya, Lya tersadar saat layar ponselnya bercahaya, dering alarm dari ponselnya membuat gadis itu menarik sudut bibirnya. Mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Happy birhday! I miss you," bisiknya memejamkan mata.
...🌻...
gelyarw
Happy birthday boy meski sudah tidak panjang umur.
@bimardikarw
Comments turned off
...🌻...
Postingan ins_tag_ram Lya membuat heboh para pengikutnya. Banyak pengikut akun sosial Lya yang memuji betapa tampannya laki-laki yang ada di foto Lya.
Banyak juga yang penasaran dengan siapakah laki-laki itu?
Banyak yang merasa penasaran terlebih melihat keterangan yang Lya berikan pada foto itu.
Sampai ada seseorang yang lebih terkejut dari yang lainnya, orang yang hampir menjatuhkan ponselnya saat tidak sengaja melihat postingan milik Lya, dia tidak menyangka jika Lya mengenal laki-laki itu.
"Gak mungkin kan?"
"Itu bukan Dika abangnya Lya kan?"
"Bima sama Dika beda orang kan?"
"Itu bukan Bima yang gue kenal kan?"
"Tolong bangunin gue kalau ini emang mimpi!"
Tangannya bergetar, kepalanya mendadak pusing. Karta shock!
"Karta bego! Kemana aja lo selama ini?"
Laki-laki itu merutuki dirinya setelah melihat akun sosial laki-laki yang Lya tag di postingannya. Laki-laki yang dia kenal dulu, laki-laki yang membuatnya hampir gila bahkan laki-laki yang hampir membuatnya meregang nyawa.
Dadanya sesak, Karta tidak siap mengingat banyak hal yang seharusnya dia lupakan sejak dulu.
Lagi dan lagi, malam itu menjadi saksi bisu kesakitan banyak orang. Derai hujan yang deras memekakkan telinga menambah sesak di dada. Hujan di tengah malam yang dijadikan waktu untuk menyelami dunia mimpi oleh banyak orang menjadi malam yang menyakitkan untuk beberapa diantaranya.
...🌻...
Lanjut?
__ADS_1
Vote dan hadiahnya dulu yaa xixi