
"Kamu ada masalah lagi Fa?" tanya Alam yang sedang mengemudi. Mereka tadi janjian di persimpangan jalan. Alam menjemput Shafa menggunakan mobil. Bukan dengan motor yang dipakainya tadi siang
Shafa menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. "Biasa hanya kesalahpahaman antar teman," jawabnya dengan suara rendah.
Alam melirik kearah Shafa yang tampak lesu. "Pasti masalah yang serius sampai kamu keluar dari rumah kontrakan."
Shafa membuka mata dan menatap jalanan malam yang di hiasi oleh bintang berjalan. "Hanya masalah kecil," jawabnya singkat.
Alam tak mau ikut campur lebih dalam. Shafa pasti bisa menyelesaikan setiap masalah yang ia hadapi.
Kemudian Shafa ingat kalau ia belum sempat menghubungi Randi. Di raihnya ponsel yang ada di tas selempangnya. Ia melakukan panggilan suara ke Randi.
"Hallo Assalamu'alaikum Rand! "
"Wa'alaikumsalam nona cantik! " Suara Randi terdengar dari seberang.
"Rand, aku minta tolong sama kamu. Ambil kotak biru di laci kamarku dan antar kesini ya. Ingat! Jangan di buka! Dan harus besok kamu antarnya," seru Shafa dengan nada peringatan penuh.
"Nggak bisa di paketin apa gimana non? Saya sibuk banget. Suer dech non!"
"Kamu sendiri yang harus antar kesini. Nanti aku bilang sama daddy."
"Ok non. Demi non saya akan terbang besok."
"Ok! Assalamu'alaikum!" Shafa mengakhiri panggilannya dan menghela nafas lega.
"Randi pasti lagi sibuk banget Fa. Kasihan dia kamu paksa kesini," ujar Alam.
"Randi pasti cuma sibuk sama kerjaan yang di kasih daddy."
"Kamu salah Shafa. Randi itu sibuk sama persiapan pernikahannya yang tinggal bulan depan." Alam kembali menoleh pada Shafa.
Sontak saja gadis di samping Alam terkejut bukan main. Dia menghadapkan tubuhnya pada Alam. "Kamu serius Kak?" pekik Shafa. Dia benar-benar tak tahu mengenai rencana penikahan Randi.
Alam terkekeh melihat reaksi Shafa. "Serius Fa. Aku aja juga baru kemarin dapat kabar dari Salsa," ujarnya.
"Maksudnya ini gimana? Apa hubungannya dengan kak Salsa?" Shafa mengernyit heran.
"Randi itu bakalan nikah sama Salsa. Aku aja kaget banget Fa."
"Beneran aku nggak nyangka banget mereka punya hubungan." Shafa tersenyum sambil menggelengkan kepala karena tak menyangka jika Randi punya hubungan dengan Salsa.
Alam sendiri juga sangat terkejut ketika mendapat kabar dari Salsa, sahabatnya. Padahal umur Salsa lebih tua tiga tahun dari Randi. Tapi, memang cinta tak memandang umur. Ketika sudah menemukan rumah ternyaman untuk berlabuh, cinta akan menetap tanpa di minta.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di parkiran penginapan. Tanpa mereka duga salah satu karyawan memberi tahu bahwa ada tamu yang menunggu di kafe. Ternyata tamu itu adalah Gibran.
"Kakak ngapain ada disini?" tanya Shafa yang kemudian mengambil posisi duduk di depan Gibran.
Alam tidak ikut bergabung, dia memilih menyelesaikan pekerjaannya.
Gibran menatap Shafa dengan tatapan teduh. "Kakak khawatir sama kamu Fa. Tadi Alza bilang kamu keluar dari kontrakan. Makanya Kakak langsung mencari kamu. Kakak tanya Guntur, katanya kamu keluar rumah sore tadi."
Shafa terdiam, ia memikirkan Guntur yang saat ini pasti sedang khawatir juga. Entah mengapa sekarang otak Shafa lebih sering memikirkan laki-laki itu. Meski di hatinya masih ada nama Fachri sebagai penghuni setia di ruang rindunya. Kehadiran Guntur masih belum bisa menggantikan Fachri, bahkan mungkin tak akan pernah bisa. Shafa terlalu menyayangi sosok suaminya yang telah tiada. Ya, meski perlahan nama Guntur mulai menjadi bagian dari hidupnya.
"Kakak minta maaf! Kamu harus terlibat dalam masalah kakak," ucap Gibran lagi.
"Kakak tidak salah. Aku yang salah, belum bisa jujur pada teman-temanku siapa aku sebenarnya."
__ADS_1
"Kakak mengerti Shafa. Suatu saat nanti kita akan menjelaskan semuanya kepada mereka." Gibran tersenyum sambil menangkup pipi adiknya dengan kedua telapak tangannya.
Shafa juga ikut tersenyum. Ia bahagia mendapat perhatian dari kakaknya lagi seperti dulu.
Setelah itu, Gibran pamit pulang. Shafa menuju ruang kerja sahabatnya.
Lalu Alam memintakan kunci pada karyawannya dan menyuruh Shafa agar segera beristirahat di kamarnya. Dia sendiri harus pulang kerumah. Ada seorang ibu yang sedang menunggunya. Juga seorang adik perempuan yang baru kelas dua sekolah menengah atas.
Sesampainya di kamar, Shafa berganti pakaian dan mengotak atik laptopnya. Dia juga membongkar isi tasnya mencari sesuatu. Setelah mendapat apa yang dia inginkan. Shafa mengotak atik cincin pernikahannya. Ada benda mikro yang ia selipkan disana.
Besok ia akan kerumah Guntur untuk melakukan hal yang sama. Semua sudah Shafa pikirkan secara matang, dia harus berjaga-jaga jika sesuatu buruk tiba-tiba terjadi. Semua kode juga sudah ia simpan di laptop. Dan sang ayahlah yang bisa membuka kunci laptopnya. Steven pasti akan memeriksa barang elektroniknya jika terjadi sesuatu.
*****
Malam semakin larut. Udara dingin mulai menyeruak memasuki setiap sendi tulang. Guntur masih belum bisa memejamkan matanya. Ia malah duduk sendiri di ayunan yang ada di taman.
"Lo ngapain disini Kak? Mau pacaran sama nyamuk!" seru Samuel yang kemudian ikut duduk.
Tak ada sahutan dari kakaknya itu. Samuel bisa menangkap raut wajah yang sedang temaram seperti suasana malam. Lebih tepatnya redup seperti cahaya lampu bohlam yang hampir putus.
"Masih khawatir sama Shafa? Tadi kakaknya kan sudah bilang dia berada di penginapan temannya," lanjut Samuel.
Pandangan Guntur menerawang jauh ke atas. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Apa aku terlalu egois Sam?"
"Egois gimana maksudnya?" Samuel tak mengerti dengan apa yang ditanyakan Guntur.
"Aku merasa menjadi orang yang egois. Memaksakan kehendakku pada tuhan dengan selalu meminta Shafa yang menjadi pendampingku. Aku merasa bukan suami yang pantas untuknya," jawab Guntur.
"Itu bukan egois Kak. Tapi sebuah perjuangan cinta. Kita berhak meminta apa pun dari tuhan. Lo itu memang sudah berjodoh dengan Shafa. Hanya saja jalannya yang memang penuh tanjakan tajam dan belokan yang ekstrim."
Guntur menghela nafas dan menundukkan pandangannya. "Entahlah Sam. Aku merasa bersalah pada Shafa. Seharusnya aku bisa melindungi dia seperti Fachri yang selalu bisa melindungi dia dari segala bahaya. Tapi nyatanya aku tak pernah tau apa yang terjadi padanya. Bahaya apa yang sedang ia hadapi pun aku tak pernah tahu."
"Memang hanya Fachri yang pantas untuk mendampingi Shafa." Nada bicara Guntur terdengar lesu.
"Sejak kapan seorang Guntur menjadi pengecut seperti ini. Malu sama nama sendiri woy...." Samuel memukul bahu Guntur. "Lo kan juga bisa karate. Waktu kuliah kan sempet belajar. Jadi jangan patah semangat! Badan udah atletis gini masak iya mental kerupuk." Samuel merangkul bahu kakaknya untuk memberi semangat. Tentu saja Samuel tahu kebimbangan yang Guntur rasakan.
"Shafa itu butuh seseorang yang bisa mengeluarkan dia dari kenangan masa lalunya. Elo harus bisa buat Shafa bahagia. Buat dia nyaman ketika kalian bersama. Lo cuma harus bersabar menghadapi dia yang selalu berada di bawah bayang-bayang Fachri. Percaya sama gue Kak, lo pasti bisa membahagiakan Shafa. Kembalikan keceriaan gadis itu!" tutur Samuel.
Guntur melihat kearah adik sepupunya sambil tersenyum. "Aku akan berusaha Sam. Thanks udah selalu dukung."
"Itu lah keuntungan punya saudara kayak gue. Udah ganteng, pinter, pantang buat galau, always be happy pokoknya," ucap Samuel bangga.
"Mulai deh! Nyesel aku berterimakasih sama kamu." Guntur berdiri dan mulai melangkah masuk kedalam rumah.
Terdengar suara gelak tawa dari Samuel. Dia memang terlihat selalu ceria. Hidupnya seakan tampak tanpa beban. Tapi tak ada yang tahu apa yang sebenarnya tersembunyi dihati pemuda itu.
******
Hari sudah berganti pagi. Matahari sudah mulai menampakkan diri. Tapi sinarnya tak bertahan lama. Cahayanya bersaing dengan awan mendung yang sering kali melintas. Sepertinya para awan itu sedang berkumpul menyiapkan pasukan untuk mengguyur bumi.
Shafa sudah bersiap dengan tas selempangnya dan juga selendang biru yang menghiasi lehernya. Tak lupa ia memakai sepatu kets nya. Hari ini Shafa akan pergi kerumah suaminya.
Saat melewati lorong penginapan, Shafa melihat seorang anak kecil laki-laki yang sedang mengejar bola.
"Pelmisi tante bolanya!" ucap anak itu dengan gaya bicaranya yang lucu. Bolanya memang tengah berada di kaki Shafa.
Shafa berjongkok agar sejajar dengan anak itu. "Ini bolanya." Tangan Shafa mengulurkan bola ke anak itu. "Orang tua adek mana? Kok main sendiri," tanya nya kemudian karena tak nampak orang tua yang mendampingi anak itu bermain.
__ADS_1
"Papa lagi sibuk tante," jawabnya polos.
Kemudian Shafa menawarkan diri untuk mengantar pada orang tuanya. Anak itu hanya mengangguk.
"Kamar adek yang mana?" tanya Shafa ketika melewati kamar demi kamar penginapan sambil menggandeng tangan mungil disampingnya.
Anak itu menggeleng. Shafa berjongkok lagi untuk menggendong anak itu. Ia berniat membawanya ke loby dan menitipkan pada salah satu karyawan.
"Adek sama tante ini dulu ya. Nanti papanya pasti nyari adek," ujar lembut.
Anak itu menggeleng lagi, tak mau turun dari gendongan Shafa.
"Anak siapa sih Mbk? Kok bisa sama Mbak Shafa?" tanya karyawan perempuan itu.
"Aku juga nggak tau Nin. Kayaknya dia tersesat."
Perlahan Shafa mendudukkan anak itu di sofa yang ada disana. Anak kecil yang tampak polos itu hanya diam sambil mendekap bolanya. Shafa duduk disamping anak itu dengan merangkul bahu mungilnya.
"Nindi, tolong kamu tanya sama resepsionis yang jaga kemarin. Mungkin saja dia tahu siapa tamu yang bawa anak kecil."
"Iya Mbak. Nanti saya tanyakan. Dia sedang pamit ke toilet sebentar. Temannya juga datang telat kayaknya. Mangkanya saya yang standby disini."
Baru saja hendak mengucapkan sesuatu, ada suara seorang lelaki yang memanggil manggil sebuah nama.
"AR!!! ARSYAD!!!" teriak lelaki itu.
Shafa dan Nindi menoleh kearah sumber suara. Tampaklah seorang lelaki berlari kearah mereka dengan wajah panik.
"Arsyad, syukurlah kamu ketemu sayang," ucap lelaki itu saat sudah memeluk putranya. "Terimakasih sudah menjaga anak saya!" ucapnya lagi sambil menggendong Arsyad.
"Sama-sama Pak. Tadi saya ketemu dia main bola sendirian di lorong," ujar Shafa.
Nindi pun pamit kembali bekerja karena teman yang ia gantikan sudah mengisi meja resepsionis.
"Kenalkan saya Barra!" Lelaki yang mengaku bernama Barra itu mengulurkan tangan pada Shafa. Sedangkan tangan kirinya menyangga tubuh mungil putranya.
Shafa menangkupkan kedua tangannya. "Zahra" ucapnya memperkenalkan diri dengan nama Zahra. Tentu Shafa tak ingin orang asing tahu nama panggilannya.
Barra pun menurunkan tangannya. Mengerti bahwa gadis dihadapannya tak mau bersentuhan dengan dirinya.
"Kalau begitu saya permisi Pak. Assalamu'alaikum!" ucap Shafa yang kemudian berlalu pergi.
"Gadis yang cantik seperti namanya," gumam Barra sambil tersenyum sendiri.
"Papa!" panggil Arsyad membuyarkan lamunan papanya.
"Apa sayang?" tanya Barra gemas.
"Al lapel Pa," jawabnya dengan polos. Ia memang belum bisa mengucapkan "R" dengan fasih.
Barra terkekeh mendengar ucapan putranya yang cadel. Lalu dia mengajak putranya untuk makan di kafe sebelah.
.
.
.
__ADS_1
See you readers...