
"Hallo Bos!" Shafa berganti menyapa Gibran dengan memiringkan kepalanya. Senyum manis ia sunggingkan.
"Aku kakak kamu bukan bos kamu," sungut Gibran, pura-pura memasang wajah masam. Lalu senyuman merekah diwajah tampannya.
Shafa merentangkan kedua tangannya lebar. Agar Gibran memeluknya. Semuanya tersenyum hangat melihat Shafa dan Gibran. Tanpa sadar Steven merangkul pundak Olivia dengan senyum yang mengembang diwajah tampannya. Olivia merasa mendapatkan kehangatan yang sudah lama tak
dirasakannya.
"Daddy sama Mama udah baikan?" tanya Shafa setelah melepas pelukan Gibran.
Olivia terkejut mendengar pertanyaan Shafa. Ia sendiri belum tahu pasti kemana arah hubungannya dengan Steven. Bertahan atau melepaskan. Kembali atau menjauh.
"Daddy terserah Mama kamu aja Fa," ucap Steven santai. Lalu menjauhkan tangannya. Ia menyadari kalau Olivia belum sepenuhnya bisa menerima dirinya.
"Mama mau kan kembali kerumah? Kita kumpul sama-sama lagi seperti dulu," ucap Shafa penuh harap.
Olivia tak tega melihat Shafa yang sangat berharap. Naluri kasih sayang seorang ibu mendominasi jiwanya. Ingin ia menebus kesalahannya pada Shafa. Mungkin dengan kembali ia bisa terbebas dari beban rasa bersalah. "Mama mau pulang kalau kamu juga ikut pulang Shafa," ucap Olivia kemudian.
Steven menatap Olivia dengan binar harapan yang besar. "Jadi kamu mau kembali Oliv? Kamu setuju kita mulai dari awal lagi?"
Olivia mengangguk pelan. Cukup selama tiga minggu belakangan ia meyakinkan hatinya. Tak ada salahnya ia membuka hati dan memulai semua dari awal lagi. Semua juga demi putra putri mereka. Cintanya pada Steven juga masih sama. Dia masih mencintai laki-laki itu. Meski sudah berpisah lama tapi, tak pernah ada perceraian diantara mereka. Status mereka masih suami istri.
"Terima kasih Olivia kamu masih memberiku kesempatan." Steven menggenggam kedua tangan Olivia. Rasa bahagia tak bisa disembunyikannya. Tak sia-sia selama ini ia memegang teguh sebuah kesetiaan. Akhirnya ia mendapat jawaban atas penantiannya selama bertahun-tahun.
"Tapi aku akan pulang kalau Shafa juga ikut pulang Stev," ujar Olivia kemudian.
"Shafa masih harus menyelesaikan skripsi Ma. Mama pulang ya sama Daddy!"
"Tidak Shafa. Mama akan jaga kamu disini sampai kamu selesai kuliah. Kamu harus tinggal dulu sama Mama dan Kakak kamu."
"Tidak bisa Ma. Shafa sudah nyaman tinggal dikontrakan bersama teman-teman Shafa."
"Ok... Ok... Begini saja. Biarkan Shafa tetap tinggal dikontrakannya dan aku rela bolak balik kesini demi kalian," ucap Steven menengahi.
"Good Daddy!" Shafa mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih Pa!" ucap Gibran bahagia. Akhirnya keluarga itu bisa bersatu kembali.
"Papa juga berterimakasih karena kamu sudah menjaga Mama dengan baik!" Steven merangkul bahu Gibran dan Olivia disisi kanan dan kiri.
Mereka bertiga menikmati momen kebersamaan dengan selingan canda tawa dari Shafa. Gadis itu berusaha menampakkan keceriannya, meski dalam lubuk hatinya ada kesedihan yang mendalam. Kesedihan tentang seseorang yang telah lebih dulu meninggalkannya. Andai dia masih ada pasti akan lebih lengkap kebahagiaan yang ia rasakan.
Ketika semua orang pamit keluar karena urusan masing-masing. Shafa meminta Randi menemaninya.
"Rand ponselku mana?"
Lalu Randi membuka laci dan mengambil ponsel Shafa. Saat ponsel sudah menyala ada banyak pesan dari teman-temannya. Puluhan panggilan dari Alam dan juga beberapa pesan dari Mr.A nya. Raut wajah Shafa seketika berubah. Bagaimana ia harus menjelaskan pada teman kontrakannya tentang kepergiannya yang tiba-tiba tanpa ada kabar.
"Non tenang saja. Mas Gibran sudah mengurus semuanya. Yang mereka tahu Non pulang kampung sampai waktu yang tak ditentukan. Pihak kampus juga sudah mengizinkan Non cuti selama sebulan," ujar Randi.
"Syukurlah kalau begitu Rand."
Lalu Shafa menghubungi Alam memberi tahu apa yang menimpa dirinya. Pasti laki-laki itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Biasanya Shafa selalu menyempatkan diri mampir ke Cafe milik Alam.
Tak berselang lama Gibran datang membawa makanan untuk Shafa. Randi memilih untuk menunggu diluar. Memberi ruang agar Shafa bisa dekat kembali dengan kakaknya.
Saat Shafa sedang minum air tiba-tiba Alam masuk dengan hebohnya.
"Hallo bocil, bocah kecilku. What happen with you?" ucap Alam langsung berlari mendekati Shafa.
Shafa yang kebetulan minum tersedak dan menyemburkan minumnya tepat mengenai wajah Alam.
"Busyet dah! Datang-datang langsung dapat sembur. Aku bukan pasiennya mbah dukun kali."
"Tapi kamu kan Alam nya. Cocoklah jadi asistennya mbah dukun. Lagian datang-datang nyapa kayak bule kesasar," ujar Shafa sambil mengelap wajah Alam dengan selimutnya.
__ADS_1
"Bet dah! Ini selimut bau pecing!"
"Enak aja! Kak Alam kira aku bayi yang masih suka ngompol."
"Kali aja!"
"Jangan dikali entar hanyut!"
"Itu sungai Shafa."
Senyum Shafa dengan mudahnya lepas ketika bertemu Alam.
Gibran mengernyit heran melihat interaksi Shafa dan laki-laki itu. Banyak yang ia tak tahu tentang adiknya. Bahkan Shafa lebih akrab dengan orang lain.
"Oh ya Kak Alam ini Kak Gibran."
Kedua pria itu saling berjabat tangan. Kemudian Gibran memilih duduk disofa sambil memainkan ponselnya.
"Man huwa Fa?" tanya Alam pelan.
(siapa dia Fa?)
"Akhi kabir."
"Serius Fa! Pantesan juteknya kayak kesemek dibelah dua sama kamu."
"Kak Gibran asyik kok sebenarnya. Dia memang gitu sama orang yang baru dikenal."
"Ini By the way on the bus way kamu bisa berakhir dirumah sakit karena kalah duel?"
"Bukannya kalah Kak, tapi mereka aja yang curang."
"Makanya anak kecil jangan sok jagoan."
"Aku bukan anak kecil lagi. No more," ucap Shafa penuh penekanan.
Shafa mencebikkan bibirnya sedangkan Alam dengan isengnya menarik ujung depan hijab Shafa. Alhasil, seluruh mukanya tertutup hijab. Suara canda tawa mulai menghiasi ruangan itu. Gibran hanya menjadi penonton disana. Bukan salah Shafa memang, kalau dia lebih nyaman bercanda ria dengan orang lain. Gibran bersyukur selama ini Shafa dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
****
Hari-hari terus berlalu. Kondisi tubuh Shafa sudah semakin membaik. Hubungan Olivia dan Steven juga semakin erat lagi. Mereka terlihat sering datang bersama-sama kerumah sakit. Meski belum tinggal bersama tapi itu merupakan awal yang baik. Steven lebih memilih tinggal dihotel bersama Randi. Mereka bergantian untuk menjaga Shafa.
Setiap pagi Gibran menyempatkan membawa Shafa jalan-jalan ditaman rumah sakit. Ia ingin lebih dekat dengan adiknya.
"Shafa!" panggil Gibran dengan mendorong kursi roda Shafa.
"Ada apa Kak?" Shafa menoleh kebelakang.
"Kamu sudah punya kekasih?"
"Nggak ada Kak," jawab Shafa cepat.
"Kamu tidak bohong?" Gibran berhenti di salah satu kursi taman dan duduk disana.
"Tidak Kak."
"Beneran?"
"Beneran Kakak," jawab Shafa penuh penekanan.
"Lalu siapa Fachri?"
Shafa terperanjat kaget. Dari mana Gibran tahu soal Fachri. Apa ada yang memberitahunya?
Shafa segera menepis rasa gugupnya. "Dari mana Kakak tahu nama itu?"
__ADS_1
"Saat kamu tidak sadar kemarin, kamu menyebut nama itu."
"Mungkin itu hanya ilusi bawah sadar aku aja Kak. Menyebut nama orang sembarangan," ucap Shafa sambil tersenyum. Berharap kakaknya tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Bisa jadi."
Gibran pun kembali mengajak Shafa berkeliling. Ia tahu Shafa pasti berbohong. Nanti dirinya akan mencari tahu sendiri siapa Fachri.
Hari ini Shafa sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Dia meminta Alam mengantarkannya kekontrakan. Agar tidak ada yang curiga. Dia juga bisa beralasan bahwa Alam adalah bos tempat kerjanya yang dulu.
Saat dalam perjalanan pulang, Shafa melihat seseorang yang membagikan makanan pada anak jalanan. Ia meminta Alam menepikan mobil.
Shafa sendiri merasa aneh melihat orang yang berdiri menghadap kerumunan anak jalanan, hingga yang Shafa lihat hanyalah punggung orang itu. Sepertinya ia pernah melihat punggung itu. Tapi dimana? Shafa mencoba menggali ingatannya. Akan tetapi tak didapatkan ingatan itu.
"Kamu teringat Fachri?" tanya Alam. Ia tahu kebiasaan Fachri yang suka berbaur dengan anak jalanan.
"Iya Kak. Aku sangat merindukannya." Air mata Shafa mengalir begitu saja. "Andai dulu aku tidak egois pasti Fachri masih ada sekarang," ucapnya.
"Sudahlah Fa. Kontrak Fachri didunia memang sudah waktunya habis. Jangan menyalahkan diri sendiri! Ikhlaskan hatimu menerima kepergiannya."
Alam pun kembali melajukan mobil agar Shafa tidak fokus pada sesuatu yang mengingatkan dirinya pada Fachri.
Mobil yang ditumpangi mereka berdua berhenti tepat dihalaman rumah kontrakan. Shafa disambut hangat oleh teman-temannya yang kebetulan sedang berkumpul dirumah.
"Siapa yang ngantar kamu Fa?" tanya Silvia. Ia melihat Alam yang masih berdiri disamping mobil.
"Itu Kak Alam. Teman sekaligus bos tempat kerjaku yang dulu." Shafa menatap Alam yang memberi isyarat bahwa dirinya pamit pulang. Ia melambaikan tangan sebelum Alam masuk kemobil.
"Wah ganteng juga ya. Jangan-jangan dia pacar kamu Fa!" tebak Aira.
Shafa duduk disofa bergabung dengan Alza dan yang lain. "Bukan Ra. Hanya sebatas teman saja."
"Kamu pulang kampung kok mendadak banget Fa?" kini Alza yang bertanya.
"Iya Za. Mendadak ada urusan disana."
Kemudian Shafa berpamitan kekamar untuk istirahat. Ia rindu kamar kecilnya. Kamar yang sudah ia tempati selama dua tahun terakhir. Sedangkan Alza, Aira dan Silvia akan berangkat kuliah pagi itu.
Saat merebahkan tubuhnya. Shafa teringat dengan Mr.A pesannya belum sempat ia balas.
Mr.A : Apa kamu sudah benar-benar sehat Ra?
Shafa mengetikkan balasan untuk pesan itu.
Guntur yang masih bersama anak jalanan, meraih ponselnya ketika mendengar notif pesan masuk.
My Ara: Iya. Aku sudah sehat. Ini baru pulang dari rumah sakit.
Mr.A: Ya sudah kamu istirahat. Ingat jaga kesehatan! Makan yang benar, tidur yang benar. Jangan melakukan hal berat dulu!
My Ara: Iya aku ngerti. Bawel amat sih!
Mr.A: 😉 demi kebaikan kamu Ara. Udah dulu ya, aku lagi main sama anak-anak.
Shafa pun membalas iya untuk pesan terakhir yang diterima ponselnya. Rasa nyaman selalu melingkupi hatinya ketika bertukar pesan dengan Mr.A nya. Merasa bosan sendirian dirumah Shafa pun memilih untuk keluar mendatangi tempat favoritnya.
.
.
.
.
Hidup itu tidak boleh sederhana. Hidup itu harus hebat dan kuat. Harus bermanfaat untuk sesama. Yang harusnya sederhana adalah sikap.
__ADS_1
Thanks readers!