GELYA

GELYA
CHAPTERS 58


__ADS_3

"Kapan kamu bawa gadis itu ke papa?"


Devan meletakkan sendoknya. "Buat apa?" Tanya Devan malas.


"Dia beneran bukan pacar kamu?" Tanya ayahnya pada Devan.


Devan menggeleng. "Bukan pah, lagian perjodohan itu juga udah batal. Dan Devan yakin papa gak nyesal batalin perjodohan itu karena emang Clara bukan cewek baik-baik!"


Ayah Devan menghela nafas panjang. Dia menatap anak semata wayangnya dengan sayang. "Terserah kamu! Papa ngikut aja sekarang."


Senyum Devan terukir jelas. Ini yang dia mau, ayahnya mendengarkan ucapannya. "Makasih pah," ucap Devan terlihat senang. Makan malam ini terasa sangat bersejarah untuk Devan, meski hanya ada dia dan ayahnya, Devan sudah merasa cukup.


Setelah makan malam, Devan bersiap untuk pergi kerumah Karta. Inti Rakasa sudah berkumpul disana, mereka berencana pesta barbeque mengingat ini malam minggu.


🌻


Lya membuka matanya, tubuhnya terasa tidak bertenaga. Tentu saja, dia tengaj bergulung di dalam selimut tebalnya. Padahal jam masih menunjukkan pukul delapan, tapi dia memilih untuk tidur duluan.


"Ya?"


Lya melihat kearah pintu, terdengar suara ayah David yang memanggilnya. Dengan langkah malas dia berjalan membuka pintu.


"Kenapa yah?" Tanya Lya yang belum mengumpulkan semua nyawanya.


"Kamu udah tidur? Makan malam dulu baru tidur."


Lya mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah ayah David. Saat Lya sampai di meja makan, Lya melihat seseorang yang asing di matanya.


"Chintya?" Tanya Lya.


"Hai Lya," sapa Chintya. Gadis itu tengah berjalan kearah meja makan dengan sepiring lauk di tangannya.


"Chintya ikut makan malam disini, gue yang ajak. Bunda sama ayah juga gak keberatan." Diki duduk di samping Lya. Lya hanya mengangguk-angguk mengerti.


Bunda Intan datang membawa semangkok sup ayam. Chintya membantu bunda Intan.


Diki tersenyum. "Duh idaman banget cewek gue," gumam Diki pada Lya. "Begitu dong. Cewek tuh harus bisa masak, lo belajar sama Chintya sana."


"Bacot!" Umpat Lya.


"Di kasih tau malah gitu!"


Bunda Intan dan Chintya sudah bergabung dan duduk di meja makan.


"Chintya sudah berapa lama pacaran sama Diki?" Tanya bunda Intan.


Chintya tersenyum. "Baru kok tante," jawabnya.


"Ini siapa yang masak sup nya?" Tanya ayah David.

__ADS_1


"Chintya yah, dia bilang resep dari ibunya, enak kan?" Jawab bunda Intan.


Ayah David tersenyum. "Enak! Pintar kamu."


Chintya tersenyum mendengar penuturan ayah David. Gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum.


"Makasi om. Mamah selalu ngajarin Tya masak, makanya sedikit-sedikit Tya bisa. Mamah bilang, anak perempuan harus bisa ngurus dapur."


Lya hanya diam menyantap makanannya. Dia merasa pembicaraan ini tidak memiliki jalan masuk untuknya bergabung.


Diki menyenggol lengan Lya membuat Lya meliriknya. "Liat tuh, anak perempuan tuh kerjaanya di dapur, bukan di kamar terus."


"Iya ntar gue kerja di dapur," jawab Lya ketus.


"Lya gak bisa masak?" Tanya Chintya membuat mood Lya semakin memburuk.


"Hidupin kompor aja gak bisa, gimana mau masak!" Celetuk Diki menjawab.


Lya menatap Diki tajam, dia mengalihkan pandangannya saat mendengar tawa kecil dari Chintya.


"Gak apa-apa kok Ya, masak emang gak gampang. Kalau kamu mau, aku bisa kok ngajarin kamu," tawar Chintya.


"Gak makasi. Kalau gue mau bisa minta tolong bunda. Mending habisin nasi lo cepetan, lagi makan gak usah banyak omong," jawab Lya menatap Chintya datar.


Chintya tersenyum kikuk. Diki yang melihat Lya seperti itu langsung menegur Lya. "Niat Chintya baik Ya, jawaban lo ketus amat!"


Lya hanya mengendikkan bahunya acuh.


Setelah menyelesaikan makan malam itu, Lya yang merasa malas berlama-lama disana dan berhubung dia juga merasa lemas memutuskan untuk kembali ke kamar.


"Bunda!" Panggil Lya. "Lya ke kamar duluan gak apa-apa ya?"


Bunda Intan mengangguk. "Jangan langsung tidur, baru selesai makan."


"Siap bunda!" Lya segera melangkah menuju kamarnya.


Diki mencibir Lya. "Anak perempuan kok malas banget, bekas makannya aja gak bisa di beresin. Dikira ratu apa?"


"Diki!" Tegur bunda Intan. "Gak boleh ngomong kayak gitu!"


"Kamu ini, kalau Lya dengar berantem lagi. Gak capek apa?" Tanya ayah David heran.


Diki tertawa. "Paling juga cuma di tonjok," jawabnya.


Chintya berdiri membantu bunda Intan membereskan semua bekas makan mereka. Dia bahkan menyempatkan waktu untuk mencuci piring kotor yang ada.


"Aduhh makasi banyak ya Tya, kamu repot-repot pake nyuci piring segala."


"Gak apa-apa kok tante, Tya udah biasa," balas Chintya tersenyum.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan cuci piringnya, Chintya pamit pulang di antar Diki.


Lya menatap perginya motor Diki meninggalkan halaman rumah. Dia sebenarnya juga tidak enak pada bunda dan Chintya tapi dia merasa kesal pada Diki yang membeda-bedakan dirinya dengan Chintya. Lya tidak suka. Lya berjalan kembali kearah ranjang, tangannya terulur meraih tisu yang ada di meja samping kasurnya. Lya menyeka keringat yang membasahi keningnya, akhir-akhir ini Lya merasa bahwa dia lebih sering berkeringat. Tangan kirinya bergetar, Lya hanya menatap jari-jari yang ikut bergetar. Aktivitasnya yang padat membuat Lya sering merasa lemas, beberapa tulangnya juga sering terasa nyeri apalagi bahunya.


"Badan sakit-sakit, udah kayak kuli bangunan aja gue," gumamnya tertawa geli.


Ponsel Lya berdering.


Clarissa is calling..


"Halo?"


"Gel Gel! Bisa gak jemput aku. Aku telpon Diki gak diangkat."


"Lo dimana?"


"Di rumah Diana, aku abis kerja kelompok. Tadi aku pergi sama kak Fero, takut kalau harus pesan ojek online."


"Share loc, gue siap-siap dulu tapi ntar traktir gue martabak!"


"Oke, see you!"


Lya mematikan sambungannya dan segera mengganti bajunya. Lebih tepatnya, mengganti celananya saja karena dia sudah menggunakan baju kaos putih kebesaran. Tidak masalah, Lya suka sekali menggunakan celana training hitam dan kaos kebesaran.


Setelah merasa siap, Lya segera turun dan mencari ayah David.


"Ayah!" Panggil Lya.


"Apa?"


"Lya pinjam mobil ya? Mau jemput Cla di rumah temannya. Dia abis kerja kelompok tapi takut mau mesan ojek online. Nelpon Diki tapi gak diangkat katanya."


"Pakai aja. Jangan ngebut-ngebut, jangan pulang kemalaman juga."


"Siap bos! Nanti tolong bilang ke bunda ya, yah. Lya berangkat, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam hati-hati!"


Dengan santai Lya mengendarai mobilnya memecah jalanan malam. Meski sudah jam sembilan namun masih banyak pengendara berlalu lalang. Kota Jakarta memang sangat penuh dengan pengendara.


Tanpa terasa, Lya sudah sampai di sebuah rumah yang dia yakini adalah rumah Diana.


"Gel Gelllllll!" Pekik Clarissa berlari menghampiri mobil.


"Ayo!" Ajak Lya.


Clarissa segera masuk kedalam mobil, Lya menekan klakson untuk berpamitan pada Diana yang berdiri di teras rumahnya. Gadis itu melambaikan tangan kearah Lya dan Clarissa.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2