Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Pujangga Malam


__ADS_3

Mr.A: Good night My Ara!


Sebuah notif pesan masuk keponsel Shafa. Ia yang saat ini menikmati indahnya malam dari jendela kamarnya, tubuhnya beranjak dari duduk mengambil ponsel yang terletak diatas tempat tidurnya. Membalas pesan Mr.A.


Diseberang si pengirim pesan tersenyum mendapat balasan dari kontak yang ia namai My Ara.


My Ara: Good night Mr.A! Bukannya mengucap salam, malah sok jadi bule kampung.


Mr.A: Aku bule kota, bukan bule kampung. Ya udah Assalamu'alaikum My Ara!


My Ara: Wa'alaikumsalam


Mr.A: Lagi ngapain?


My Ara: Lagi nyantai aja, duduk didekat jendela sambil menikmati angin malam.


Mr.A: Sama dong, aku juga lagi nyantai digazebo taman. Ara...


My Ara: Apaan?


Mr.A: Kamu tau nggak?


My Ara: Enggak...๐Ÿ˜‰


Mr.A: Mulai dah nyebelinnya๐Ÿ˜ก Kamu lihat nggak awan disekitar bulan itu bersisik?


My Ara: Iya, kenapa emang?


Mr.A: Kata orang tua dulu, itu tandanya dilaut lagi banyak ikan.


My Ara: Masih percaya aja ama mitos


Mr.A: Percaya nggak percaya, percaya aja


My Ara: Idih... maksa. Yang ada ikannya pada sembunyi karena cahaya bulan.


Mr.A: Dasar bocah! Diajak bercanda susah amat.


My Ara: ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Pak mamat lagi jualan sate.


Mr.A: Set dah! Mau tau nggak kelanjutannya.


My Ara: Iya... iya...*Ter*us gimana?

__ADS_1


Mr.A: Tolong bilang pada bulan, aku minjem jalanya.


Shafa hanya senyum-senyum sendiri. Pasti bentar lagi gombalan bakal keluar. Ia pun membalas lagi pesan dari Mr.A.


My Ara: Buat apaan?


Mr.A: Buat menjaring keresahan dihati kamu. Lalu membuangnya ke Samudera. Menggantinya dengan Sampan cinta berdayungkan kesetiaan. Menerjang ombak menuju pulau asmara. Menua bersama kekasih hati disana.


Shafa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ada-ada saja memang teman yang satu ini. Dia selalu mewarnai hari-hari Shafa dengan pesan nyelenehnya. Sukses membuat Shafa menyunggingkan senyuman. Tapi bagaimana dia bisa tau kalau saat ini hatinya sedang resah? Shafa resah memikirkan sang ayah. Sudah lama mereka tidak bertemu. Ayahnya pasti kesepian saat ini. Tapi, egonya sendiri yang mengalahkan rasa khawatir pada sang ayah. Ditambah lagi, pikirannya terganggu dengan sosok yang mirip Fachri dibukit tempo hari. Membuat hatinya semakin resah tak menentu.


My Ara: Jangan memberiku sampan untuk menyeberangi Samudera apalagi menerjang ombak! Jiwa ini terlalu lelah, berdayung dalam ketidakpastian.


Mr.A: Jangan pernah lelah untuk berdayung! Jangan pernah menyerah menerjang ombak kehidupan. Jika terasa pahit, maka nikmati kepahitan itu. Akan ada kenikmatan terselubung dari rasa pahit itu. Ingat! Nikmat kopi karena rasa pahitnya.


Mereka berdua saling bertukar pesan dibawah cahaya bulan yang terang. Shafa selalu merasa nyaman saat berkomunikasi dengan temannya itu. Ada rasa yang tak pernah ia sadari, perlahan rasa itu menembus jiwanya dengan sangat lembut. Hingga ia tak merasakan jika satir penghalang mulai tersibak.


*****


Diwaktu yang sama, seorang pemuda sedang duduk diserambi masjid. Ia juga menatap rembulan yang bersinar cerah malam itu.


"Assalamu'alaikum Gus!"


"Wa'alaikumsalam!" jawab pemuda itu tersadar dari lamunannya. "Kapan kamu datang Az? Sudah lama tidak kesini," ucapnya sambil menyambut dengan pelukan hangat.


Pemuda yang melamun tadi adalah Afif, putra kyai Husni. Dan temannya yang datang adalah Azim, Aldiansyah Fauzul Azim. Sahabat Afif dari Jakarta yang kebetulan sekarang tinggal dikotanya. Mereka bertemu dalam cara dakwah yang dipandu Afif. Sudah setahun ini mereka tidak bertemu karena Az cuti kuliah demi membantu usaha sang mama.


"Maaf Az! Aku benar-benar tidak menyadari kedatanganmu tadi," ucap Afif. Mereka kini duduk berdua diserambi masjid. "Oh ya, bagaimana urusanmu? Lancar?" tanya Afif.


"Alhamdulillah Gus, lancar. Besok saya sudah bisa mulai kuliah lagi." Tersirat rasa semangat dan bahagia saat Az bilang ia akan kuliah lagi. Kerinduannya pada suasana kampus akan terobati. Ia pun bisa melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda.


"Alhamdulillah Az! Tetap semangat jangan menyerah. Semua pasti ada jalannya. Tinggal kita yang harus berusaha menemukannya."


"Iya Gus, semua memang harus diusahakan dan harus melalui sebuah proses." Azim menatap Afif yang tampak memendam sesuatu. Tak seperti biasanya ia melihat raut kebimbangan diwajah teduh sahabatnya. "Apa yang sedang mengganggu pikiran Gus Afif?"


Bukannya menjawab, Afif malah mengajukan pertanyaan pada Azim. "Apa kamu pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?"


Azim tampak mengernyit heran, lalu tersenyum memandang orang disampingnya yang masih menatap langit. "Tentu saja pernah Gus, tapi dia bukan untuk saya. Apa Gus Afif sedang jatuh cinta?"


Sontak Afif menoleh, tapi kemudian mengalihkan pembicaraan. "Jangan terus memanggilku dengan sebutan "Gus", panggil saja Afif. Jangan bersikap terlalu formal juga. Kayak sama siapa saja. Kita kan bersahabat."


"Ok Afif, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi!"


Suara helaan nafas terdengar dari Afif. Sebuah rasa membebani hatinya. Rasa yang ia yakini adalah sebuah cinta. Tapi, tidakkah salah cintanya itu?

__ADS_1


"Sepertinya begitu Az. Berdosakah aku memikirkan gadis yang belum menjadi muhrimku? Aku sungguh tak mengerti dengan diriku sendiri Az. Dia selalu berkelebat dalam pikiranku," ujar Afif yang terlihat frustasi dengan perasaan yang diluar kendalinya.


"Bukankah cinta itu anugerah dan memang sudah menjadi fitrah manusia untuk saling mencintai. Tidak ada dosa dalam mencintai selama kita masih berada dalam batasan syari'at. Tentu kamu lebih paham tentang itu," terang Azim.


Afif masih dalam gejolak api yang menyulut cintanya. Baru kali ini ia terjebak dalam perasaan seperti itu.


"Kalau boleh tau, siapa gadis yang berhasil menenggelamkan sahabatku ini dalam kubangan asmara?" Tangan Azim merangkul pundak Afif, memberi guncangan pelan.


"Aku tidak tau Az," jawab Afif lirih.


"What... Bagaimana bisa Fif?" Azim melepas rangkulannya.


"Iya aku benar-benar tidak tau siapa gadis itu. Pertama kali aku melihatnya dibukit dekat kebun karet belakang pesantren. Awalnya aku hanya iseng jalan-jalan kesana mencari udara segar. Lalu aku mendengar suara teriakan, setelah aku cari sumber suara itu. Aku melihat seorang gadis menangis disana. Dia sangat cantik dan anggun meski berderai air mata. Dia gadis cantik berkerudung jingga."


"Lalu?" Azim penasaran dengan kelanjutan cerita sahabatnya.


"Aku pergi meninggalkan gadis itu karena takut menimbulkan mudlorat."


"Kamu tidak sempat berkenalan dengannya?"


Afif hanya menganggukkan kepala. Azim malah mengeluarkan suara gelak tawa. Menertawakan Afif yang dibuat bodoh karena cinta. Harusnya kan Afif berkenalan dengan gadis itu sebelum pergi. Tapi Az tau bagaimana sahabatnya sangat menjaga batasan dengan lawan jenis. Namanya juga putra kyai.


"Kenapa kamu malah tertawa Az. Tidak ada yang lucu."


"Yang lucu itu kamu Fif. Dari sekian banyaknya putri kyai yang menaruh hati sama kamu kenapa seorang Afif Akbar Maulana malah tertarik dengan seorang gadis misterius."


"Ini kan masalah hati Az. Memang kamu mau menikah tanpa cinta? Walau aku putra kyai tapi aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan abi jika aku tidak mencintainya," ucap Afif dengan tegas. Lalu ia menjatuhakan tubuhnya dilantai dengan kedua tangannya sebagai alas kepala.


" Ya nggaklah Fif. Aku juga ingin menikah dengan dasar cinta."


Azim dan Afif menikmati malam dengan diiringi candaan ringan. Meski Afif adalah putra kyai tapi pola pikirnya mengikuti perkembangan zaman. Ia bukan orang yang kolot, yang hanya terpaku pada suatu tradisi. Tapi ia lebih memilih bebas berkreasi didunia luar. Meski begitu ia tetap pada jalan Syari'at agama. Bahkan ia juga sukses menjadi hafidz dan lulus sebagai sarjana Fakultas Tarbiyah. Afif juga membantu abinya mengajar dipesantren.


Azim sendiri sebenarnya teringat dengan seorang perempuan dimasa lalunya. Perempuan yang telah ia hancurkan masa depannya. Perempuan yang sangat ia cintai. Takdir pun membuat jurang pemisah antara mereka karena kesalahannya itu.


Dan dibawah langit malam. Hati para insan bergelut dengan perasaan masing-masing. Tanpa ada yang tau hati para laki-laki itu terpaut pada satu wanita. Afif, Azim dan Mr.A, mereka terjebak dengan pesona Shafa. Lalu siapakah nantinya yang akan menembus hati gadis itu?


.


.


.


Sampai sini dulu guys! Jangan lupa tinggalin like and jejak kalian.

__ADS_1


Thanks!


__ADS_2