
Ketika urusannya sudah selesai Shafa berniat pulang ke kontrakannya. Di tengah jalan dia bertemu Gibran. Sebagai seorang kakak kini Gibran tak sungkan memeluk dan mencium kepala Shafa dengan penuh kasih sayang ketika bertemu. Dia pun mengantar adiknya untuk pulang. Tapi, sebelum itu mereka mampir untuk makan siang.
Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan. Gibran dan Shafa mengobrol tanpa ada kecanggungan lagi. Mereka akrab lagi seperti dulu.
Tanpa terasa kini mereka sudah sampai. Saat memasuki rumah dengan diantar Gibran, Silvia menyambut dengan tatapan dan ucapan sinis.
"Sekarang udah mulai terang-terangan ya kalau kalian selingkuh," ucap Silvia.
Gibran dan Shafa mengernyit heran. Apa yang dimaksud oleh Silvia?
"Kamu ngomong apa sih Via? Siapa yang selingkuh?" tutur Gibran mencoba bersikap selembut mungkin.
Silvia semakin tampak marah. "Kamu masih mau pura-pura Bran? Setelah apa yang kamu lakukan di belakangku bersama dia," ucap Silvia sambil menunjuk Shafa.
"Pura-pura apa? Aku nggak ngerti maksud kamu Via. Kamu jangan marah-marah nggak jelas gini dong! Dari kemarin kamu juga nyuekin aku," ujar Gibran sambil memegang kedua bahu Silvia. Berharap gadis itu bisa bicara baik-baik.
"Kalian memang penipu ulung ya! Dan kamu Shafa, kamu itu penghianat. Aku tak mengira kamu setega ini sama sahabat sendiri," ucap Silvia semakin menjadi sambil menepis tangan Gibran.
"Penghianat apanya Vi? Aku tidak pernah menghianati kamu." Shafa mencoba membela diri.
Aira dan Alza yang ada di kamar pun keluar mendengar keributan di ruang tamu. Mereka berdua melihat apa yang terjadi.
"Dasar munafik kamu Fa!" Satu tamparan keras mendarat di pipi manis Shafa.
Gibran ikut marah dengan tindakan Silvia. "VIA!!!" bentaknya sambil mendekap tubuh Shafa.
Alza dan Aira pun sungguh terkejut. Baru kali ini ada pertengkaran hebat diantara mereka.
"Apa Bran? Dia memang pantas mendapat itu. Kalian pikir aku tidak tahu kalian bermesraan dibelakangku. Kalian berpelukan dan saling bercanda dengan bahagianya. Kalian pikir sudah hebat bisa bermain dibelakangku. Bahkan kamu menyentuhku pun tidak pernah Bran. Tapi dengan Shafa, dengan mudahnya kamu memeluk dia," tutur Silvia dengan penuh emosi.
Shafa dan Gibran tak menyangka Silvia melihat kedekatan mereka. Tapi itu semua hanyalah salah paham.
Gibran mendekati Silvia lagi hendak memegang tangan tapi hal itu langsung ditepis oleh kekasihnya. "Jangan pernah menyentuhku setelah apa yang kamu lakukan padaku!" ketus Silvia.
"Kamu salah paham Via. Percayalah padaku. Hubungan kami bukan seperti yang kamu kira. Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik," pinta Gibran dengan suara rendah.
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi Gibran. Apa yang aku lihat sudah menjelaskan semuanya."
"Vi, aku mohon dengarkan penjelasan kami lebih dahulu."
"Kamu mau jelasin apa Fa? Mau jelasin kalau kamu sudah berhasil merebut Gibran dari aku. Aku tak menyangka bahwa kamu hanya wanita murahan yang merebut kekasih sahabatnya sendiri."
Ucapan menohok Silvia seketika membuat Gibran emosi. Ia tak terima sang adik disebut seperti itu. "Jaga ucapan kamu Silvia! Aku kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini. Kamu tau siapa yang kamu hina? Dia adikku Via, Shafa adalah adikku," ucap Gibran dengan penuh penekanan menahan emosinya.
Alza dan Aira yang dari tadi terdiam ikut terkejut. Apa benar Shafa adalah adik Gibran. Karena yang mereka tahu Shafa hanya gadis yatim piatu yang tak mempunyai saudara. Alza pun masih kebingungan dengan situasi yang ada. Shafa memang pernah bercerita dia mempunyai keluarga angkat. Tapi Gibran yang ia ketahui adalah anak tunggal. Tak pernah Gibran menyinggung soal saudara. Mana yang benar dan mana yang salah membuat Alza kebingungan.
__ADS_1
Silvia pun tertawa kecut. "Adik ketemu besar maksud kamu. Sejak kapan kamu punya adik. Bahkan dia sama sekali tak ada kemiripan dengan kamu. Jangan membodohiku Gibran!" Silvia pun tertawa lagi dengan sinis.
Alza memberanikan diri mendekati Silvia. "Kamu dengar dulu penjelasan mereka Vi. Semua bisa dibicarakan dari hati ke hati. Bukan dengan emosi seperti ini. Emosi hanya akan memperkeruh keadaan."
"Aku sudah lelah dengan semua ini Za. Mereka sudah menghancurkan kepercayaanku. Tak ada lagi yang perlu dibahas. Semua sudah jelas. Hubungan kita selesai sampai disini Gibran," ucap Silvia yang kemudian masuk kekamarnya.
"Kalian bisa jelaskan pada kami Shafa, Gibran?" Aira pun angkat bicara.
Gibran menghela nafas panjang. Pikirannya sedang kacau. Hatinya juga masih di selimuti emosi. "Sorry Ra! Aku belum bisa kasih penjelasan. Pikiranku juga sedang kacau. Aku pamit." Gibran pun segera keluar menuju mobilnya.
Shafa yang khawatir dengan kakaknya segera menyusul. "Kakak hati-hati! Langsung pulang. Jangan ngebut!"
"Kakak akan baik-baik saja. Kamu juga jaga diri," ucap Gibran dengan nada parau. Menandakan bahwa hati dan pikirannya memang sedang kacau.
Dia pun melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang. Shafa kembali masuk dan di cecar pertanyaan oleh kedua sahabatnya.
"Apa benar Fa yang dikatakan Gibran tadi, bahwa kamu adiknya?" tanya Aira.
Shafa pun menatap Aira dan Alza bergantian. Tentu mereka butuh penjelasan.
"Apa kalian meragukan kebenaran yang kalian ketahui? Jawaban dari pertanyaan Aira sudah di jawab oleh Gibran. Apa itu juga belum cukup?"
"Kami butuh penjelasan yang pasti Shafa. Agar kesalahpahaman antara kamu dan Silvia bisa diluruskan," ucap Alza.
"Apa yang perlu dijelaskan lagi Za. Bukankah semua sudah jelas."
"Aku memang keras kepala Za. Biarlah orang memandangku seperti apa. Yang terpenting aku tak pernah menghianati siapa pun. Terserah kalian mau percaya atau tidak." Shafa pun berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar. Seketika air matanya tumpah. Tak disangka semua akan menjadi rumit.
Dia duduk diranjangnya sambil memeluk foto Fachri.
Aku lemah tanpamu Fachri
Aku rapuh tanpamu di sisiku
Beri tahu aku
Bagaimana caranya agar aku bisa berdiri tegak tanpamu
Shafa pun semakin terisak. Ia sadar, dirinya memang keras kepala. Dengan tak memberitahu tentang siapa dia sebenarnya. Ia terlalu takut jika semua orang tak menerima kehadirannya dengan tulus.
Aira dan Alza pun ikut pusing dengan tingkah sahabatnya. Mereka sama-sama keras kepala.
"Mereka yang punya masalah kita juga yang pusing Za," ucap Aira.
"Biarin suasana adem dulu Ra. Baru nanti kita ajak mereka bicara baik-baik."
__ADS_1
Aira pun menggeser tubuhnya menghadap ke Alza. "Eh, Za. Kamu ngerasa nggak kalau Shafa itu penuh misteri?"
"Misteri apa?" tanya Alza.
"Misteri Gunung Merapi."
Suara tawa pun keluar begitu saja dari Alza dan Aira. Mereka terlalu pusing dengan kejadian tadi.
"Nanti kita pinjam cemeti amarasuli nya Sembara buat ngusir setan," celetuk Aira.
"Setan apa an Ra?"
"Ya setan yang lagi merasuki kedua sahabat kita itu," ucap Aira dengan antusias.
"Iya. Nanti aku minta ajian banyu maruta biar bisa wuuush..." Alza pun berlagak seperti sedang mengeluarkan ajian seperti diserial kolosal yang pernah mereka tonton.
"Itu adanya di Kian Santang Za. Bukan di cerita Mak Lampir."
"Oh iya ya. Sekalian ya aku minta di ajarin ajian belah raga sama Prabu Siliwangi. Biar bisa cari tahu kebenarannya sendiri dengan melakukan pengembaraan tanpa raga."
"Sekalian Za, ajian suket kalangjana sama pancasona juga. Biar sakti mandraguna. Ntar kamu bantu Kian Santang menumpas kejahatan."
"Eh, kita lagi bahas apa an sih Ra. Kok jadi ngelantur gini." Alza pun menggaruk kepalanya yang berbalut hijab.
"Au ah pusing pala Oneng." Aira pun pergi melangkah keluar rumah.
"Mau kemana Ra?"
"Mau beli es cincau di perempatan. Mau nitip nggak?"
"Iya nitip. Tapi gratis yak!"
"Gampang asal besok isiin bensin motorku ampe penuh."
Aira pun melanjutkan langkahnya keluar dari rumah. Kemudian Alza juga ikut menyusul. Terkadang jika sedang suntuk mereka berdua akan mengeluarkan candaan konyol. Semua hanya untuk menghibur diri. Sejenak melupakan masalah yang ada.
.
.
.
.
Semoga menghibur ya readers!
__ADS_1
Thanks juga untuk partisipasi kalian!