
Melihat penyakit Lya yang kembali berulah, membuat mami Risma tidak sanggup terus-terusan menatap anaknya yang tidak berhenti menangis.
"Tolongin gue, Dev." Ringis Lya.
"Apa sayang? Yang mana yang sakit?" Tanya Devan.
Lya melenguh. "Se-muanya," jawab Lya.
Devan mengusap air mata Lya. "Sabar sayang," bisik Devan. Dia menoleh menatap mami Risma yang menangis di ujung kasur Lya.
"Bang Karta mana, Dev?" Tanya Lya.
"Dia di rumah. Mau gue telponin suruh kesini?" Tanya Devan.
Lya diam tidak menjawab. Karena bingung, Devan segera menelpon Karta.
"Kerumah sakit, buruan!" Ujar Devan lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.
"Sa-kit shhh, mami!"
"Iya sayang, inu mami nak. Lya mau apa nak?"
"Sakit mi!" Lya menangis.
Dia terlihat sangat lemah sekarang, tidak ada lagi Lya yang sering berteriak, tidak ada lagi Lya yang sering menyombongkan diri. Gadis itu sudah berubah menjadi gadis yang lemah sekarang.
Dua puluh menit berlalu, Karta datang dengan tergesa-gesa. Meski Lya sudah tenang, Devan tetap meminta Karta datang.
"Lya kenapa?" Tanya Karta berbisik karena melihat Lya tengah tertidur dengan mami Risma yang menemaninya.
"Dia nanyain lo tadi. Penyakitnya kambuh, dia kesakitan," jawab Devan.
"Gue gak bisa ninggalin dia, kalau gue gak datang nanti gak masalah kan?" Tanya Devan.
"Gak masalah. Biar gue yang ngomong ke Bara!"
Lya kembali merasa mual. Dia kembali memuntahkan cairan bening dari perutnya. Devan dan Karta membantu mami Risma mendudukkan Lya.
"Udah sayang?" Tanya mami Risma yang memegang mangkuk besi.
"Sakit, mi!"
"Ya, inu abang," ujar Karta.
Lya kembali menangis. Rasanya dia sudah tidak tau bagian mana yang lebih sakit di tubuhnya ini, Lya ingin menyerah saja.
"Sabar sayang, kan tadi udah di obatin sama dokter Rizal," ujar mami Risma.
"Bang..."
"Iya Ya, ini abang."
"Bang..."
__ADS_1
"Tidur ya, biar dakitnya hilang." Bisik Karta. Dia mengelus rambut Lya mencoba membuat gadis itu tertidur. Meski butuh waktu sedikit lama, tapi Lya benar-benar tertidur setelah itu.
🌻
Lya membuka matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Devan tengah solat di samping ranjangnya. Mata Lya melirik jam yang menunjukkan waktu magrib. Lya terharu melihat ketulusan Devan, laki-laki itu tidak pulang demi menemaninya. Mata Lya tidak pernah lepas dari setiap gerakan Devan, hingga dimana laki-laki itu mengucap salam dan mulai berdoa.
"Ya Allah, kalau biasanya Devan minta untuk di kuatkan dan di beri panjang umur. Kali ini doanya Devan ganti ya Allah, Devan mohon kuatkan Lya, sembuhkan penyakitnya..." Bisik Devan dalam hati.
Setelah menyeledaikan ibadahnya, Devan mengemas kembali sajadahnya.
"Udah bangun?" Tanya Devan melihat Lya yang memperhatikan gerak-geriknya.
Lya mengangguk pelan. "Mami sama papi mana, Dev?" Tanya Lya.
"Keluar tadi," jawab Devan singkat. Dia duduk di samping ranjang Lya. "Nanti ada kumpulan sama anak inti lama, gue males deh. Gue disini aja," ujar Devan lagi.
"Kenapa gitu?" Tanya Lya. "Kalau udah sama inti lama pasti bahas hal yang penting, lo gak boleh gak datang."
Devan mengelus punggung tangan Lya. "Tapi gue mau temenin lo," jawab Devan mengerucutkan bibirnya.
Lya terkekeh geli. "Lo udah dari pagi disini, gue udah gak apa-apa. Lo bisa kesini lagi besok." Balas Lya mengelus rambut Devan.
Devan hanya terdiam, Lya juga terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Lo mau sesuatu?" Tanya Devan.
"Nyanyiin gue dong. Suara lo bagus."
Devan tersenyum miring membalas tatapan Lya. "Tau dari mana kalau suara gue bagus?" Tanya Devan menaikkan sebelah alisnya.
"Gue gak bisa nyanyi," balas Devan tertawa.
Lya mengerucutkan bibirnya. "Tapi gue pengen dengar lo nyanyi," ujarnya membuat Devan menghela nafas berat.
"Sedikit aja ya?"
Lya tersenyum dan mengangguk. Lya mendudukkan tubuhnya membuat Devan dengan sigap membantu Lya. Karena tubuh Lya yang masih lemah, Devan duduk di samping Lya dan merangkul tubuh lemah Lya. Gadis itu meletakkan kepalanya di dada Devan.
Music Reff "Angle baby"
Suara Devan menyapa indra pendengaran Lya. Dengan perlahan Lya kembali menutup matanya untuk menikmati nyanyian Devan.
Dengan lembut Devan mengelus rambut Lya untuk memberi kenyamanan pada gadisnya itu.
Devan memeluk tubuh lemah Lya dengan erat. Butuh kekuatan besar untuknya menyelesaikan lagu singkat yang dia pilih untuk Lya, Devan bajkan tengah menahan air mata yang tengah berusaha untuk keluar.
"Bagus," bisik Lya. "Semua yang ada di lo itu adalah anugrah dan gue bersyukur punya lo, Dev."
"Gue jauh lebuh bersyukur punya lo, Ya." Balas Devan mengecup puncak kepala Lya dengan sayang.
Ceklek
Pintu kmaar di buka oleh Dirga. Anak itu masuk sendirian.
__ADS_1
"Kok sendirian?" Tanya Lya.
Dirga menatap Devan datar membuat Devan melepaskan pelukannya pada Lya. "Mami sama papi lagi di ruangan dokter," jawab Dirga mendekati Lya.
Devan kembali duduk di kursi sedangkan Dirga naik dan duduk di depan Lya. "Kakak udah sembuh?" Tanya Dirga. Lya tersenyum manis pada adiknya, mengelus rambut Dirga tanpa menhawab pertanyaan adiknya.
"Dirga gak boleh galak-galak sama bang Devan, avang Devan kan baik." Ujar Lya pada Dirga.
"Dirga gak galak!" Balas Dirga membuat Devan mendelik.
"Gak galak tapi nyeremin," bisik Devan kesal.
Tidak lama orang tua Lya juga sudah datang, mereka berbincang tentang berbagai hal terutama Devan dan papi Agung. Mereka banyam membicarakan tentang bisnis keluarga, hingga tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Tapi Devan berniat mengurungkan rencananya untuk pergi ke markas, setelah melihat penyakit Lya kembali kambuh. Gadis itu mengeluh tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Sakit mi!" Ringis Lya.
"Yang mana sayang? Sini biar mami usir sakitnya." Tanya mami Risma menangis.
Papi Agung tengah mengelus rambut Lya menguatkan anaknya itu. Devan hanya fiam, dia menoleh pada Dirga yang ketakutan. Dengan langkah pelan Devan mendekati Dirga. "Kakak Dirga kan kuat. Dirga juga harus kuat, jangan nangis." Bisik Devan.
Mata Dirga semakin berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan isakan. Dengan pelan Devan menggendong Dirga membuat anak itu memeluk leher Devan. Isakan Devan bercampur dengan ringisan Lya.
"Sa-kit hiks.."
"Sabar sayang."
Papi Agung menekan tombol darurat membuat dokter Rizal datang dengan segera. Dokter Rizal memeriksa kondisi Lya dan menyuntikkan cairan ke dalam infus Lya. Perlahan tubuh Lya melemas dan terlihat tenang.
Dirga menangis melihat Lya, Devan mendekati Lya dengan Dirga yang masih dia gendong. "Kuat ya, Ya. Gue mohon, bertahan buat kita." Bisik Devan.
Lya yang tadinya sempat menutup mata, kini kembali membuka kelopak matanya. Dia hanya menatap Devan. "Lo bisa ke markas sekarang," bisik Lya pelan.
Devan langsung meletakkan Dirga di sofa dekat mami Risma duduk dan kembali mendekati Lya. "Gue temenin lo disini, gak masalah kalau gue gak datang." Jawab Devan menolak.
"Gue gak apa-apa, Dev. Nanti lo kesini lagi bareng anak-anak sekalian liatin gue disinu," ujar Lya.
Devan hanya diam menatap wajah pucat Lya. Rasanya dia ingin menemani Lya sampai besok, tapi dia juga tidak bisa egois mengingat tidak hanya ada dia disini. Lya juga punya keluarga. "Gue bakal kesini lagi," ujar Devan akhirnya.
Lya tersenyum tipis. "Gue juga mau tidur cepet, biar bisa mimpi indah." Balas Lya. "Ucapin selamat tidur buat gue, Dev."
Devan tersenyum mengelus rambut Lya. "Selamat tidur sayangnya Devan. Sleep well!" Bisik Devan.
"Gue sayang lo, Dev."
"Gue sayang lo juga, Ya!"
Lya tersenyum dan menutup matanya. Devan mengecup kening Lya lama, Devan harus kuat. Tidak boleh menangis lagi, Lya saja tidak menangis lagi. Devan harus kuat untuk Lya.
"Om, Devan pamit sebentar. Nanti Devan kesini lagi." Pamit Devan pada papi Agung.
Papi Agung mengangguk. "Terima kasih ya nak," ujar papi Agung menepuk pundak Devan.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan orang tua Lya, Devan meninggalkan rumah sakit dengan setengah hati. Meski begitu, dia segera menemui Karta dan berharap rapat kali ini bisa selesai dengan cepat.
...🌻...