
Sore itu Shafa sudah rapi setelah dari pesantren tadi. Dia pamit pergi untuk menemui Alam, sahabatnya. Shafa melajukan motor dengan santai sambil menikmati suasana sore yang sudah padat dengan kendaraan.
Sorot mata Shafa tertuju pada segerombolan anak jalanan dan seorang pria yang tampak kacau duduk disana. Shafa pun menepikan motornya, mengamati pria itu. Lagi-lagi ia merasa pernah melihat sosok pria disana. Para anak jalanan itu sedang asyik makan. Dan kemungkinan makanan itu dari pria yang duduk disebelah mereka. Tampak jelas kekacauan pria itu. Rambut acak-acakan, kemeja dan dasi sudah tak beraturan. Duduk sambil melamun pula. Pasti orang yang melihatnya, mengira dia adalah orang gila.
Tampak sesekali anak-anak jalanan menyapa pria itu, Tapi hanya sebuah senyuman yang dipaksakan terlukis diwajahnya. Kemudian dia bangkit dan melangkahkan kakinya dengan malas. Kedua tangannya dimasukkkan kedalam saku celana. Dia berjalan menuju sebuah minimarket, yang ternyata mobilnya terparkir disitu.
Shafa pun melajukan lagi motornya setelah mobil pria itu melesat jauh. Ia ingin ke Cafe milik Alam.
*****
Guntur melangkahkan kakinya memasuki rumah, semalam dia tidak pulang. Tepatnya dari kemarin pagi berangkat kekantor baru sore ini Guntur kembali kerumah.
"Bibi, kayaknya kita harus buat papan pengumuman didepan. Warning! Orang gila dilarang masuk rumah," ucap Samuel saat melihat kedatangan Guntur. Dia dan bibinya sedang bersantai diruang keluarga.
Sonia pun mengerti maksud keponakannya ketika melihat putranya baru pulang. "Orang gila mana bisa baca Sam," ucapnya.
"Kalau gilanya setengah-setengah pasti masih bisa. Kayak yang baru pulang," sindir Samuel. Wajahnya sedikit menyembul dari majalah yang ia baca.
Guntur pun mendekat dan duduk disebelah mamanya. "Aku denger lho apa yang kamu omongin." Tentu ucapan itu tertuju pada Samuel.
"Syukur deh kalau masih denger, berarti masih waras." Samuel kembali membaca majalahnya.
Sonia mengusap lembut kepala putranya. "Kenapa jagoan mama baru pulang?" tanyanya tanpa ada rasa marah.
Guntur menatap mamanya dengan rasa bersalah. "Maaf Ma! Guntur salah tidak menuruti kemauan mama sama papa."
"Eliminasi aja Bi, Kak Guntur dari daftar anak. Nggak mau nurut sama orang tua," tutur Samuel.
"Saaam!" seru Sonia memberi tatapan peringatan. Kemudian kembali fokus pada putranya.
"Mama juga minta maaf kalau perjodohan ini membebani kamu. Tapi mama dan papa ingin yang terbaik untuk masa depan putra kami. Dia wanita yang baik Guntur. Bahkan keluarganya bisa memaklumi ketidakhadiran kamu semalam. Sehingga pertunangannya tertunda."
"Sekali lagi maaf Ma. Guntur akan menerima perjodohan ini," ucap Guntur sebisa mungkin bersikap biasa.
"Terima kasih ya Nak. Kamu pasti bisa bahagia bersama wanita itu." Sonia tersenyum bahagia mendengar penuturan putranya.
"Padahal kalau Kak Guntur nggak mau, aku udah standbay buat gantiin. Ceweknya cantik kan Bi?" ujar Samuel.
"Ya pastinya cantik, kan cewek!" seru Sonia.
"Lagian ngapain sih Kak Guntur pulang. Padahal tadinya aku mau gantiin posisi Kak Guntur sebagai pewaris tunggal keluarga Aryan," ucap Samuel yang tentunya tidaklah serius.
"Kamu tau tidak Sam, Bis apa yang menyesatkan?" tanya Guntur.
Samuel tampak berpikir. "Bis malam," jawabnya kemudian.
Guntur menggeleng. "Bukan!"
"Bis harapan palsu."
Masih salah.
"Bis ijo cap panda."
Guntur masih menggeleng.
__ADS_1
"Terus bis apa? Bis cap badak?"
" Mau tau bis apa yang menyesatkan? Bis-sikan setan," ujar Guntur sambil melempar bantal kearah Samuel.
"Eh, busyet. Lo kira gue setan Kak. Kejem amat lo jadi Kakak sepupu." Samuel kembali melempar bantal kearah Guntur.
Dalam sekejap Guntur bangkit dari duduknya dan terhindar dari lemparan bantal adiknya itu. "Eits, kagak kena."
"Lo pulang-pulang udah ngajak ribut ya! Udah penampilan kayak orang ngilang seabad. Jorok banget lo, bau lagi!" cibir Samuel.
Tanpa disangka Guntur mendekat dan memiting Samuel diketiaknya. Tak ayal adik sepupunya itu meronta minta dilepaskan. Sonia yang melihat hal itu hanya menggeleng heran. Kalau sudah ketemu pasti ada aja yang diributkan. Tapi yakinlah, kedua saudara itu saling menyayangi. Mereka akan merasa kehilangan jika lama tidak bertemu.
"Stop deh Kak! Sumpah ketek lo bau jigong," seru Samuel yang masih meronta dalam pitingan Guntur.
"Yang bau jigong itu mulut bukan ketek," elak kakak sepupu Samuel itu.
Guntur malah menyeret Samuel menaiki tangga. "Ketekku wangi ya, walau nggak mandi dari kemaren."
"Sumpah kebangetan lo joroknya Kak! Bisa pingsan calon istri lo ntar kalau ketemu."
"Kalau ketemu calon istri, aku juga udah wangi dan bersih Sam."
Setelah sampai didepan kamarnya Guntur melepaskan Samuel. Mereka duduk bersandar didepan pintu kamar.
Dari yang tadinya tampak ceria dan biasa-biasa saja. Kini raut wajah Guntur berubah sendu. Ia menekuk wajahnya menghadap lantai dengan tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.
Samuel pun mengerti dengan perasaan kakaknya itu. Tentu sulit menerima perjodohan yang telah dipersiapkan kedua orang tuanya. Sedang hatinya, terjebak pada gadis lain. Ketika menikah sekali seumur hidup adalah prinsipnya, lalu bagaimana jika ia tak bisa mencintai istrinya kelak. Bukankah hal itu akan menyakiti hatinya dan juga hati istrinya. Guntur benar-benar sudah pasrah dengan keadaan. Ingin menolak tapi orang tuanya bersikekeh menjodohkan dirinya.
"Udahlah Kak! Jangan sedih terus! Gue ngerti gimana sulitnya perasaan lo sekarang. Tapi yakin saja, dengan restu kedua orang tua. Pasti lo bisa bahagia suatu saat nanti." Samuel berusaha menguatkan hati kakaknya.
"Mandi sono! Bau tau," ucap Samuel.
Guntur pun memukul lengan Samuel pelan. "Sialan kamu!" Mereka pun terkekeh pelan.
Guntur bangkit dan membuka pintu kamarnya. Sedangkan Samuel juga menuju kamarnya sediri yang berada tepat disebelah kamar Guntur.
*****
"Assalamu'alaikum!" seru Shafa ketika memasuki ruangan Alam.
Alam terlihat senang dengan kedatangan Shafa. "Wa'alaikumsalam!" jawabnya.
"Kamu kenapa lagi? Muka kok kisut kayak jeruk kering," ucap Alam ketika melihat Shafa tampak tak bersemangat.
"Minggu depan aku nikah," ujar Shafa singkat padat dan jelas.
Alam langsung terbelalak tak percaya dengan ucapan gadis didepannya saat ini. Pasalnya, Alam tahu gadis itu tak mungkin bisa melupakan laki-laki masa lalunya.
"Serius kamu Fa?"
Shafa hanya mengangguk.
"Sama siapa?"
Shafa hanya mengangkat bahunya. Ia sendiri tak tahu siapa pria yang akan dinikahinya. "Daddy yang mengatur ini semua. Aku tidak punya pilihan untuk menolak keinginannya."
__ADS_1
Didalam ruangan Alam, Shafa menceritakan keluh kesahnya. Sebisa mungkin Alam memberi nasehat dan meyakinkan Shafa, bahwa dia harus melanjutkan hidup. Perlahan, pasti ia bisa menepiskan kenangan Fachri dengan kehadiran orang baru.
Sepulangnya dari tempat Alam, Shafa menuju Cafe milik kakaknya. Gibran menyuruh dirinya datang kesana. Shafa sendiri juga rindu dengan teman-temannya disana.
"Hai Shafa! Sudah lama tidak bertemu, aku kangen tau," ujar Ririn yang melihat kedatangan Shafa langsung berhambur merengkuh tubuh temannya itu.
Memang sudah sebulan lebih Shafa tidak pernah datang ke Cafe sejak hari kerusuhan yang menyebabkan dirinya terluka. Gibran sudah memberitahunya bahwa dia mengatakan kalau ia sudah keluar dari Cafe.
"Bos Gibran bilang kamu udah nggak kerja lagi disini Fa," lanjut Ririn ketika melepas pelukannya.
"Iya Rin, maaf aku baru bisa datang."
"Iya Fa, aku ngerti kok. Aku sama Arif mau jenguk kamu dirumah sakit juga nggak dibolehin sama bos Gibran. Tapi kamu udah beneran sehat kan Fa?" tanya Ririn heboh.
"Aku sehat Rin. Oh ya, ini kok udah sepi jam segini?" tanya Shafa ketika melihat suasana sepi. Padahal baru pukul tujuh malam.
"Oh, ini bos Gibran sengaja nyuruh kita tutup lebih awal. Katanya mau ada acara keluarga," jawab Ririn.
Shafa pun menganggukkan kepala. Kemudian Gibran muncul menyuruh Ririn segera pulang. Karyawan yang lain pun juga sudah pulang. Dia sendiri yang akan mengunci Cafe.
"Ayo Fa duduk dulu!" ajak Gibran.
Shafa pun menurut ia duduk bersama kakaknya. "Kenapa Kakak nyuruh aku kesini?"
"Tadi papa bilang mau ngajak kamu ketemu sama calon suami kamu," ucap Gibran.
Shafa pun tampak diam tak menanggapi. Gibran juga ikut diam. Tercipta suasana canggung antara keduanya. Shafa paling tidak tahan dengan suasana seperti itu.
"Kakak kenapa sih kok sekarang kayak canggung gitu sama aku? Aku itu rindu sama Kakak yang dulu. Kita ketawa bareng, bercanda bareng. Kakak tidak rindu masa-masa itu?" tanya Shafa sambil menggenggam tangan kakaknya. Berharap kecanggungan antara mereka hilang.
Gibran juga menggenggam balik tangan adiknya. "Kakak rindu masa-masa itu Shafa. Kakak hanya merasa bersalah tidak ada disamping kamu saat kamu butuh Kakak. Seharusnya Kakak adalah orang yang bisa melindungi kamu, tapi justru membiarkan kamu menderita selama ini."
"Kakak tidak salah. Semua memang sudah jalannya seperti ini," ujar Shafa dengan mata berkaca-kaca.
Gibran berdiri dari duduknya dan merentangkan tangan agar Shafa memeluknya.
Mereka berdua pun berpelukan dengan perasaan haru. Setelah sekian tahun mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu, kini Shafa berharap bisa dekat lagi dengan kakaknya.
Tanpa mereka sadari. Diluar Cafe ada sepasang mata memperhatikan pemandangan yang ada didalam. Dia merasa kecewa dan terhianati. Dengan amarah yang menjadi-jadi. Orang itu pergi dari sana. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
.
.
Thanks readers atas dukungan kalian!
Terima kasih yang sudah rela menyisihkan poin buat cerita yang tak seberapa ini. Novel dan menulis memang sudah menjadi dunia peralihan bagi saya. Tempat menyalurkan rasa yang terpendam. Dukungan kalian juga merupakan penyemangat bagi Azi. Tanpa kalian tulisan ini tak akan ada artinya.
Aku menulis karena memang hobi dan untuk mencari hiburan. Aku juga masih suka baca-baca. Bagi yang punya bacaan bagus dan menarik boleh lah direkomendasikan ke aku.
See you...
__ADS_1