Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Pertemuan 2


__ADS_3

Disebuah restoran orang tua Guntur dan orang tua Shafa sudah berkumpul. Mereka berbincang-bincang mengenai bisnis dan juga rencana pernikahan anak mereka.


Tak berselang lama, Guntur datang bersama Samuel.


"Tuan Steven!" seru Guntur saat sudah dekat.


Steven pun bangkit dan menyambut Guntur. Steven sendiri memang sudah kenal dengan Guntur waktu mereka mengerjakan proyek hotel bersama mendiang Fachri. "Hallo Guntur! Akhirnya kamu datang juga," sambut Steven sambil memeluk hangat calon menantunya.


"Guntur, perkenalkan ini istri saya," ujar Steven setelah melepas pelukannya. Olivia pun berdiri.


Guntur menyalami Olivia dengan hormat. Samuel juga ikut menyalami Steven dan Olivia.


"Bagaimana kabar kamu Sam?" tanya Steven saat mereka sudah duduk kembali.


Samuel mengangguk. "Baik Om!" jawabnya kemudian.


"Lho, kalian sudah kenal dengan Tuan Steven?" seru Faisal tertuju pada Samuel dan Guntur.


"Samuel ini teman putriku disekolahnya dulu, kalau putramu Guntur, dia pernah bekerja dikantorku waktu di Jakarta. Jadi aku sudah mengenal mereka dengan baik," terang Steven.


Faisal bernafas lega. Ternyata calon besannya sudah lebih dulu mengenal siapa putranya. "Syukurlah kalau begitu. Jadi proses perjodohan ini akan lebih mudah."


Guntur masih belum mengerti dengan situasi yang ada. Kenapa ada tuan Steven juga disana. Bukankah dia akan bertemu dengan calon istrinya.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Guntur.


Steven hanya tersenyum melihat Guntur yang belum paham dengan situasi. Namun belum sempat ada yang menjawab, tampak Shafa sudah datang bersama Gibran.


"Nah, ini dia yang kita tunggu sudah datang!" seru Steven.


Shafa pun menyalami calon mertuanya. Dan hanya menangkupkan kedua tangannya saat berhadapan dengan Guntur dan Samuel.


"Sam!" pekik Shafa antara terkejut dan bahagia. Senyum manis langsung mengembang diwajah cantiknya. Selama ini ia mengira hanya bisa berhubungan lewat pesan. Tapi sekarang mereka sudah dipertemukan.


Entah kenapa Shafa sempat berharap bahwa Samuel lah lelaki yang dijodohkan oleh ayahnya. Jika tidak pun, Shafa sempat berharap bahwa yang selama ini menjadi teman lewat ponsel bukanlah Samuel. Melainkan orang lain.


"Hai Shafa!" sapa Samuel agak canggung.


"Aku seneng banget Sam bisa ketemu lagi sama kamu. Setiap kali aku ngajak ketemu kamu selalu nolak," ujar Shafa tanpa rasa canggung.


"Maaf, gue sibuk sama skripsi Fa!" ucap Samuel.


Shafa pun merasa aneh. Biasanya Samuel memakai panggilan aku kamu ketika mereka bertukar pesan.


"Sudah dulu ya Fa. Ngobrol sama Samuelnya dilanjut nanti. Sekarang kita bahas pernikahan kamu sama Guntur," ujar Olivia lembut.

__ADS_1


Shafa pun terdiam. Sekilas melirik pria yang duduk disebelah Samuel. Pria yang hanya terdiam dari tadi.


"Iya Shafa. Nanti setelah menikah sama Guntur, kamu dan Samuel pasti setiap hari ketemu karena dia tinggal bersama kami," ucap Sonia dengan ramah seperti kemarin saat pertama kali bertemu Shafa.


Guntur sendiri berada diantara perasaan senang dan juga khawatir. Senang karena Shafa lah gadis yang dijodohkan dengan dirinya. Khawatir jika suatu saat nanti pasti dia akan mengecewakan gadis itu.


Para orang tua pun membicarakan rencana akad nikah yang akan diadakan secara sederhana. Resepsi akan diadakan setelah Shafa lulus. Semua orang pun sepakat acara akad nikah akan diadakan pada hari sabtu depan.


"Maaf sebelumnya! Bolehkah saya bicara lebih dulu dengan Guntur!" pinta Shafa.


Semua orang pun menyetujui permintaan Shafa. Guntur pun bangkit dari duduknya.


"Kita bicara ditempat lain. Sam, ikutlah dengan kami," ucap Shafa lagi.


Mereka bertiga pun keluar meninggalkan restoran. Shafa mengajak mereka ke Cafe milik Alam. Disana pasti sudah agak sepi pada jam malam. Jadi Shafa bisa leluasa membicarakan hal yang privat.


"Ok. Aku langsung saja pada tujuanku mengajak kesini. Aku ingin membuat kesepakatan yang hanya kita bertiga yang tahu," ucap Shafa ketika mereka sudah duduk ditempat yang nyaman.


"Lo mau buat kesepakatan apa Fa?" Samuel angkat bicara.


"Aku ingin membuat semacam perjanjian pra nikah." Shafa mengambil map dari dalam tasnya.


Guntur membaca isi map yang diberikan Shafa. Dia tidak keberatan dengan kesepakatan yang diminta Shafa.


"Baiklah aku setuju! Tapi tidak perlu membuat perjanjian secara tertulis. Kamu tenang saja, aku akan menuruti semua kemauan kamu setelah kita menikah. Aku tidak akan menuntut apa pun. Tapi aku punya satu permintaan...," Guntur menggantungkan kalimatnya.


"Akan aku katakan setelah kita sah menjadi suami istri."


"Baiklah! Kita sepakat. Sam, disini kamu adalah saksinya. Jadi jangan bicara pada siapa pun."


"Ok. Gue akan tutup mulut. Tapi Gue harap kalian akan hidup bahagia suatu saat nanti. Jangan buat kesepakatan yang nantinya akan membuat kalian menyesal!" ujar Samuel.


Shafa pun pergi kedapur untuk menyiapkan makanan sendiri. Tak butuh waktu lama Shafa sudah kembali dengan membawa menu makan malam mereka, dibantu oleh seorang pelayan.


"Duh, baru calon aja lo udah perhatian ya sama Kak Guntur!" seru Samuel.


"Kamu diam deh! Cepetan makan!" Shafa melirik kearah Guntur yang tak banyak bicara. Bahkan pria itu dengan mudah menyetujui kesepakatan yang dibuat olehnya. Shafa pun tahu diri sebagai seorang istri dia harus menjalani kewajibannya suatu hari nanti. Tapi semua itu butuh proses. Dirinya harus beradaptasi dengan keadaan dan status baru nantinya.


Entah kenapa ada rasa aneh dalam hatinya ketika menatap Guntur. Dia pun ingat pernah beberapa kali bertemu laki-laki itu. Ada rasa tersendiri saat dirinya berada didekatnya dan berbicara secara langsung.


"Nanti aku antar kamu pulang kekontrakan. Kamu tidak keberatan?" tanya Guntur setelah mereka selesai makan.


Ada sesuatu yang mendorong hati Shafa agar tidak menolak. Dia pun mengangguk setuju.


"Kalau gitu gue duluan! Shafa, nitip Kak Guntur ya. Nitip jagain hati dia maksudnya. Kasian dari kemaren galau terus dia." Samuel pun pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


Shafa hanya bisa melongo tak mengerti maksud sahabat lamanya itu. Kemudian Guntur mengajaknya untuk pulang. Dalam perjalanan pun dia tak berani banyak bicara. Shafa mengarahkan pandangannya keluar jendela. Guntur sendiri bingung harus bertanya apa. Karena dia sudah tau semua tentang gadis disampingnya. Hal yang sama sekali tak diketahui oleh Shafa.


"Guntur!"


"Shafa!"


Tanpa sadar keduanya berucap bersamaan. Lalu suasana hening kembali. Hingga salah satu diantara mereka buka suara.


"Apa kamu keberatan dengan perjodohan ini?" Guntur bertanya lebih dulu.


Shafa melihat sekilas kearah Guntur, kemudian tatapannya kembali lurus kedepan. "Keberatan tidak keberatan tetap harus aku jalani bukan. Aku tidak sanggup menolak permintaan Daddy. Beliau sudah merawatku dari kecil. Dia tahu yang terbaik untuk putrinya. Kamu sendiri bagaimana?"


"Sama. Aku juga tidak tega menolak permintaan mama dan papa. Maaf, waktu acara pertunangan aku tidak datang. Aku sungguh minta maaf jika membuat kamu merasa tidak aku hargai," ucap Guntur serius.


"Memang kamu mau hargai aku berapa? Satu J, satu M, atau satu T?" tanya Shafa bercanda. Tanpa disadari, ternyata dirinya bisa nyaman bersama orang yang bisa dikatakan baru untuknya. Dan baru pertama ini mereka saling bicara.


"Aku hargai dengan satu K. Dengan sebuah ketulusan yang nantinya akan membimbing kita menuju ridlo-Nya."


Shafa terkesiap dengan ucapan calon suaminya. Apakah itu artinya Guntur akan menjadi imam yang baik untuknya? Untuk sesaat kehadiran laki-laki itu bisa menggeser nama Fachri dari zona nyamannya. Shafa bisa keluar dari zona itu untuk sesaat. Dia mulai merasakan suasana baru dalam hatinya.


"Prinsipku adalah menikah satu kali seumur hidup. Aku tidak mau mempermainkan ikrar janji suci pernikahan. Kuharap Tuhan akan merestui hal itu. Meski aku tau semua harus dilalui dengan sebuah perjuangan. Aku pun berharap kamu mau berjuang bersamaku."


Shafa pun hanya bisa terdiam. Lidahnya kelu tak bisa berkata lagi. Ia mulai merasakan getar kekaguman pada calon suaminya. Air mata seakan tak mau berkompromi. Ia mudah sekali meloloskan diri. Shafa mengusap air matanya menghadap jendela.


Suasana menjadi hening kembali sampai dirumah kontrakan Shafa.


"Sampai ketemu lagi lusa. Assalamu'alaikum!" Guntur pun pergi dengan mobilnya.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Shafa lirih menatap mobil Guntur sampai hilang dari pandangannya.


Dia segera masuk kamar setelah menyapa teman-temannya yang sedang berada diruang tamu. Kecuali Silvia yang tak kelihatan. Mungkin dia sedang dikamar.


Shafa merebahkan dirinya. Ada rasa yang tak biasa menyelimuti hatinya. Seolah ia terlepas dari beban berat. Dia yang tak mengerti rasa itu terus beristighfar. Takut jika itu hanya tipuan setan untuk membuatnya lengah. Takut jika hari esok tiba-tiba ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi.


.


.


.


Belajar dari segelas kopi, mengajarkan kepada kita bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan.


Thanks untuk partisipasi kalian readers!


Jangan pernah menyerah untuk menerjang ombak kehidupan yang terkadang pasang surut!

__ADS_1


See you next time...


__ADS_2