
Di kamar Shafa sibuk dengan laptopnya. Ia mengirim foto-foto misterius yang ia dapat tadi pada ayahnya. Sebelumnya Shafa juga sudah melihat rekaman cctv. Ada pria asing dengan wajah dan kepala tertutup rapat yang diam-diam masuk ke kamarnya. Entah bagaimana pria itu bisa membuka pintu kamarnya, kemudian melempar sesuatu ke dalam.
Tak berselang lama, Steven menghubungi Shafa. Menyuruh putrinya itu kembali ke Jakarta jika ingin tahu yang sebenarnya. Shafa juga bilang akan pulang bersama Guntur.
"Besok kita akan ke Jakarta. Daddy sudah memesankan tiket penerbangan jam tiga pagi. Randi juga tidak jadi datang karena cuaca belum stabil," ujar Shafa dengan menghampiri Guntur yang duduk diranjang.
"Baiklah. Aku ikut saja Fa."
"Mas, pinjam cincinnya sebentar jam tangan juga," pinta Shafa.
"Buat apa Fa?" tanya Guntur heran. Apa istrinya itu berniat merampas barang yang ia pakai?
"Kalau kamu butuh uang, aku masih ada cash Fa. Jangan jual cincin pernikahan kita!" ucap Guntur kemudian dengan nada khawatir.
Shafa jadi tertawa mendengar ucapan suaminya. Ia berjalan meraih tasnya yang ada dipojok ruangan. Lalu mengeluarkan peralatannya.
"Kamu pikir aku tidak punya uang Mas. Uangku juga banyak kali. Apa lagi uang di tabungan Fachri juga masih ratusan juta. Sini tangan kamu." Shafa pun meraih tangan Guntur melepas cincin dan jam tangan yang melekat disana.
"Kamu masih belum bisa melupakan Fachri ya Fa?" tanya Guntur hati-hati. Ia hanya ingin memancing reaksi Shafa.
Shafa menatap lekat wajah suaminya. "Coba saja jika kamu berada di posisi ku sekarang. Apakah kamu bisa melupakan seseorang yang sudah membuat dirimu hidup lagi setelah hidupmu hancur? Dia memberikan begitu banyak cinta dan ketulusan. Memberikan banyak kenangan manis dan juga pelajaran yang belum tentu bisa di dapat dari orang lain. Fachri adalah segalanya bagiku Mas. Dia terlalu indah untuk di lupakan." Shafa kembali meneteskan air mata. Ia memang tak sanggup jika harus berbicara tentang Fachri. Jiwanya menjadi rapuh mengingat sosok Fachri yang sangat ia cintai. Takdir begitu kejam telah merenggut pria itu dari sisinya.
"Maaf kan aku Fa!" Guntur jadi merasa bersalah telah membuat Shafa mengingat masa lalunya.
"Kamu tidak salah Mas. Aku yang salah belum bisa melupakan dia. Padahal aku sudah punya kamu sekarang." Shafa berusaha menyeka air matanya. Tapi malah air mata itu semakin deras.
"Aku benci air mata ini. Mengapa harus ada air mata?" ucap Shafa lagi sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Guntur berusaha memegang kedua tangan Shafa agar tidak sampai melukai wajahnya. "Aku benci air mata ini Mas Guntur. Air mata ini membuatku lemah. Aku tidak ingin jadi wanita lemah." Tangis Shafa semakin pecah. Ia mulai hilang kendali.
Guntur segera membawa Shafa dalam rengkuhannya. Meski Shafa memberontak, Guntur tetap memeluk erat Shafa.
"Aku benci tangisan ini. Mengapa aku selemah ini. Fachri melarangku untuk menangis. Tapi aku tak bisa." suara Shafa terdengar lagi disela isak tangisnya dalam dekapan Guntur.
"Menangislah Shafa! Jangan tahan emosi kamu. Keluarkan semua beban hati kamu. Ada aku disini yang akan selalu ada untuk kamu. Menangislah sepuasmu Shafa!" Guntur mengusap lembut kepala istrinya yang masih berbalut hijab.
"Mengapa wanita harus diciptakan bersama air mata? Tidakkah wanita bisa setegar lelaki yang tidak mudah menangis. Aku ingin jadi wanita tangguh. Bukan wanita lemah seperti ini yang penuh dengan air mata," ucap Shafa masih terisak.
Guntur meregangkan pelukannya. Memegang kedua bahu Shafa sambil menatap wajah Shafa.
"Lihat aku Fa! Wanita mempunyai air mata bukan berarti dia lemah. Wanita menangis karena hatinya sangat lembut. Mereka lebih banyak menggunakan perasaan dalam menyikapi suasana di sekitarnya. Kamu itu wanita yang kuat Fa. Yakin pada diri kamu sendiri."
Shafa kembali membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Guntur. Menumpahkan lagi air matanya yang seakan tak mau mengering.
"Terkadang kita memang sulit untuk mengutarakan sesuatu. Karena itu Tuhan menciptakan rintihan dan air mata untuk mewakili ungkapan perasaan seseorang. Jadi jangan merasa lemah dengan adanya air mata. Justru kamu akan menjadi lebih kuat setelahnya," ucap Guntur. Dia masih membelai lembut kepala Shafa. Andai bisa ingin sekali Guntur bilang bahwa dirinya sangat mencintai Shafa. Ia ingin menggantikan posisi Fachri dalam hati Shafa.
Setelah beberapa saat, Shafa mulai merasa tenang. Ia merasa ada kedamaian yang ia temukan dalam diri Guntur. Ia nyaman berada dalam pelukan laki-laki itu. Shafa tak lagi bisa menepis perasaan baru yang mulai bersemi.
__ADS_1
"Aku cuci muka dulu Mas." Shafa melepas pelukannya. Mengambil baju tidur dan bergegas kekamar mandi.
Shafa keluar dari kamar mandi tanpa hijab dengan piyama lengan panjang. Rambutnya tergerai indah. Sekarang ia tak begitu menjaga jarak dari Guntur.
Tapi hal itu justru menjadi siksaan bagi Guntur. Ia harus bisa menahan diri melihat bidadarinya yang begitu memikat. Walau bagaimanapun, Guntur juga manusia biasa. Dia pria normal yang mempunyai hasrat.
Shafa kembali ke tempat tidur sambil mengotak atik barang suaminya tadi.
"Mau kamu apain Fa cincin itu?" Guntur penasaran dengan apa yang di lakukan Shafa.
"Aku akan memasang GPS di cincin dan juga jam tangan kamu. Jadi usahakan salah satu benda ini tetap ada pada tubuh Mas Guntur. Jika sesuatu buruk terjadi masih bisa terlacak keberadaan kamu Mas. Cincinku juga sudah aku pasangi."
Guntur hanya ber "Oh" saja. Lalu memperhatikan setiap gerakan istrinya yang dengan hati-hati memasang benda mikro itu.
Guntur senyum-senyum sendiri menatap istrinya. Hingga Shafa menyelesaikan pekerjaannya.
"Kenapa sih Mas?"
"Mata panda berpindah tempat ke mata kamu Fa," ucap Guntur sambil tertawa.
Shafa mengambil kaca bedak dari dalam tasnya. "Tuch kan.... Kalau habis nangis pasti gini. Jadi bengkak," gerutu Shafa.
"Sini dech aku pijitin mata kamu Fa." Guntur mengambil posisi tepat dihadapan istrinya. Dia memijit lembut pelipis dan juga area mata pada wajah cantik Shafa.
"Nah... gimana? Agak seger kan mata kamu?" tanya Gùntur setelah selesai.
"Besok pasti hilang bengkaknya."
Belum sempat Guntur melanjutkan ucapannya. Ada panggilan masuk dari Samuel.
"Ya Hallo Sam! Ada apa?"
"Lo dimana Kak? Di kantor gue cari nggak ada. Kata orang-orang lo pergi sama cewek."
"Iya, aku perginya sama Shafa, Sam."
"Sekarang lo dimana sama Shafa?"
"Ini lagi di penginapan milik temannya."
"Ngapain lo berdua disana?"
"Honeymoon lah," jawab Guntur asal. Shafa yang sedang merapikan peralatannya mendadak melotot pada Guntur. Padahal mereka kan sedang menyembunyikan diri dari para penjahat.
"Gaya lo honeymoon. Cih, kagak percaya gue. Kemarin aja kalian diem-dieman. Lagian tuh ya. Kalau honeymoon, harusnya ke tempat romantis. Ini malah kepenginapan."
"Kalau nggak percaya ya udah. Bilangin sama mama papa, aku tidak pulang malam ini dan juga besok aku sama Shafa terbang ke Jakarta."
__ADS_1
"Gue ikut dong Kak!"
"Kalau mau ikut sekarang kesini. Kita berangkat jam 3 pagi."
"Berangkat di sepertiga malam, emang mau nikung siapa sih Kak. Nggak bisa jam 8 gitu."
"Kalau nggak bisa, nggak usah ikut. Udah dulu Sam." Guntur memutus panggilan.
Lalu beralih pada Shafa. "Samuel pengen ikut, gimana Fa?"
"Tidak apa-apa Mas. Nanti aku pesankan lagi tiketnya," jawab Shafa santai. Lalu ia meraih ponselnya dan memesan tiket untuk Samuel.
"Ok!" Guntur pun turun dari ranjang sambil membawa ponselnya menuju pintu keluar.
"Mas Guntur mau kemana?"
Guntur berbalik. "Mau nyari kamar lain. Nggak mungkin kan aku tidur disini."
"Siapa yang bilang tidak mungkin. Tidurlah disini." Shafa menepuk tempat disebelahnya. "Lagi pula kamar lain juga penuh. Cuaca buruk membuat banyak orang lebih memilih tempat untuk singgah sementara."
Guntur berjalan mendekat. "Apa itu artinya dirimu sudah berdamai dengan keadaan?"
"Tak ada salahnya berdamai dengan keadaan. Berlarut dalam kubangan kenangan yang tak mungkin kembali terulang juga tak ada gunanya bukan," ucap Shafa dengan senyum yang mengembang.
"Kalau begitu, biarkan aku mengeluarkanmu dari kenangan itu. Akan ku bantu dirimu mengukir kenangan baru. Bukalah hatimu untuk menerima sesuatu yang baru." Guntur berjalan ketempat tidur dan merebahkan dirinya disana. Ponselnya juga ia letakkan di meja nakas.
Shafa masih mencerna ucapan Guntur. Apakah dia bisa keluar dari kenangan yang terlampau dalam menguasai dirinya?
"Kenapa kamu bersikeras tetap berada disampingku?" tanya Shafa tanpa menatap Guntur.
Laki-laki itu bangun lagi. Lalu memutar tubuh Shafa menghadap dirinya. "Kamu ingin tahu alasanku?" Satu kecupan dalam mendarat di kening Shafa. "Karena kamu adalah istriku. Wanita yang sudah dipilihkan takdir untuk aku jaga dengan sepenuh hati."
Shafa tercengang dengan perlakuan Guntur. Jantungnya berdetak tak beraturan.
"Tidurlah!" seru Guntur singkat. Ia pun berbaring memunggungi Shafa.
Shafa sendiri masih berkelut dengan perubahan perasaan yang tak pernah ia duga. Perlahan ia menarik selimut. Dia juga menyelimuti tubuh suaminya. Dalam hati ia bertanya. Apakah suaminya ini mencintai dirinya? Banyak dari kata-kata Guntur yang mengisyaratkan hal itu, meskipun dengan nada bercanda.
Shafa terus menatap punggung kokoh dihadapannya. Selama sebulan menikah baru hari ini mereka berinteraksi sangat dekat. Menghabiskan setiap jam dalam kebersamaan dan tidur dalam satu ranjang. Untuk pertama kalinya juga ia menangis dalam dekapan Guntur yang mampu memberikan ketenangan tersendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi di part selanjutnya!