
Shafa terbangun dari mimpinya ketika merasakan laju mobil yang tidak stabil. Guntur tampak panik sambil sesekali melirik kearah belakang.
"Kamu kenapa Mas? Ada apa?" tanya Shafa yang ikut panik.
Guntur menambah laju kendaraan ditengah derasnya hujan. "Ada dua mobil yang dari tadi mengikuti di belakang kita."
Shafa pun menengok kebelakang. Benar saja ada dua mobil hitam di belakang mobil Guntur.
"Kamu tenang Mas Guntur. Salah satu mobil itu milik orang suruhan daddy. Tapi satunya lagi aku tidak kenal. Kita tukar posisi, biar aku yang menyetir," pinta Shafa.
"Tapi Fa?"
"Percayalah padaku!" ucap Shafa penuh keyakinan.
Guntur pun menepikan mobil. Mereka bertukar posisi secepat mungkin.
Shafa segera mengemudikan mobil dengan kelihaiannya melaju dalam kecepatan tinggi.
Meski di tengah hujan lebat, Shafa tetap mampu menguasai jalanan. Di samping itu, jalan raya juga lenggang dari kendaraan karena hujan yang mengguyur. Tak berselang lama tampak muncul lagi satu mobil di belakang.
Shafa jadi semakin tak mengerti, sebenarnya berapa banyak orang yang mengincar dirinya.
Sementara itu, Guntur berpegangan erat. Dia juga agak ngeri dengan cara istrinya mengendarai mobil di situasi yang tak mendukung. Apa lagi kondisi jalan yang buram karena derasnya air hujan.
Shafa menoleh lagi kebelakang, ketiga mobil itu berhenti di tengah jalan. Shafa pun mengurangi kecepatan laju mobil. Semua orang tampak turun dan terlibat baku hantam.
Itu adalah kesempatan Shafa dan Guntur untuk terlepas dari kejaran orang tak dikenal. Mobil melesat lagi dengan kecepatan tinggi.
"Mas Guntur kenapa?" tanya Shafa ketika mereka sudah aman.
Guntur memang tampak pucat. Baru kali ini ia masuk dalam dunia Shafa yang penuh tantangan. "Tidak apa-apa Fa. Hanya sedikit shok," ucap Guntur sambil menghela nafas.
"Sekarang kamu tahu kan alasanku kenapa aku menjaga jarak denganmu dan juga keluargamu. Juga memilih tinggal terpisah. Karena ada bahaya tak terduga yang sering mengintai diriku. Jadi kumohon, sebelum hubungan kita semakin dalam. Menyerahlah, menjauhlah dariku!" ujar Shafa dengan berat hati. Tangan dan pandangannya masih fokus pada kemudi mobil.
Guntur menggeleng. "Tidak Shafa. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Kamu sudah bilang akan memberiku kesempatan menjadi teman hidupmu. Apapun yang terjadi aku akan tetap disamping kamu Shafa." Guntur berucap dengan penuh keyakinan. Mana mungkin ia akan menyerah setelah berjuang selama 4 tahun untuk cintanya.
"Aku tidak ingin kamu bernasib sama seperti Fachri. Kamu tahu Mas Guntur, Fachri meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi memang ada yang sengaja membunuhnya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi," ucap Shafa dengan penuh emosi. Air matanya kembali meluncur.
"Kalau begitu ajari aku Shafa. Ajari aku agar bisa melawan mereka. Kita hadapi semua ini bersama-sama. Tolong ajari aku Fa!"
Shafa menyeka air matanya. "Baiklah! Kita akan belajar bersama kak Alam."
Mobil pun melaju ketempat penginapan milik Alam. Perlahan hujan pun mulai reda. Hanya saja menyisakan rintik-rintik yang masih menderas.
Shafa mengajak Guntur masuk dan menuju kamar yang ia tempati.
"Sementara kita istirahat dulu disini. Maaf tempatnya tidak semewah hotel berbintang," ucap Shafa ketika mereka memasuki kamar.
__ADS_1
"Kamar ini cukup nyaman kok. Aku bukan anak sultan yang terbiasa hidup mewah," ucap Guntur dengan kekehan kecil. Shafa membalas dengan senyuman yang mampu membuat Guntur semakin bahagia berada disamping gadis yang dicintainya. Meski ia harus menghadapi banyak tantangan kedepannya.
"Mas Guntur bisa mandi dulu. Aku akan ke Cafe sebentar."
Shafa pun keluar lagi. Ia menemui Alam untuk meminjam baju. Kasihan Guntur jika harus memakai baju bekas terkena air hujan. Shafa juga memesan minuman hangat dan makanan ringan untuk diantar ke kamarnya.
Setelah Shafa pergi, Guntur memerhatikan sekeliling kamar. Hanya sedikit barang Shafa yang terlihat disana. Ia pun masuk ke kamar mandi yang sederhana disana. Penginapan Alam memang tidak terlalu mewah, tapi menyuguhkan nuansa asri dengan banyak tanaman hias di sekeliling. Juga ada taman di bagian belakang. Cukup untuk menyegarkan mata dan pikiran dengan udara sejuknya.
"Mas... Mas Guntur!" Shafa mengetuk pintu kamar mandi. Ditangannya sudah ada baju ganti untuk suaminya.
Guntur pun membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit sepinggang.
"Ini baju gantinya," ucap Shafa agak canggung sambil menyodorkan pakaian pada Guntur.
Laki-laki itu hanya tersenyum melihat reaksi Shafa. Bisa-bisanya dia bertelanjang dada di depan Shafa yang masih setengah-setengah menerima kehadirannya. (Minta di jitak emang anak orang yang satu ini. Haha).
Setelah itu Guntur masuk lagi memakai pakaian yang di berikan istrinya. Melihat suaminya sudah keluar, Shafa bergegas kekamar mandi sambil membawa pakaiannya.
Terdengar suara ketukan dari luar kamar, Guntur membuka pintu. Ternyata pelayan datang mengantar pesanan Shafa tadi.
"Bajunya kekecilan ya Mas?" Suara Shafa terdengar ketika dia keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang tergerai. Dipadukan dengan gamis panjangnya yang membuat Shafa semakin anggun.
Guntur yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh. Ia terpesona dengan pemandangan indah yang ada dihadapannya. Baru kali ini ia melihat Shafa tanpa hijab setelah bertahun-tahun.
"Hanya sedikit Fa. Masih pas di tubuhku," ucap Guntur untuk menepis kegugupan yang mulai menguasai perasaannya. Baju Alam memang sedikit kecil dari ukuran tubuh Guntur.
Tak jarang Guntur sering curi-curi pandang kearah Shafa. Kesempatan langka yang harus ia manfaatkan. Berada berdua dalam satu kamar bersama yang terkasih memang sangat membahagiakan. Tapi Guntur pun harus bersabar untuk menembus pertahanan Shafa. Masih ada bayangan Fachri yang harus ia geser.
"Oh ya Fa, aku lihat ada map coklat ini tadi di lantai. Mungkin terjatuh dari meja." Guntur memberikan map yang tanpa sengaja ditemukannya tergeletak di bawah.
Shafa mengerutkan kening karena merasa tak memiliki map itu. Tapi ia penasaran dan membuka isinya.
Ada banyak foto-foto keluarga dari dalam map itu. Dua anak kecil laki-laki dan perempuan serta sepasang orang tua. Shafa hanya bisa mengenali bahwa foto anak perempuan disana adalah dirinya. Tapi yang lainnya Shafa tak kenal.
"Apa itu foto-foto keluarga kamu Fa?"
"Aku tidak tahu. Hanya saja ini adalah foto masa kecilku." Shafa menunjuk foto gadis kecil dalam foto keluarga itu. "Siapa yang sudah mengirim foto-foto ini dan apa maksudnya?" gumam Shafa.
"Apa daddy Steven tidak pernah memberi tahu foto keluarga kandung kamu?" Guntur pun ikut di buat penasaran. Kerena yang dia tahu Shafa memang anak angkat Steven.
Shafa menggeleng sambil terus mengamati satu persatu foto dari map itu. "Dulu aku merasa tidak penting mengetahui sesuatu yang sudah menjadi sebuah kenangan. Apa lagi itu kenangan pahit tentang orang tuaku yang meninggal karena kecelakaan. Jadi aku juga tidak pernah menanyakan lebih jauh tentang mereka," ucap Shafa kemudian.
Ada banyak sekali potret kebersamaan disana. Dia sendiri tak mengerti, jika memang itu foto keluarganya. Tapi mengapa dirinya sama sekali tak mengenali wajah mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada sesuatu yang salah dalam ingatannya?
"Bisa jadi itu foto bersama saudara kamu dulu." Guntur mengeluarkan opininya.
"Entahlah Mas. Besok aku akan menanyakan ini pada daddy." Shafa memasukkan lagi semua foto itu kedalam tempatnya semula.
__ADS_1
"Setelah ini ayo kita ketempatnya Kak Alam!" ajak Shafa. Dia sebenarnya ingin mengalihkan pikirannya yang mulai muncul banyak pertanyaan.
Guntur menyetujui ajakan istrinya. Sedikit banyaknya laki-laki itu bisa menangkap raut kesedihan yang berusaha Shafa sembunyikan. Setelah sudah rapi dengan hijabnya, mereka berdua keluar kamar.
Saat melewati lorong mereka berpapasan dengan Barra yang tampak basah kuyup dan juga luka lebam diwajahnya.
"Pak Barra!" Shafa menyapa orang yang baru dikenalnya tadi pagi.
"Zahra...." sapa balik Barra dengan suara yang terdengar gugup.
"Pak Barra kenapa wajahnya?" tanya Shafa.
"Oh tadi jatuh dijalan karena licin. Saya permisi dulu!" Barra langsung buru-buru pergi dari hadapan Shafa dan Guntur. Hal itu tentu saja menyisakan kecurigaan dibenak Shafa. Apa lagi tentang baku hantam dijalan tadi dan Barra pun adalah orang yang baru dikenalnya.
Guntur yang penasaran, menanyakan pada istrinya siapa laki-laki tadi. Lalu Shafa menceritakan kejadian pagi sebelum ia menuju rumah Guntur.
Tak lama kemudian Randi menghubunginya. Memberi tahu bahwa dia baru bisa melakukan penerbangan nanti sore. Cuaca siang itu memang sedang tak mendukung. Apa lagi hujan juga masih belum sepenuhnya hilang. Jadi jadwal penerbangan ke kota itu juga terganggu.
Sesampainya di ruang kerja Alam. Mereka memasuki sebuah ruangan yang khusus untuk latihan. Mereka bertiga berganti pakaian khususuntuk latihan.
Alam dan Shafa mengajari Guntur tekhnik bela diri secara detail. Juga cara-cara melindungi diri dan cara melepas kuncian dari musuh.
Alam dan Shafa juga memberi contoh secara langsung. Tentu hal itu mempermudah Guntur untuk memahami apa yang mereka ajarkan.
"Ok Guntur. Cukup untuk latihan hari ini. Kamu hanya perlu meningkatkan konsentrasi dan juga intensitas latihan sesering mungkin. Kamu sudah cukup berbakat dalam ilmu beladiri," tutur Alam ketika mengakhiri latihan. Mereka bertiga duduk berselonjor di lantai.
"Stamina kamu juga patut di acungi jempol," puji Alam sambil merangkul bahu Guntur. Tentu saja stamina Guntur bagus, karena dia suka olah raga dan juga makan makanan sehat.
"Kamu juga lebih hebat. Aku harus sering berlatih sama kamu dan Shafa," ucap Guntur.
"Kalau sama Shafa, kalian kan bisa latihan tiap hari di kamar." Keusilan Alam mulai keluar.
Shafa langsung bangkit menarik tangan Guntur. "Udah mas kita ke kamar saja. Jangan dengerin Kak Alam! Dia suka ngelantur kalau ngomong."
"Baru aja di omongin udah mau langsung ke kamar aja nih!" goda Alam lagi.
Shafa tak mau merespon ucapan Alam. Karena dia sudah tahu, lama-lama pasti ngaco omongan sahabat satunya itu.
"Main ngacir aja nih bocah. Tungguin woy...." Alam juga ikut bangkit mengejar Shafa dan Guntur yang sudah keluar ruangan. Mereka bergantian memakai kamar mandi yang ada di ruangan Alam untuk ganti baju.
.
.
.
Sampai disini dulu ya!
__ADS_1
Tolong koreksinya jika ada yang salah. Soalnya mata, otak sama jari kadang nggak sinkron. Otaknya merintah nulis ini, jarinya nulis itu. Mata kadang juga tertipu. Wkwkwk...