Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Cinta Tanpa Syarat ~ END


__ADS_3

Guntur memberi isyarat agar mamanya masuk tapi tetap diam dulu. Kemudian Guntur mengarahkan pandangannya kemeja, ada data hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Samuel yang juga ikut masuk, mulai penasaran. Sonia segera meraih map yang ada dimeja.


Terkejut, itu pasti. Samuel juga terkejut. Jadi itu alasan Shafa bersedih. Sebagai seorang ibu, tentu Sonia tahu beban itu. Dia juga menginginkan seorang putra lagi. Tapi takdir berkata lain, rahimnya diangkat saat melahirkan Guntur.


Kemudian Sonia mengajak Samuel untuk keluar. Shafa butuh waktu untuk menerima kenyataan dan Guntur pasti bisa menenangkan istrinya.


Shafa mengangkat kepala ketika lebih tenang. "Udah, jangan menangis lagi! Bukankah masih ada harapan sepuluh persen. Kita manfaatkan kesempatan itu," tutur Guntur sambil mengusap sisa air mata Shafa.


Shafa sendiri hanya mengangguk. Masih ada kemungkinan diantara ketidakmungkinan. Masih ada kesempatan dalam kesempitan. Tapi apakah itu mungkin?


Shafa beranjak ke kamar mandi. Niatnya untuk membasuh wajah, tapi lagi-lagi dadanya terasa sesak. Tubuhnya merosot kebawah dengan air mata yang kembali mengalir. Kenapa rasanya sesakit ini ketika mengalami ujian itu? Apakah ia kurang bersyukur atas apa yang ia punya selama ini? Harusnya ia bisa sabar dan ikhlas. Menyerahkan hidupnya pada Sang Pemberi hidup. Tapi dirinya hanyalah insan dhoif. Dia hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahannya.


Guntur menyusul masuk ke kamar mandi karena Shafa tak kunjung keluar. Dia melihat istrinya bersimpuh dilantai dengan sesenggukan.


"Aku mohon jangan seperti ini Shafa! Aku tak sanggup lagi melihat tangisanmu." Guntur memegang kedua bahu istrinya dengan berderai air mata. Ketika dua jiwa disatukan mereka akan saling merasakan beban dari pasangannya. Hati Guntur lebih tersayat saat melihat orang yang dia cintai menderita. Jika dibandingkan ia yang tak akan mendapat keturunan dari Shafa.


Untuk sekian kalinya mereka saling memeluk. Kemudian Guntut membopong tubuh Shafa ke tempat tidur. Ia mengambil kain dan membasahi kain itu untuk menyeka wajah Shafa.


"Maafkan aku Mas!" ucap Shafa kemudian.


"Jangan minta maaf! Ini adalah ujian rumah tangga kita Shafa. Kita lewati ujian ini sama-sama. Jangan menanggung beban ini sendirian!"


Shafa tersenyum haru. "Tolong jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi!" pintanya kemudian.


"Aku janji Shafa. Hanya maut yang akan memisahkan kita. Cintaku akan selalu menggema seiring dengan do'aku." Guntur memeluk Shafa. "Cintaku akan tetap melantun indah seiring nada cinta dari Kalam Ilahi. Kau lah bidadariku, bidadari dunia akhirat untukku."


Mereka pun tenggelam dalam suasana haru dan pilu. Menjalani biduk rumah tangga memang tak semudah yang kita kira. Ada banyak macam ujian didalamnya. Mulai dari segi ekonomi, keluarga dan juga anak. Semua ujian rumah tangga sudah sesuai porsi masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapi permasalahan yang datang. Jalan mana yang kita pilih untuk permasalahan tersebut.


Karena itu, dasar dalam berumah tangga harus kuat. Kita harus berani berkomitmen. Berani menerima segala konsekuensi dari komitmen itu sendiri. Yakinlah setiap rumah tangga pasti pernah menerima terpaan badai kehidupan. Semua itu tak bisa lepas dari sebuah kepercayaan, kesetiaan, kasih sayang dan cinta.


*****


Shafa tak mau terlalu larut dalam kesedihan. Orang-orang disekitarnya selalu memberi dukungan. Mama Olivia dan Gibran juga sempat mengunjunginya. Sedangkan Steven, sang daddy sibuk di Jakarta.


Ketika Guntur pergi kekantor, Samuel lah yang sering menemani Shafa. Setidaknya, dia tak merasa kesepian. Sambil menunggu sidang skripsi, keduanya sering menghabiskan waktu bersama dengan memasak didapur. Tentunya Samuel yang meminta diajari memasak. Pernah juga dapur hampir kebakaran karena Samuel terlalu besar menyalakan api kompor, sehingga membuat wajan gosong dan asap mengepul keseluruh isi rumah. Jangan ditanya bagaimana reaksi Sonia, perempuan itu sangat panik takut rumah benar-benar kebakaran. Tapi itulah keseruan mereka dan juga menjadi hiburan tersediri bagi Shafa.

__ADS_1


Rencana Shafa yang ingin pulang ke Jakarta sambil menunggu sidang harus ditunda karena Guntur sangat sibuk. Mereka akan ke Jakarta setelah sidang skripsi Shafa.


Semakin hari hubungan Shafa dan Guntur semakin mesra. Mereka selalu menikmati waktu berdua dimalam hari. Ketika libur pun, mereka menyempatkan jalan-jalan berdua.


Jika Shafa dan Guntur bahagia, namun tidak dengan Samuel. Pemuda itu tetap dalam tempurungnya seperti kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu. Jadwal sidang pemuda itu ternyata lebih awal dari jadwal sebelumnya. Tentu hal itu menguntungkan Samuel. Dia bisa pulang cepat ke Jakarta. Kemudian mengasingkan diri mencari ketenangan. Kepulangan Samuel tentu membuat Sonia sedih, dia akan sangat kehilangan pemuda itu. Tapi lebih kasihan adiknya yang sendirian tanpa anak dirumah selama tiga tahun belakangan. Jadi dia melepas Samuel dengan penuh haru.


~*~


"Apa Mas Guntur akan tetap mencintaiku dengan keadaan seperti sekarang?" tanya Shafa pada suatu malam saat mereka sedang berada ditaman. Mereka berdua sedang duduk disalah satu bangku.


"Tentu aku akan tetap mencintaimu. Apa kamu masih meragukan cintaku Shafa? Dulu aku rela menunggumu selama empat tahun. Betapa setianya aku ini," ucap Guntur sambil terkekeh.


"Iiih Mas Guntur..." Shafa memukul pelan bahu suaminya.


"Makanya jangan lagi meragukan cinta seorang Guntur Aryan Pramseta," ucap Guntur bangga.


"Dih narsis!" Shafa tertawa pelan. Kemudian memasang wajah serius. "Aku merasa hubungan kita kurang lengkap tanpa anak Mas."


"Siapa bilang kita tanpa anak? Kita akan punya banyak anak setelah ini."


"Aku akan membangun sebuah panti asuhan untuk menampung calon anak-anak kita. Kamu bisa merawat dan menyayangi mereka seperti anak sendiri. Banyak anak-anak kurang beruntung yang butuh uluran tangan kita." Guntur menggenggam tangan Shafa dengan senyum tulus.


"Maksud aku anak kandung Mas. Seorang anak yang akan menjadi penguat hubungan kita."


"Shafa, dengerin aku. Untuk saat ini prioritas aku cuma kamu. Kehadiran anak memang sangat penting dalam berumah tangga. Tapi jika Allah masih belum mengizinkan, apa yang bisa kita perbuat. Usaha dan doa pun sudah kita lakukan selama ini. Jadi, kita nikmati saja apa yang Allah takdirkan untuk kita. Jika saatnya tiba, aku yakin keajaiban tuhan sangat indah," tutur Guntur.


"Terimakasih telah menjadi imam yang sholeh untukku, Mas!" Shafa merangkul lengan Guntur dan bersandar dibahu kokoh milik suaminya itu.


"Aku juga berterimakasih padamu Shafa. Aku sangat mencintaimu Shafa Fikriyatuz Zahra." Guntur mengelus lengan istrinya dengan lembut.


"Iya Mas Guntur. Aku tahu itu."


Mereka pun menikmati suasana syahdu malam. Mengagumi keagungan tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya. Poros takdir akan terus berputar. Bahagia dan tawa akan silih berganti dengan air mata.


Jika cinta digantungkan pada mata

__ADS_1


Apa yang akan terjadi ketika wajah semakin menua dan


Tubuh rapuh bertopang pada tongkat


Jika cinta digantungkan pada harta dan tahta


Apa yang akan terjadi ketika semua terenggut


Diambil lagi oleh Sang Maha Kaya


Jika cinta digantungkan pada telinga dan mulut


Apa yang akan terjadi ketika kata manis rayuan


tak lagi bermakna


Terkikis oleh lekangnya waktu


Maka dari itu aku mencintaimu dengan cahaya hati


Tak akan pernah ada masa menopause


Tak akan pernah rapuh dimakan waktu


Tidak menggantungkan cintaku pada telinga


Yang hanya mendengar manis sebuah rayuan


Tapi menggantungkan cintaku pada Sang Maha Mendengar


Sehingga hanya ada rayuan kalam indah yang ingin aku dengar dari suara indahmu


Guntur Aryan Pramseta


END

__ADS_1


Buyar.... Buyar....😅😅😅😅


__ADS_2