Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Akad Nikah


__ADS_3

"Saya tidak bisa menerima lamaran kakak kamu, Syifa. Saya sudah pernah menolaknya waktu itu," ucap Shafa tanpa mengurangi rasa hormatnya pada Syifa.


Lagi-lagi Alza dibuat terkejut. Berarti sebelumnya Afif sudah pernah melamar Shafa. Pantas saja sorot mata Afif waktu bertemu Shafa dipesantren sangat berbeda. Ternyata ini adalah alasannya.


"Apa yang membuat Mbak Shafa tidak bisa menerima kakak saya? Tolong beri penjelasan pada saya!" pinta Syifa. Kakaknya memang sudah menceritakan tentang Shafa padanya. Jadi, Syifa ingin tahu kenapa Shafa menolak perasaan kakaknya.


Shafa tampak berlinang air mata. Kenapa hidupnya harus serumit ini. Andaikan Fachri masih ada, pasti semua tak akan jadi begini. Hati Shafa merintih, mengingat mendiang suaminya.


"Saya sangat tidak pantas untuk gus Afif. Saya hanya gadis kotor, Syifa. Masa lalu saya dipenuhi coretan hitam," ucap Shafa sambil menguatkan hatinya.


Syifa menggenggam tangan Shafa dan tatapan penuh harap. "Tolong jelaskan pada saya Mbak! Agar kak Afif bisa menerima alasan Mbak menolaknya," desak Syifa.


"Baiklah tapi kalian harus janji untuk menjaga rahasia ini. Saya percaya kalian adalah orang yang amanah."


Syifa dan Alza pun mengangguk. Mereka akan menjaga rahasia dengan baik.


"Saya sebenarnya sudah berstatus sebagai janda."


Ucapan Shafa yang ini pun sudah membuat Syifa dan Alza terkejut bukan main. Sulit dipercaya bahwa Shafa sudah pernah menikah. Apalagi berstatus janda. Apa ini hanya sebuah lelucon? Alza pun tak mengerti. Hingga Shafa membuka suara lagi. Menceritakan bagaimana kehidupan masa lalunya.


Shafa menceritakan kehidupannya di Jakarta yang penuh kebebasan. Sering keluar malam dan ikut balapan liar. Pacaran pun sudah biasa baginya. Hingga kesuciannya direnggut oleh kekasihnya. Lalu pertemuannya dengan Fachri yang bisa mengubahnya menjadi seperti sekarang.


Syifa dan Alza juga ikut meneteskan air mata mendengar penuturan Shafa. Setelah itu Syifa pamit untuk pulang. Kini ia tahu alasan Shafa menolak kakaknya. Alasan yang memang cukup masuk akal. Shafa masih terjebak dengan perasaan masa lalunya.


"Jadi ini alasan kamu tidak mau terbuka pada kami Fa?" tanya Alza. Kini hanya mereka berdua diruang tamu. Shafa hanya mengangguk.


"Kamu juga masih punya keluarga?" tanya Alza lagi.


Kali ini Shafa membuka suara. "Iya Za. Mereka keluarga angkatku. Orang tua kandungku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Kuharap kamu bisa menjaga rahasia ini sampai waktunya aku akan jujur pada Aira dan Silvia," pinta Shafa.


"Tenang saja Fa. Aku akan tepati janjiku." Alza memeluk Shafa. Dia tahu sahabatnya ini butuh sandaran.


****


Malam hari di rumah Guntur


Semua keluarga sudah berkumpul diruang makan. Mereka sedang makan malam bersama. Setelahnya, Guntur dan Samuel bersantai diruang keluarga. Mereka bermain game disana.


Faisal dan Sonia juga ikut menyusul, melihat keseruan dua pemuda beda usia yang asyik bermain.


"Gimana Gun calon pilihan Papa? Cantik kan! Sholehah lagi," ucap Faisal dengan bangga.


Guntur pun menghentikan permainannya dan duduk disamping sang mama. "Kali ini Papa bener deh. Guntur nggak bisa nolak lagi," ucapnya sambil tiduran dipangkuan mamanya.


"Kamu kelihatan bahagia sekali ya sekarang!" seru mama Sonia.


"Gimana nggak bahagia, Kak Guntur sudah ketemu bidadarinya!" Samuel menimpali.


Sonia mengusap lembut kepala putranya. "Mama seneng lihat kamu kayak gini. Nggak kabur-kaburan seperti kemarin," ucap Sonia.


"Maaf deh Ma!"


"Mangkanya dengerin orang tua dulu. Jangan asal main nolak aja! Papa kan pasti memilihkan yang terbaik untuk kamu, Gun." Faisal berucap lagi.


"Iya Pa. Papa memang the best pokoknya," ucap Guntur dengan sumringah. Masih dalam pangkuan sang mama.

__ADS_1


Sonia pun semakin gemas dengan tingkah putranya. Di mengacak-acak rambut bayi besar dalam pangguannya.


"Mama apa an sih?" protes Guntur.


"Kamu itu sudah tua masih saja manja sama Mama," ejek sang papa.


"Biarin. Habis ini Guntur kan udah nikah."


Faisal menempel pada istrinya. "Gantian Papa dong Ma yang di manjain," ucapnya sambil mengerlingkan mata.


Guntur pun bangun untuk duduk. "Sana deh Ma. Manjain baby besar Mama."


Sebuah tepukan keras mendarat dibahu Guntur. "Kamu itu yang baby besar!" omel Sonia yang kemudian beranjak pergi ke kamar di ikuti oleh suaminya.


Samuel pun hanya cekikikan melihat tingkah keluarga itu. Ia jadi merindukan kedua orang tuanya. Mereka juga sering bercanda seperti orang tua Guntur. Wajah Samuel pun berubah datar. Ia tak mungkin kelihatan sedih dihadapan kakak sepupunya. Bisa dibully habis-habisan dia.


"Mau kemana kamu Sam?" tanya Guntur ketika melihat adiknya melangkahkan kakinya.


Samuel pun menjawab tanpa menoleh. "Gue mau tidur. Capek." Langkah kakinya sudah menginjak anak tangga menuju kamar.


Dengan cepat Guntur menyusul. "Besok temani aku cari cincin ya buat Shafa." Guntur sudah berhasil merangkul bahu Samuel.


"Iya," jawab Samuel singkat. Kemudian masuk ke kamarnya.


Meski Guntur merasa agak aneh dengan sikap Samuel. Tapi ia tak ambil pusing. Adiknya itu selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Meski sering bersikap konyol tapi sesungguhnya Samuel bisa bersikap dewasa pada tempatnya.


Guntur pun segera masuk ke kamar untuk beristirahat.


*****


Hari-hari terus bergulir. Silvia masih mendiamkan Shafa tanpa ada yang tahu alasannya. Tak ada juga yang berani mengusik urusan pribadi Silvia. Dia hanya menjawab seperlunya ketika Shafa bertanya.


Acara akad nikah diadakan di rumah mempelai pria. Tepat jam 9 pagi acara akan dimulai.


Shafa sudah siap dengan kebaya putih yang membuat dirinya tampak anggun.


Di sisi lain Guntur sudah bersiap dengan kemeja putih dan jas hitam. Dia pun sudah duduk menghadap penghulu untuk melakukan ijab qobul.


Shafa memang sengaja meminta untuk berada ditempat terpisah selama proses ijab qobul. Dia ditemani oleh mama Olivia dan juga mama Sonia. Tanpa ia ketahui ternyata Olivia juga mengundang sahabatnya. Lebih tepatnya mama Aldi. Orang tua Samuel pun juga datang. Tentu hal itu mengobati kerinduan pemuda itu kepada orang tuanya.


Suasana menjadi hening saat penghulu sudah melakukan proses ijab. Hati Shafa berdesir saat mendengar Guntur mengucapkan rentetan kalimat untuk menghalalkan dirinya. Apalagi suara "Sah" yang serentak diucapkan oleh para saksi. Baru kali ini dia merasakan menjadi mempelai yang sesungguhnya. Karena dulu Fachri menikahinya saat dia sedang tak sadarkan diri.


Setelah selesai Shafa di tuntun untuk mendekati pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Entah kenapa rasa haru dan sebuah ketenangan bisa menyelimuti batinnya. Apa lagi saat dia menyalami Guntur. Laki-laki itu memegang bahunya sambil mengucapkan doa kemudian mengecup ubun-ubunnya dengan hangat. Seperti menyalurkan sebuah cahaya indah dalam hatinya.


Jiwa Shafa benar-benar berdesir dibuatnya. Hampir saja air mata menetes, tapi sekuat tenaga Shafa menahannya. Semua orang terlihat bahagia bercampur haru melihat penyatuan dua anak manusia itu. Tak lupa juga mereka saling menyematkan cincin pernikahan di jari pasangannya.


Ucapan selamat silih berganti terucap dari para tamu. Mereka memang tampak serasi. Guntur yang tampan dan berkarisma dengan tubuh tegapnya dan Shafa yang tampak anggun.


Para tamu sudah banyak yang meninggalkan tempat. Tanpa disangka ternyata Aldi juga hadir disana.


"Selamat ya Fa! Semoga kamu selalu bahagia!" ucap Aldi sebelum pergi.


Sebisa mungkin Shafa menyunggingkan senyumannya. Guntur pun merengkuh bahu istrinya. "Dia pasti akan bahagia. Terimakasih sudah datang!" Guntur berucap dengan ramah. Ia pun tahu jika Aldi adalah bagian dari masa lalu istrinya.


Kemudian Aldi dan mamanya pamit pulang. Samuel pun sedang melepas rindu pada orang tuanya.

__ADS_1


Semua tamu sudah pulang. Guntur mengajak Shafa untuk ke kamar berganti pakaian.


Guntur mengganti pakaiannya di kamar mandi. Shafa membuka koper yang tadi sudah dipersiapkan oleh mamanya. Karena tak mungkin Shafa membawa banyak baju dari kontrakannya. Jadi mama Olivia berinisiatif menyiapkan pakaian putrinya.


Setelah Guntur selesai kini ganti Shafa yang masuk ke kamar mandi. Belum ada percakapan diantara keduanya. Rasa canggung pasti masih bergelayut di diri mereka.


Kini Guntur dan Shafa turun ke lantai bawah dengan pakaian santai. Para orang tua tersenyum bahagia melihat pasangan pengantin baru itu. Setelah makan siang orang tua Shafa pamit pulang. Begitu juga dengan Gibran, dia memeluk erat adiknya.


"Tolong jaga Shafa dengan baik! Dan kuharap kamu bisa bersabar menghadapi dia," ucap Gibran sebelum pergi.


"Aku pasti menjaga dia dengan baik Kak." Guntur memeluk kakak iparnya.


Mereka pun berpisah saat Steven dan Olivia mengajak Gibran segera masuk mobil.


Shafa dan Gibran kembali masuk kedalam. Keadaan rumah sudah sepi. Mungkin semua orang sedang beristirahat. Mereka berdua pun memutuskan untuk istirahat di kamar.


"Kamu tidur saja! Aku masih harus memeriksa pekerjaan kantor." Guntur pun mengambil laptopnya dan duduk di sofa.


Bukannya tidur, Shafa memilih duduk di balkon menikmati suasana baru. Guntur pun membiarkan hal itu.


Suasana memang masih terkesan kaku diantara mereka berdua. Butuh waktu untuk mencairkan kebekuan antara mereka. Guntur harus menjadi orang yang paling bersabar dalam situasi ini.


Malam harinya, Shafa sudah tidur lebih dahulu. Dari tadi Guntur lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya.


Ia menatap lekat wajah istrinya yang tertidur pulas. Gadis yang telah dicintainya selama bertahun-tahun, kini telah menjadi istrinya. Tapi ia harus bisa menembus hati Shafa dan membawanya keluar dari masa lalu.


Perlahan Guntur mencium kening Shafa dengan lembut. Aku mencintaimu Shafa fikriyyatuz Zahra. Gumam Guntur lirih.


Meski aku harus mencintaimu dalam diam


Tapi perasaanku tulus padamu


Seperti ketulusan bintang-bintang menghiasi langit


Memberikan warna indah pada gelapnya malam


Guntur pun meninggalkan kamarnya. Sesuai kesepakatannya dengan Shafa, dia tidak akan menyentuh istrinya sampai gadis itu siap.


Lalu Guntur malah menyelinap masuk ke kamar Samuel. Merebahkan tubuhnya disamping pemuda yang tengah tertidur pulas.


"Lo salah kamar woy! Gue bukan istri lo." pekik Samuel saat menyadari kakaknya disana.


"Numpang tidur malam ini saja Sam," ucap Guntur malas.


Samuel mendudukkan dirinya ditepi ranjang. "Lo itu harusnya belah duren. Ini malah kabur ke kamar gue."


"Durennya belum mateng. Belum siap dibelah," jawab Guntur sekenanya.


Samuel mengacak rambutnya, pusing dengan tingkah kakak sepupunya. "Terserah lo dah Kak!" Samuel kembali merebahkan tubuhnya. Matanya masih didominasi oleh rasa kantuk. Guntur sendiri sudah tertidur disebelahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Sampai jumpa di part selanjutnya!


__ADS_2