
Malam memang sudah semakin larut. Seorang gadis berhijab memakai seragam karyawan, baru saja keluar dari sebuah Cafe. Ia memang mendapat shift malam hari itu. Dengan langkah santai, gadis itu menyusuri jalanan malam yang sepi. Melihat ada mini market, ia berniat membeli minuman.
Saat hendak membayar minuman, dua orang penjahat bersenjata tajam masuk.
"Serahkan semua uang yang ada!" ucap salah satu dari mereka sambil menodongkan sebilah pisau tajam dileher wanita yang bertugas sebagai kasir.
Gadis yang juga ikut disandera bersikap tenang, tanpa melawan. Wanita yang dihadapannya terlihat pucat, dengan gemetaran ia hendak membuka laci kasir.
Gadis tadi mencari celah untuk bertindak. Dengan gerakan cepat, ia menepis tangan orang yang menodong dirinya.
Kakinya pun tak tinggal diam. Dengan sekali ayunan sudah membuat pria yang menyandera wanita penjaga kasir jatuh terkapar. Wanita itu segera mencari tempat berlindung.
Dua penjahat itu segera bangkit, hendak melawan dengan tangan kosong. Karena senjata mereka sudah terlempar entah kemana akibat tendangan gadis yang berani melawan mereka tadi.
Duel antara penjahat dan gadis itu tak terelakkan. Dengan ketangkasan yang dimiliki gadis itu, tak sulit baginya melumpuhkan lawan. Ia sudah terlatih untuk hal seperti itu. Meskipun seorang perempuan tapi ia tak bisa dianggap remeh.
Keadaan mini market itu sedikit kacau akibat pergulatan tadi. Wanita yang bertugas merasa lega ada yang menolongnya.
"Terimakasih Nona!" ucap wanita penjaga kasir tadi setelah penjahat kabur.
Senyum manis tersungging dari bibir gadis itu. "Sama-sama Mbak. Lain kali jangan berjaga sendirian ditengah malam."
"Teman laki-laki saya sedang keluar membeli makan tadi. Sekali lagi terimakasih Nona!" Wanita itu mengatupkan kedua tangan didada.
Gadis itu segera pamit pergi, melanjutkan perjalanan pulangnya.
Belum juga sampai ditempat tujuannya. Ia dihadang oleh sekawanan pria. Dua diantara mereka adalah penjahat yang tadi dikalahkannya dalam mini market.
__ADS_1
Ketika kabur tadi ternyata mereka memanggil komplotannya. Sungguh pengecut. Batin gadis itu.
"Hallo Nona manis! Ayo ikut kami bersenang-senang." Sebuah tangan mendarat dibahu gadis yang sudah berada diantara kerumunan para berandal jalanan.
"Don't touch me!" geram gadis itu sambil menepis tangan yang ada dibahunya dengan kasar.
"Jangan galak-galak Nona! Kita hanya akan bermain-main sebentar. Sebagai hukuman karena kamu sudah menghajar teman kami."
Gadis itu semakin geram dan meningkatkan kewaspadaan. Salah satu tangannya meraih pulpen yang terselip disaku tas selempang yang ia pakai.
"Ayo Nona ikut kami sekarang!" Salah satu dari mereka menarik tangan gadis itu.
"Are you deaf? Don't touch me!!!" teriak gadis itu. Para berandalan itu langsung menyerang.
Gadis itu pun dengan sigap mengunakan pulpen ditangannya untuk menusuk leher para lawannya. Ia langsung menyerang titik vital mereka. Mempersingkat waktu dan mengirit tenaga.
Tak butuh waktu lama, semua berandalan itu terkapar dijalanan. Ada beberapa yang pingsan dan merintih kesakitan.
"Jangan pernah meremehkan seorang perempuan! Atau kalian akan merasakan amarah singa betina yang terusik ketenangannya," ucap gadis itu.
Ya, dia memang seperti singa betina yang marah ketika ada yang berani menyentuh dirinya dengan tidak sopan. Ia pun tak pernah membiarkan kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Bahkan hatinya pun tak pernah bisa tersentuh oleh rayuan kaum adam.
Gadis itu merapikan bajunya yang berantakan dan mengambil tas yang tadi terlempar. Kemudian melanjutkan perjalanannya yang masih cukup jauh. Kenapa gadis itu memilih berjalan kaki tanpa memakai kendaraan?
Jawabannya karena ia lebih suka menikmati udara malam dalam kesunyian. Berjalan sambil menerawang bintang yang bertaburan. Bersenandung dengan jiwanya sendiri. Menikmati kesendirian yang membuatnya merasa nyaman.
Sesampainya disebuah rumah sederhana, ia mengambil kunci cadangan dari dalam tasnya. Membuka perlahan pintu dan menguncinya kembali. Ia melangkah tanpa bersuara agar tidak mengganggu ketiga temannya yang pastinya sedang terlelap.
__ADS_1
Gadis itu memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah tanpa berganti baju dulu. Ia ingin melepas penat untuk sejenak sambil memejamkan mata.
Tak berselang lama, mata indahnya terbuka lagi. Gadis itu bergegas melepas sepatu dan berganti baju. Kemudian ia kedapur mengambil air minum.
"Shafa!" Sebuah suara mengagetkan gadis itu.
"Astaga Za! Kau mengagetkanku," ujar gadis yang ternyata bernama Shafa. Ya, dialah Shafa Fikriyyatuz Zahra. Gadis dengan segala kelebihannya yang tersembunyi. Bahkan tak ada temannya yang tahu siapa sebenarnya dia. Saat ini, ia berkamuflase menjadi gadis biasa dengan segala kesederhanaannya.
"Maaf Fa! Baru pulang ya?" tanya temannya yang bernama Alza.
"Seperti yang kamu lihat Za."
Alza juga mengambil air minum. "Ya sudah istirahat sana. Biar badan kamu besok seger lagi," ucapnya. Lalu kembali kekamar.
Shafa sendiri hanya membalas dengan senyuman. Dirinya memang harus beristirahat. Lalu Shafa beranjak tidur untuk menyambut hari esok.
Hari-hari yang Shafa jalani memang padat, penuh kegiatan. Pagi atau siang ia kuliah. Sorenya bekerja di Cafe. Pulang tengah malam. Kecuali jika jadwal kuliahnya sore. Maka, ia bekerja dipagi hari.
Namun Shafa tak pernah mengeluh. Ia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Ia bebas melakukan apa yang dia mau. Kesibukannya pun juga sebagai pengalihan hatinya dari sunyi yang terus bergelayut. Kesunyian karena kepergian seseorang yang dulu menjadi penopang hidupnya.
.
.
.
Hallo readers! Bagi yang baca novel ini. Ini adalah season ke-2 dari novelku yang sebelumnya.
__ADS_1
Semoga terhibur!