
Shafa masih penasaran dengan tulisan dilaptop suaminya. Ia Scroll lagi kebawah. Masih ada lagi deretan kata-kata menyentuh dan itu pun ada yang dibuat sekitar empat tahun yang lalu.
Bagaimana aku bisa menyimpanmu didalam hati
Sedangkan hati sendiri bisa saja terbolak balik
Aku menyimpanmu dalam setiap do'aku
Karena do'a akan tercatat abadi dilangit
Begitu juga dengan cintaku padamu
Yang aku titipkan pada-Nya
Agar cinta itu mendapat tempat terindah disisi-Nya
Dan suatu saat cinta itu berada dalam keridloan
#Sincerely Love My Ara💝
Shafa pun semakin kalut. Panggilan My Ara, itu panggilan Mr.A untuknya. Ada apa ini sebenarnya?
Aku memilih mencintaimu dalam sepi
Karena dalam kesepianku hanya ada siluet tentang dirimu
Aku memilih mencintaimu dalam diam
Karena dalam kediamanku hanya ada namamu yang terkunci
Aku memilih mencintaimu dalam penantian
Karena dalam penantianku hanya akan berujung padamu
#Always loving you My Ara
Shafa melanjutkan lagi membaca dengan rasa bergetar dan juga pikirannya yang dipenuhi rasa ingin tahu.
Guntur hanya bisa pasrah jika identitas Mr.A terbongkar malam itu.
Meskipun aku sempat hancur
Tapi itu bukanlah sebuah akhir dari pengharapanku
Meskipun hatiku sempat patah berkali kali
Tapi cintaku tak akan pernah berhenti begitu saja
Karena cinta ini tahu, hanya waktu saja yang belum tepat
Menyerah untuk bertahan? Tidak akan
Putus asa pun tak akan mampu melemahkannya
Cinta akan tetap pada keyakinannya untuk tetap berjuang
Begitulah cintaku...
#Hati yang patah💔
Tenang, Hati ini selalu sadar akan posisinya
__ADS_1
Secinta apa pun aku padamu
Sebesar apa pun kekagumanku padamu
Aku tak akan pernah berani menghancurkan
rasa bahagia yang telah kamu tata bersama dia
Sebab, aku tahu
Bahwa semesta tak akan mengizinkan aku
untuk memilikimu
Shafa seakan tak percaya dengan apa yang baca. Apa lagi fakta yang baru ia ķetahui. Bahwa tulisan itu dibuat pada saat tanggal pernikahannya dengan Fachri.
"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Shafa dengan suara bergetar. Matanya juga memerah. Semua rasa bercampur jadi satu. Sedih, marah, kecewa dan merasa dibohongi.
"A-aku..." suara Guntur tercekat. Lidahnya mendadak kelu melihat raut kèkecewaan yang mendalam dalam diri Shafa.
Shafa turun dari ranjang dan berdiri menatap Guntur tajam. "Apa kamu adalah dia? Katakan...!!! Apa kamu adalah Mr.A?"
"Maafkan aku Shafa!"
Jawaban Guntur membuat Shafa mengerti bahwa Mr.A memanglah suaminya itu. Bisa-bisanya ia dipermainkan oleh Samuel dan Guntur. Sungguh sebuah kenyataan baru yang membuat hatinya semakin bergemuruh.
Ia usap wajahnya dan menengadahkan kepala keatas. Mengumpulkan kekuatan untuk menerima kenyataan. Hatinya benar-benar terluka. Shafa pun berlari keluar kamar.
Guntur langsung mengejar istrinya. Disaat bersamaan, Samuel keluar kamar sambil membawa gelas. Air minum dikamarnya habis. Saat hendak kedapur, malah ada adegan kejar-kejaran.
Samuel pun melihat perdebatan Shafa dan Guntur dibawah.
"Tunggu Fa! Kamu mau kemana malam-malam begini?" cegah Guntur menghalangi tubuh Shafa yang menuju pintu.
"Dan kamu Samuel, bisa-bisanya kamu bersekongkol dengan kakakmu untuk membohongiku selama ini," ucap Shafa dengan setengah berteriak.
Amarahnya benar-benar membuncah. Samuel pun tahu jika semuanya telah terbongkar, dan hal itu menjadi bom waktu bagi Guntur. Apakah Shafa bisa memaafkan suaminya?
"Aku hanya ingin membantu Kak Guntur agar bisa dekat denganmu waktu itu Fa." Samuel mencoba memberi alasan.
"Harusnya sejak awal kalian jujur padaku...!!!"
"Bagaimana aku harus jujur padamu Shafa?" Terdengar suara Guntur yang juga meninggi. "Sedangkan saat pertemuan pertama kita, kamu sangat acuh. Kamu tidak pernah menghubungi nomor yang ada dikartu nama yang aku berikan padamu. Dan saat aku mendapat nomor dari Samuel. Aku menghubungimu, kau pun langsung menganggap aku Samuel. Jadi aku biarkan semua berjalan sesuai anggapanmu. Karena itulah satu-satunya cara agar aku bisa dekat denganmu."
"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Asal kalian tahu, hal ini membuat aku sangat kecewa. Kalian berdua sudah mempermainkanku. Kenapa kalian tega...??? Kenapa...???" Emosi Shafa semakin tak terkontrol.
"Karena aku mencintaimu...!!!" ucap Guntur lantang. "Aku mencintaimu sejak awal kita bertemu Shafa. Sejak namamu masih Clara...!!!"
Seketika Shafa terdiam mendengar pengakuan Guntur. Sulit dipercaya bahwa Guntur sudah mencintainya sejak lama.
"Kamu bohong Guntur...!!! Kamu pasti berbohong...!!! Kamu hanya mempermainkanku."
Guntur langsung mendekati Shafa dan merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Meski Shafa memberontak Guntur tetap memeluk erat.
"Aku tidak bohong Shafa. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Guntur menyakinkan istrinya.
Isak tangis semakin terdengar keras. Samuel yang melihat adegan itu ikut terharu. Begitu juga dengan Sonia dan Faisal. Mereka hanya berani melihat dari kejauhan.
"Kalau kamu mencintaiku kenapa kamu tega membohongiku Mas...? Aku benar-benar menganggap Mr.A itu Samuel." Shafa masih terisak dalam dekapan suaminya.
"Sekali lagi maafkan aku Shafa! Maafkan aku!" Guntur mengecup puncak kepala Shafa sampai matanya terpejam. Ia juga salah tak bisa jujur sejak awal.
__ADS_1
Untuk beberapa saat lamanya dua insan itu saling memeluk. Shafa sebenarnya menangis karena haru. Tanpa Guntur tahu bahwa Mr.A sudah membuat Shafa jatuh cinta. Karena itulah Shafa merasa bahagia sekaligus kecewa. Hingga membuat amarahnya meluap.
Setelah tenang Guntur menuntun Shafa untuk duduk. Samuel pun berinisiatif mengambilkan air minum.
"Minum dulu! Pasti haus kan, habis marah-marah," ucap Samuel. Dia langsung mendapat pelototan dari Guntur. Gelas ditangan Samuel pun ditaruh meja.
"Mau kemana kamu?" tanya Shafa ketus saat Samuel hendak berlalu. "Duduk disini!" perintahnya sambil menepuk sofa.
Samuel hanya menurut. Baru saja pantatnya menempel. Shafa langsung menjewer telinganya, begitu juga dengan Guntur. Telinganya tak luput dari kejengkelan Shafa. Suara teriakan langsung menghiasi ruang tamu.
Sonia dan Faisal ikut terkekeh melihat tingkah ketiganya. Mereka pun memutuskan masuk kamar lagi karena dirasa masalah sudah tuntas.
"Sakit tau Fa! Udah kayak emak-emak nggak dikasih jatah bulanan aja," gerutu Samuel sambil mengusap telinganya yang panas.
"Siapa suruh bohong tentang Mr.A. Sampai-sampai aku merasa bersalah sama Anin karena aku merasa mencintai Mr.A." Secara tak langsung Shafa mengakui perasaannya.
"Cie... Cie... Ngaku nih yeee....!" ejek Samuel. Shafa masih memberengut kesal. Guntur senyum-senyum sendiri, merasa cintanya telah terbalas.
"Lagian, apa kamu nggak nyadar Fa kalau Mr.A itu bukan gue? Bahasanya kan udah beda."
"Awalnya aku curiga, tapi setiap aku telepon kamu yang angkat. Jadi aku percaya aja."
"Hahaha... Dasar bucin!"
"Siapa yang bucin sih?"
"Ya elo lah Fa. Udah jelas-jelas Mr.A cara ngomongnya bukan kayak gue, masih aja percaya. Apa karena nyaman, jadinya kamu nggak bisa bedain? Lebih tepatnya bodo amat siapa dia, yang penting bisa buat hati adek tentram. Haha..." Tawa Samuel membuat Shafa semakin jengkel.
"Au ah... Sebel aku sama kamu." Shafa berdiri, lalu menghadap Samuel. "Hiiiiiii.... Gemes...!" Kedua tangan Shafa memegang kepala Samuel sambil mengoyang kekanan kekiri dengan gemas. Setelah itu ia pergi kedapur.
"Gue mulu yang jadi sasaran padahal disini tersangkanya Kak Guntur."
Guntur hanya bisa tertawa melihat adik sepupunya. Lalu ponsel milik Samuel berbunyi. Laki-laki itu menuju taman belakang untuk menerima panggilan.
Guntur menyusul Shafa yang sedang didapur. Gadis itu sedang makan buah apel dan juga ada segelas susu hangat dihadapannya.
"Lapar?"
Shafa menoleh sebentar tanpa menjawab. Lalu melanjutkan menguyah apel dimulutnya.
"Masih marah?" Guntur ikut duduk disebelah istrinya.
Shafa menggeser kursinya menjauh. "Pikir aja sendiri!"
Guntur beranjak dari duduknya. "Ya sudah kalau masih marah. Tapi jangan lama-lama marahnya." Sebuah kecupan singkat mendarat dipuncak kepala Shafa yang berbalut hijab. "Maaf!" lirih Guntur sebelum akhirnya ia menaiki tangga. Samuel juga tiba-tiba naik keatas dengan tergesa-gesa. Sampai menyenggol bahu Guntur. Tapi dia malah tak perduli.
Shafa termenung dimeja makan sambil menyesap pelan susu hangatnya. Saat ini Shafa mencoba menyelami perasaanya sendiri. Apakah dia memang sudah jatuh cinta? Tanpa terasa sudah ada sosok pengisi baru ruang dihatinya. Menggeser secara halus posisi Fachri dari sana.
Apalagi tadi ia membaca sendiri ungkapan hati Guntur yang mampu menyentuh perasaannya.
Guntur sedang berdiri dibalkon sambil menatap bintang malam. Ada sedikit kelegaan saat Shafa sudah mengetahui kebenaran yang dia sembunyikan. Setidaknya tak ada lagi beban yang terpendam.
Tiba-tiba ada tubuh yang memeluknya dari belakang. Guntur membeku ditempatnya berdiri. Jantungnya berdetak kencang, darahnya berdesir hebat. Ini adalah pelukan pertama yang ia rasakan dari seseorang yang ia cintai. Biasanya dia yang selalu memeluk terlebih dahulu.
.
.
.
.
__ADS_1
Semoga suka dengan part ini!😊