
Part sebelumnya sudah di revisi menjadi sedikit panjang! Biar tidak bingung silahkan baca ulang!
...🌻...
Diki hanya mengendikkan bahunya. "Gue sih gak bisa jawab yang gimana-gimana, tapi yang ini mungkin bisa jawab pertanyaan lo," ujar Diki mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.
Mereka semua menganga melihat sebuah kartu hitam itu. Tentu saja Juna akan menjadi orang yang paling heboh sampai-sampai dia melompat untuk melihat kartu itu.
"Masyaallah, ini pertama kalinya gue ngeliat black card! Karta mah punya yang banyak isinya tapi yang ini unlimited, bisa bahagiain gue seumut hidup!" Ujarnya menatap kagum kartu yang Diki pegang.
"Itu punya Lya?" Tanya Devan.
Diki mengangguk sebagai jawaban. "Kemarin gue pakek buat beli barang, belum gue balikin soalnya dia juga belum nagih. Kadang gue khilaf kalau udah pegang ni kartu, tapi Lya gak pernah marah. Dia bilang selagi gue gunain keperluan gue sih gak masalah!"
"Mau tukaran gak Dik? Biar gue yang jadi sepupu Lya," ujar Elang.
"Atau Lya masih butuh abang sepupu? Gue sanggup!" Timpal Kevin.
"Dia udah punya gue," cetus Karta membuat teman-temannya mendengus.
"Songong!" Semprot Juna, Kevin dan Elang.
Devan hanya diam, dia masih tidak menyangka. Bukan maksud merendahkan Lya, yang ada di pikiran Lya tentang gadis itu adalah dia gadis yang sederhana dengan penampilan seadanya namun tetap memancarkan kecantikannya. Devan tidak menyangka Lya yang notabenenya masih anak sekolahan tapi sudah memiliki kartu yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya. Dia saja tidak mendapat izin untuk menggunakan kartu semacam itu oleh ayahnya. Lagi-lagi Devan dibuat kagum oleh sosok gadis yang sudah menarik perhatiannya dari sejak pertama dia melihat gadis itu.
...🌻...
Tepat pukul lima pagi Lya sudah bangun, beranjak untuk sholat subuh dan segera turun ke bawah untuk membanti bunda Intan. Lya yakin kalau bundanya pasti tengah sibuk untuk memasak sarapan.
"Bunda!" Panggil Lya.
Bunda Intan menoleh dan sedikit terkejut. "Ngapain disini?"
"Butuh bantuan?" Tanya Lya.
"Tumben?" Tanya bunda Intan menatap Lya penasaran. Jarang sekali gadis ini mau berurusan dengan dapur.
"Ya udah Lya balik ke kamar aja!" Ujar Lya merajuk.
Bunda Intan tertawa geli. "Ngambek!"
Lya mengerucutkan bibirnya. "Lya mau belajar masak. Takutnya keburu gak bisa!"
"Keburu gak bisa apa?" Tanya bunda Intan kebingungan.
"Keburu bisa masak lah! Jadi Lya bantu apa?"
"Kamu potongin sosisnya aja, bunda cuma mau buat nasi goreng."
Lya segera memotong-motong sosis yang ada. "Lya nanti sekolah aaj ya bun."
"Kamu libur sehari aja, ikut ayah kerumah sakit."
"Lya baik-baik aja kok, udah gak sakit juga. Nanti balik sekolah baru Lya ke rumah sakit, boleh ya bun?"
Bunda Intan terlihat menghela nafas panjang. "Ya udah, asal pulang sekolah langsung ke rumah sakit!"
__ADS_1
"Janji!" Ujar Lya melanjutkan pekerjaannya. Setelah siap, dia berjalan kearah kabinet dan mengeluarkan susu kotak. Menyiapkan beberapa piring dan gelas susu, karena inti Rakasa juga akan ikut sarapan sebelum pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah jam, sarapan juga sudah siap. Lya berjalan kembali ke atas untuk memanggil Diki dan teman-temannya.
Tok tok tok
"DIKI BANGUN!"
TOK TOK TOK
"BANG! BANGUN WOY!"
Ceklek
"Gak perlu teriak-teriak!" Balas Noah yang berdiri di depan pintu.
Lya tersenyum manis membuat Noah menatapnya aneh. "Kenapa?" Tanya Noah.
Gadis itu menggeleng dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya. "Lagi menikmati ciptaan Allah!" Ujar Lya sambil melirik ke dalam kamar.
Otak encer Noah segera mengerti maksud Lya, dengan cepat dia menarik pintu menyisakan celah dari tubuhnya membuat Lya merengut seketika. "Zina mata!" Ujar Noah pada Lya.
"Ck.. lo gak bisa liat gue senang apa? Jarang-jarang gue liat pemandangan menyegarkan kayak begitu!"
Noah menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Lo duluan aja, gue bangunin yang lain." Noah masuk dan menutup kembali pintu menyisakan Lya yang tengah menggerutu kesal.
Noah berjalan menuju teman-temannya yang masih tidur dengan keadaan bertelanjang dada. Noah akui mata Lya memang masih normal karena tergiur dengan semua tubuh atletis dari teman-temannya, padahal cahaya lampu sangat minim namun Lya masih bisa melihat dengan jelas isi di dalam kamar Diki.
Ctek
"Matiin woy, silau nih!" Gerutu Juna malah menelungkupkan tubuhnya.
"Bangun!" Ujar Noah.
"Jam berapa?" Tanya Karta sembari mengumpulkan nyawanya.
"Hampir jam enam," jawab Noah yang langsung keluar kamar. Saat melewati kamar Lya, Noah melihat gadis itu sudah menggunakan seragam sekolah.
"Lo sekolah?" Tanya Noah mengejutkan Lya.
"Astagfirullahaladzim! Kaget gue bang," ujar Lya sembari memegang dadanya.
"Bukannya lo harus ke rumah sakit?" Tanya Noah lagi mengabaikan keterkejutan Lya.
"Iya nanti habis pulang sekolah," jawab Lya.
Noah hanya mengangguk. Lya berjalan menghampiri Noah. "Mereka udah bangun?" Noah mengangguk sebagai jawaban.
Lya dan Noah turun kebawah menemui bunda Intan dan ayah David, ternyata Devan dan karta juga ikut turun bersama mereka.
"Pagi bunda, pagi ayah!" Sapa Lya yang langsung duduk dikursi.
"Pagi om, tante!" Noah, Karta dan Devan ikut menyapa.
"Pagi!" Jawab kedua orang tua itu.
__ADS_1
"Pagi yah, pagi bun!" Sapa Diki yang baru saja turun diikuti Juna, Kevin dan Elang.
"Pagi."
"Pagi tante, pagi om!" Sapa ketiga laki-laki yang mengintili Diki.
"Panggil bunda aja," ujar bunda Intan.
Juna tertawa kecil. "Beneran nih tan?"
Bunda Intan mengangguk. "Bener dong, bunda seneng kalau rame begini. Sering-sering aja nginep!"
"Bener bun! Kalau tiap pagi behini mah Lya juga bakalan rajin bangun subuh." Lya mengeluarkan cengirannya.
Diki mengusap kasar wajah Lya. "Mata keranjang!" Ujarnya pada Lya.
Lya memukul lengan Diki. "Ih tangan lo bau!"
"Abis garuk ketek!" Jawab Diki santai.
"DIKIIIIIIIII!" Teriak Lya memukul lengan Diki dengan kuat.
"Lya! Jangan teriak-teriak ini masih pagi, apalagi di depan makanan begini!" Tegur ayah David.
"Mulut lo gede banget," celetuk Elang.
Lya menatap tajam Diki. "Nanti berantem lagi, awas aja kalau sampai ada yang nangis terus ngunciin diri di kamar. Gak akan bunda bujuk lagi!" Ujar bunda Intan membuat Lya dan Diki memanyunkan bibirnya.
"Emang mereka begitu bun?" Tanya Kevin.
Bunda Intan mengangguk. "Sering. Kadang pukul-pukulan entar yang satu ngambek yang satu nangis. Ngunciin diri di kamar sampai ayah pulang."
"Kayaj bocah banget," celetuk Juna.
"Kerjaan Diki tuh, kalau udah kalah pasti ngambek terus masuk kamar gak mau makan. Pas keluar matanya udah bengkak kayak anak gadis abis di putusin pacarnya nangis-nangis gak jelas," timpal Lya membuat Diki menatapnya tajam. "Apa? Mau protes? Ayah sama bunda saksinya!"
Teman-teman mereka tertawa melihat tingkah Lya dan Diki. Diki menyuap nasi gorengnya dengan kesal. Matanya tidak lepas dari Lya dan menatap gadis itu tajam.
Mereka sarapan pagi dengan nikmat, suasana hangat yang sangat jarang terjadi di rumah itu. Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Karta dan teman-temannya memutuskan untuk segera pulang dan bersiap ke sekolah.
"Kita pamit dulu ya om!" Pamit Karta pada ayah David.
"Hati-hati, jangan ada yang bolos. Om bakal tanya pak Burhan nanti," ujar ayah David.
"Siap om! Aman." Balas David.
"Kita pamit ya bunda," ucap Devan menyalami tangan bunda Intan.
Mereka bergantian menyalami tangan ayah David dan bunda Intan.
"Hati-hati ya!"
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1