GELYA

GELYA
CHAPTERS 87


__ADS_3

Malam ini markas Rakasa tengah dipenuhi para anggotanya. Lya dan Diki juga ada disana bersama Keenan dan Mira, mereka tengah duduk di gazebo depan bersama anggota yang lain.


Di karenakan inti Rakasa tengah rapat bersama beberapa anggota inti yang terdahulu di dalam markas membuat para anggota yang lain berada di luar. Devan dan Alix bahkan ikut serta dalam rapat yang tidak di ketahui oleh Lya tentang apa yang tengah mereka bahas.


Salah satu anggota bernama Wira tengah bermain gitar dengan banyak anggota yang menjadi vokalisnya. Banyak aktivitas lain yang mereka lakukan seperti bermain game online, bermain catur dan ada yang hanya mengobrol dengan yang lain.


Begitu juga dengan Lya, Diki, Keenan dan Mira yang tengah bermain ular tangga. Lya yang terus saja tertawa karena Keenan dengan nasib buruknya harus selalu berakhir bertemu dengan mulut ular dan Diki yang tidak pernah mendapat angka dadu sesuai harapan.


"Sabar ajalah Nan," ujar Mira. Menatap kasihan pada temannya itu, namun juga tidak bisa menyembunyikan tawanya.


Lya mengelap sudut matanya yang terasa berair. "Sedih banget. Baru juga dapat tangg, pas jalan lagi malah ketemu ular."


Keenan yang mendengar ucapan Lya tersungut-sungut. "Ini kenapa nasib gue sial banget sih!" Merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"ASTAGGIRULLAHALADZIM!" Diki memekik gemas. Bagaimana tidak, dia sudah berada di titik permainan namun tidak juga mendapat angka sesuai.


Sibuk dengan keributan yang mereka lakukan hingga suara knalpot motor besar menarik perhatian mereka. Ternyata itu Tino, salah satu anggota dengan motor yang baru saja dia modifikasi.


"Widihhh anak tukang pamer datang," celetuk Keenan dengan watadosnya.


Tino tertawa kecil. Tidak merasa tersinggung karena itu memang julukan untuknya dari anak-anak. "Keren gak? Baru keluar tuh!" Balas Tino menunjuk motornya.


Lya mengangguk. "Keren kok. Gue pinjem boleh gak?" Tanya Lya. Bagaimana tidak penasaran, motor Tino selalu dipakai untuk turun balapan dan sangat jarang gagal.


"Boleh aja. Asal kalau ada yang lecet lo gak ngamuk pas gue minta ganti rugi yang mahal," jawab Tino. Laki-laki itu tidaklah pelit, siapapun anggota yang butuh motornya akan dia pinjamkan asal bisa menjaga saja.


Lya tersenyum manis pada Tino. "Aman! Kalau lecet gue ganti baru," balas Lya membalas sedikit kesombongan Tino.


Andika yang mendengar percakapan Lya dan Tino ikut bersuara. "Serius lo? Gue gak pernah liat lo bawa motor," ujarnya.


"Wihh Dik, tolong kasih paham mereka semua," jawab Lya berekspresi sombong.

__ADS_1


"Bisa Ki?" Tanya Andika.


Diki menoleh. "Dia lo suruh bawa helikopter aja bisa. Gayanya aja yang kayak ratu Inggris gak mau bawa motor sendiri ke sekolah," jawab Diki. Sebenarnya dia juga tengah kesal, apalagi mengingat ucapan Lya yang mengatai dia adalah sopir pribadinya.


"Nih!" Tino memberikan kunci motornya pada Lya. "Gue percaya sama lo, hati-hati aja. Kalau jatuh jangan lupa teriak, biar ada yang tolongin lo." Tambahnya sedikit tertawa.


Mira menepuk bahu Keenan. "Nan pinjam motor lo," ujarnya. Berniat ikut dengan Lya, bisa saja mereka berdua berkeliling kota malam ini.


"Gak usah pinjam, bawa aja." Lya berucap dengan tangan yang langsung mengambil kunci motor Keenan yang tergeletak di sampingnya. Keenan mendengus pada Lya. Lya selalu saja bertindak seenaknya.


"Gue ikut." Jessy muncul di antara mereka.


Andika mengernyit heran. "Mau bawa motor siapa lo?" Tanyanya pada Jessy. Pasalnya Jessy datang menggunakan mobil.


"Motor lo!" Jawab Jessy menunjukkan kunci motor Andika yang sudah berada di tangannya.


Andika melotot. "Dapat dari mana lo?" Tanyanya tidak mengerti. Bukankah kunci motornya berada di kamarnya.


"Ayo!" Ajak Jessy pada Lya dan Mira.


Lya dan Mira tersenyum dan segera beranjak mengikuti Jessy. Diki, Keenan, Tino dan Andika juga mengikuti mereka.


"Hati-hati. Jangan ngebut-ngebut!" Ujar Keenan. Sebenarnya dia tidak yakin melepaskan ketiga perempuan itu pergi berkendara malam-malam begini.


Lya yang sudah duduk di motor Tino pun mengangguk. "Kalau bang Karta ataupun Devan ngamuk, gue gak tanggung." Ujar Diki yang fokus memakaikan Lya helm miliknya.


"Aman!" Balas Lya.


Andika mengetuk helm Jessy. "Jangan lama-lama, udah malam." Ujarnya menunjuk jam tangannya.


Gadis itu merotasikan matanya malas. "Ya elaahh baru juga jam delapan. Ini malam minggu, bebas sedikit kenapa sih?" Balas Jessy.

__ADS_1


Jessy yang pertama menghidupkan mesin motornya diikuti Mira dan Lya. Jika dilihat, mereka sangatlah keren dengan setelan serba hitam dan jaket Rakasa yang membaluti tubuh ramping mereka. Sedikut mengambil perhatian para anggota yang lain hingga mereka berkumpul di sekitar ketiga gadis itu.


Ketiga motor sport itu sudah meninggalkan markas besar Rakasa dengan dentuman knalpot yang terdengar sangat berisik. Para laki-laki yang ada disana hanya menggeleng melihat ketiga anggota perempuan mereka yang sudah seperti preman saja.


Jessy memimpin perjalanan, Lya dan Mira mengikuti arah motor Jessy dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Lya akui Jessy terlihat sangat keren jika sudah seperti ini, begitu juga dengan Mira. Meski Lya sudah pernah bermotor bersama Mira namun malam ini Mira terlihat jauh lebih keren.


Di tengah perjalanan, Lya merasa melihat seseorang yang tidak asing baginya. Karena merasa penasaran, Lya memgejar Jessy untuk memberitahu sesuatu.


"MINGGIR DULU!" Teriak Lya.


Jessy segera menepikan motornya diikuti Lya dan Mira. Dia memperhatikan sekitar dan sadar bahw mereka sedang berada di sekitar diakotik.


"Kenapa?" Tanya Mira.


Lya menunjuk sebuah gang yang ada di dekat sana. Jessi merasa deja vu, dia mengenal tempat itu.


"Gue rasa ada Clara tadi disana," ujar Lya melepas helmnya.


Jessy menaikkan sebelah alisnya. "Terus?" Tanyanya. Untuk apa Lya berhenti hanya karena ada Clara, bukankah Lya dan Clara tidak akur.


Lya menghela nafas. "Kayaknya dia lagi di gangguim banyak cowok deh," jawab Lya menebak. Karena dia melihat beberapa laki-laki yang berdiri di depan Clara.


"Yakin? Lagi pula biarin aja, ngapain ngurusin dia?" Mira bersuara. Jelas saja dia tidak akan ambil pusing dengan apa yang sedang di alami Clara sekarang. Apa lagi dia masih kesal pada Clara akibat perkelahian mereka sebelumnya.


Lya mendengus. "Kalian duluan aja kalau mau, gue mau kesana bentar," ujar Lya. Di berjalan mendekati gang yang juga pernah dia datangi dalam keadaan yang sama sebelumnya.


Lya merasa jijik saat melihat Clara yang dikelilingi oleh lima laki-laki asing. Clara tengah menangis dan berusaha melepaskan diri. Karena tidak tahan melihat salah satu dari mereka ada yang mulai mencoba menyentuh tubuh Clara membuat Lya memunculkan tubuhnya.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren.

__ADS_1


__ADS_2