Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Mencium kening


__ADS_3

Adakalanya hati ini menjadi lemah tak berdaya


Terkapar dalam kubangan duka tak bertepi


Nestapaku seakan seperti air yang terus mengalir


Hingga hati ini terbiasa untuk merana


Diri ini pun takut untuk bahagia


Ujian, duka, lara hal yang biasa


Biarlah kunikmati detik demi detik waktu


Menjadi rintihan hati untuk kembali pada-Nya


Sekarang aku takut untuk bahagia


Karena bahagia sering pergi tanpa pamit


Dan duka sering datang tanpa permisi


Membuat setiap badai kehidupan


Menjadi sebuah kenikmatan tiada tara


Malam harinya, Shafa sudah bersandar ditempat tidur. Dari tadi siang Guntur melayani segala kebutuhannya. Shafa tak tau harus bahagia atau bagaimana. Dia terlalu takut untuk merasakan kebahagiaan kembali. Takut kalau suatu saat bahagia itu hilang tanpa permisi. Meluluhlantahkan jiwanya untuk yang kedua kali.


"Kamu sudah minum obat Fa?" tanya Guntur yang baru kembali. Tadi dia kebawah untuk menaruh bekas makan Shafa.


Shafa menjawab dengan anggukan.


"Sudah menghubungi temanmu bahwa untuk beberapa hari ini kamu tidak pulang?" Kini Guntur duduk disamping Shafa.


"Sudah."


"Beristirahatlah! Aku akan tidur di kamar Samuel," ucap Guntur. Ia sudah berdiri hendak melangkah.


"Tunggu Guntur!" seru Shafa.


"Maaf! Jika aku hanya memanggil nama padamu. Padahal umur kita berbeda jauh. Aku tak tahu harus memanggilmu bagaimana," lanjutnya.


Guntur pun kembali duduk sambil mengulas senyuman. "Panggil saja sesukamu. Aku tak keberatan," ujarnya. Menatap istrinya dengan penuh kelembutan. "Apa aku terlihat tua? Umurku juga hanya lebih muda satu tahun dari Fachri."


"Ya aku tahu. Meski dulu umurku dan Fachri terpaut sepuluh tahun aku hanya memanggilnya dengan sebutan nama." Shafa berucap dengan terkekeh kecil. Mengingat kekonyolannya dulu memanggil suaminya hanya dengan sebutan nama. "Aku sungguh istri tak tahu diri bukan!"


"Tapi Fachri tak pernah keberatan bukan. Mungkin hal itu agar semua orang mengira kalian seumuran. Kamu kan sudah terlihat dewasa sejak SMA."


"Maksudnya wajahku yang boros gitu!" sungut Shafa.


"Hahaha... Wajah kamu itu manis imut-imut Fa," ucap Guntur yang tanpa sadar mencubit kedua pipi Shafa dengan gemas.


Seketika Shafa jadi salah tingkah. Guntur menyentuhnya tanpa canggung.


"Kalau kamu belum bisa anggap aku sebagai suami. Kita awali hubungan ini dengan sebuah persahabatan. Anggap aku sebagai sahabatmu," ucap Guntur kemudian.


Shafa menyetujui usulan Guntur. Menjalin hubungan atas nama sahabat mungkin lebih baik. Perlahan tapi pasti hubungan akan terjalin semakin kuat. Hanya saja butuh waktu untuk memeperkuat hubungan itu.


"Kalau begitu mulai sekarang jangan pernah sungkan kepadaku. Kalau ada apa-apa katakan."


"Terima kasih Guntur!"


"Sama-sama. Terima kasih juga sudah tersenyum untuk hari ini."


"Itu semua karena kamu dan Samuel."


"Kita berisik banget ya!"

__ADS_1


"Berisik tapi asyik."


Guntur dan Shafa pun saling mengulas senyum. Kebekuan antara mereka perlahan mulai terkikis. Meskipun hubungan mereka diawali dengan persahabatan tapi itu adalah permulaan yang baik.


"Oh ya, kamu bersedia menepati kesepakatan yang aku buat, tapi kamu belum mengatakan permintaanmu padaku."


Guntur menatap Shafa sebentar. Kemudian ia mulai memajukan tubuhnya, dekat dan semakin dekat. Shafa sendiri kebingungan. Perasaannya mulai was-was. Apa gerangan yang akan diminta oleh Guntur?


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Shafa gugup.


Cup...


Satu kecupan hangat mendarat di kening Shafa. Membuat gadis itu diam karena terkejut.


"Itu lah permintaanku. Izinkan aku melakukannya setiap hari."


Shafa masih diam membeku. Ia tak mengerti kenapa Guntur malah meminta hal seperti itu. Dia kira Guntur akan meminta haknya. Tapi juga tidak mungkin, karena pria dihadapannya sudah menyetujui kesepakatan yang ia buat.


"Bukankah mencium kening juga hal yang biasa dilakukan oleh seorang sahabat," ucap Guntur lagi karena melihat Shafa terdiam.


"Hah...." Shafa semakin tak mengerti. Sejak kapan ada sahabat yang melakukan cium kening. Rasanya hal itu baru ia dengar.


"Jangan bengong begitu! Kamu istirahatlah. Aku akan ke kamar Samuel." Guntur pun beranjak dari duduknya keluar dari kamar. Sekilas ia menatap Shafa sebelum menutup pintu.


Setelah kepergian Guntur, Shafa merebahkan tubuhnya sambil memegang kening yang tadi di cium oleh lelaki yang berstatus sebagai suaminya.


Dia tersenyum sendiri mengingat kelakuan Guntur. Shafa pun memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyerang.


Di kamar Samuel


"Kebiasaan lo ya, kalau ada Shafa, lo memonopoli kasur gue," gerutu Samuel saat kakaknya sudah berbaring di tempat tidurnya.


"Hanya selama Shafa di rumah ini Sam, aku numpang tidur disini."


"Kenapa lagi emangnya? Durennya belum juga mateng."


"Lo kira si Malika yang masih butuh di proses."


"Jangan ngoceh melulu aku mau tidur!" Guntur menarik selimut menutupi tubuhnya.


Samuel yang tadi duduk dikursi belajarnya ikut naik ke tempat tidurnya.


"Cayank..." panggil Samuel dengan suara menggoda. "Sini Abang peluk cayank. Kamu kedinginan kan?" Samuel semakin menjadi dengan memeluk erat Guntur.


Dari balik selimut Guntur meronta hendak melepaskan diri dari dekapan Samuel.


"Lepasin Sam! Jangan ngaco!"


Samuel pun semakin erat memeluk Guntur. Kakinya mengunci kaki Guntur, hingga kakaknya itu tak bisa bergerak bebas. Lalu di sibaknya selimut yang menutupi kepala Guntur.


"Jangan galak-galak dong cayank! Sini abang cium." Samuel memonyongkan bibirnya hendak mencium.


Sekuat tenaga Guntur menahan kepala Samuel dengan tangannya. "Sejak kapan kamu jadi gila Sam?"


"Sejak kamu masuk ke kamar Abang. Ayo sini Abang kasih ciuman hangat."


Guntur merasa semakin ngeri dengan kelakuan Samuel. Dia berusaha melepaskan diri.


"Dasar gila!" umpat Guntur setelah dapat melapaskan diri. Dia pun keluar dari kamar adiknya.


Samuel tertawa puas telah berhasil mengusir kakaknya. Meski dia harus melakukan drama gila.


"Aku harus tidur di mana sekarang? Masa iya tidur di kamar tamu. Bisa-bisa bik Minah ngadu sama mama papa kalau ketahuan." Guntur bergumam sendiri di depan kamarnya.


Perlahan ia membuka pintu kamarnya sendiri. Ia berjalan mendekati ranjang. Tampak Shafa sudah terlelap dengan wajah damai. Untuk beberapa saat Guntur memandangi wajah bidadari hatinya.


Aku mencintaimu My Ara.

__ADS_1


Satu kecupan ia berikan lagi di kening Shafa. Hanya itu yang berani ia lakukan. Sebuah permintaan yang ia ajukan beberapa saat yang lalu.


Dengan mencium keningmu...


Aku ingin menyampaikan isyarat janji yang tak terucap


Inginku menjelaskan padamu


Bahwa aku sangat menghormati dan menghargaimu


sebagai pendamping hidupku


Dengan mencium keningmu...


Aku ingin mengisyaratkan sebuah rasa tak ingin kehilangan


Betapa dirimu sangat berarti bagiku


Tak pernah ingin aku melepasmu


Kaulah bidadari yang selalu kurindukan


Dengan mencium keningmu...


Aku ingin mengisyaratkan bahwa cintaku bukan hanya sekedar nafsu belaka


Ingin aku beri tahu padamu bahwa dengan itu


Aku menjunjung tinggi derajatmu sebagai pendampingku


Ada rasa ingin selalu melindungi


Aku ingin memberikan tempat ternyaman untukmu


Dengan mencium keningmu...


Inginku ungkapkan bahwa cintaku adalah cinta tanpa pamrih


Inginku berikan kemurnian cinta padamu


Aku mencintaimu tanpa syarat


Dengan mencium keningmu...


Aku ingin mengisyaratkan sebuah tanggung jawab


Sebuah tanggung jawab secara lahiriyah dan bathiniyah


Melindungimu dari segala rasa duka dan gelisah


Setelah puas memandangi wajah manis istrinya, Guntur melangkahkan kakinya keluar lagi. Dia menuruni anak tangga dengan hati-hati. Kemudian menuju kamar tamu. Guntur pun tidur disana.


.


.


.


.


Sampai disini dulu ya!


Belum bisa ngetik banyak aku nya. Masalahku lagi overload.😅


Pusing pala oneng jadinya.😂


Tapi harus tetep enjoy dong ya! Wkwkwkwk...

__ADS_1


__ADS_2