
"Siapa tamunya Fa?" Terdengar suara Silvia dari dalam.
Belum sempat Shafa menjawab, pria itu memberi isyarat untuk diam. Shafa yang masih dengan keterkejutannya hanya diam membisu. Saat Silvia muncul, pria itu segera masuk. Melewati Shafa yang bergeser memberinya jalan.
"Surprise...!!!"
"Gibran...!!!" Silvi terkejut bercampur bahagia. Pria tambatan hatinya telah kembali.
Ingin sekali Silvi memeluk pria yang sangat dirindukannya, tapi Gibran menahannya. "Eits, No peluk-peluk. Belum halal."
Silvia hanya mencebik kesal. Pria dihadapannya memang beda. Bukan pria yang haus dengan pergaulan bebas. Ia sangat membatasi diri. Dia bukan kucing yang diberi umpan asin langsung melahapnya. Prinsip Gibran adalah menjaga kehormatan seorang wanita. Karena selama ini ia hanya hidup bersama ibunya. Tentu sang ibu selalu memberi nasehat agar putranya tak salah jalan. Dalam hatinya telah tertanam jiwa untuk melindungi perempuan.
"Makanya cepetan halalin Silvia, Bran. Biar dia punya imam yang bisa mendidiknya," ujar Alza yang baru muncul dari dalam bersama Aira.
"Nunggu dia lulus dulu Za. Biar dia tambah dewasa juga. Masa' iya mau nikah tapi dia manjanya minta ampun," ucap Gibran sambil mengacak-acak rambut Silvia dengan gemas.
Mereka pun saling menangkupkan tangan untuk memberi salam dan juga bertanya kabar.
"Oh ya Bran, kenalin ini Shafa." Silvia merangkul pundak Shafa dengan senyuman yang mengembang. Hatinya masih berbunga-bunga. Shafa sendiri hanya tersenyum tipis. Meski begitu kedua lesung pipinya tampak jelas.
"Teman baru kamu?" tanya Gibran. Matanya terus memperhatikan Shafa yang saat itu sedang menunduk
"Bukan sih sebenarnya. Tapi kamu belum pernah ketemu dia. Pas kamu kesini Shafa nggak ada. Maklum dia pekerja keras. Jadi jarang dirumah."
Gibran hanya menganggukkan kepala mengerti. Tapi dilubuk hatinya dipenuhi rasa ingin tahu. Wajah gadis itu benar-benar mirip dengan Clara. Apalagi lesung pipinya, sama seperti Clara. Gibran bertekad untuk mencari tau siapa gadis itu sebenarnya.
Kemudian, Silvia mengajak Gibran mengobrol diteras.
"Fa... Shafa...," panggil Alza. Ketika melihat Shafa termenung menatap Gibran yang sudah melangkah keteras.
Tak ada respon dari Shafa, Alza pun menepuk bahu sahabatnya. "Shafa...." panggilnya lagi.
"Astaghfirullohal 'adzim!" Shafa tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa sih Fa?" kini Aira yang bertanya.
"Aku nggak apa-apa Ra." Shafa memilih melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Alza dan Aira berpamitan untuk pergi kepesantren.
Selepas kepergian kedua sahabatnya, Shafa termenung sendiri duduk disofa. Sekilas ia melirik keluar jendela. Gibran dan Silvia masih asyik mengobrol.
Penantiannya selama ini sudah menemukan titik ujung. Tapi, malah dirinya sendiri yang belum siap untuk membuka identitas. Shafa merasa keadaan saat ini masih belum berpihak padanya.
Sepertinya cukup dengan mengetahui mama dan kakaknya baik-baik saja, sudah membuat Shafa lega.
Suara notif dari ponsel membuyarkan lamunannya. Alam mengirim pesan agar dirinya datang ke Cafe jika sedang tidak sibuk.
Shafa bergegas untuk siap-siap. Rencananya untuk santai dirumah tak sesuai dengan bayangannya. Pikirannya terganggu dengan kehadiran Gibran.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Fa?" tegur Silvia ketika melihat Shafa keluar dari dalam dengan pakaian rapi.
"Aku ada perlu sebentar Vi. Assalamu'alaikum!" Shafa bergegas pergi menghindari tatapan Gibran.
Shafa tak memakai sepeda motornya. Ia lebih memilih berjalan kaki untuk sampai kejalan raya kemudian mencari transportasi umum.
Gibran juga berpamitan pergi, dengan alasan dirumah itu hanya ada mereka berdua. Tidak patut jika ada orang yang melihat. Sebenarnya Gibran hanya ingin segera menyusul Shafa.
Mobil milik Gibran sudah meninggalkan halaman rumah kontrakan kekasihnya.
Dijalan tampak Shafa masih berdiri menunggu kendaraan. Gibran menghampiri dan mendesak Shafa agar mau naik mobilnya. Sebenarnya Shafa enggan menerima tawaran Gibran tapi pria itu terus memaksa. Akhirnya Shafa mau ikut mobil Gibran.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Gibran memecah keheningan.
"Kurasa tidak," jawab Shafa singkat.
"Oh ya. Kamu karyawan yang di Cafe kan?" Gibran melirik kearah Shafa sebentar. Lalu kembali fokus pada jalanan.
"Hmmmbh..."
Jawaban Shafa membuat Gibran mengulas senyum. "Kamu mau kemana?" tanyanya lagi.
"Ke Cafe milik temanku." Lagi-lagi Shafa hanya menjawab dengan singkat. Matanya memandang keluar jendela mobil.
"Kamu irit sekali bicara ya. Harus aku bayar berapa agar kamu mau bicara panjang lebar?" ucap Gibran sambil terkekeh.
"Silvia bilang kamu itu pekerja keras. Selain bekerja di Cafe milikku apa kamu bekerja juga ditempat lain?"
"Tidak" Shafa masih bertahan dengan sikap dinginnya. Tentu ia berusaha sekuat tenaga menahan diri. Mungkin jika keadaan mendukung, Shafa akan langsung berhambur kedalam pelukan sang kakak. Seseorang yang sangat ia rindukan.
Tak terasa, mobil sudah terparkir didepan Cafe milik Alam. Shafa segera turun setelah mengucapkan terima kasih.
Gibran juga ikut turun. Mengikuti Shafa masuk kedalam Cafe.
"Ngapain kamu ikut masuk?"
"Aku hanya ingin mencoba menu disini. Aku datang sebagai pelanggan baru," ucap Gibran santai, kemudian mengambil tempat disalah satu meja.
Sejak kapan Kak Gibran jadi nyebelin kayak gini? Efek kelamaan tinggal dinegara orang.
Shafa beranjak masuk kedalam dengan perasaan sedikit kesal.
"Selamat pagi menjelang siang Mbak Shafa!" sapa salah satu karyawan.
"Pagi Rahma!" sapa balik Shafa dengan ramah. "Oh ya, tolong kamu layani tamu didepan itu." Jari telunjuk Shafa menunjuk kearah Gibran.
"Ok Mbak Shafa!"
__ADS_1
Pelayan itu segera menuju kearah Gibran dan memberi buku menu.
Shafa menemui Alam diruangannya. Ternyata Alam meminta bantuan untuk merekap data akhir bulan. Dengan senang hati Shafa membantu pekerjaan Alam. Mengurus Cafe serta penginapan memang membuat Alam sedikit kewalahan. Ia tak mau mempercayakannya pada orang lain. Takut terulang lagi kejadian masa lampau.
Dimana sang menajer menggelapkan uangnya. Hingga Cafe mengalami kebangkrutan. Alam terpaksa meminjam uang ke rentenir. Tapi ternyata Alam tak bisa mengembalikan hutangnya tepat waktu. Hingga dia hampir mati dihajar oleh anak buah rentenir itu. Tanpa sengaja, Shafa yang sedang melintas melihat kejadian itu. Ia menolong Alam dan membayarkan semua hutang-hutangnya. Shafa juga menambahkan modal untuk Cafe Alam.Dengan bermodalkan tabungan yang ditinggalkan Fachri mereka sepakat membangun penginapan.
Tapi tak lama kemudian, pelayan tadi masuk masuk memberi tahu bahwa orang yang dilayaninya memesan gurame saus mangga. Sedangkan Koki yang biasa memasak menu itu sedang cuti.
Akhirnya Shafa sendiri yang memasak. Dengan cekatan ia menyiapkan bahan-bahan. Membersihkan ikan, menggorengnya. Lalu membuat saus mangga.
Beberapa menit kemudian masakan sudah siap. Shafa memplattingnya dengan cantik. Masakan yang tadinya sederhana, akan tampak istimewa bila ditangan Shafa.
Dulu dia tidak bisa memasak, tapi dengan ketekunannya untuk terus belajar akhirnya Shafa bisa. Ia juga banyak belajar dari koki di Cafe milik Alam.
Gibran terkesiap dengan tampilan makanan dihadapannya. Sungguh berbeda dengan apa yang dibayangkannya.
"Wow... Ini sungguh cantik. Sangat menarik dan menggugah selera."
"Anda benar Tuan. Cantik seperti yang membuatnya," ucap pelayan yang mengantar pesanan Gibran.
"Apa koki kalian seorang perempuan?"
"Tidak Tuan, semua koki disini laki-laki. Tapi yang memasak pesanan Tuan adalah nona Shafa, karena kebetulan salah satu koki sedang libur," ucap pelayan dengan sopan.
"Apa dia bekerja disini?"
"Tidak Tuan tapi dia adalah pemilik saham terbesar di Cafe ini," jawab pelayan itu, yang kemudian undur diri.
Gibran memperhatikan sekeliling, Cafe yang lumayan besar. Disebelahnya pun ada penginapan. Dikelilingi tumbuhan hijau dan pemandangan yang asri. Tak jauh berbeda dengan Cafe miliknya.
Gibran semakin dibuat bingung dengan sosok Shafa. Jika dia memiliki saham di Cafe ini mengapa Shafa memilih bekerja di Cafenya? Bukankah dia bisa mendapatkan penghasilan hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan keringat untuk mendapatkan uang.
Ia juga ragu jika Shafa adalah Clara. Tak mungkin Clara nya bisa memasak. Setahunya dulu, Clara tak pernah memegang alat dapur. Dia gadis manja yang semua sudah disiapkan oleh pembantu. Dan lagi, Shafa adalah sosok pekerja keras. Sedangkan Clara bisa mendapatkan apa pun yang ia mau tanpa bekerja. Lagi pula mana mungkin Clara berada dikota ini. Dia tinggal di Jakarta bersama ayahnya. Ditambah lagi Clara bukanlah gadis berhijab dan anggun seperti Shafa.
Jika Gibran mengingat Clara, ia semakin diselimuti rasa rindu, gadis kecilnya yang manja dan menggemaskan. Terakhir kali mereka bertemu adalah tiga tahun yang lalu saat berada di pusat perbelanjaan. Clara menangis meminta ia dan mamanya untuk pulang. Hatinya sesak jika mengingat kejadian itu.
Dan ketika melihat Shafa, Gibran seolah melihat sosok Clara. Dari segi fisik memang banyak kemiripan diantara mereka. Tapi dari segi sifat, mereka sangat berbeda.
Tak ingin semakin larut dalam gejolak pikirannya, Gibran menyantap makanannya dengan lahap. Rasanya pun seperti tampilannya. Sangat memanjakan lidah dengan sensasi pedas gurih serta rasa asam dari mangga.
.
.
.
.
__ADS_1
Thanks for your attention readers!😊