
Pukul dua pagi, Shafa dan Guntur bersiap-siap. Jadwal pesawat di undur menjadi pukul empat pagi. Kemudian terdengar suara ketukan pintu. Ada rasa was-was diantara mereka berdua. Kedua mata mereka saling pandang mengisyaratkan kewaspadaan.
Suara ketukan pintu terdengar lagi semakin keras dan beruntun. Seakan orang yang mengetuk pintu tak sabar menunggu. Guntur berjalan hendak membuka pintu, tapi Shafa mencegahnya.
"Biar aku saja yang buka," ujar Shafa yang kemudian berjalan kepintu dan memutar kunci. Membuka pintu dengan penuh waspada. Tubuhnya sudah bersiaga jika terjadi serangan mendadak. Guntur juga bersiaga dibelakang istrinya itu.
"Hai...!" Sapaan itu terdengar sedikit menjengkelkan bagi dua manusia yang dari tadi dihampiri rasa tegang.
Shafa menghela nafas lega. Sedang Guntur langsung menarik adik sepupunya yang masih cengengesan masuk kedalam.
"Dasar bocah tengil! Apa tidak bisa telepon dulu sebelum datang?" omel Guntur sambil memiting kepala adik sepupunya.
"Eh, gue udah telepon Kakak berkali-kali sampai perang Bharatayudha." Samuel meronta dalam pitingan Guntur. Lebay nya mulai kambuh.
Guntur melepas adiknya sambil nyengir. "Maaf lupa! Ponsel aku silent."
"Makanya jangan berburuk sangka dulu."
"Bukan berburuk sangka tapi waspada Sam."
"Mas Guntur udah, jangan berantem sama si Sam!" seru Shafa.
"Tadi kamu manggil apa Fa? Mas Guntur? Ahhh... Abang mau pingsan dulu Dek." Dengan santainya Samuel merebahkan dirinya diatas kasur. Padahal yang di panggil "Mas" udah biasa aja.
Shafa dan Guntur kembali merapikan barang-barang.
"Kamu nggak ada inisiatif bawain aku baju ganti Sam?"
Samuel membuka matanya. "Kakak nggak ngomong."
"Jadi saudara inisiatif dikit dong!"
"Yeee... malah nyalahin gue. Siapa suruh nginep diluar tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba mau ke Jakarta aja tanpa pulang dulu. Itu Kakak juga udah ada baju ganti." Samuel merubah posisinya menjadi duduk bersama tas ransel yang ia bawa dipunggungnya.
"Ini baju punya Alam. Shafa tadi malam minjem."
"Yang penting pakai baju lah. Ntar bisa beli lagi. Uang Kakak kan banyak. Dimanfaatin hasil buah keringat. Gue juga sekalian di belanjain, dengan lapang dada tidak akan menolak."
"Itu kamu maunya gratisan mulu."
__ADS_1
"Kamu datang kesini jam berapa Sam?" kini Shafa yang buka suara.
"Dari tadi malam sih Fa. Habis telepon Kak Guntur langsung on the way. Sampai sini udah pada tidur."
"Terus kamu tidur dimana?"
"Tidur di kamarnya kak Alam. Dia baik banget ya Fa."
"Kak Alam memang ramah, nggak beda jauh sama karakter kalian berdua yang berisik."
"Berisik yang penting asyik. Nggak ada kita nggak bakal rame nih bumi cinta kita."
"Ya... ya... gara-gara kalian hariku semakin banyak rasa kayak sup buah." Shafa duduk di ranjang sambil menghadap Samuel dan Guntur.
"Kok sup buah sih, biasanya kan permen nano-nano yang banyak rasa?"
"Permen nano-nano udah nggak begitu ngehits sekarang, Sam." Guntur yang kini menyahuti.
"Tapi masih ada tuh di mini market. Berjejer di depan mbak-mbak kasir, nunggu buat dihalalin."
"Jiaaahhh....Kamu mau ngehalalin mbaknya apa permennya?"
"Udah yuk berangkat! Ini malah ngobrol nggak jelas. Untung ya kamar ini kedap suara. Jadi nggak bakal ganggu tetangga."
"Keren ya kak Alam desain penginapan kedap suara. Bahaya kalau ada pasangan mesum lagi ena-ena kagak bakal ketahuan."
"Dasar bocah! Pikiran kamu sudah terkontaminasi sama virus mesum kayaknya." Guntur melempar bantal kearah Samuel.
"Pikiran gue masih aman. Belum separah temen-temen gue ya Kak," gerutu Samuel.
"Peraturan disini ketat Sam, yang masuk harus menunjukkan identitas diri lengkap. Pasangan bukan suami istri dilarang satu kamar. Kecuali kalau saudara dan nunjukin kartu keluarga. Setiap lorong juga ada kamera pengawas," terang Shafa.
"Et dah.... Ribet amat nih penginapan!" seru Samuel. Heran dengan pengaturan yang ketat di penginapan yang tampak sederhana itu.
"Semua demi keamanan dan kesejahteraan bersama bapak Samuel Adhitama." Ucapan Shafa terdengar formal. Membuat geli yang mendengar hingga Guntur terkekeh.
"Udah pantes Fa loe jadi bu RT kompleks," ucap Samuel.
Shafa dan Guntur pun segera keluar tanpa menunggu Samuel. Membuat pemuda itu mencebik kesal. Lalu segera keluar mengejar pasangan suami istri yang belum sempurna menurut dirinya. Pasangan yang masih belum sepenuhnya menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya. Samuel juga heran dengan pemikiran dua orang itu. Satunya terjebak masa lalu dan satunya lagi bucin sebucin-bucinnya. Tapi tak juga jujur tentang perasaan yang selama ini di pendam. Ingin rasanya Samuel ngelelepin kepala mereka berdua kedalam samudera, biar otak mereka berdua fresh lagi. Kalau perlu mereka berdua harus bertapa di puncak gunung Sleman biar dapat wangsit. Supaya mereka saling menyadari perasaan satu sama lain.
__ADS_1
Sampainya diparkiran, Samuel di beri tugas menyetir mobil menuju bandara.
"Awas kalau kalian berdua dibelakang pamer adegan ena-ena!" Ancaman yang Samuel ucapkan tak membuat orang yang diancam takut.
"Nyetir... nyetir aja. Jangan banyak komen!" seru Guntur.
Samuel menghadapkan kepalanya kebelakang sambil melayangkan suara protes. "Bisa nggak, lo aja yang nyetir Kak. Sumpah, gue masih ngantuk banget. Nggak biasa bangun sepertiga malam."
Shafa hanya bisa mendengus kecil mendengar ocehan sahabatnya itu. Meski sudah jadi mahasiswa semester akhir. Tapi Samuel tetep seperti dulu waktu SMA.
"Mantan pembalap masak kalah sama ngantuk. Udah cepetan gas, kita harus kejar waktu." Suara perintah dari sang kakak sudah menggema.
"Ya... ya...!" seru Samuel pasrah sambil menghadap lagi kedepan.
Sedangkan Shafa mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Membuka bungkusnya dan bergeser mendekat kearah pria dismpingnya. Sesaat, Guntur merasa senang Shafa mau menempel padanya. Tapi ternyata ia salah.
"Sam, hadap sini bentar!" seru Shafa. Samuel menengok lagi kebelakang. "Buka mulut!" serunya lagi agak keras. Membuat Samuel tergelak dan reflek mulutnya terbuka sedikit. Shafa langsung menyuapkan permen pada Samuel.
"Buat obat ngantuk. Hehe...." Shafa kembali menggeser tubuhnya. Menyisakan jarak lagi antara dirinya dan Guntur.
"Obat ngantuk ya tidur Fa. Bukan malah dikasih permen. Emang aku anak TK," gerutu Samuel sambil mulai menjalankan mobil keluar dari parkiran.
Guntur sendiri menjadi terdiam melihat Shafa dan Samuel yang semakin akrab. Maklum saja sih, mereka sudah bersahabat sudah lama. Tapi rasa tak nyaman tetap saja menghampiri bagian terkecil dari hati Guntur.
"Ini permen kenapa jadi pedes gini ya?" Samuel menyesap permen yang tadi disuapkan Shafa. Semakin lama rasanya semakin pedas.
"Namanya juga permen jahe, biar melek mata kamu Sam."
"Melek sih melek Neng. Tapi ampun rasanya pedes banget." Samuel masih saja protes dengan permen jahe yang terasa pedas itu.
Samuel fokus menyetir sambil sesekali menggoda kakak sepupunya tentang honeymoon tadi malam. Padahal itu hanya alasan yang Guntur buat.
Suasana jalanan tak begitu ramai, belum banyak mobil yang melintas karena memang masih dini hari. Tiba-tiba saja dari sebuah gang muncul mobil yang memotong jalan. Reflek, Samuel menginjak rem mendadak karena terkejut.
"Tuch mobil bosan hidup kali ya!" gerutu Samuel.
"Yang ada orangnya Sam yang bosan hidup, bukan mobilnya," sahut Shafa sambil mengusap keningnya yang terbentur.
Lalu dari mobil yang menghadang jalan mereka keluar orang-orang yang berpakaian serba hitam.
__ADS_1