
Gibran semakin mendekat, Shafa memejamkan matanya karena tak tau harus bagaimana. Laki-laki yang saat ini berada pada jarak dekat hendak memegang bahunya.
Tiba-tiba ada suara ponsel berdering, laki-laki dibelakangnya berjalan menjauh menerima panggilan. Shafa membuka matanya dan bernafas lega.
Sebuah tepukan dibahunya membuat Shafa terlonjak kaget. Bukankah tadi Gibran sudah pergi. Lalu siapa yang menepuk bahunya?
"Si bos ganteng habis dari sini ya?" tanya Ririn yang baru saja datang dari depan mengantar pesanan. Tadi ia melihat Gibran keluar dari dapur.
Shafa menoleh kearah sahabatnya. Ririn heran melihat wajah Shafa tampak pucat. "Kamu sakit Fa?" Ririn menyentuh kening sahabat didepannya.
"Aku nggak apa-apa Rin, kaget aja tadi."
"Shafa gugup dideketin ama si bos," celetuk Fery salah satu karyawan yang ada diruangan itu.
"Si bos penasaran kali ama Shafa, secara dia kan karyawan baru dan si bos belum pernah ngelihat. Ditambah Shafa cantiknya juga nggak ketulungan. Siapa coba yang nggak tertarik," ucap yang lain.
"Bisa jadi, aku aja tertarik sama kamu Fa." ucap Fery terang-terangan. "Mau nggak jadi bini abang?" tanyanya sambil mengerlingkan mata pada Shafa.
"Jangan mau Fa! Si Fery cabangnya banyak. Bukan cuma ditikungan aja tapi tiap perempatan ada," ujar Ririn. Tangannya menata makanan diatas nampan.
Sedangkan Shafa yang sibuk memplatting makanan hanya tersenyum saja. Ia sudah biasa dengan guyonan temannya. Dirinya memilih untuk tidak banyak bicara.
"Ini namanya pencemaran nama baik Rin. Aku nggak gitu kali." Fery membela diri. Tangannya sibuk mengelap gelas dan piring.
"Kerja... Kerja... Jangan ribut mulu kalian!" ucap yang lainnya.
"Syirik aja lu ndro!" seru Fery.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hari itu pelanggan memang ramai. Cukup menguras tenaga semua karyawan. Tapi, mereka selalu semangat. Bos mereka tak pelit. Makan pun bisa memilih sesuai selera. Pada akhir bulan, jika pendapatan naik bonus pasti diterima mereka. Hal itu tak luput dari peran Fahmi sebagai atasan yang jujur. Ia selalu mengirimkan data sesuai kenyataan. Hingga Olivya sering menyuruhnya memberikan bonus pada para karyawan.
****
"Ada apa mama memanggilku?" tanya Gibran yang baru saja masuk keruangan mamanya.
"Begini Gibran, Mama hanya ingin bilang kalau mulai besok kamu harus mengurus Cafe. Mama akan fokus mengurus butik. Bagaimana?" tanya Olivya.
"Baiklah Ma. Aku akan mengurus Cafe," jawab Gibran.
Setelah itu mereka membicarakan masalah pekerjaan. Disamping itu pikiran Gibran masih dipenuhi rasa penasaran pada gadis yang bernama Shafa. Ia akan lebih mudah mencari tau siapa gadis itu jika dirinya selalu berada di Cafe.
Gibran berharap dugaannya benar, bahwa gadis itu adalah orang yang ia rindukan beberapa tahun terakhir.
Jarum jam terus berputar berganti waktu. Matahari juga sudah damai dalam peraduannya. Berganti bulan dan bintang yang menghiasi langit malam. Olivya sudah meninggalkan Cafe dengan taxi online. Sedangkan Gibran tetap disana sampai para karyawan satu persatu pulang.
"Shafa, ayo aku antar pulang!" Fahmi menghampiri Shafa yang sedang merapikan barang diloker.
"Sebelumnya terimakasih Pak, saya terbiasa pulang sendiri. Lagi pula tak baik dipandang orang bila saya pulang malam-malam diantar laki-laki yang bukan muhrim," ucap Shafa dengan sopan.
Jawaban Shafa seolah memukul mundur Fahmi. Dia memang bukan siapa-siapa bagi Shafa. Hanya saja dia menaruh perasaan pada gadis cantik dihadapannya. Fahmi sendiri memang belum berkeluarga diusianya yang menginjak tiga puluh tahun. Dia memang pria yang baik dan lumayan tampan. Banyak wanita yang tertarik. Tapi, tidak bagi Shafa. Hati gadis itu belum terbuka lagi.
"Saya permisi Pak!" Shafa membungkukkan badan melewati manajernya.
Fahmi pun memutuskan untuk pulang sendiri. "Memang sulit mendapatkan gadis seperti Shafa." gumam Fahmi.
__ADS_1
Sementara itu, dengan langkah santai Shafa berjalan kaki menuju rumah kontrakannya. Dari kejauhan tampak sebuah mobil mengikutinya pelan-pelan.
Shafa tampak santai saja, walau ia menyadari ada yang mengikutinya. Sesampinya diarea perkampungan, ia berniat mengecoh pemgendara mobil dengan menyelinap masuk kedalam sebuah gang. Lalu ia melewati gang sempit untuk sampai kekontrakannya.
Gibran kehilangan jejak. Dirinya semakin penasaran dengan Shafa.
Sesampainya dikontrakan, Shafa langsung membersihkan diri dan beranjak tidur.
"Maafkan Shafa kak! Belum saatnya kakak tau siapa aku. Suatu saat nanti aku sendiri yang akan menemui kakak dan mama." gumam hati Shafa.
Kegiatan Shafa dipagi hari seperti biasanya. Tapi kali ini ia akan memasak untuk para sahabatnya. Selesai adzan shubuh, ia pergi berbelanja kewarung yang juga berjualan sayur.
"Wah, Neng Shafa rajin banget jam segini udah belanja," sapa pemilik warung yang seorang ibu-ibu.
"Iya Bu," jawab Shafa dengan senyuman. Ia pun segera memilih sayur yang akan dimasaknya nanti.
"Anak perawan kan memang harus gitu buk, bangun pagi lalu masak. Biar kalau udah nikah terbiasa," ujar ibu-ibu yang lainnya.
Orang yang baru datang juga ikut menyahuti. "Neng Shafa jadi mantu ibu saja, anak ibu tentara lho dipapua sana. Orangnya gagah, cocok sama Neng yang cantik dan tinggi."
"Jangan mau Neng Shafa! Nanti kalau gugur dimedan tempur Neng bisa jadi janda," ucap ibu pemilik warung.
Mendengar kata janda, Shafa seakan berkaca pada dirinya sendiri. Bagaimana tanggapan orang kalau tahu siapa dia yang sebenarnya?
"Ibu syirik aja. Kalau anak saya gugur kan juga demi negara."
"Iya dech saya percaya anak situ abdi negara."
Shafa segera memilih apa yang ia perlukan. Lalu membayarnya, ia tak mau lama-lama terjebak dalam topik pembicaraan ibu-ibu yang berbelanja.
"Iya Bu, saya juga kagum sama dia. Udah cantik sholehah lagi. Anak kuliahan pula."
Para ibu-ibu berbelanja sambil ngerumpi adalah hal yang biasa. Dan hal itu yang dihindari Shafa. Ia selalu menjadi bahan omongan.
Sesampainya dirumah, Shafa dan yang lainnya memasak bersama. Beda dengan Silvia yang malah asyik bermain ponsel sambil senyum-senyum dikursi meja dapur.
"Kamu chat an sama siapa sih Vi? Pagi-pagi udah cengar-cengir sendirian," tegur Aira.
"Aku lagi seneng tau. Gibran udah pulang dari luar negeri. Jadi kita nggak akan LDR an lagi."
Sebenarnya Shafa terkejut mendengar Silvia menyebut nama Gibran. Apakah Gibran yang dimaksud Silvia adalah kakaknya? Atau ada Gibran yang lain.
"Syukur dech Vi, jadi berkurang kegalauan kamu. Tapi ingat batasan Vi. Jaga kehormatan diri kamu sebagai perempuan. Jangan sampai kita dianggap murahan oleh kaum laki-laki," ujar Alza menasehati. Diantara mereka berempat Alza yang sering bersikap dewasa. Karena memang dia mahasiswi jurusan Tarbiyyah, begitu juga dengan Aira. Jadi, diantara mereka berempat hanya Silvia yang tidak berhijab. Ia mengambil jurusan management sedangkan Shafa jurusan management bisnis.
"Iya ustadzah, saya ngerti. Gibran juga cowok baik-baik dan berpendidikan. Walau pun dia kuliah diluar negeri tapi dia sangat menghargai perempuan. Meluk aku aja belum pernah," ujar Silvia.
"Alhamdulillah! Berarti Gibran memang pria baik-baik," sahut Alza
"Gibran itu pacarnya Silvia ya?" tanya Shafa. Ia juga penasaran dengan Gibran yang dimaksud Silvia.
"Iya Fa. Tapi selama ini mereka pacaran jarak jauh, Gibran kuliah dan tinggal diluar negeri bersama ibunya," jawab Aira.
"Nanti kapan-kapan aku kenalin Fa sama Gibran. Hanya kamu yang belum pernah ketemu dia."
__ADS_1
"Ok Vi. Nanti kenalin aku sama Gibran."
"Tumben Fa kamu mau kenalan sama cowok, biasanya cuek bebek kalau masalah cowok," ujar Aira heran.
"Penasaran aja sih sama cowoknya Silvia. Kayak apa orangnya."
"Dia itu perfect Fa. Tajir pasti, gagah dan gantengnya nggak diragukan," ucap Silvia bangga.
"Dih, cowok sendiri pasti ya dipuji-puji," ucap Aira.
Shafa dan kedua temannya masih sibuk dengan bahan yang dimasak, Silvia meletakkan ponselnya dan ikut membantu. Mereka berempat selalu kompak dalam hal mengurus rumah. Tadi, waktu Shafa berbelanja mereka bertiga beres-beres rumah.
Selesai memasak mereka segera membersihkan diri. Kemudian sarapan bersama.
"Hari ini kamu kuliah nggak Fa?" tanya Silvia setelah sarapan. Saat ini mereka berempat sedang santai diruang tamu sambil menonton televisi.
"Nggak Vi, hari ini juga jadwal liburku di Cafe. Jadi aku nyantai aja dirumah sambil ngerjain skripsi," jawab Shafa yang sedang duduk berselonjor memangku laptopnya, punggungnya bersandar kesofa. Karyawan di Cafe memang mendapat jatah libur sebulan dua kali.
"Ra nanti ikut aku kepesantren ya!" ajak Alza. Ia berbicara pada Aira.
"Kepesantren mau ngapain nich? Mau ketemu gus Afif ya...!" goda Aira.
Alza tampak tersipu malu. Ia agak salah tingkah. "Aku kesana mau ketemu Syifa. Kita kemarin janjian mau ngerjain tugas bareng."
"Sekalian ketemu abangnya kan..." Aira masih saja menggoda Alza.
"Nggak papa kali Za. Gus Afif kan hafidz, calon imam dunia akhirat." Silvia menimpali.
Wajah Alza semakin merona. Siapa sih yang nggak terpesona dengan putra seorang kyai? Tampan dan sholeh, dia juga seorang hafidz. Tak bisa dipungkiri bahwa Alza menaruh hati. Tapi ia tahu siapa dirinya. Tidak mungkin bisa bersanding dengan putra kyai. Akhirnya Alza hanya menyimpan sendiri perasaannya dan sebatas menjadi pengagum sosok Afif.
"Kalian ini ngomong apa? Jangan ngawur! Dia pasti udah punya calon. Banyak kyai yang ingin mengenalkan putri mereka dengan gus Afif," ujar Alza yang kemudian sok sibuk menonton acara televisi.
Shafa hanya mendengarkan obrolan ketiga sahabatnya. Ia pun tahu sedikit cerita mengenai orang yang disebut gus Afif. Karena itu ia memilih fokus dengan laptopnya.
"Tapi tak ada satupun yang nyantol dihati gus Afif kan," Aira buka suara lagi.
"Ya berarti memang dia belum ketemu jodohnya." Alza masih pura-pura fokus pada layar didepannya.
"Dan berharap jodohnya kamu kan...," ujar Silvia sambil tertawa melihat Alza yang semakin salah tingkah.
Aira pun juga ikut tertawa, Shafa hanya tersenyum melihat Alza jadi bahan candaan. Kalau udah kumpul pasti ada aja yang mereka bicarakan.
Alza memilih beranjak pergi kekamar untuk siap-siap berangkat kepesantren, diikuti juga oleh Aira. Silvia kedapur untuk mengambil minum.
Beberapa saat kemudian ada suara ketukan pintu. Shafa yang berada diruang tamu sendirian berdiri untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, Shafa tertegun melihat siapa yang kini berdiri didepan pintu. Orang itu pun juga ikut tertegun melihat gadis dihadapannya. Kini ia bisa melihat dengan jelas wajah yang sejak kemarin membuatnya penasaran. Tak disangka mereka dipertemukan secara tidak sengaja. Takdir berpihak padanya hari itu.
.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian readers!
Thanks yang udah berpartisipasi, dukungan kalian adalah penyemangat!