GELYA

GELYA
CHAPTERS 56


__ADS_3

Ceklek


Pintu UKS terbuka dan menampakkan Karta yang datang sendirian.


"Lo kenapa?" Tanya Karta berdiri di hadapan Lya.


Gadis itu menggeleng. "Hidung gue berdarah bang! Gila gue pikir udah mau mati aja. Untung Allah masih sayang sama cewek cantik kayak gue."


"Gue serius!"


"Kecapekan bang! Gue terlalu maksa otak buat mikir keras," jawab Lya menunduk.


Karta menghela nafasnya. "Kalau sakit tuh bilang Ya! Gak perlu di paksain. Kesehatan lo lebih penting dibanding olimpiadr itu."


Lya mengangguk patuh.


"Lya! Ini makanannya, kamu makan dulu ya," ujar petigas UKS yang datang dengan dua nasi kotak. "Yang ini untuk Noah. Kalian makan dulu, ibu tinggal gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa buk! Aman," jawab Lya terkekeh.


Petugas UKS itu kembali keluar meninggalkan Lya bersama kedua laki-laki tembok di ruangan itu.


Noah bergerak mendekati brangkar Lya dan meletakkan nasi kotaknya di atas brangkar untuk meja makannya.


"Makan gak bang?" Tanya Lya pada Karta.


Karta menggeleng. "Gue udah!"


Melihat Lya yang kesusahan karena rok pendeknya, Karta membuka tas dan mengeluarkan hoodie miliknya. Meletakkan di paha Lya untuk menutupi roknya.


Lya tersenyum dan merubah posisi duduknya menjadi duduk sila untuk memudahkan dia menyantap makanannya. "Makasi bang."


Karta menyender di ujung brangkar pesakitan. Dia hanya fokus menatap kedua orang yang tengah makan itu.


"Gel Gellllllllllll!"


Lya spontan menutup telinganya mendengar teriakan dari Clarissa. Gadis bule itu datang bersama Diki di belakangnya. "Jangan teriak-teriak bego!" Peringat Diki.


"Gel Gel are you okay? Where does it hurt? Oh my gosh I panicked!"


Lya menelan makanannya. "Relax Cla relax. I'm fine," ujar Lya pada Clarissa.


"Lo beneran gak kenapa-kenapa?" Tanya Diki pada Lya.


Lya mengangguk. "Cuma mimisan. Gak serius kok, tenang aja."


Diki menjitak kening Lya. "Ini pasti karena lo berlebihan belajar. Otak lo gak mampu nyerap semua isi buku, semalam bukannya istirahat malah belajar sampai tengah malam. Subuh tadi juga lo sibuk banget, kurang sibuk lo itu," omel Diki pada Lya.

__ADS_1


"Maaf!" Balas Lya kembali menyuap makanannya.


Suara rusuh memasuki ruang UKS. Juna datang bersama Kevin, Devan dan Alix. Waajh mereka terlihat lebam seperti habis berkelahi.


"Pada kenapa?" Tanya Karta.


"Berantem sama Ardian anjing!" Jawab Juna.


"Kenapa bisa?" Tanya Noah.


"Kita pada nyebat di belakang sekolah, tiba-tiba Ardian dan teman-temannya datang. Awalnya kita coba buat santai biar gak ribut, tapi Ardian emang kayak anjing. Si Juna mana tahan dengar Karta di kata-katain!" Jelas Kevin.


"Ardian gimana keadaannya?" Tanya Karta.


"Maaf Ta! Gue kebablasan, seharusnya kita gak berantem di sekolah. Apalagi di waktu sekarang," cicit Juna merasa bersalah.


"Kondisi dia parah atau gak? Perlu gue tambahin sekarang?" Timpal Karta terlihat menahan emosi. "Bangsat!"


"Dia jauh lebih babak belur. Gak perlu nanya siapa lawan dia," celetuk Devan tersenyum miring.


"Songong!" Cibir Alix pada Devan.


Lya yang sesari tadi diam mencoba membuka suara. "Obatin luka kalian, mumpung lagi diuks."


Noah bergerak menuju kotak obat, mengambil beberapa benda yang dia butuhkan seperti alkohol, obat merah dan kain kasa. Sedangkan Clarissa mengambil wadah untuk mengompres lebam di wajah mereka, untung saja dia membawa sapu tangan.


Lya mendongak menatap Devan yang berdiri di depannya. "Cuma mimisan. Padahal gue berharap ada lo yang gendong gue tadi," jawab Lya.


"Lo pingsan?"


"Iya. Hampir aja tadi gue dibawain tandu, untung aj-"


Plak


Kepala Lya di pukul Diki. "Bohong terus!"


Lya mengelus kepalanya. "Agrhh sakit bego!"


Plakk


Karta memukul kepala Diki jauh lebih keras dibanding Diki memukul Lya. "Kalau Lya mimisan lagi, gue hajar lo!"


Diki mengerucutkan bibirnya sembari mengusap kepalanya. Kesal sekali karena Lya di bela dan tengah tersenyum lebar sekarang.


"Rasain!" Ujar Lya pada Diki.


Lya kembali menatap Devan yang masih setia berdiri di depannya. Lya menoleh memanggil Clariss. "Clarissa!" Panggilnya. "Tolong obatin yang ini juga, kasihan muka gantengnya."

__ADS_1


Devan tersenyum pada Lya. "Maunya sih diobatin sama lo, tapi karena lo lagi sakit. Jadi biar gue sendiri aja," ujar Devan pelan. Laki-laki itu berjalan kearah Clarissa yang tengah mengompres lebam Kevin, dia berjongkok di depan Clarissa menunggu Clarissa selesai.


"Aakhhh pelan-pelan gila. Niat ngobatin gak sih?" Omel Juna pada Noah yang tengah mengolesi obat merah pada ujung bibir Juna.


"Obatin sendiri. Banyak omong lo!" Noah memberikan kapas yang dia gunakan tadi pada Juna dan berjalan untuk duduk di brangkar bersama Lya.


Lya tertawa kecil. "Sabar bang," ujarnya pada Noah.


"Gak punya hati!" Celetuk Juna tersungut-sungut.


"Ya!" Panggil Diki menghampiri Lya. "Tadi gue ketemu Rio!"


Lya melotot. "Serius? Kok gue gak liat dia ya?"


"Jelas lah, lo di laboratorium tadi. Kasian banget, dia makan sendirian tadi di kantin. Dengan hati yang baik dan tidak sombong ini, gue memutuskan untuk menemani dia makan."


"Halahh, gue yakin lo pasti malakin dia lagi."


Diki tertawa. "Dia ngamuk karena gue mesan batagor terus bilang ke mamangnya kalau dia yang bayar!"


Lya tertawa. "Gue yakin dia bakal ngadu ke maminya."


"Kalian dekat banget sama Rio?" Tanya Noah.


Diki dan Lya refleks mengangguk namun sedetik kemudian mereka menggeleng membuat Noah dan Karta yang ternyata juga mendengar pertanyaan Noah kebingungan.


"Yang jelas!" Ujar Karta.


"Gimana ya bang?" Tanya Lya. "Kita udah kenal dari bocah. Gue emang baru tinggal sama Diki pas masuk SMP, tapi pas SD gue selalu main sama Diki di sekitaran komplek. Kita gak dekat selayaknya teman main tapi ua gitu deh," ujar Lya yang juga bingung untuk menjelaskan.


"Hate relationship lah bang umpamanya. Kita selalu berantem tapi kita selalu main juga. Kadang kalau lagi akur bisa jailin anak komplek bareng, tapi kalau lagi gak akur Rio selalu jadi korban kita. Walaupun dia juga sering ngebales jailin kita," timpal Diki.


"Uhm.. lo gak suka ya kalau kita sering bareng Rio?" Tanya Lya hati-hati pada Karta.


"Selagi Rakasa sama Daksa gak ada masalah, kalian bebas mau temenan sama Rio atau nggak. Asal tau batas," jawab Karta.


Lya dan Diki tersenyum. "Aman bang! Kita juga gak sering bareng dia kok. Mana tahan dia dekat-dekat kita," ujar Lya tertawa.


"Ya karena kalian berdua gak tanggung-tanggung kalau jailin Rio," celetuk Clarissa.


"Mana ada. Kita anak baik!" Ujar Lya dan Diki berbarengan. Mereka yang mendengar itu hanya merotasikan matanya malas.


"Well! Whatever!"


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


__ADS_2