Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Mengulang Kembali


__ADS_3

Guntur menuruni anak tangga dengan wajah kusut, akibat insiden semalam. Dia sulit untuk tidur karena gairahnya yang tak tersalurkan. Sehabis acara makan bakso pun Shafa malah tertidur. Jadilah dia tersiksa sendiri.


"Ini muka kenapa kisut begini. Kekeringan ya Kak, nggak dapat suplay air. Padahal musim hujan," ucap Samuel yang sedang dimeja makan menikmati roti bakar dan susu hangat.


"Iya," jawab Guntur malas.


Shafa jadi merasa bersalah. Ia tak berani banyak bicara pagi itu. Meski sudah minta maaf tapi tetap saja ia tak enak hati.


Mereka pun makan dalam keheningan, Guntur tak banyak bicara karena memang dirinya sedang mengantuk berat. Tapi pekerjaan menuntutnya untuk tetap pergi ke kantor. Samuel menatap bergantian pasangan suami istri itu. Aneh memang jika mereka berdua sedang diam-diaman seperti ini. Samuel sendiri tak mau ikut campur. Dia sudah pusing dengan urusan hatinya.


Setelah Guntur berangkat, Shafa memilih membantu bik Minah membersihkan rumah. Juga ikut pak Karim merawat kebun. Dari pada suntuk tak tahu harus melakukan apa. Karena skripsinya juga sudah selesai. Tinggal menyerahkan pada dosen esok hari.


Samuel lebih memilih berdiam diri di kamarnya. Sesekali juga menonton acara di youtube. Bosan dengan semua itu, ia menuju balkon. Melihat teriknya mentari siang itu. Meski tadi malam hujan terus membasahi bumi. Tapi siangnya cuaca cerah. Mungkin nanti sore akan turun hujan lagi. Paman dan bibinya juga baru akan kembali nanti malam.


Samuel menatap kebawah, dilihatnya Shafa sedang bersama pak Karim membenahi tanaman. Kenapa baru sekarang hatinya tertarik dengan pesona Shafa? Gila memang.... Benar-benar gila.


Detik jam terus berlalu, setiap menitnya berlalu begitu saja. Shafa memasak sayur untuk makan siang. Tentu dengan bantuan bik Minah. Makan siang pun berlalu tanpa banyak obrolan.


Guntur baru pulang ketika waktu isya' berlalu. Tadi siang ia sempat tidur di kantor. Jadi pekerjaannya terbengkalai, karena itu saat bangun ia harus menyelesaikan hingga malam.


"Mas..." panggil Shafa. Saat ini mereka berdua sudah bersiap tidur.


"Hmmmbh" Hanya itu yang keluar dari suara Guntur dengan mata terpejam.


Shafa meringsek semakin menempel pada tubuh suaminya. Lalu tangannya melingkar diperut Guntur. "Ngantuk Mas?"


"Tidur!" Jawaban yang singkat padat dan jelas.


"Mas marah?"


"Tidak, ayo tidur!" Guntur memiringkan tubuhnya. Mendekap tubuh Shafa. Meskipun tidak mengantuk Guntur mencoba untuk tidur. Jangan sampai ia tersiksa lagi.


Dalam dekapannya, Shafa malah bermain dileher suaminya. Menghirup aroma segar dari tubuh dingin Guntur. Maklum laki-laki itu tadi mandi dengan air dingin. Supaya tubuhnya tidak panas. Tapi ternyata bidadarinya yang kemarin malu-malu. Malah menyalurkan hawa panas.


Laki-laki normal mana yang tahan dengan godaan itu. Hasrat langsung menggebu tanpa diminta. Guntur membuka mata dan membalas permainan bidadarinya. Sungguh diluar dugaan jika Shafa lah yang berinisiatif terlebih dahulu. Tapi Guntur menyukainya, artinya tak akan ada lagi jarak yang menjadi penghalang diantara mereka setelah ini. Pernikahan mereka akan sempurna setelah melakukan ibadah yang seperti surga dunia.


Perlahan dan pasti mereka berdua telah hanyut dalam indahnya cinta. Dibuai oleh hasrat yang begitu memabukkan. Saling menyatu dalam dekapan rasa.


"Kamu tidak sedang memesan bakso lagi kan?" tanya Guntur disela permainan mereka.


"Tidak Mas!" jawab Shafa dengan suara lemah dan nafas sedikit memburu.


Api asmara telah membakar mereka berdua. Meleburkan keduanya hingga jadi butiran debu. Penantian Surga dunia akan segera terwujud. Saat mereka sudah saling melebur, yang ada hanya buaian kenikmatan dan kebahagiaan yang tak terkira. Semua beban seakan terbuang begitu saja. Tak ada lagi kesedihan, tak ada lagi keresahan apa lagi sebuah keraguan. Yang ada hanya sebuah perasaan yang begitu indah.

__ADS_1


Sempurnalah ibadah dua anak manusia yang sudah terikat dengan halal. Mungkin Guntur bukan yang pertama, tapi bagi Shafa Gunturlah orang pertama


yang membuai dirinya dengan cinta. Semua terasa indah tanpa ada rasa sakit. Meski setelahnya tentu menyisakan nyeri dan perih.


"Terimakasih Sayang!" Guntur mengecup kening Shafa yang basah keringat.


Shafa tersenyum dan mengangguk. Dia lelah dengan permainan Guntur yang seperti musafir kehausan.


Guntur pun menuntun Shafa kekamar mandi untuk membersihkan diri sebelum mereka tidur.


"Maaf! Pasti sakit ya?" tanya Guntur lembut. Tangannya membelai wajah Shafa. Mereka sudah selesai membersihkan diri dan telah berpakaian lengkap.


"Tidak apa-apa Mas. Tapi apa Mas tidak kecewa?" tanya Shafa dengan nada kekhawatiran yang jelas.


"Kecewa kenapa Sayang? Bagiku kamu masih seperti gadis. Kamu lihatkan bagaimana perjuangan kerasku menembus pertahanan milikmu. Itu sungguh membuatku hampir gila Sayang!" kecupan hangat kembali mendarat diwajah Shafa.


Senyum bahagia menyelimuti keduanya. Babak awal telah mereka lewati. Tentunya tanpa ada lagi drama pemesanan bakso.


"Semoga kita segera mendapat baby kecil! Aku sangat menantikan kehadiran anak-anak dalam keluarga kecil kita." Guntur berucap lagi dengan penuh harapan.


"Aamiin Mas!"


Mereka berdua pun larut dalam peraduan. Tidur dengan saling mendekap. Membelai mereka dengan kebahagiaan terindah.


Pagi hari setelah subuh, Guntur meminta haknya lagi. Shafa pun tak bisa menolak. Mereka melakukan permainan dalam sejuknya suasana pagi.


"Loh... Shafa kenapa Gun?" tanya mama Sonia yang ternyata sudah pulang. Juga papanya, mereka sudah selesai sarapan karena piring sudah kosong. Bik Minah pun sedang beres-beres.


"Eh, Mama."Guntur agak kikuk. " Mama sama Papa kapan pulang?" Perhatian perlu dialihkan sejenak.


"Tadi malam kita pulang," sahut sang papa.


Samuel menatap intens kepada Shafa dan Guntur. Kemarin mereka tampak diam-diaman, tapi pagi ini sudah terlihat mesra lagi.


"Kamu itu kalau ngajak main istri tau batas dong! Kasihan Shafa masih belum terbiasa." Si papa ternyata bisa menebak apa yang dilakukan putranya. Yang pengalaman pasti langsung bisa membaca situasi dan kondisi.


"Papa ngomong apa sih?" Sonia belum mengerti. Sedangkan Shafa dan Guntur sudah mengambil posisi duduk. Guntur mengambilkan sarapan untuk istrinya.


"Biasalah Ma. Malam pertama yang tertunda. Mama dulu juga seperti itu kan!" Faisal berucap dengan entengnya. Tidak tahu jika yang bersangkutan menahan malu setengah mati.


"Oh.... Syukurlah kalau begitu! Mama seneng banget hubungan kalian semakin baik." Sonia tampak senang sambil memegang bahu Shafa, mengusapnya dengan lembut. Akhirnya Sonia lega, perjodohan mereka berakhir manis.


Sedangkan Samuel hanya bisa menahan rasa nyeri yang melanda perasaanya. Seharusnya ia senang, kakak sepupunya telah memiliki Shafa seutuhnya.

__ADS_1


"Guntur.... Nanti setelah sarapan kamu keapotik dulu buat beli obat nyeri buat istri kamu," perintah Sonia.


"Bukannya bisa sembuh sendiri ya Ma?"


Sebuah pukulan sendok mendarat di kepala Guntur. "Laki-laki itu tau enaknya saja. Nggak ngerasain jadi perempuan yang merasakan akibat ulah mereka."


Guntur hanya bisa mengaduh kesakitan dengan perlakuan mamanya.


Faisal langsung pamit, bisa-bisa dia juga jadi sasaran omelan macan betina. Sekalinya ngomel pasti semua kena. "Kamu turutin aja apa kata Mama kamu," ucap Faisal sebelum pergi.


Guntur mengangguk dan melanjutakan sarapan. Samuel segera menghindari situasi canggung seperti itu. Lebih tepatnya menyelamatkan hatinya dari gundah gulana yang semakin menguasai dirinya.


Sonia melangkah kedapur membuat jahe hangat untuk menantunya. Wajah sumringah selalu menghiasi wajah Sonia pagi itu. Dia juga merasakan kebahagiaan yang sangat ketika melihat hubungan putranya.


Guntur pamit keluar membeli obat yang disarankan sang mama.


"Shafa, setelah ini kamu istirahat aja di kamar. Kamu pasti butuh banyak istirahat." Mama Sonia duduk disamping Shafa sambil menyodorkan jahe hangat.


Shafa hanya mengiyakan perkataan mama mertuanya. Tubuhnya memang lelah, matanya seperti terbius dan ingin tidur lagi pagi itu.


Saat Guntur kembali dari membeli obat, Shafa sudah terlelap. Ia tersenyum dan meletakkan gelas minum dimeja lalu membangunkan Shafa dengan lembut.


Shafa membuka mata, masih tampak raut kelelahan diwajah manisnya.


"Ayo minum obat dulu! Biar nanti malam bisa tempur lagi," ucap Guntur menggoda. Shafa malah menghadiahkan cubitan dilengan suaminya. Tidak tau apa jika tubuhnya seperti remuk akibat permainan mereka. Ia akan minta istirahat dulu malam ini. Butuh proses untuk penyembuhan rasa nyerinya.


Guntur juga berangkat ke kantor dengan berat hati. Ia masih ingin menemani istrinya. Tapi sang mama malah mengusir dirinya agar segera berangkat.


.


.


.


.


Jangan protes ya jika adegan ena-ena cuma begitu!😅


Kalian yang punya pasangan pasti udah pengalaman, jadi nggak usaah dijelasin disini.😉


Kalau aku jabarin secara detail, yakin nggak akan dilulusin ama editor. Aku bikin kata kasar dikit aja disensor.😅


Kalau mau yang hot cari aja abang tukang bakso.

__ADS_1


Cerita Samuel juga udah ada. Ceritanya aku buat seringan mungkin, nggak tau nanti kalau akhirnya berat juga. Aku butuh saran kalian disana buat Samuel. judulnya "Jungkir Balik Cinta Samuel"


Ok see you....


__ADS_2