Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Don't Love Me?


__ADS_3

Hembusan angin dan dedaunan masih asyik menari-nari. Udara masih sangat comfortable tapi tidak dengan hati dan jiwa Shafa. Nalurinya bergejolak, meskipun hatinya bergetar atas penyataan cinta dan lamaran Afif. Tapi, ia masih terjebak dengan kenangannya bersama Fachri. Tak akan pernah hatinya berpaling pada yang lain.


Az yang sedari tadi berada dibelakang Afif tak menyangka jika secepat itu sahabatnya akan melamar seseorang yang ia cintai.


Gadis yang dicintai Afif memang sangat mempesona. Wajahnya tampak cerah dan meneduhkan dalam balutan hijab berwarna biru.


"Kamu belum mengenal saya, Afif. Kamu terlalu cepat mengambil keputusan," ujar Shafa. Hijab yang ia pakai menari mengikuti irama angin. Tapi sang angin tak mampu membawa kegundahan hatinya pergi.


Pandangan Shafa dan Afif beradu. Sorot mata Afif yang teduh semakin membuat gadis dihadapannya didera dilema.


"Karena itu, izinkan saya mengenal kamu. Kita jalani ta'aruf terlebih dahulu," ujar Afif semakin menatap dalam kearah Shafa.


"Saya bukan wanita baik-baik Afif. Saya tidak seperti yang kamu kira," ujar Shafa.


"Tapi hati saya yakin bahwa kamu adalah perempuan yang luar biasa. Kamu perempuan baik-baik," ucap Afif tanpa ada keraguan.


"Jika saya bukan perempuan baik-baik bagaimana? Dalam artian saya bukan perempuan suci. Apa yang akan kamu lakukan?"


Afif sempat terperangah dengan penuturan Shafa. Apakah gadis dihadapannya sedang berusaha menolaknya secara halus?


"Apa pun yang kamu katakan tidak akan merubah niat saya. Saya jatuh hati pada kamu sejak pertama kita bertemu. Saya yakin bahwa kamu adalah perempuan sholehah."


"Jika saya adalah seorang *******, apakah kamu tetap pada pendirianmu itu?" Shafa berharap laki-laki dihadapannya akan menyerah.


Namun ternyata Afif tetap pada pendiriannya. "Jika ******* itu kamu,saya tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena saya mencintai dengan hati, bukan semata terbatas pada sebuah kesucian seseorang. Saya yakin dengan kata hati saya. Kamu adalah perempuan yang tepat untuk saya."


Shafa semakin kalut, bagaimana ada seseorang yang begitu mencintainya. Padahal mereka baru dua kali bertemu. Haruskah dia senang atau tersanjung? Tapi tidak, Shafa semakin bersedih. Dihatinya tetaplah Fachri. Hanya Fachri seorang.


"Don't love me. Jangan mencintai saya! Tolong jangan mencintai saya," ujar Shafa dengan air mata yang sudah menderas. Ia pun melangkah pergi. Sekilas ia menatap Az yang berdiri dibelakang Afif. Hingga akhirnya ia benar-benar melangkahkan kakinya menjauh.


Az sendiri juga heran dengan tatapan Shafa yang sekilas. Air mata dan tatapan itu pernah ia lihat sebelumnya. Az sendiri merasa heran dengan perasaannya yang ikut berkecamuk. Ia teringat dengan Clara. Tatapan Shafa sama dengan tatapan Clara.


Az segera menguasai dirinya. Afif mungkin sedang patah hati sekarang. Cintanya tak berbalas.


"Kamu tidak apa-apa kan Fif?" Az menepuk pundak sahabatnya.


Terdengar Afif mengucapkan istighfar berkali-kali sambil mengusap wajahnya kasar. Lalu memilih duduk ditempat yang tadi diduduki Shafa. Afif menenangkan pikiran sambil menatap pemandangan hijau didepannya. Az juga ikut duduk disamping sahabatnya.


"Mungkin Shafa punya alasan lain menolak lamaran kamu. Jangan terlalu larut dalam rasa kecewa Fif! Suatu hari pasti akan ada perempuan yang jauh lebih tepat untukmu," ucap Az mencoba membesarkan hati sahabatnya.


"Aku mengerti Az. Tapi entah kenapa hatiku tetap merasa sakit meski aku berusaha ikhlas dengan jawabannya. Aku juga manusia biasa Az. Aku ternyata hanya seorang insan dhoif," ujar Afif dengan pandangan lurus kedepan tanpa menoleh pada Az.


Cinta pertama seorang putra kyai tak terbalas. Cinta Afif harus berhenti sampai disini. Sakit memang, tapi Afif harus menerima kenyataan. Karena cinta yang sesungguhnya hanyalah milik sang khaliq. Dia lah sang maha cinta diatas segala cinta.


Shafa kembali kerumah dengan air mata yang masih mengalir. Jiwanya benar-benar lelah. Setelah masuk kekamar ia langsung menenggelamkan wajahnya kebantal. Menumpahkan semua air matanya. Meluapkan emosi yang menguasai perasaannya. Selama ini ia selalu berusaha tegar tanpa memperlihatkan air matanya.


*******


Samuel yang telah menyelesaikan jam kuliahnya ingin mencari makan. Ia mampir kesebuah tempat makan. Sesampainya didalam Samuel mencari tempat yang kosong. Tapi pandangannya terpaku pada sosok pria yang tengah makan sendirian dimeja yang dekat jendela.


Samuel memperhatikan pria itu dengan seksama. Sepertinya ia kenal, perlahan dia berjalan mendekati pria itu. Untuk memastikan rasa penasarannya.


"Hai! Lo Aldi kan?" tanya Samuel yang sudah berdiri disamping pria itu.


"Iya benar," ucap pria yang bernama Aldi. Lalu ia memperhatikan wajah pria yang menyapanya. "Samuel!" pekil Aldi. Ia langsung memeluk pria yang ternyata adalah sahabatnya waktu SMA.


"Lo kemana aja selama ini nggak pernah kasih kabar? Main ngilang begitu aja," ucap Samuel yng sudah mengambil posisi duduk didepan Aldi.


Aldi tersenyum sambil menyuapkan makanan kemulutnya yang memang tinggal satu suap. "Ada masalah sedikit waktu itu. Maaf aku nggak pernah ngasih kabar!" ucapnya setelah mengelap mulut dengan tissu.

__ADS_1


"Masalah apa Al?"


"Bukan apa-apa Sam, sekarang udah beres kok. Kamu sendiri kenapa ada dikota ini?" tanya Aldi mengalihkan pembicaraan.


"Gue kuliah disini. Numpang dirumah paman dan bibi. Elo sendiri?"


"Sama. Aku juga kuliah disini."


"Lo udah banyak berubah ya sekarang. Lo kelihatan lebih kalem dan lebih dewasa. Beda dari yang dulu. Lo benar-benar menjadi seorang Aldiansyah Fauzul Azim yang baru," ucap Samuel


"Yang dulu aku tampak urakan ya," ucap Aldi sambil menyunggingkan senyum.


"Nggak juga sih! Eh, Lo tau nggak Al? Waktu lo mendadak ngilang, Shafa berusaha cari lo. Dia khawatir terjadi sesuatu sama lo."


"Shafa?" Aldi mengernyit heran. Pasalnya ia tak tahu siapa Shafa yang dimaksud Samuel.


"Maksud gue Clara. Dia kan sekarang pakai nama Shafa, nama pemberian orang tua kandungnya. Kalo Clara itu nama pemberian orang tua angkatnya. Panjang deh Al ceritanya."


"Apa dia masih di Jakarta?"


"Tidak Al, udah dua tahunan lebih dia tinggal disini dan kuliah di Universitas X."


"Aku juga kuliah disana Sam. Tapi sempat cuti selama setahun dan baru satu bulan ini aku kembali."


"Lo nggak pernah ketemu Shafa?"


"Aku nggak pernah ketemu dia. Mungkin kita beda fakultas," ujar Aldi.


"Meskipun lo ketemu dia mungkin lo nggak bakal ngenalin dia. Soalnya Shafa sekarang udah berubah dia sudah berhijab. Ya, walaupun gue juga nggak pernah nemuin dia."


Aldi jadi teringat dengan sosok Shafa yang ia temui bersama Afif. Jangan-jangan itu Shafa yang dimaksud Samuel!


Samuel pun menunjukkan foto yang pernah dikirimkan Guntur. Karena sekali dua kali Shafa pernah menunjukkan potret dirinya yang sekarang.


Aldi terperanjat kaget bukan main. Shafa yang dimaksud Samuel sama dengan Shafa yang pernah ia lihat. Pantas saja waktu itu dia merasakan hal aneh. Ternyata gadis itu adalah seseorang dari masa lalunya.


"Lo tau nggak Al? Sebelum gue tahu lo ngilang Shafa sempat dirawat dirumah sakit. Pembantunya bilang Shafa salah minum obat. Dan anehnya lagi Fachri tiba-tiba menikahinya saat dia belum sadar. Gue dan Anin ngerasa ada yang janggal. Kalian nyembunyiin apa dari kami? Shafa juga bilang udah putus dari lo waktu itu," ujar Samuel. Dia memang masih penasaran dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.


Aldi terdiam sebentar. Berarti Shafa menyembunyikan apa yang terjadi di Club malam itu. Pasti Shafa sangat tertekan waktu itu. Dan Fachri yang malah bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dengan menikahi Shafa.


"Apa Shafa mempunyai anak?" tanya Aldi penasaran. Ia khawatir jika Shafa mengandung benihnya.


"Setahu gue sih enggak ya."


Jawaban Samuel membuat Aldi sedikit lega. "Lalu apa Shafa dan Fachri masih bersama?" tanyanya kemudian.


"Sekarang udah enggak Al. Fachri meninggal setahun kemudian. Hal itu yang membuat Shafa terpukul dan memilih mengasingkan diri kesini. Ada banyak hal yang terjadi sama Shafa selama ini. Gue aja salut, dia bisa tegar menghadapi hidupnya yang sulit," cerita Samuel.


Aldi semakin merasa bersalah. Karena ulahnya, Shafa menderita sampai sekarang. Ia merasa menjadi penyebab kesulitan gadis itu. Pantas saja Shafa mengatakan pada Afif bahwa dia sudah tidak suci lagi dan menolak lamaran itu.


Ternyata dirinyalah penyebab semua itu. Betapa berdosanya Aldi pada Shafa.


Kemudian Samuel memesan makanan sambil bercerita panjang lebar. Aldi banyak bertanya soal kehidupan Shafa setelah kepergiannya. Ingin sekali dia bisa menebus kesalahnnya. Jika bertemu Shafa lagi, Aldi ingin meminta maaf dan akan melakukan apa pun demi bisa menebus kesalahannya yang dulu.


****


Matahari sudah diufuk barat, sebentar lagi malam akan menenggelamkan senja. Menggantikan keindahan senja dengan keindahan pemandangan malam. Tapi tanpa disangka, tiba-tiba mendung mendominasi langit. Semua bintang tertutup oleh awan gelap. Kemudian mulai turun rintik-rintik hujan dengan dingin yang menelisik tulang.


Shafa mengambil kursi dan duduk didepan jendela menikmati rintik hujan yang semakin menderas.

__ADS_1


Hal yang sama dilakukan oleh Guntur. Laki-laki itu juga sedang menikmati hujan dari balik pintu kaca kamarnya. Rintik hujan mulai membasahi kaca didepannya. Perlahan embun memburamkan kaca itu. Jari Guntur bergerak menuliskan nama gadis pujaannya.


Lalu ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada gadis yang tadi ia tulis namanya.


Dalam derasnya rintik hujan


Lepaskan semua beban penat dalam jiwamu


Pejamkan mata dan rasakan


Rintik hujan adalah musik yang indah


Menyalurkan kesejukan yang mendamaikan jiwa


Shafa meraih ponsel yang tengah berada dimeja. Dia merasa heran. Mengapa temannya ini selalu tau apa yang tengah ia rasakan. Apakah ikatan batin antara dirinya dan dia begitu kuat?


Selama ini dia memang teman yang selalu menghibur dirinya. Selalu memberikan kata-kata yang membuat hatinya tentram. Menciptakan rasa nyaman tersendiri dihatinya.


Shafa pun membuka jendela dan memejamkan matanya. Meresapi suara rintik hujan yang menjadi musik malam. Menikmati setiap sapuan air hujan yang menerpa wajahnya. Melepaskan semua beban pikirannya. Hatinya berubah menjadi damai kembali. Seolah hujan telah membasuh keresahan hatinya.


Ia tutup lagi daun jendela, tetapi tak sepenuhnya tertutup rapat. Masih ada celah yang menghembuskan udara sejuk masuk kedalam kamar Shafa. Dia pun membalas pesan yang tadi diterimanya.


Dalam rinai hujan dibulan Februari


Membasuh setiap lembaran hati yang dilanda gundah gulana


Kau begitu bercahaya tanpa aku sadari


Kau ajarkan aku bermain musik ditengah rintik hujan yang semakin mendera


Kau selalu mengerti setiap resah jiwaku


Kau selalu hadir sebagai pelipur lara


Kau selalu mengisi kekosonganku


Kau bahkan menjadi sandaran tanpa kuminta


Ada apa denganku wahai hujan malam?


Dapatkah kau tanyakan padanya?


Siapakah dia sebenarnya?


.


.


.


.


Terkadang yang aku tulis adalah sebuah kenyataan. Aku juga pernah menolak lamaran seorang pria sholeh. Ya, bisa dikatakan dia pria yang sempurna. Ilmu agamanya dalam banget. Jauh sebelum kita ketemu aku udah tau tentang dia dari orang lain. Lalu suatu hari tanpa sengaja kita dipertemukan. Setelah pertemuan kedua, dia melamarku. Aku yang merasa tak pantas baginya. Dia terlalu sempurna sedang diriku hanyalah wanita biasa dengan sejuta kekurangan. Hingga merasa sangat tidak pantas bersanding dengannya.


Percakapan Shafa dan Afif adalah sebuah kisah nyata. Mungkin kalian sulit percaya bahwa kisahku seperti itu. Aku bilang padanya bahwa, jika aku seorang ******* apa dia bisa menerimaku. Nyatanya dia tetap mau menerimaku. Hatiku menangis mengingat kejadian itu. Tapi aku tetap menolaknya. Aku tetap tak bisa menerima dia. Karena aku punya alasan yang tak bisa aku ceritakan pada siapa pun.


Sorry guys jadinya curcol!


Semoga kalian selalu bahagia dengan pilihan yang sudah terpilih!

__ADS_1


See you...


__ADS_2