
"Ayo kita makan! Perutku lapar," ajak Shafa.
"Ayo!"
Guntur mengambil kantong makanan mereka berdua. Shafa meminta izin untuk membuka hijabnya, karena hanya ada mereka berdua diruangan itu. Guntur pun memberi izin. Kini keduanya duduk disofa agar nyaman saat makan. Shafa sendiri sangat antusias dengan makanannya. Mereka makan dengan lahap.
"Jangan banyak-banyak minum esnya Fa. Kamu baru saja bangun tidur selama tiga hari." Guntur memperingatkan tapi seperti mengajak bercanda.
"Selama itu ya aku tidak sadar? Perasaan baru sejam." Shafa masih lanjut meminum esnya.
"Kamu yang nggak nyadar, kita nungguin harap-harap cemas."
Shafa hanya diam saja tak menyahuti. Dia hanya menyibukkan diri menyesap jus jeruknya. Guntur merasa ada perubahan dari raut wajah istrinya.
Guntur merebut gelas cup yang dipegang Shafa. "Cukup Shafa! Ada apa denganmu?"
"Aku bingung dengan diriku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku harus bersikap? Kenyataan hidupku terlalu rumit untuk aku mengerti. Aku merasa sendiri tapi tak sendiri. Aku merasa hampa tapi disisi lain ada kebahagiaan yang aku rasakan. Aku merasa mencintai tapi bukan untuk dia yang seharusnya aku cintai." Shafa berucap dengan wajah sendu. Tatapan matanya seakan kosong. Perasaan yang ia rasakan belum sepenuhnya dapat dipahami.
Guntur meraih tangan Shafa untuk ia genggam. "Itu semua karena memang kamu tidak sendiri Shafa. Ada aku disisimu. Kita adalah dua jiwa yang disatukan dalam ikatan suci. Kita adalah partner hidup. Jadi, jangan pernah merasa sendiri."
"Maafkan aku Mas! Aku belum bisa menjadi istri yang baik."
"Suatu saat pasti kamu bisa menjadi istri yang baik. Bukankah semua harus berproses terlebih dahulu."
"Kalau begitu bisakah Mas Guntur melupakan kesepakatan yang pernah aku buat?" Shafa memberanikan diri menatap langsung wajah suaminya.
"Bukankah kita memang sudah melupakan kesepakatan itu. Kita sudah sering melakukan kontak fisik. Bukankah kita juga sudah tidur satu ranjang kemarin," ucap Guntur dengan senyum yanģ terukir diwajàhnya.
Shafa membalas gengaman tangan Guntur. "Mulai sekarang kita buka lembaran baru. Aku ingin membuat kisah baru dengan Mas Guntur."
"Kita mulai secara perlahan. Saling menggenggam untuk menguatkan. Saling berbagi untuk melepas beban hati. Melangkah bersama untuk masa yang lebih baik. Kau adalah penopang asaku dan aku adalah penopang asamu."
Shafa memeluk Guntur, lagi-lagi ia merasakan kenyamanan disana. Hingga matanya terpejam beberapa saat untuk menikmati apa yang ia rasakan.
Mereka berdua pun sepakat berbagi ranjang. Kini Shafa berbaring berbantal lengan Guntur. Jarak antara mereka terkikis secara perlahan. Jiwa Shafa sudah menemukan tempat ternyaman.
"Apa tubuh Mas Guntur masih sakit?" tanya Shafa sambil memainkan kancing baju pasien yang Guntur kenakan.
"Sudah tidak. Apa lagi sekarang aku bahagia karena istriku telah membuka hatinya." Guntur mengusap lembut rambut Shafa.
"Tapi aku belum sepenuhnya yakin dengan perasaanku Mas."
"Tidak apa Shafa, yang penting kau sudah membuka hatimu. Sekarang tidurlah!" Guntur mendekap tubuh istrinya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Shafa pun mendongakkan kepalanya sedikit. Menatap lekat wajah Guntur yang tampak dewasa dan meneduhkan.
Aku masih bingung dengan perasaanku padamu. Sekarang aku merasa sangat nyaman berada disampingmu, tapi disisi lain aku juga merasakan hal yang sama dengan Mr.A. Apa yang harus aku lakukan saat rasa ini telah terbagi? Aku benar-benar bingung dengan semua ini. Mr.A yang aku tahu sebagai sahabatku juga sudah punya hati yang ia cintai. Akan tetapi, entah kenapa hatiku ingin berkhianat. Seserakah itukah perasaan ini?
Shafa membenamkan wajahnya didada Guntur sambil beristighfar sampai ia terlelap. Sebuah kenyataan yang belum ia tahu, bahwa Guntur adalah Mr. A nya. Tidak heran jika ia merasakan hal yang sama ketika bersama pria yang kini menjadi suaminya.
Guntur yang dari tadi pura-pura tidur, membuka mata saat merasakan hembusan nafas Shafa sudah teratur. Perlahan Guntur menarik tangannya yang terasa pegal. Kondisi badannya belum sepenuhnya pulih. Masih ada sedikit nyeri yang ia rasakan.
Dipandangnya wajah Shafa yang masih tampak pucat. Gadis cantik yang telah membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski sempat terabaikan tapi ternyata hatinya tetap teguh pada apa yang diyakininya. Bahkan membuat hatinya memilih untuk mempertahankan cinta itu sampai detik ini.
Kau mengajariku tentang arti sebuah penantian
Bertahan dalam kepastian yang belum tentu pasti
Bersabar menunggu dimana saat sebuah keajaiban akan datang memberi harapan
Meski kadang ku berpikir kau terlalu jauh untuk kugapai
Seperti awan dilangit yang dapat aku sentuh
Namun ada seberkas cahaya keyakinan mematahkan ranting keraguanku
Ada sebuah rasa yang menahan agar cinta itu tetap ada
Malah semakin berkobar seperti bara api
Membumi hanguskan segala keraguan
Aku tak berharap banyak pada cintaku
Tapi cinta memang tak pernah tersesat
Ia tahu kemana arah singgasana penantiannya terbangun
Dan singgasana penantian cintaku ada pada dirimu
*****
Dalam kesunyian malam, tiba-tiba saja Guntur dikejutkan dengan teriakan Shafa. Gadis itu berteriak histeris dan ketakutan. Kejadian kebakaran dan kecelakaan kedua orang tuanya, ternyata mulai menghantui jiwanya. Kejadian tragis itu tentu saja tak akan lenyap begitu saja. Meskipun Shafa sudah berusaha berlapang dada menerima kenyataan.
"Kakak.... Daddy.... Mami...!" gumam Shafa dengan mata merah. Guntur sebisa mungkin menenangkannya.
"Tenang Shafa! Ini minun dulu," ucap Guntur setelah mengambil gelas minum.
__ADS_1
Satu gelas air sudah masuk, ia memeluk kedua lututnya sambil terus menangis. Guntur mengusap pelan punggung istrinya.
"Menangislah jika itu membuat hatimu lega."
Guntur menunggu sampai Shafa puas menumpahkan air matanya. Ia sendiri tak tahu harus bagaimana lagi. Seperti inikah rasanya menemani Shafa dalam menjalani permainan takdir? Ia jadi tahu bagaimana perjuangan Fachri untuk menguatkan Shafa dari keterpurukan. Ternyata hal itu tak semudah yang ia bayangkan. Pantas saja Shafa begitu sulit melupakan mendiang suaminya itu. Dirinya pun banyak mendapat pelajaran baru saat bersama Fachri. Guntur jadi teringat nasehat yang pernah diberikan laki-laki itu.
Kemudian ia mengajak Shafa mengambil air wudlu. Setelahnya, Guntur mengambil perlengkapan Sholat dari laci.
Sebelumnya, Guntur memang meminta mamanya untuk menyiapkan mukena jika sewaktu-waktu Shafa membutuhkannya.
Mereka pun melakukan Sholat isya terlebih dahulu, karena tadi mereka terlena dengan perasaan masing-masing hingga melewatkannya. Kemudian, Guntur mengajak melakukan sholat sunnah malam.
Kini emosi Shafa kembali terkontrol, ia merebahkan tubuhnya dan meminjam pangkuan Guntur untuk dijadikan bantal.
"Kamu tahu Mas? Saat-saat seperti ini mengingatkanku pada Fachri," ucap Shafa sambil memainkan ujung mukenanya.
Guntur memainkan jemarinya untuk menyentuh pipi Shafa. "Aku tahu," ucapnya enteng.
"Mas tidak marah aku membicarakan tentang Fachri?"
"Untuk apa aku marah. Fachri sudah menjadi bagian dari hidup kita. Dia memang layak untuk dikenang. Dia juga yang mengajariku untuk menjadi lelaki baik. Bahkan mengingatkanku untuk selalu menyiapkan perlengkapan sholat kemanapun kita pergi. Apalagi ketika sudah berumah tangga, kita harus selalu siap sedia. Karena tugas imam adalah membimbing makmumnya agar jangan sampai melalaikan kewajiban."
Shafa menatap suaminya sambil tersenyum. "Dia memang seperti itu. Selalu membawakanku mukena kemana pun kita pergi."
"Karena itulah Shafa, aku tidak akan melarangmu untuk mengenang Fachri. Aku yakin, kau pasti paham dengan batasanmu sebagai seorang wanita yang telah bersuami."
Shafa yang masih berbaring menangkup wajah Guntur dengan gurat kebahagiaan yang terpancar dari senyuman manisnya. "Terimakasih sudah belajar memahami posisiku saat ini."
Guntur memegang tangan Shafa yang menyentuh pipinya. "Terimakasih juga sudah mau belajar menerima kehadiranku dalam kisah perjalanan hidupmu Shafa."
Mereka berdua pun saling bercerita, tapi tentunya Shafalah yang mendominasi dongeng malam itu. Guntur hanya sesekali berbicara saat Shafa bertanya tentang dirinya. Shafa banyak bercerita tentang kehidupannya bersama Fachri. Guntur tak tersinggung dengan hal itu, justru ia berpikir itu adalah awal yang baik. Shafa mau terbuka tentang apa yang ia rasakan. Secara tidak langsung, hal itu bisa melepaskan beban yang selama ini terpendam.
Waktu bergulir hingga azan shubuh menyapa. Setelah melakukan ritual Shubuh, keduanya merasa mengantuk. Mereka pun tertidur lagi karena tadi malam hanya tidur sebentar.
.
.
.
.
Untuk mempunyai sebuah buku yang baru, kita tak harus membuang buku yang lama. Untuk membuat kisah baru pun kita tak harus menghapus kisah lama. Karena kisah baru tak akan terbentuk tanpa adanya kisah lama.
__ADS_1