GELYA

GELYA
CHAPTERS 94


__ADS_3

"Ngomong apa aja lo ke Lya?" Tanya Karta pada gadis yang sedang berdiri di tengah-tengah inti Rakasa.


"Apa maksud lo?" Tanya Lisa balik.


Karta mendengus kesal. "Jangan bikin gue naik darah, gue bisa aja kasarin lo."


Lisa menatap Karta datar. Tidak berubah, itulah yang ada di pikirannya. "Ngomong yang mana Karta Angkasa? Gue ngomong banyak banget ke Lya. Perlu gue ngomong ulang?"


"Bertele-tele banget sih lo. Lo ngomong yang nggak-nggak kan ke Lya, lo pasti fitnah Karta," ujar Juna. Cukup jengah dengan gadis berambut pendek ini.


"Apa yang gue bilang ke Lya itu benar. Emang jelas kalau kalian ninggalin Bima disana," balas Lisa dengan sangat tenang menatap Juna.


"Posisinya Bima adalah pengkhianat. Dia seklompotan sama musuh, kita ninggalin dia sama teman-temannya," ujar Kevin.


Lisa tersenyum. "Tau dari mana kalau Bima pengkhianat? Tau dari mana kalau Bima temenan sama mereka? Tomi sepupu Karta. Kenapa kalian malah nuduh Bima yang jadi dalang dari semua ini?"


"Tomi emang sepupu gue, tapi gue gak dekat sama sekali sama dia. Dan-"


"Enough! Mau ngomong apa lagi lo? Stop pembelaan diri. Bima kehilangan Tiara karena lo, Bima kehilangan nyawanya karena lo, gue kehilangan Bima juga karena lo Karta. Berhenti bersikap seperti lo adalah korban disini," potong Lisa. Air matanya menetes, seharusnya dia melarang Bima untuk pergi hari itu. Seharusnya Bima memang tidak perlu melakukan apapun untuk Karta.


Ada seseorang yang menatap Lisa dengan pandangan yang tidak dapat di artikan. Dia sedang gundah sekarang, ada rasa marah karena gadis itu alasan Lya marah pada Karta, tapi ada rasa rindu yang sedang dia tahan sekarang.


"Gue gak pembelaan. Gue emang gak ngejebak Bima," ujar Karta bersikeras. Dia terlihat sangat frustasi, harus berapa kali dia katakan jika bukan dia yang menjebak Bima.


"Whatever! I'm done. Gue balik cuma mau nemuin Lya, gue harua ceritain semua yang gue tau. Lya juga udah liat rekaman cctv kejadian malam itu, kalau lo emang masih punya hati, tolong minta maaf ke Lya." Lisa pergi dari sana, meninggalkan Karta dengan semua pikiran yang memutar tidak karuan di otaknya. Namun dia masih sempat melirik laki-laki yang berdiri disana, tatapan sendu yang dia pancarkan untuk itu.


...🌻...


"So, what happened? Kenapa kalian datang malam-malam dengan kondisi begini?" Tanya Clarissa. Gadis itu cukup terkejut saat Lya dan Diki datang. Lebih terkejut ketika melihat Lya datang dengan keadaan menangis.

__ADS_1


Lya tidak menjawab. Dia malah memeluk Clarissa dan kembali menangis, Clarissa hanya bisa mengelus punggung Lya mencoba menenangkan. "Dika pergi bukan karena kecelakaan. Dika di tinggalin Karta sama teman-temannya di markas musuh, Bima meninggal karena di gebukin musuh!" Jelas Diki.


Clarisaa terdiam. Mencerna semua perkataan Diki, bagaimana bisa Karta melakukan itu. "Are you serious? Don't joke, this isn't funny," ujar Clarissa menolak percaya.


"Gak ada yang bercanda, ini fakta! Bima donorin jantung dia malam itu!" Tambah Diki.


Tangis Lya semakin keras. Clarissa juga ikut menangis, tidak menyangka ada masalah serumit ini di hidup mereka. "Mami sama papi jahat banget Cla, mereka bohongin gue," lirih Lya.


Clarissa mengeratkan pelukannya pada Lya. "Mungkin mami sama papi takut kamu semakin sedih Gel gel. Mereka pasti punya alasan." Setidaknya Clarissa hanya bisa mengatakan itu, dia juga tidak tau harus berbuat apa.


"Apapun itu, gue tetap kecewa. Bunda sama ayah tega banget!" Ujar Diki. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di kasur Lya. Masih berbalut seragam sekolah, Lya dan Diki terlihat sangat berantakan.


"Kamu jangan gitu dong Dik. Kamu boleh marah, tapi jangan sampai kelewatan. Kita harus tanya alasan mereka bohongin kita begini." Clarissa berucap. Memperingati kedua sepupunya. "Mending kalian bersih-bersih dulu terus kita makan malam. Kalian nginap disini aja dulu, nanti aku bilang ke kak Careen."


"Gak usah! Gue mau pulang aja, mau sama Dirga," ujar Lya menolak. "Gak perlu kabur-kaburan begini, gue udah capek banget dengan semua masalah ini. Biarin mami sama papi tetap sembunyiin masalah ini dari gue, gue udah males ngurus ini."


Diki dan Clarissa bertukar pandang. Tidak membalas ucapan Lya, mereka hanya diam. "Masalah ini gak perlu di bahas lagi. Bima udah tenang di surga, gue udah ikhlas dengan kepergian dia. Untuk masalah Karta, gue udah capek. Biar itu jadi urusan dia sama Bima sendiri. Allah tau mana yang benar dan mana yang salah!" Ujar Lya lagi. Jika dia terlalu memikirkan masalah ini, dia takut kondisinya semakin menurun. Cukup takut dengan kemungkinan besar yang akan terjadi pada dirinya sendiri, Lya cukup sadar dia sendiri sedang dalam masalah besar.


Diki dan Lya memutuskan untuk segera pulang sebelum hari semakin larut, karena mereka juga sudah lelah dan ingin segera istirahat. Saat Lya sampai di rumah, dia tidak menemukan keberadaan orang tuanya. Lya berjalan menuju kamar dan segera membersihkan diri lalu sholat. Setelah itu pintu kamar Lya di ketuk seseorang dari luar.


Ceklek


"Kenapa?" Tanya Lya melihat Dirga yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kakak kenapa?" Tanya Dirga balik. Dia melihat wajah Lya yang sangat pucat, mata merah dan sembab membuatnya semakin yakin kalau Lya sedang tidak baik-baik saja.


Lya menggeleng cepat. "Kakak gak kenapa-kenapa. Cuma capek aja," jawab Lya pada Dirga setidaknya dia harus menjawab begitu bukan.


Anak laki-laki itu menatap Lya dengan wajah datarnya menarik Lya menuju kasur. "Tungguin disini aja, Dirga suruh mba bikin bubur untuk kakak," ujar Dirga. Dia kembali melanglah keluar untuk menemui pelayan pribadinya.

__ADS_1


Mata Lya tidak lepas dari langkah Dirga hingga adiknya itu hilang di balik pintu. Lya sangat bersyukur bisa bertemu dengan Dirga, dia merasa Dirga adalah orang yang sangat mengerti dia selain Diki. Lya tidak menyangka anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu jauh lebih peka di banding orang-orang dewasa yang Lya pernah temui.


Dirga kembali muncul, dia memasuki kamar Lya dan duduk di samping Lya. Menarik tangan kiri Lya dan meletakkan di pahanya. Dirga memijat tangan Lya dengan lembut. "Mami lagi keluar, kalau papi lagi keluar kota. Katanya mau liat makam kakek sama nenek, sekalian urus bisnis," ujar Dirga.


Lya mengangguk mengerti. Papinya pasti pergi ke Kalimantan, kota kelahiran papi dan Bima. Sudah sangat lama Lya tidak kembali kesana, padahal disana ada makam kakek dan neneknya. "Jadi kenapa Dirga gak ikut mami?" Tanya Lya mencoba mencari topik pembicaraan.


"Nungguin kakak pulang. Papi sama mami nelpon kakak dari tadi sore tapi hp kakak gak aktif," jawab Dirga menyadarkan Lya kalau ponselnya memang tidak aktif dari tadi sore.


Dengan tersenyum, Lya menarik tangannya dari Dirga. "Udah, gak usah do pijit lagi. Tangannya gak kenapa-kenapa kok. Makasih ya," ujar Lya.


Anggukan dari Dirga melebarkan senyum Lya. Merasa gemas dengan adiknya ini, pipi Dirga terlihat semakin berisi sekarang. Rasanya Lya ingin menggigit pipi bocah ini.


Tok tok


Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Lya yang masih terbuka. Pelayan itu masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air mineral.


"Ini non," uajr pelayan itu meletakkan nampannya di meja samping kasur Lya.


"Makasih mba Sri," ucap Lya. Pelayan itu mengangguk dan kembali keluar kamar.


"Padahal kakak gak suka bubur!" Celetuk Lya menatap buburnya.


Dirga melirik Lya sekilas. "Buburnya enak. Dirga suruh mba bikin buburnya yang gak sama kayak di rumah sakit," jawab Dirga.


Lya tertawa. "Makasih ganteng," ucap Lya memakan buburnya. Setidaknya ada Dirga yang menemaninya sekarang. Lya merasa aman jika bersama Dirga.


"I'm lucky! At least there's no reason to waste your life!"


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2