
"Kenapa kau berteriak sayang? Sudah ingat dengan kejadian itu?" tanya Robert. Kepuasan terukir dengan senyuman liciknya. "Kau akan mati secara perlahan jika mengingat kejadian mengerikan tiga belas tahuñ silam."
Shafa mulai merasakan sakit dikepalanya. Matanya berkunang-kunang. Ingatan masa lalu membuat ia kesakitan.
"Sadar Shafa! Kamu harus kuat, jangan sampai kamu dikalahkan oleh kenangan buruk masa lalumu!" seru Guntur dengan nada tinggi. Ia berharap Shafa tetap dalam kesadarannya.
Shafa sendiri berusaha sebisa mungkin mengatasi gejolak dalam pikirannya. Dia harus bisa melawan. Ada Guntur yang harus ia selamatkan. Jangan sampai ada korban lagi.
Lalu Robert membuka ikatan milik Guntur dan memanggil para anak buahnya untuk masuk.
"Kenapa kau melepaskan ikatanku?" tanya Guntur.
"Jangan berpikir aku berbaik hati melepaskanmu, aku hanya ingin menyiksa jiwa Shafa dengan menyiksa dirimu," ucap Robert dengan pongahnya. Lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk melakukan tugas.
Guntur berusaha melawan saat orang-orang Robert menyerangnya. Tentu saja ia kalah kuat.
"Kau lihat Shafa, aku akan melenyapkan suamimu seperti aku melenyapkan Fachri dulu."
Seketika Shafa kembali pada kesadarannya mendengar nama Fachri disebut. Kilat kemarahan terpancar dari sorot mata Shafa yang berubah tajam.
"Jangan sakiti dia...!!!" teriak Shafa. Amarahnya mulai menguar.
Ia mulai mengeluarkan tenaga untuk melepaskan diri. Dalam sekejap, Shafa sudah terlepas dari tali yang mengikatnya. Membuat Robert kebingungan.
Orang yang memukuli Guntur pun berhenti dan beralih menyerang Shafa. Tak butuh waktu lama mereka semua tak berkutik lagi. Dengan brutal Shafa langsung menyerang titik vital mereka. Sementara Guntur sudah hilang kesadaran. Tubuh pria itu sudah penuh luka lebam.
"Kau pikir bisa membunuh diriku? Sedangkan jiwaku memang sudah lama mati. Lalu bagaimana kau akan membunuh sesuatu yang sudah mati, Robert," ucap Shafa. Aura kegarangan muncul dalam diri Shafa saat ini.
Robert perlahan mundur, ia tak mengira jika Shafa bisa menakutkan seperti itu.
***
Sementara itu diluar, orang-orang Stevan sudah datang. Begitu juga dengan Gibran. Alza dan Aira yang dari tadi membuntuti Gibran juga sudah sampai. Mereka semua segera melakukan serangan.
"Teman elo hebat juga ya, kalah gue sama cewek," ucap Samuel pada Aira. Mereka berdua memegang tongkat untuk melindungi diri.
"Maksud kamu Alza?"
"Iya lah, mau siapa lagi. Teman elo kan dia."
"Dia anak pesisir. Jangan ditanya soal ilmu beladiri. Hanya saja dia tak pernah menunjukkan kemampuannya jika tidak terdesak," ucap Aira yang berdiri saling membelakangi dengan Samuel.
__ADS_1
Ada penjahat yang mendekati mereka, langsung saja tongkat ditangan mereka bertindak.
"Boleh nggak Alza gue gebet? Belum punya cowok kan dia, biasanya cewek alim pantang pacaran." Si Sam malah ngelantur. Demi menghilangi rasa takutnya, mulut Samuel bicara sekenanya.
"Alza udah punya gebetan, putra kyai."
"Berat dong saingan gue! Punya pacar juga kuliah dinegeri orang, status digantung pula. Minta kejelasan katanya belum pasti. Padahal gue orangnya setia."
"Curhat nih ceritanya?"
"Lo mau nggak jadi gebetan gue? Gue pewaris tunggal keluarga Adhitama lho! Hidup Neng Aira bakal sejahtera sampai tujuh turunan."
Aira tak lagi menanggapi ocehan Samuel. Dia mulai serius membantu yang lain.
****
Bukkk....
Satu pukulan sudah mengenai wajah Robert. Ia hendak membalas, tapi Shafa lebih dulu memukul dirinya lagi.
"Jika kau menganggap aku lemah setelah kematian Fachri. Kau salah besar, justru itu mengajariku untuk semakin kuat."
Robert berlari menuju pintu, tapi Shafa sudah lebih dulu menendang tangan pria itu sebelum meraih handle pintu.
Shafa juga keluar mengejar Robert. Ditendangnya Robert hingga terguling ke tangga. Shafa pun menuruti tangga dengan santai. Robert yang berusaha berdiri langsung di pukul lagi oleh Shafa.
"Aku tak akan membiarkanmu menang lagi. Kau harus merasakan sakit yang dialami oleh Fachri dan Guntur. Pukulanku belum seberapa dibanding rasa sakit yang sudah kau buat."
Lagi dan lagi pukulan Shafa membuat wajah Robert lebam. Steven dan yang lain hanya bisa melihat apa yang dilakukan gadis itu. Kemarahan jelas masih tampak dari sorot matanya.
Hingga pandangan Shafa tertuju pada Steven dan juga Barra. Shafa mengingat bahwa laki-laki itu yang pernah membantunya menyelamatkan diri.
"Kak Barra...!" Panggil Shafa sambil mendekat. Bayangan masa kecilnya terlintas kembali. Ia ingat Barra sangat menyayangi dirinya dan Fikri. Namun, saat hampir dekat tubuh Shafa tumbang. Dengan sigap, Barra menangkap tubuh yang sudah terkulai lemas.
Steven mendekati putrinya dengan panik. Alam dan yang lain mencari keberadaan Guntur. Robert sudah diamankan oleh Gibran.
Shafa dan Guntur pun dibawa kerumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama. Lalu kemudian dipindahkan kerumah sakit di pusat kota.
Keadaan Guntur lumayan parah. Ia harus dirawat beberapa hari untuk pemulihan. Shafa hanya mengalami trauma karena ingatannya yang kembali. Luka yang dialami Shafa cenderung ke luka psikis. Jiwanya yang tergoncang kembali. Hingga ia enggan untuk membuka matanya.
Guntur yang sudah sadar, bersikeras meminta agar dirawat satu ruangan dengan istrinya. Steven pun memenuhi keinginan manantunya. Dia meminta izin pada pihak rumah sakit untuk mengaturnya.
__ADS_1
"Morning brother!" Si Sam datang dengan penuh semangat. Dia selalu datang pagi-pagi kerumah sakit untuk menemani kakak tersayangnya.
"Ini gue bawain makanan dari rumah. Bibi baru bisa datang nanti sore," jelas Samuel sambil membuka rantang makanan dan mengambilkan makan untuk Guntur.
"Iya, bentar lagi mama Oliv juga datang," ucap Guntur sambil menerima tempat makan dari Samuel.
Samuel berpindah keranjang rawat Shafa. Ia bertopang dagu disana. "Hai! Betah amat neng jadi putri tidur. Tuch, Kak Guntur lagi makan sendirian. Temenin ya kalau udah sembuh. Lo tau nggak Fa? Kak Guntur itu cinta mati sama elo. Eh, jangan cinta mati ding. Cinta setengah mati aja. Setengahnya buat cinta setengah hidup. Asal lo tau ya Fa, selama ini yang jadi teman chat lo itu bukan gue tapi Kak Guntur. Gila kan Kakak gue yang satu itu. Pengecut dia, nggak berani jujur sama kamu." Cerita Samuel panjang lebar. Kalau Shafa dalam keadaan sadar mana munhkin dia berani menceritakan rahasia besar kakaknya.
"Saaammm...!" Guntur memanggil dengan nada memperingatkan.
Samuel hanya menoleh, lalu melanjutkan ocehannya. "Tuh kan Fa, Kak Guntur takut ketahuan. Nanti kalau elo bangun kita jitak bareng-bareng ya kepalanya."
Samuel beranjak dari duduknya, kembali mendekat pada sang kakak yang sudah selesai makan. Samuel mengambilkan gelas minum. Meski cerewet tapi ia sabar merawat Guntur yang sedang sakit.
"Jangan ngomong aneh-aneh sama Shafa! Kalau dia denger gimana?" Omel Guntur.
"Santai aja kali Kak. Takut amat ketahuan."
Bersamaan dengan itu masuklah Alza, Aira dan Silvia. Ketiga sahabat Shafa itu juga setiap hari datang menjenguk. Terbesit rasa bersalah dalam hati Silvia setelah tau kebenaran bahwa Shafa memang adik Gibran. Apalagi ternyata Shafa sudah memiliki suami.
Alza dan Aira masih mengobrol didalam meladeni ocehan Samuel. Silvia memilih keluar, dan saat ia keluar datang Gibran bersama mamanya.
"Apa kabar Silvia? Lama nggak ketemu tante," sapa Olivia ramah.
"Saya baik tante. Lagi sibuk sama kuliah, jadi nggak sempet main," jawab Silvia agak canggung.
"Ya udah ngobrol sama Gibran sana. Tante kedalam dulu."
Dua anak manusia itu pun duduk dikursi tunggu. Cukup lama mereka tanpa suara. Gibran enggan membuka suara. Toh, mereka memang sudah tak ada hubungan lagi. Rasa kecewa dan sakit hati masih membekas.
"Maaf!" Satu kata yang keluar dari mulut Silvia.
"Tak perlu minta maaf dan tak ada yang perlu dimaafkan." Gibran berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja.
Hati Silvia mencelos, begini rasanya terabaikan. Dia memang salah tidak mau mendengar penjelasan Gibran yang sudah bersabar selama ini. Menyesal pun rasanya sudah terlambat. Kini Silvia harus menerima konsekuensi dari ucapannya sendiri.
Malam harinya, diruangan itu ada Steven, Randi dan Samuel. Mereka duduk disofa yang ada dalam ruangan.
Sedangkan Guntur duduk disamping ranjang istrinya. Ia genggam lembut tangan Shafa. Salah satu tangannya mengusap kepala Shafa yang terbungkus hijab. Infus ditangan Guntur sudah dilepas. Jadi ia bisa leluasa menggerakakan tangan.
Tiba-tiba terdengar suara rancauan Shafa meneriakkan dua nama.
__ADS_1
"Fachri...!!! Guntur.... Fachri... Fachri....Guntuuurrr....!!!
Seketika mata Shafa terbuka dengan nafas tersengal-sengal.