Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Tanah Apa?


__ADS_3

"Apa Sam yang memberitahumu tentang keadaanku?" Shafa menatap Guntur yang sedang fokus menyetir mobil.


"Bisa jadi," jawab Guntur tanpa menoleh.


Suasana menjadi hening. Terbesit rasa bersalah di hati Shafa, ia lebih terbuka pada orang lain dari pada ke suaminya.


Ketika melewati pedagang kaki lima, Guntur menepikan mobil.


"Tunggu sebentar Fa!" ucap Guntur yang kemudian turun.


Shafa memperhatikan apa yang dilakukan Guntur dari dalam mobil. Ternyata, pria itu membeli beberapa potong ayam cryspi. Bukannya kembali ke mobil, Guntur malah menuju ke salah satu ruko yang sedang tidak buka. Pandangan Shafa terus mengikuti pergerakan suaminya. Guntur berjongkok dan mengeluarkan ayam yang dibawanya. Disana ada seekor induk kucing dengan empat anaknya. Si induk memang terlihat sangat kurus. Mereka makan dengan antusias. Si anak kucing masih kesusahan untuk makan. Guntur pun memotong ayam menjadi beberapa bagian.


Setelah itu, Guntur segera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Siapakah suaminya ini? Mengapa sifatnya mirip sekali dengan Fachri. Dia peduli pada makhluk disekitarnya. Suka memberi dan menolong.


Tanpa terasa mereka sudah sampai dihalaman sebuah rumah. Shafa sendiri tak bisa protes ketika Guntur membawanya pulang.


Lagi-lagi Guntur mengangkat tubuh Shafa. Dia tak membiarkan istrinya berjalan sendiri. Dengan hati-hati diturunkannya tubuh Shafa di sofa ruang tamu. Tanpa banyak bicara, Guntur melepas jasnya dan meletakkan sekenanya. Ia berjalan ke dapur sambil melipat lengan kemejanya. Kemudian mengambil kotak obat dan meminta bik Minah menyiapkan air hangat.


"Aku bisa mengganti perban sendiri, Guntur," ucap Shafa saat suaminya sudah berjongkok dihadapannya. Kotak obat dan air hangat sudah ada di atas meja.


Guntur mendongakkan kepalanya. "Biar aku saja. Kali ini menurutlah padaku."


"Tapi kamu akan menyentuh kaki ku. Aku sangat tidak enak padamu," tutur Shafa. Ia merasa bersalah jika membiarkan Guntur menyentuh kakinya.


"Di enakin aja, Shafa. Aku ini suamimu bukan orang lain. Kamu akan kesulitan mengganti perbanmu sendiri," ucap Guntur dengan penuh kelembutan. Tangannya mulai sibuk membuka perban Shafa yang penuh dengan warna merah.


Guntur pun mengernyitkan kening ketika melihat luka istrinya. Ada sesuatu lain yang ia tangkap. "Ini luka karena sayatan benda tajam kan Fa? Jika hanya luka karena kecelakaan kecil tidak akan seperti ini. Luka ini juga terlalu parah."


"Ehm... itu...." Ada keraguan dari Shafa untuk melanjutkan ucapannya.


Guntur bisa mengerti keraguan Shafa itu. "Jangan teruskan! Jika kamu tak siap untuk bercerita, tidak usah bercerita," ucapnya.


Shafa kembali terdiam. Suaminya itu sudah membersihkan darah dilukanya. Lalu memberi obat dan membalut dengan perban. Shafa bisa melihat ketulusan Guntur ketika mengobatinya. Dia memang pria yang baik. Dia juga sangat sabar menghadapi dirinya. Tapi mengapa Shafa masih belum mau mencoba menerima statusnya sekarang?


Bik Minah pun datang membawa minuman dan menanyakan keadaan Nona mudanya. Shafa menjawab bahwa dia baik-baik saja.


Guntur sudah selesai membalut luka istrinya. Dia pun meraih gelas minum dan memberikannya pada Shafa. Sungguh sebuah perhatian kecil yang membuat keduanya tampak harmonis.


"Mama sedang ikut papa keluar kota," ucap Guntur ketika melihat Shafa tampak mencari seseorang.


"Sampai kapan?" tanya Shafa kemudian.


Guntur meminum jus yang tadi di buatkan bik Minah sebelum menjawab pertanyaan Shafa. "Mungkin sampai minggu depan," ucapnya sambil meletakkan kembali gelasnya.


"Guntur, tas ranselku yang ada di motor masih tertinggal di parkiran kampus," ucap Shafa.


"Biar nanti aku suruh orang mengambilnya. Kamu tenang saja!"


Di saat yang bersamaan, Samuel tampak memasuki rumah.


"Hai Shafa!" sapa Samuel dengan ramah. Dia mencoba bersikap biasa. Rasanya aneh jika ia bersikap dingin. Karena itu sama sekali bukan sifatnya. Apalagi dulu ia sempat sangat akrab dengan Shafa.


Raut wajah Samuel seketika berubah ketika melihat kotak obat dan baskom dengan air yang tampak merah. Apalagi ada bekas perban yang juga berwarna merah.


"Fa, lo di apain sama Kak Guntur? Gue bakal bejek-bejek dia kalau nyakitin elo," ucap Samuel yang tak sepenuhnya serius. Dia pun ikut duduk disana.


Shafa pun tampak aneh menatap kearah Samuel. Bukankah dia sudah tau apa yang terjadi dengannya? Tapi ini kenapa dia masih bertanya?


Guntur pun dengan cepat mengirim pesan ke ponsel Samuel. Dia mengirim screenshot hasil percakannya dengan Shafa tadi malam.


Samuel langsung mengerti ketika membaca pesan dari Guntur. "Astaga!" Samuel menepuk jidat. "Lo kan emang lagi sakit ya! Gara-gara kebanyakan makan pantat ayam gue jadi pelupa," ucap Samuel kemudian.

__ADS_1


Guntur pun menahan tawanya. Adiknya yang satu ini memang punya banyak cara untuk membalikkan keadaan. Shafa jadi ikut tertawa juga.


"Apa hubungannya lupa sama pantat ayam, Sam?" tanya Shafa.


"Ada lah pokoknya." Samuel bangkit dari duduknya. "Bik Minah, besok-besok kalu masak ayam pantatnya jangan kasih ke saya. Kasihkan aja sama si Kiki!"ucap Samuel sambil berjalan kedapur.


"Si Kiki mana mau sama pantat ayam, Den. Si Kiki kan pinter, dia kalau mau makan juga pilih-pilih," ujar bik Minah.


"Si Kiki suruh puasa dulu Bik. Biar mau."


Setelah itu, Samuel naik keatas menuju kamarnya.


"Si aden ada-ada saja kalau bicara. Masa' hewan disuruh puasa. ," gumam bik Minah. Kemudian ia melanjutkan memasak.


"Kiki, siapa sih yang dimaksud Samuel?" tanya Shafa pada Guntur.


"Itu nama kucingnya Samuel yang ada di kandang taman belakang. Kan warnanya hitam, dia kasih nama Blacky. Bik minah kan kesulitan kalau manggil. Kadang di panggil "Black... black..." gitu sama bik Minah. Tapi kata bibik kayak manggil kaleng krupuk kalau di kampungnya. Akhirny bik Minah punya panggilan sendiri. Jadilah panggilannya Kiki sekarang," terang Guntur. Nada bicaranya terdengar santai dan di iringi senyuman yang mampu melelehkan hati kaum hawa yang melihatnya.


Tanpa di sadari Shafa juga ikut tersenyum mendengar cerita Guntur.


"Enak aja si Kiki dibilang kucing gue. Yang bawa pulang siapa yang ngerawat juga siapa. Kak Guntur, Fa yang bawa Kiki pulang kerumah," seru Samuel yang sedang menuruni anak tangga. Dia sudah berganti pakaian. "Karena dia sibuk terus jadi gue yang terpaksa ngurus, di bantu sama bik Minah," lanjutnya. Dia berdiri disamping Guntur, berpegangan pada sisi sofa.


"Itu supaya kamu bisa belajar tanggung jawab Sam," ucap Guntur.


"Lo kira gue masih bocah Kak. Di kasih hewan peliharaan segala," cibir Samuel. Kelakuan kakak sepupunya memang selalu membuatnya kerepotan.


Guntur berdiri lalu menepuk bahu Samuel. "Udah jangan ngedumel. Makan sana!"


Samuel pun menuju meja makan. Guntur meminta Shafa untuk tetap diam di tempatnya. Dia berjalan kedapur. Mengambil makanan dan minuman untuk Shafa.


Saat Guntur ingin menyuapi, Shafa menolaknya. Dia benar-benar merasa aneh diperlakukan seperti itu oleh Guntur.


Akhirnya Guntur menyerah, dibiarkannya Shafa makan sendiri. Ia pun kembali kemeja makan untuk mengisi perutnya sendiri.


"Apa tidak sebaiknya kamu istirahat Fa?" usul Guntur ketika melihat Shafa mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya.


"Yang sakit kakiku bukan tangan atau kepalaku. Aku harus segera menyelesaikan tugas akhirku yang tinggal sedikit lagi," ucap Shafa.


"Kita ngerjain tugas bareng di gazebo taman yuk! Sambil cari suasana yang adem," ajak Samuel yang datang menenteng tas laptop ditangannya.


Dengan senang hati Shafa menyetujui ajakan Samuel. Tanpa diminta Guntur menganggkat tubuh Shafa lagi.


"Kamu bawain barangnya Shafa!" pinta Guntur.


Samuel pun merapikan barang milik Shafa dan membawanya ke taman. Ia merasa bahagia melihat sang kakak bisa bersama perempuan yang sangat dicintainya sejak dulu.


"Gue disini kayak sedang nonton adegan secara live Hrithik Rosan sama Aishwarya Rai," ucap Samuel ketika mereka sudah sampai digazebo.


"Terus kamu kayak siapa? Tuan Takur apa pak Ladusing?" sahut Guntur sambil mengatur posisi duduk Shafa. Hingga istrinya sudah duduk dengan tepat di bangku yang terbuat dari anyaman penjalin. Guntur menaikkan kedua kaki Shafa agar duduk berselonjor, kemudian menaruh bantal dipunggung istrinya sebagai sandaran. Ia juga mengambilkan barang yang dibutuhkan Shafa untuk mengerjakan Skripsi.


"Nggak dua-duanya. Makasih!" seru Samuel yang tampak merajuk disamakan dengan tokoh yang tak disukainya.


Shafa lebih memilih menjadi pendengar. Dia memfokuskan diri pada benda di pangkuannya.


"Kamu tau nggak Sam? Manusia itu diciptakan dari tanah."


"Semua orang juga tau kali." Samuel masih sok cuek. Dia juga sudah membuka layar laptop dihadapannya. Mengambil posisi duduk di lantai bersama Guntur.


"Kalau orang sifatnya pemarah, mungkin dulu dia diciptainnya dari tanah sengketa kali ya!" ucap Guntur yang membuat Samuel melototkan matanya.


Samuel tak mau kalah ia pun membalas. "Berarti kalau ada orang nyebelin, ngeselin terus suka nyusahin orang. Dia tercipta dari tanah longsor sama tanah liat ya Kak!" Tentu pernyataan itu untuk menyindir Guntur.

__ADS_1


Kali ini Shafa ikut tertawa. Di juga tak tahan untuk tidak berkomentar.


"Kalau orang kayak kalian ini di ciptainnya dari tanah dong?"


"Kita diciptain dari tanah gembur, subur dan makmur," jawab Samuel.


Bukannya mengerjakan tugas, kini mereka bertiga malah saling melempar candaan.


Shafa berpikir, benar apa yang pernah dikatakan oleh mama Sonia. Jika ada Samuel dan Guntur suasana pasti akan berubah menjadi heboh. Penuh dengan hiruk pikuk suara canda dan tawa. Shafa pun merasakan hal itu.


Guntur seperti sosok yang dinamis dan fleksible baginya. Ada kalanya dia diam tenang seperti air danau. Ada kalanya dia perhatian seperti hujan yang menuntaskan dahaga bumi. Ada kalanya dia seperti irama yang menghibur.


.


.


.


.


Samuel: Jika ada orang yang sifatnya labil, dia diciptain dari tanah apa Kak?


Guntur: Mungkin dia diciptakan dari tanah urugan.


Samuel: Kalau orang yang suka belanja?


Guntur: Mungkin dia di ciptakan dari tanah abang. Kalau orang yang suka nakut-nakutin diciptakan dari apa Sam?


Samuel: Mungkin dia diciptainnya dari campuran tanah kusir.


Guntur: Tanah kuburan dong Sam!


Samuel: Ya iya lah Kak. Kalau dari tanah gambut, berarti dia sering nyandarin kepala dimeja.


Guntur: Gabut Sam.


Samuel: Itu bukannya ngelepas rumput dari tanah.


Guntur: Itu Cabut, Samuel Adhitama.😠


Samuel: Jangan marah! Ntar langit runtuh.


Guntur: Hakdes! (tendang bokong)


Samuel: Mengusap bokong sambil nyanyi.


🎶Siapa cepat dia dapat


Langit runtuh aku selamat


Mungkin saja kalau mati


Cepat cepat pergi sembunyi


Kalau lambat pasti *****


Ditimpa langit disambar kilat🎶


Sampai disini dulu ya guys!


Jika ada yang salah mohon di maklumi. Ini cuma hiburan semata.

__ADS_1


See you...


__ADS_2