Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Menahan Diri


__ADS_3

Saat Shafa sedang mandi, Guntur berjalan keluar dari kamar. Di tangga ia berpapasan dengan Samuel yang baru pulang.


"Ini muka apa kain pel? Kusut amat Bang!" canda Samuel sambil mengusap wajah Guntur dengan lima jarinya.


Guntur menepis tangan Samuel. "Apaan sih?" ucapnya sambil meneruskan langkah.


"Tumben amat! Biasanya selalu ngajak ribut kalau gue candain dikit aja. Ini datar-datar aja reaksinya," gumam Samuel. Lalu ia kembali naik ke atas menuju kamarnya.


Guntur menuju meja makan. Disana ia menyantap makan siang dengan malas. Tak makan lapar, tapi makan pun tak selera. Mulut sama perut tak mau berkompromi. Akhirnya, Guntur memaksa mulutnya untuk mengunyah makanan. Agar cacing di perutnya tak berontak terus.


Tak berselang lama, Shafa tampak turun. Dia melihat ekspresi suaminya yang sedang tak bersemangat. Tapi dia lebih memilih menahan diri untuk tidak menyapa. Shafa memilih duduk santai sambil menonton televisi.


Samuel juga sedang berjalan menuju ke meja makan. Tapi hanya sekedar untuk minum. Guntur yang selesai makan, segera menuju ruang kerja papanya.


"Lo lagi perang dingin sama Kak Guntur?" tanya Samuel yang ikut mendaratkan tubuhnya di sofa. Ada beberapa bungkus camilan yang dibawanya. Serta dua botol air mineral.


"Nggak tuh. Kakak kamu lagi ada banyak pikiran mungkin soal kerjaan kantor," jawab Shafa santai.


Samuel membuka satu bungkus keripik kentang dan menyodorkannya pada Shafa.


"Gimana hubungan kamu sama Anin?" tanya Shafa setelah mengucapkan terima kasih.


Dengusan kecil terdengar dari nafas Samuel. "Status gue masih di gantung sama tuh cewek," ucapnya lesu sambil menyuapkan cemilan ke dalam mulutnya.


"Maksudnya?"


"Dia selama ini minta break dulu. Katanya mau fokus dulu sama kuliahnya, setelah dia pulang baru mau ngasih gue kepastian gimana kelanjutan hubungan kita," jawab Samuel.


"Mungkin Anin lagi nguji keseriusan cinta kamu Sam." Shafa menatap sahabatnya.


Samuel juga balik menatap Shafa. Lalu kembali fokus pada layar didepannya. "Kalau kayak gini bukan nguji namanya Fa. Tapi nyiksa gue. Kalau mau nguji, mending suruh gue berada di dalam gedung tua semalaman. Sambil kasih pocong-pocongan apa kuntilanak. Gue bakal kuat mental. Tapi ini hati Fa, meski gue ceplas ceplos kalau ngomong tapi gue punya perasaan yang nggak akan sanggup di siksa kayak gini," tutur Samuel mengeluarkan semua unek-unek di benaknya.


"Ceritanya ini kamu lagi curhat Sam!"


"Iya, gue butuh pelepasan. Lo kan temen gue sejak jaman SMA Fa. Kalau curhat sama Kak Guntur yang ada gue di ledekin abis-abisan. Padahal dia sendiri bucinnya kagak ketulungan," ucap Samuel yang hampir keceplosan.


"Bucin ama siapa Sam?" tanya Shafa antusias, dia langsung menghadap Samuel. Tanpa sadar rasa penasaran mulai muncul.


"Guntur punya pacar sebelum nikah sama aku?" tanya Shafa lagi.


"Cie... cie... Cembokir lo ya?" goda Samuel dengan senyuman jahilnya.


Shafa langsung memukul sahabatnya itu dengan bantal. "Nggak lucu tau!" sungut Shafa karena sebal. "Aku nanya serius Sam," lanjutnya.


"Aku juga serius kali Fa. Cemburu tanda cinta lho ya!" Samuel masih gencar menggoda Shafa.


Satu tinjuan ringan mengenai perut Samuel. "Busyet! Lo kejem banget sama gue Fa," rintih Samuel sambil memegangi perutnya.


"Mangkanya kalau ditanya jawab, jangan bercanda terus!" seru Shafa.


"Untung ya gue kagak keselek sama nih keripik," ucap Samuel. Kemudian ia meneguk air mineral yang ada dimeja sebelum menjawab pertanyaan Shafa.


"Yakin lo Fa, mau tau siapa bucinnya Kak Guntur?" Samuel masih saja bercanda. Membuat Shafa sangat gemas dengan sahabatnya yang satu ini.


"Nggak deh! Makasih! Aku bisa cari tau sendiri." Shafa pun bangkit dari duduknya. "Oh ya, tolong nanti kasih tau sama Guntur. Sore ini aku akan pulang ke kontrakan."

__ADS_1


Shafa pun melangkah menuju kamarnya. Ia hendak mengemasi barang yang perlu ia bawa.


"****** gue!" seru Samuel saat Shafa sudah hilang dari pandangannya. "Shafa kan cerdas, dia bisa saja meretas data tentang Kak Guntur dengan mudah. Bisa perang uhud kalau semua terbongkar sebelum waktunya. Eh, tapi selama ini Shafa juga tidak pernah curiga. Aahhh.... Bodo amat dah! Itu urusan Kak Guntur," gumam Samuel setengah frustasi. Ia ikut pusing dengan ulah yang dibuat oleh Guntur.


Tak berselang lama, Shafa sudah kembali turun dengan tas ransel dipunggungnya. Ia pamit pada Samuel.


"Lo nggak pamit sendiri sama Kak Guntur?"


"Kamu aja yang bilang sama dia. Aku tidak mau mengganggunya."


Shafa pun keluar dari rumah setelah mengucapkan salam. Ia melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju kontrakan.


Setengah jam kemudian Shafa sudah sampai. Disana ia melihat Gibran sedang berdebat dengan Silvia. Masalah mereka belum juga selesai.


"Oh, ini dia pacar kamu baru datang. Kemana saja dia dari kemarin baru pulang," ujar Silvia saat melihat Shafa berjalan mendekat.


"Aku menginap di rumah teman Vi. Ada urusan mendadak," tutur Shafa.


Silvia malah memberikan tatapan mengejek. "Bilang saja kalau kamu itu pengecut. Berusaha menghindari aku kan. Kamu takut karena sudah merebut Gibran."


"Cukup Silvia! Jangan menghina Shafa seperti ini!" seru Gibran dengan nada agak tinggi.


Aira dan Alza masih belum mau ikut campur. Menasehati Silvia juga percuma, tak akan didengar. Shafa juga keras kepala karena tak mau memberikan mereka penjelasan yang pasti.


"Lihat! Kamu selalu membela dia Bran. Bagaimana aku bisa percaya padamu."


"Sudah ku bilang, Shafa adalah adikku. Apa salah seorang kakak membela adiknya?" ucap Gibran dengan penuh penekanan. "Aku capek sama sifat kamu Via. Terserah kamu mau percaya atau tidak."


Lalu Gibran beralih menatap Shafa. "Jaga diri kamu baik-baik Fa!" ucapnya yang kemudian melenggang pergi.


Silvia hanya menatap sinis pada Shafa, kemudian ia masuk ke dalam kamar tanpa berkata apa pun.


Hari sudah semakin sore Shafa membersihkan diri di kamar mandi bergantian dengan yang lain.


Ketika Shafa berkumpul dengan Alza dan Aira di ruang tamu, tampak Silvia keluar dari kamar dengan koper besar.


"Kamu mau kemana Vi?" tanya Alza heran.


"Aku mau pergi cari kontrakan lain Za. Aku tidak mau tinggal dengan teman penghianat seperti dia." Tentu saja ucapan itu di tujukan untuk Shafa.


"Jangan pergi Vi! Bahaya kamu pergi malam-malam. Kontrakan di sekitar sini juga jarang," sahut Aira.


Shafa pun berdiri dan angkat suara. "Biar aku saja yang pergi dari sini. Kamu tetap di sini saja Vi."


Setelah itu Shafa ke kamarnya, mengemas barang dan pakaian seperlunya. Sisanya bisa ia ambil lain waktu. Silvia kembali kekamarnya dengan wajah masih kesal.


"Ini kunci motorku Za buat kamu," ucap Shafa yang baru keluar dari kamar. Tas ransel besar sudah bertengger di punggungnya. Dia meletakkan kunci motor serta surat-suratnya diatas meja.


"Tapi Fa, kamu lebih butuh. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Alza halus.


"Aku bisa beli lagi Za. Kamu tenang aja!"


Alza dan Aira pun sempat heran. Bagaimana Shafa bisa dengan mudah berkata bahwa ia bisa membeli motor lagi.


"Aku pamit Za, Ra."

__ADS_1


Shafa sudah melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


"Kamu akan kemana Fa?" tanya Aira.


Shafa menoleh sebentar. "Tenang saja! Aku punya banyak rumah untuk pulang. Assalamu'alaikum!" Shafa pun meneruskan langkahnya. Masih sempat terdengar jawaban salam dari kedua sahabatnya.


Meski jalan menuju perbatasan kota terkesan sepi, tak membuat Shafa takut. Tadi dia sudah menghubungi Alam untuk menjemputnya. Dia berencana untuk tinggal sementara di penginapan sahabatnya itu. Toh, Shafa juga punya saham disana. Jadi, dia bisa tinggal disana sesuka hatinya.


"Aku semakin tidak mengerti dengan Shafa, Za," ucap Aira setelah kepergian Shafa.


"Dia memang menyembunyikan sesuatu dari kita Ra. Dia juga pernah bilang punya orang tua angkat," ujar Alza. Sebenarnya sudah tau banyak tentang Shafa. Bagaimana kehidupannya dulu, tapi Alza berusaha menjaga amanah Shafa yang melarangnya bercerita pada orang lain.


"Terus apalagi Za? Dia cerita nggak tentang keluarganya? Jangan-jangan dia memang anak orang kaya. Jangan-jangan Gibran memang kakaknya. Jangan-jangan...,"


Belum sempat Aira melanjutkan, kalimatnya sudah dipotong oleh Alza. "Jangan Asem (sayur asam). Jangan kebanyakan jangan! Nanti kamu mabok."


"Emang aku makan sayur ganja bisa mabok!" seru Aira.


"Kali aja Ra. Terus kamu bisa ngeluarin jurus mabok kayak Jacki Chan," ujar Alza.


"Aku sukanya Jet Li, Za. Seru banget kalau lihat aksi kungfunya." Aira membayangkan aksi Jet Li di film yang pernah ia tonton.


Alza ternyata juga antusias membahas kedua aktor favorit mereka. "Aku juga suka banget Ra, aksi mereka di The Forbidden Kingdom."


"Iya Za, aku juga suka itu."


Alza dan Aira yang tadinya membahas tentang Shafa malah beralih membahas film mandarin. Kemarin mereka membahas serial kolosal. Besok entah film apa lagi yang akan mereka bahas ketika pusing memikirkan masalah sahabatnya.


.


.


.


🎶Ku memanggilmu melalui lagu, nada cinta merayu


Oh wahai pesona, oh wahai kasih


Aku mendengar panggilan cintamu, dalam lagu merayu


Oh wahai pesona


Namamu selalu dalam ingatanku dalam ingatan


Wajahmu selalu di cermin mataku


Tiada hari berlalu tanpa cintamu tanpa candamu


Begitu pula bayang wajahmu, selalu saja menggodaku


Ku memanggilmu melalui lagu nada cinta merayu


Oh wahai pesona🎶


Ayo nyanyi bareng!😂

__ADS_1


Sampai disini readers!


See you...


__ADS_2