
Selepas kepergian Guntur, Randi memasuki ruangan. Dilihatnya Shafa sudah membuka mata dengan raut wajah bingung. Randi segera menghubungi dokter.
Ia juga menghubungi Steven kalau Shafa sudah sadar.
Dokter memberi tahu bahwa kondisi Shafa sudah membaik, tinggal memulihkan keadaan tubuhnya agar sehat kembali.
"Hai Non!" sapa Randi yang mendekati ranjang Shafa sambil melambaikan tangan dan kerlingan jahilnya.
"Ngapain kamu kesini? Bukannya di Jakarta jagain daddy," tanya Shafa dengan suara yang masih lemah.
"Saya kesini jagain putri tidur. Ingat nggak kemarin Non kenapa?"
"Iya ingat, aku tidak amnesia." Shafa hendak bangun dengan kedua sikunya sebagai tumpuan. Ternyata bekas tusukan dilengannya masih menyisakan rasa nyeri. Randi dengan sigap segera meraih tubuh Shafa dan membantunya duduk bersandar.
"Mau dibantu ngiket rambutnya Non?"
"Jangan Rand! Biar nanti suster yang bantu."
Randi mengerti maksud Shafa. Dia tidak mau bersentuhan dengan laki-laki lain. Tapi namanya bukan Randi kalau tidak memaksa. "Dih sok-sok an jaim. Saya kagak pake nafsu Non. Kayak nggak tau siapa saya aja."
"Tetep aja Rand. Kita bukan muhrim," tolak Shafa.
Randi mencari ikat rambut didalam tas Shafa yang terletak dilaci. Shafa selalu menyediakan cadangan berbagai macam ikat rambut disana.
"Udah sini jangan bawel!" Randi mengambil posisi didepan wajah Shafa, kedua tangannya menyibak kerudung dan merapikan rambut Shafa lalu mengikat dengan rapi.
Dalam posisi yang terlihat seperti orang berpelukan, Steven dan yang lain memasuki ruangan. Menyadari hal itu, Randi langsung mengambil jarak. Gibran memberinya tatapan tajam. Mungkin itu lebih mengarah pada kecemburuan melihat adiknya lebih dekat dengan orang lain
Berbeda dengan Steven yang tampak santai. Ia tahu Randi dan Shafa sudah seperti saudara. Dari kecil mereka tumbuh bersama.
Olivia langsung berhambur memeluk putrinya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Olivia seakan menumpahkan rasa bersalahnya selama ini.
"Maaf Shafa!" Hanya itu yang keluar disela air mata Olivia. Ia merasa tidak berguna sebagai seorang ibu. Keegoisannya membuat Shafa menderita. Tak pernah memberikan kasih sayang sebagai seorang ibu. Karena memang Shafa bukan putri kandungnya. Tapi sekarang ia merasa bersalah.
Bersalah telah menyia-nyiakan putri hebat seperti Shafa.
Shafa terdiam mendapat perlakuan itu. Tak menyangka mamanya berubah menjadi sosok ibu yang hangat. Dulu ia hanya dapat merasakan pelukan hangat dari bik Nani, ibunya Randi. Tapi itu tetap berbeda dengan kasih sayang orang yang ia anggap sebagai ibu kandunganya. Yang nyatanya bukanlah ibu kandung. Setelah Fachri tiada, baru ia mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan. Bahwa orang tua kandungnya telah tiada. Steven baru buka suara saat Shafa menanyakan sebuah kebenaran tentang dirinya.
"Kamu mau kan memaafkan Mama?" tanya Olivia sambil merenggangkan pelukannya. Menatap putri dihadapannya dengan tatapan sendu.
Shafa hanya bisa mengangguk dengan genangan air dipelupuk matanya. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hatinya. Selama ini ia memang jauh dari kasih sayang seorang ibu. Karena itu, Shafa sangat terpukul dengan kepergian Fachri. Ia mendapat kasih sayang tulus dari Fachri. Hanya laki-laki itu yang bisa meluluhkan hatinya. Menyadarkan ia bahwa yang ia lakukan dulu salah. Kemudian menuntun dirinya menjadi sosok yang tegar dan kuat. Merubah jiwanya menjadi muslimah yang baik.
"Terima kasih Sayang!" Olivia mencium kening Shafa.
Steven mendekat, membelai kepala putrinya yang tertutup kerudung. Shafa beralih memeluk sang ayah.
"Shafa rindu Daddy," ujar Shafa manja. Sisi lain dari seorang Shafa yang tampak kuat dan tegar. Dia menjadi manja bila bertemu dengan ayahnya. Sosok yang ia kenal sebagai orang tua tunggal setelah Olivia pergi dengan membawa sang kakak. Tapi, kini keluarganya sudah berkumpul.
__ADS_1
"Kalau rindu, pulanglah! Daddy kesepian tanpa ada kamu!"
"Sebentar lagi Dad. Tunggu Shafa selesai kuliah. Ngomong-ngomong Daddy kok bisa tau Shafa disini?" tanya Shafa dengan melepas pelukannya.
"Orang suruhan Daddy yang memberi kabar. Kamu terluka dan dalam keadaan kritis. Karena itu Daddy langsung datang kesini," jawab Steven.
*****
Flashback
"Maaf bos! Non Shafa terluka dan sekarang keadaannya kritis dirumah sakit," ucap seseorang yang menghubungi Steven lewat ponsel.
"Bagaimana bisa? Menjaga seorang gadis saja tidak becus," umpat Steven geram.
"*Maaf bos kami lengah waktu itu."
"Sekarang kirimkan alamat rumah sakitnya*." Steven memutus panggilan. Kemudian ia meminta Andi memesan tiket penerbangan ke kota Y. Steven mengajak Randi untuk ikut serta.
~*~
Olivia yang mendapat kabar dari Gibran langsung menuju rumah sakit malam itu juga. Khawatir hal buruk menimpa putranya. Ia juga ingin tahu siapa gadis yang dimaksud Gibran, gadis yang sudah melindungi dirinya. Hingga sekarang gadis itu bermain dengan maut.
"Gibran" panggil Olivia saat memasuki ruang rawat. Gibran sedang duduk disamping ranjang, memandangi gadis yang baru saja melewati masa-masa sulit.
Gibran menoleh kearah mamanya. Olivia langsung berjalan cepat mendekati putranya. Memastikan bahwa putra semata wayangnya tak terluka.
"Gibran tidak terluka Ma. Tapi dia Ma." Gibran menunjuk gadis yang terbaring disamping mereka.
Olivia memandangi gadis itu, memperhatikan wajahnya dengan seksama. Sejenak ia tertegun. Ya, dirinya mengenal wajah itu. Wajah yang dulu sempat ia benci. Seorang gadis yang sering menjadi pelampiasan atas kekesalannya. Gadis yang dulu sering ia marahi. Ia bentak-bentak tanpa alasan yang jelas.
"Clara..." ucap Olivia kemudian.
"Iya Ma. Dia adik Gibran."
Seketika tubuh Olivia terasa lemas. Bagaimana bisa dia ada dikota ini? Bukankah Clara tinggal bersama Steven? Dan dia sekarang juga sudah banyak berubah menjadi gadis berhijab. Apa yang sudah terjadi dengan gadis itu selama kepergiannya?
Gibran mendudukkan mamanya dikursi yang tadi ia tempati. Ditengah kebingungan yang mendera Olivia. Pintu terbuka, dua sosok pria menerobos masuk.
Namun langkah keduanya melambat saat tahu siapa yang ada dihadapannya.
Dua pasang mata saling beradu. Olivia tak bergeming dari duduknya. Setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu. Kini mereka dipertemukan dalam keadaan yang terduga. Pancaran rindu tak terbendung tersirat dari tatapan keduanya. Pertanyaannya sekarang, masih adakah cinta diantara mereka setelah berpisah selama bertahun-tahun? Hanya hati keduanya yang menyimpan jawaban.
Gibran pun tak mengira bahwa ayahnya akan secepat ini datang. Ia belum berani menyapa sang ayah. Ada rasa canggung yang memberi jarak diantara mereka.
Steven kembali mengalihkan pandangannya pada Shafa. Putri yang berusaha ia lindungi meski berada jauh darinya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Sekeras apa pun ia berusaha. Jika takdir tuhan sudah berkehendak mau bagaimana lagi.
"Apa yang terjadi dengan putriku?" tanya Steven dingin. Pandangannya masih terpaku pada gadis yang terbaring lemah.
__ADS_1
"Maafkan Gibran Pa! Shafa berusaha melindungi Gibran tapi akhirnya seperti ini," ucap Gibran. Ada rasa takut saat ia berhadapan dengan ayahnya yang selalu tampak berwibawa dan tenang. Meski dalam keadaan sulit.
Hati Steven melunak. Ia tak mungkin menyalahkan orang lain atas apa yng telah terjadi. Perlahan Steven berjalan memutari ranjang rawat menuju kearah Gibran.
Steven memeluk erat putra yang selama ini ia rindukan. Olivia menitikkan air mata melihat pemandangan didepan matanya. Steven memberi isyarat pada Olivia agar ikut bergabung. Jadilah mereka bertiga berpelukan dengan derai air mata yang tak terbendung lagi. Sebuah keluarga yang sekian tahun berpisah, dipertemukan dalam satu tempat. Meski ada yang harus menanggung luka agar mereka bersatu lagi.
Randi yang dari tadi menjadi penonton. Juga ikut menitikkan air mata. "Lihatlah Non Shafa! Non sudah berhasil membuat mereka bertemu lagi. Keegoisan mereka sudah melunak. Non Shafa harus bisa bertahan agar bisa ikut berkumpul." batin Randi.
Kini Steven dan Olivia duduk dikursi tunggu yang ada diluar. Ada rasa segan yang masih mengiringi hati keduanya. Meski dulu mereka pernah hidup bersama. Tapi, tahun demi tahun menciptakan jarak diantara keduanya.
"Maafkan aku Stev!" ucap Olivia lirih memecah keheningan.
"Aku juga minta maaf, tidak bisa mempertahankan kalian agar tetap disisiku." Steven berucap tanpa memandang kearah Olivia.
"Andai dulu aku tidak egois dan mau mendengar penjelasanmu, tentu semua ini tak akan terjadi," ucap Olivia penuh dengan rasa bersalah.
Dulu ia termakan oleh sebuah fitnah yang mengatakan bahwa Steven mempunyai hubungan gelap dengan wanita lain. Hingga melahirkan seorang putri. Olivia berusaha mempercayai suaminya dan tetap bertahan dirumah. Meski dengan kehadiran Clara kecil. Hingga suatu hari ada yang mengirimkan foto-foto Steven bersama wanita lain yang menggendong seorang anak perempuan. Mereka memang tampak seperti keluarga bahagia difoto itu. Akhirnya, Olivia memutuskan keluar dari rumah dengan membawa Gibran. Padahal wanita yang ada difoto itu adalah istri dan anak dari sahabatnya.
"Sudahlah. Semua telah berlalu. Menyesali yang sudah terjadi pun tak akan mengubah keadaan. Yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki keadaan yang masih bisa diperbaiki," ucap Steven. Ia melirik sekilas kearah Olivia yang menundukkan pandangannya.
Olivia sendiri bingung harus berkata apa lagi. Pikirannya mencerna perkataan Steven. Apakah laki-laki itu berniat mengajaknya bersatu kembali? Memperbaiki hubungan yang mungkin masih bisa dirajut ulang. Olivia masih belum yakin dengan dirinya. Toh, dirinya baru saja bertemu lagi dengan Steven. Perlu waktu untuk memulai segalanya.
"Aku lihat banyak yang berubah dari Clara," ucap Olivia mengalihkan pembahasan.
"Sekarang namanya Shafa. Nama yang diberikan oleh orang tua kandungnya." Steven berucap dengan nada datar.
Membuat suasana hening kembali. Jarak antara mereka masih membentengi perasaan masing-masing. Perlu waktu untuk memulai sesuatu yang pernah rusak. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh hati mereka.
Flashback Off
.
.
.
Sesekali menolehlah kebelakang
Ada sesuatu yang tertinggal disana
Ada permata indah yang perlu kau ambil
Masa lalu bukan untuk dilupakan
Tapi buat itu menjadi sebuah pembelajaran untuk langkah selanjutnya
Jadikan pelajaran itu sebagai penopang asa dimasa depan
__ADS_1
See you next time...