
Semua keluarga bergegas kerumah sakit pagi itu karena tadi malam mendapat kabar dari Steven bahwa Shafa sudah sadar. Olivia, Steven, Randi dan Gibran sampai lebih dulu. Tapi niat untuk masuk diurungkan, mereka melihat pasangan suami istri yang masih tidur sambil berpelukan.
Steven dan Olivia tersenyum lega melihat pemandangan pagi itu yang jarang bisa mereka lihat secara langsung. Sonia, Faisal dan Samuel juga sudah terlihat melewati lorong rumah sakit. Olivia memberi isyarat agar mereka jangan masuk dulu.
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kita tidak boleh masuk?" tanya Faisal heran.
"Mereka berdua masih tidur jangan diganggu dulu," jawab Olivia.
Sonia dan Faisal merasa penasaran, mereka membuka pintu dengan hati-hati untuk melihat secara langsung. Samuel juga tak mau kalah, ia ikut menjadi pengintip. Dua manusia yang sedang terlelap tak sadar kalau mereka sedang terciduk oleh para orang tua.
"Sepertinya hubungan mereka semakin membaik. Rasanya bahagia sekali melihat mereka tidur seperti itu," ucap Sonia.
"Iya Jeng Sonia, saya juga merasa senang melihat anak kita sudah bisa saling menerima." Olivia menimpali.
Mereka pun memutuskan untuk menunggu sampai dua insan itu terbangun. Hingga satu jam kemudian, tak kunjung ada tanda-tanda mereka terbangun. Samuel tak sabar dan langsung masuk. Ia berdecak sambil berkacak pinggang melihat Guntur dan Shafa masih terlelap.
"Bangun woy...! Udah siang. Jangan mengeram mulu kalian! Percuma mengeram berdua tapi kagak ada yang netas!" seru Samuel sambil membuka gorden, agar cahaya matahari bisa masuk. Dikira Shafa sama Guntur unggas bisa mengeram dan menetaskan sesuatu.
Tentu saja suara berisik Samuel membangunkan orang yang dari tadi tertidur. Shafa langsung berteriak melihat Samuel, dirinya sedang tidak memakai hijab. Bantal pun melayang kearah Samuel.
"Tutup mata Sam! Aku tidak memakai hijabku." Shafa segera meraih hijabnya yang ada dipinggir ranjang.
Guntur masih mengumpulkan kesadarannya. Terbangun secara mendadak membuat kepalanya pusing.
"Nggak usah panik gitu kali Fa. Dulu udah puas lihat kamu tanpa hijab. Cantiknya masih sama kok. Hehe...!" Samuel terkekeh tanpa merasa bersalah.
Orang-orang diluar segera masuk mendengar keributan dari dalam. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keusilan Samuel.
Guntur segera turun dari ranjang melihat semua orang berkumpul.
"Mau kemana Gun?" tanya Sonia.
"Cuci muka Ma. Kepala Guntur pusing gara-gara keponakan Mama." Guntur berjalan kekamar mandi sambil memijat pelipisnya.
"Lagian kamu ya Sam, iseng banget gangguin kita lagi enak-enak tidur," omel Shafa.
"Siapa suruh tidur pagi-pagi gini. Kita nungguin kalian bangun udah lama diluar."
Shafa menatap malu kearah para orang tua. Hari memang sudah cerah, matahari mulai menghangatkan bumi.
"Gimana keadaan kamu sayang?" Olivia mendekati putrinya.
"Udah baikan kok Ma. Tidak perlu khawatir lagi. Shafa udah sehat." Gadis menampakkan wajah seceria mungkin.
"Mama seneng banget lihat kamu udah bugar begini. Cepet pulang kerumah, Mama sama Papa kesepian tidak ada kamu sama Guntur." Sonia memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Bukannya malah enak, Bibi bisa berduaan terus sama paman dirumah. Itung-itung mengulang masa muda tanpa anak," celethuk Samuel.
Faisal menjitak kepala keponakannya karena gemas. "Dasar keponakan nggak ada akhlak. Terus bocah satu yang biasa dirumah siapa? Apa dia jelmaan si Kiki?"
Samuel mengusap kepalanya yang sakit. "Tega amat paman nyamain aku sama kucing hitamnya Kak Guntur!"
__ADS_1
Guntur keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih menyisakan bulir air dari rambutnya. Ia duduk disofa bersama Randi. Pemuda itu memilih jadi penonton drama keluarga yang sedang terjadi.
"Gimana, udah bisa jinakkin anak singa?" bisik Randi.
Guntur mengernyit heran dengan pertanyaan Randi. Siapa yang dimaksud anak singa? Shafa...???
"Pastinya udah dong ya! Tadi aja udah nemplok kayak uler keket yang susah dilepas dari pegangannya," lanjut Randi.
Guntur tak habis pikir, ternyata Randi agak gesrek juga. Kayaknya mereka bertiga cocok dikumpulin jadi "Trio Wek Wek" yang anggotanya Guntur, Samuel dan Randi.
"Kamu kan selama hampir empat tahun udah mengisi hari-hari Non Shafa. Jadi, tidak ada kesulitan kan buat ngeluluhin hatinya yang kadang keras kayak kue ketan salak dikulkasin." Randi masih melanjutkan ocehannya. Malah bawa-bawa ketan salak yang tak berdosa.
"Kamu udah pernah makan ketan salak dikulkasin Rand?"
"Pernah, gara-gara jebakan Batman si Maya, pembantu dirumah."
"Kalau makan nasi gudek dikulkasin pernah nggak?" Nah, si Guntur malah bawa makanan kebangsaannya.
"Hmmmbh...! Belum pernah coba. Emang enak nasi dikulkasin?"
"Kamu coba aja sendiri, nanti sepulang dari sini beli nasi gudek diwarung. Terus taruh dikulkas. Besok baru kamu makan." Guntur memberi saran yang tak masuk akal. Tapi si Randi iya-iya aja. Hedeugh...!
"Rand, kamu pernah nggak ketemu Cleopatra sungai Amazon?" tanya Guntur.
"Hah...!" Randi tampak kaget. "Belum pernah ketemu aku."
"Kalau begitu anda belum beruntung." Guntur meninggalkan Randi yang masih tak mengerti tentang Cleopatra sungai Amazon. Bukannya Cleopatra itu dari Mesir. Cleopatra dan sungai Amazon pun udah beda benua. Lalu gimana bisa ada Cleopatra sungai Amazon?
Olivia membantu putrinya untuk siap-siap pulang, yang lain memilih menunggu diluar. Tak berselang lama, datanglah Aldi dan Afif. Olivia memilih untuk keluar dulu karena ingin memberikan ruang agar mereka leluasa berbicara.
Tentu kedatangan mereka membuat Shafa sangat canggung. Dua pria yang sama-sama pernah mencintai dirinya datang tanpa diduga.
"Gimana keadaan kamu sekarang Shafa?" tanya Aldi.
Guntur menggenggam tangan Shafa yang sedang bersandar diatas ranjang. Hal itu bisa sedikit mengurangi kegugupan Shafa.
"Seperti yang kamu lihat Al, aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku juga pulang." Shafa hanya berani menatap sekilas kearah Aldi dan Afif.
"Syukurlah kalau begitu! Kamu bisa datang kekampus lagi. Minggu depan akan ada kegiatan bakti sosial. Mungkin kamu tertarik untuk ikut," ucap Aldi.
"Maaf Al! Sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku akan pulang ke Jakarta setelah menyerahkan tugas akhirku dalam minggu-minggu ini."
"It's ok Shafa." Aldi mencoba bersikap setenang mungkin. Sebenarnya ia sama canggungnya dengan Shafa.
Apalagi Afif yang hanya terdiam melihat kenyataan yang cukup menyesakkan. Shafa sudah memiliki sosok pendamping yang dipilihkan takdir. Meski bukan dirinya, Afif hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Shafa dan untuk dirinya.
Mereka berdua tak berlama-lama. Afif dan Aldi pamit pulang.
Shafa dan Guntur juga bersiap pulang. Mereka menuju rumah Guntur. Meski awalnya Olivia meminta Shafa agar pulang bersamanya. Tapi Shafa lebih memilih pulang kerumah suaminya. Olivia dan Steven pun bisa mengerti.
Kini Shafa dan Guntur sudah berada didalam kamar setelah menyantap sarapan mereka yang terlewat.
__ADS_1
Shafa duduk dibalkon sambil memeriksa pesan masuk dari ponselnya. Sedangkan Guntur kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Meski sebagian sudah dihandle oleh sang ayah, tetap saja banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan sendiri. Apalagi menyangkut pekerjaan yang berhubungan dengan arsitektur bangunan. Tentu itu adalah pekerjaan mutlaknya.
Malamnya mereka menghabiskan waktu berdua ditempat tidur. Tapi bukan seperti pasangan pada umumnya. Mereka malah sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali Guntur iseng melirik kearah laptop milik Shafa.
"Apaan sih Mas Guntur? Kepo deh...!" seru Shafa sambil menghalangi pandangan suaminya.
"Kepo dikit Fa!" elak Guntur.
"Lagi nulis apa sih Mas?"
"Dih... ikutan kepo?"
"Lihat dong Mas!" Shafa memaksa hendak melihat apa yang ada dilaptop suaminya.
Setelah saling uwel-uwelan dan tarik menarik, akhirnya Shafa bisa merebut laptop Guntur. Namun, ia tercengang melihat sederet tulisan indah yang menggunakan latar belakang siluet pasangan yang berada dibawah langit jingga. Dari tanggal dibuatnya, Shafa tahu bahwa tulisan itu dibuat sekitar dua minggu yang lalu. Shafa sampai terharu membaca tulisan yang berisi ungkapan hati suaminya.
Mungkin aku tak sebaik Fachri
Tapi aku selalu berharap
Akan ada sebuah waktu
Yang menuntun kita untuk menggelar sajadah bersama
Menghadap sang maha cinta dalam satu tujuan
Menjalankan ibadah dalam satu Takbir
Berdzikir dalam satu Tasbih
Bertaubat dalam satu Tahlil
Bersyukur dalam satu Tahmid
Bersenandung dalam satu nada cinta
Berikrar pada satu janji
Dan bersatu dalam satu kisah
.
.
.
.
Sampai disini dulu ya!
Sajak yang lain nyusul besok. Aku mau nonton Mirai Hibino dulu.😉
__ADS_1