
Sesampainya dirumahnya sakit, Samuel langsung ditangani diruang instalasi gawat darurat. Setelah hampir satu jam, Samuel telah dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Bagaimana Dok keadaan pasien?" tanya Faisal pada dokter.
"Dugaan sementara pasien menderita demam tifoid. Kami sudah mengambil darah pasien untuk diperiksa. Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Keadaannya sudah stabil ," ujar dokter.
Guntur dan yang lain menghela nafas lega. Setidaknya, Samuel masih dalam kondisi aman. Sakitnya belum terlanjur parah.
"Untuk saat ini pasien akan tertidur karena pengaruh obat. Dia butuh istirahat yang berkualitas, dan juga hindari sesuatu yang menyebabkan pasien stress karena hal itu bisa menurunkan daya tahan tubuhnya,'' tambah sang dokter.
Faisal pun mengangguk mengerti, dokter pun pamit untuk undur diri. Mereka pun menuju ruang rawat Samuel. Pemuda itu tengah damai dalam tidurnya.
Shafa dan Guntur pamit untuk ke Mushola rumah sakit untuk sholat ashar. Mereka pun bergantian untuk menjaga Samuel.
Saat ini hanya ada Shafa dan Guntur diruang rawat Samuel. Mereka berdua duduk di sofa saling berpegangan tangan. Shafa pun sedang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku tidak menyangka ternyata Samuel bisa serapuh ini sekarang. Padahal dia selalu tampak baik-baik saja. Selalu ceria dan berisik,'' ujar Shafa.
''Samuel juga manusia seperti kita Fa. Adakalanya ia berada pada titik lemah. Siapa yang kuat menanggung beban cinta tak sampai? Bahkan Qais pun mendapat julukan majnun karena cintanya yang tak sampai pada Laila."
Shafa mendongak kearah Guntur sebentar. Begitu pun sebaliknya. "Kamu benar mas. Bahkan Fachri juga pernah mencoba bunuh diri karena cintanya tak direstui dengan kekasihnya. Aku juga sempat seperti itu. Ingin ikut menyusulnya saat dia meninggalkanku. Untung ada Randi yang menyadarkan ku." Shafa pun membenamkan wajahnya dileher Guntur sambil memeluk erat. Ada sebuah kekuatan yang ia cari dalam diri suaminya saat ini. Menghirup aroma ketenangan yang ia dapat dari tubuh yang saat ini dipeluknya.
"Sudah, jangan diingat terus kejadian itu! Sekarangkan ada aku Fa. Kamu tidak sendiri lagi. Ada Daddy juga, keluarga kamu juga masih lengkap sampai sekarang." Guntur mencoba menghibur istrinya.
Shafa melepas pelukannya dan mencium sekilas pipi suaminya. "Terimakasih Mas!" ucapnya kemudian.
Guntur semakin gemas dengan tingkah Shafa. Sekarang gadis itu selalu bersikap manja dan mulai berani mengekspresikan cintanya dengan tindakan. Hal itu tentunya membuat Guntur merasa sangat bahagia.
Adzan Maghrib sudah berkumandang. Mereka berdua pun bergantian ke Mushola rumah sakit, karena Faisal dan Sonia pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti.
Saat ini Shafa sedang duduk didekat ranjang Samuel. Guntur sedang pergi ke Musholla. Tangan Shafa mengusap sebentar kepala Samuel. "Cepatlah bangun! Kami rindu sikap konyol kamu Sam. Lupakan Anin dan mulai hidup baru setelah ini," gumam Shafa.
Kini dia hanya menopang dagu sambil menunggu Samuel sadar. Dia jadi teringat saat masa mereka sekolah dulu. Samuel pernah menggendongnya saat ia terjatuh setelah dibully oleh anak kepala sekolah. Tentu saja hal itu juga mengingatkan Shafa pada sosok mendiang Fachri. Semua kejadian dimasa lalunya seakan tak bisa lepas dari seorang Fachri yang kini hanya tinggal kenangan.
Tak lama kemudian, Guntur sudah kembali. Shafa berdiri menyambut suaminya. Guntur pun mengecup kening Shafa dan mendekap tubuh itu dalam pelukannya. Guntur bisa melihat mata Shafa yang berkaca-kaca. Pasti ada sesuatu yang mengganggu ingatannya.
"Kenapa Sayang?" Guntur mengusap lembut punggung Shafa.
"Tidak Mas. Aku tidak apa-apa." Shafa mengelak. Tentu ia tak mau menyinggung perasaan suaminya dengan mengatakan bahwa ia teringat Fachri. Sudah sering ia membicarakan tentang laki-laki itu pada suaminya. Meski Guntur tidak keberatan, tapi hal itu pasti menyisakan sesak dihati dan Shafa berusaha untuk tidak menyakiti hati suaminya. Dia bisa melihat betapa Guntur sangat mencintai dirinya. Memendam perasaan selama empat tahun tentu butuh sebuah kesetiaan yang mendalam.
Guntur merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Shafa yang menunduk. "Baiklah aku mengerti. Kamu teringat dia kan?"
Sontak, Shafa menatap balik wajah suaminya. Mengapa laki-laki dihadapannya ini selalu mengerti dirinya? Mungkin Shafa lupa, bahwa selama empat tahun Guntur lah yang menemani hari-harinya melalui pertukaran pesan. Tentu Guntur sangat mengenal bagaimana dirinya, seperti apa dirinya. Bahkan mereka mempunyai selera humor yang sama.
Guntur melihat istrinya tak mengucapkan sesuatu. Lalu ia tersenyum dan sekali lagi mengecup kening Shafa dengan lembut.
"Kalau mau mesra-mesraan jangan disini woy!" seru Samuel yang entah sejak kapan sudah siuman.
Shafa dan Guntur menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.
__ADS_1
"Mending kalian pulang dan lanjut dirumah," ucap Samuel kesal.
Dua manusia yang sedang berdiri hanya terkekeh pelan. Mereka senang melihat Samuel sudah bangun.
"Untung cuma cium kening, bukan cium bibir. Bisa-bisa gue timpuk kalian berdua pake botol infus." Gerutuan Samuel masih berlanjut dengan wajah kesal. Dalam keadaan sakit dia masih bisa mengoceh.
"Udah sehat kamu?" Guntur mendekat.
"Lemes Kak," ucap Samuel manja dan memasang wajah melas. Tadi aja sok-sok an ngomel. Sekarang malah pasang muka kucing melas, minta jatah empal daging.
Shafa sendiri langsung menekan tombol pemanggil agar dokter datang memeriksa Samuel. "Gimana keadaan kamu Sam? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Shafa bertanya lembut. Mungkin bagi Shafa itu adalah sebuah perhatian yang wajar pada sahabatnya. Tapi tidak bagi Samuel. Dia merasakan sesuatu yang berbeda. Apalagi sejak kejadian dikamarnya. Shafa membawa kepalanya dalam pangkuannya. Lalu mendekapnya dengan penuh kekhawatiran. Didalam mobil pun juga begitu, Shafa terus berusaha menenangkan dirinya yang berada dalam pangkuan gadis itu.
Samuel segera menepis perasaan aneh itu. Mungkin itu hanya efek dari putus cintanya. Kebetulan saja Shafa yang memberikan perhatian lebih padanya. Perasaan itu tak boleh tumbuh dihatinya. Shafa adalah istri dari kakak sepupunya.
"Gue udah lebih baik Fa," jawab Samuel singkat.
"Udah nggak kedinginan lagi?" tanya Shafa dengan tatapan mata yang memperhatikan Samuel. Perempuan ini memang penuh perhatian pada sahabatnya.
Samuel tak ingin menjawab lagi. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Entah kenapa rasa sakit hatinya seolah terhapus oleh perhatian Shafa. Samuel merutuki perasaannya yang tak tahu diri itu.
"Ya sudah Sam, kita keluar dulu. Dokter sudah datang." Guntur menggandeng tangan Shafa keluar saat dokter sudah melangkah masuk.
Samuel menatap punggung Shafa dengan tatapan tak dapat diartikan. Sentuhan Shafa telah membawa pengaruh besar pada dirinya. Padahal dulu saat masa-masa sekolah. Ia merasa biasa saja, karena memang Shafa saat itu kekasih temannya. Tapi sekarang, kenapa semuanya berubah dan itu adalah diwaktu yang tidak tepat.
Samuel tersadar dari gejolak hatinya saat dokter mulai melakukan tugasnya.
Sementara Shafa dan Guntur pergi keluar untuk mencari makan dan membeli bubur untuk Samuel.
"Bibi lega Sam, kamu sudah sadar," ucap Sonia sambil mengusap kepala Samuel penuh dengan kasih sayang. Faisal juga berdiri disampingnya.
"Kamu itu putus cinta bisa sampai terkapar seperti ini. Malu sama gender lelaki sejati. Kalau kalian tidak bisa bersama berarti dia bukan pilihan yang terbaik untuk hidup kamu. Yakin saja suatu saat kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang memang terbaik untuk hidup kamu. Lapangkan hati, jangan gampang frustasi." Ceramah dadakan didapat Samuel dari sang paman. Pake bawa gender segala lagi. Dikiranya dia pria jadi-jadian. Memang ngaruh ya gender sama urusan patah hati.
"Udah dong Pa! Sam kan baru sadar, malah diomelin begitu." Sonia memberi pembelaan pada Samuel.
"La emang ini bocah lembek Ma. Gaya nya aja petakilan. Baru putus cinta udah tepar. Jadi cowok itu yang strong." Faisal mengangkat tangannya dan bergaya seperti binaragawan memperlihatkan otot lengannya.
"Papa lupa ya, Guntur juga sempat ngambek nggak pulang waktu mau kita jodohin. Jadi jangan ngomel kalau Samuel seperti ini."
"Iya Bu, marahin aja paman. Kalau perlu ajak cerai biar tahu rasanya patah hati," ucap Samuel memprovokasi.
"Astaghfirullohal adzim...." Faisal dan Sonia kompak beristighfar.
"Kamu ini ya dikasih ampela minta jantung pisang," ucap Sonia kemudian.
"Enak kali Bi jantung pisang."
"Kalau sampai ada pasangan suami istri bercerai, itu keenakan setan yang menghasut. Dia bakal naik pangkat. Sedangkan kita dapat laknat. Makanya jaga ucapan Sam. Apapun yang keluar dari mulut lelaki akan jadi hal mutlak dalam hubungan rumah tangga. Jika sampai salah ucap, itu akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Makanya, sebelum berumah tangga lelaki wajib tahu hakikat dia sebagai seorang kepala rumah tangga." Kali ini Faisal serius menasehati keponakannya.
"Iya paman ustadz."
__ADS_1
"Kalau nanti kamu sudah berumah tangga, kamu pasti akan paham betapa besarnya tanggung jawab seorang lelaki. Jadi berdo'alah dapat istri yang bisa diajak berjuang bersama menggapai ridlo Allah."
Samuel pun terdiam. Meski selama ini dia tampak berisik dan petakilan. Tentu ia paham bagaimana peran lelaki dimasa depannya nanti.
"Kamu tidak boleh larut dalam kesedihan Sam. Paman yakin, suatu saat nanti Allah akan mengirim bidadari terbaik untuk kamu." Faisal menepuk kaki Samuel yang ada dihadapannya.
"Terimakasih Paman!" Senyuman terlukis diwajah Samuel. Bersyukur karena mempunyai keluarga yang menyayangi dirinya. Keluarga yang selalu memberikan keceriaan dihari-harinya.
Shafa dan Guntur sudah kembali dengan membawa bubur untuk Samuel. Tiba-tiba saja ponsel Faisal berbunyi. Dia pun keluar untuk menerima panggilan.
Tak lama pun ia kembali masuk. "Ma, sepertinya kita harus pulang sekarang. Ada proyek diluar kota yang harus Papa tangani besok. Papa harus berangkat pagi-pagi sekali."
Sonia pun bersiap pulang. Ia memberikan mangkok bubur pada Shafa. "Kamu lanjutin nyuapin bayi besar ini ya Nak. Mama bantu Papa siap-siap buat besok," ucapnya kemudian. Sedangkan yang disebut bayi besar hanya bisa menggerutu dalam hati.
Shafa mengangguk kemudian menyalami kedua mertuanya.
"Paman tidak memberi tahu mama papa kan tentang keadaan Sam sekarang?" tanya Samuel sebelum pamannya melangkahkan kaki.
"Tenang saja Sam! Paman tidak memberi tahu orang tuamu. Kamu kan hanya sakit ringan belum sakaratul maut," ucap Faisal yang kemudian segera menggandeng tangan istrinya keluar.
"Paman tega ya...!" suara teriakan Samuel terdengar masih lemah.
Shafa pun kembali menyuapi Samuel. Disuapan pertama ia sudah mendapat pelototan dari Guntur.
"Sini Fa!" Samuel meraih mangkok yang dipegang Shafa. "Gue makan sendiri saja. Nanti ada yang cemburu."
Saat mengambil mangkok dari tangan Shafa, tanpa sengaja ternyata tangan mereka bersentuhan. Samuel terpaku sejenak merasakan tangan lembut yang ia sentuh. Tapi ia segera menguasai diri dengan menarik mangkok dan makan dengan cepat.
"Pelan-pelan Sam! Nggak ada yang minta." Shafa memperingatkan laki-laki dihadapannya. Lalu mengambil tisu untuk membersihkan sisi bibir Samuel yang belepotan bubur.
Perasaan Samuel semakin aneh. Kenapa juga Shafa begitu perduli padanya.
Guntur yang merasa risih melihat hal itu langsung merebut tisu dari tangan Shafa. "Samuel udah gede Fa, dia bisa sendiri. Dia bukan bayi lagi."
"Jangan cemburu gitu lah Mas! Samuel kan adik kamu dan dia juga sahabatku. Aku hanya ingin membantunya." Shafa berkata dengan lembut sambil memeluk lengan Guntur.
"Aku tidak cemburu," elak Guntur.
"Kelihatan Mas, jangan bohong." Shafa tersenyum sambil mencubit pipi Guntur. "Ayo kita istirahat! Aku capek Mas," ajaknya kemudian.
Mereka pun menuju sofa yang ada. Lalu menggabungkan dua sofa menjadi satu untuk tempat mereka tidur. Tak mungkin mereka pulang malam ini dan meninggalkan Samuel sendirian karena pria itu baru stabil keadaannya.
Sedangkan Samuel hanya bisa memandangi dua sejoli yang sudah halal dalam kemesraan mereka.
Jika dulu yang menjadi teman chat Shafa adalah dirinya, apakah Shafa akan menjadi miliknya saat ini? Sungguh pemikiran yang tak tahu diri bagi Samuel. Putus cinta dan mendapat perhatian dari sahabatnya. Kemudian dengan mudah hatinya terbalik. Perasaan macam apa sebenarnya ini?
.
.
__ADS_1
.
See you....😊