
Pagi yang cerah, suasana pun sangat sejuk. Shafa baru saja kembali dari luar dengan membawa kantong kresek berisi empat bungkus nasi goreng.
"Nih Vi, buat sarapan." Shafa menyodorkan apa yang ia bawa pada Silvi yang sedang bersantai diruang tamu bersama Alza dan Aira.
Rumah kontrakan itu dihuni oleh empat gadis, yaitu Shafa Fikriyyatus Zahra, Silviana Diandra, Alza Aulia Rahma dan Salma Aira. Mereka bertemu saat mencari tempat kos. Dan kebetulan salah satu teman mereka memberi tahu rumah kontrakan yang mereka tempati sekarang.
"Kamu tau aja Fa kita lagi bokek tanggal tua begini. Hehe...!" ujar Silvi cengengesan.
"Kamu aja kali Vi yang bokek, aku enggak," celetuk Aira.
Alza pun bangkit dari duduk untuk mengambil piring.
Sedangkan Shafa hanya tersenyum kecil mendengar ucapan kedua sahabatnya.
"Kamu itu terlalu sering traktir kita Fa. Uangnya kan bisa kamu tabung," ujar Alza yang baru datang dengan membawa empat piring dan sendok.
"Kamu tenang aja Za, aku selalu nabung kok. Lagian tadi malam aku baru dapat bonus dari Cafe. Jadi, aku ingin berbagi pada kalian," ujar Shafa dengan senyum yang selalu merekah diwajahnya.
"Kamu memang yang terbaik Shafa," ucap Silvia.
Mereka berempat segera menikmati sarapan sederhana. Dari para sahabatnya, Shafa mendapat banyak pengalaman hidup. Bagaimana saling menghargai, saling berbagi dan harus mengenyampingkan ego agar tetap rukun.
Shafa sudah bersiap pergi kekampus. "Alza nih kunci motorku, kamu pakai saja hari ini. Aku ada urusan sampai sore. Pulang mungkin malam lagi," ucapnya sambil menyerahkan kunci pada Alza. Biasanya mereka pulang pergi kekampus bersama. Karena Alza tak mempunyai motor seperti yang lain.
"Kamu shift malam lagi di Cafe?" tanya Alza.
"Iya Za, biasalah masuk sore pulang malam." Shafa pun segera pamit berangkat.
"Hati-hati Fa!" ucap Alza.
__ADS_1
Dengan santai Shafa berjalan keluar dari perkampungan, menuju jalan raya mencari kendaraan umum.
"Eh Za, kamu ngerasa ada yang ganjal nggak sih ama Shafa?" tanya Silvi.
"Ganjal gimana?" sahut Alza.
"Ya aneh aja. Kamu lihat nggak pakaian Shafa itu semua bermerek, mulai dari tas dan barang-barangnya yang lain. Hanya saja barang yang ia pilih berbentuk sederhana, jadi tidak terlalu mencolok," terang Silvi.
"Kamu teliti banget ya sama penampilan orang," sahut Aira.
"Gini-gini aku kan ngerti fashion Ra. Jangan-jangan Shafa itu sebenarnya anak orang tajir." Silvi menerka-nerka.
"Shafa kan pekerja keras Vi. Dia kan juga pernah bilang, barang yang ia pakai itu pemberian dari majikannya yang dulu. Jangan ngehibah teman sendiri. Kamu kan satu kampus ama dia. Jadi pastinya kamu lebih paham bagaimana Shafa," ujar Alza sambil memakai sepatunya. Ia juga hendak kekampus bersama Aira. Karena keduanya memang kuliah ditempat yang sama. Sedangkan, Silvi satu kampus dengan Shafa.
"Aku kan cuma menerka-nerka Za," ujar Silvi.
Alza pun beranjak dari duduknya. "Kamu tidak kekampus?"
Silvi masih asyik bermain dengan ponselnya. "Jadwal kuliahku siang hari ini. Aku mau bobok cantik dulu," ujarnya tanpa menoleh.
Alza dan Aira hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Silvi. Kemudian mereka berdua segera berangkat mengendarai motor.
Diantara mereka, memang Silvi yang dari keluarga berada. Tapi orang tuanya menyuruh Silvi belajar mandiri dengan menyuruh hidup sebagai anak kos an. Uang pun juga dibatasi oleh orang tuanya.
****
"Hai Shafa!" sapa salah satu mahasiswa laki-laki saat ia melewati koridor kampus. Shafa hanya tersenyum sekilas, lalu mempercepat langkahnya menuju ruangan dosen pembimbingnya.
Setelah itu, Shafa duduk ditaman kampus seorang diri untuk memeriksa e-mail yang masuk. Ada beberapa e-mail dari para mahasiswa yang menyatakan cintanya.
__ADS_1
Shafa langsung mendelete pesan-pesan itu tanpa membacanya. Ia menyenderkan kepalanya dibangku taman dengan menghembuskan nafas kasar. Jiwanya benar-benar lelah. Lalu dirinya memutuskan pergi kesuatu tempat untuk mencari ketenangan.
"FACHRI!!!!" teriak Shafa sekencang-kencangnya. "Why did you leave me?" teriaknya lagi.
"I am alone without you inside me. I miss you Fachri. I miss you," lirih Shafa sambil berderai air mata. Ia duduk sambil menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya.
Dan disinilah Shafa sering menyendiri, ia sekarang berada disebuah bukit dipinggir desa. Ia bebas berteriak dan menangis sendirian. Tanpa khawatir ada orang yang melihat. Karena tempat itu memang sepi. Dibawah hanya ada kebun karet dan diseberangnya ada sebuah pesantren yang bisa dilihat dari atas bukit.
"Bila ingin menangis, menangislah. Tapi ingat menangis hanyalah pengaduan maya. Setelah itu bangkitlah! Jalani hidup dengan penuh semangat. Allah mempunyai banyak cara untuk menyampaikan rindu pada hambanya. Salah satunya dengan memberikan kita ujian. Agar kita ingat kembali pada-Nya.
Ingatlah masa depan masih terbentang luas. Selalu ada harapan selagi kita mau berusaha."
Shafa menoleh, mendengar ada suara seseorang disampingnya. Suara dan kata-katanya mengingatkan dirinya pada Fachri.
Deg....!!!
Hati Shafa seakan berhenti berdetak, melihat siapa yang ada disampingnya. Matanya terpaku pada sosok tampan yang kini tersenyum pada dirinya. Shafa seperti berada dialam mimpi. Mungkinkah dia kembali? Shafa berharap tak pernah bangun dari mimpinya. Pemuda yang tengah memakai baju koko berwarna biru cerah masih tersenyum padanya. Rambutnya juga tertata rapi. Menambah kesempurnaan pada dirinya. Shafa benar-benar berharap ini adalah kenyataan. Rasa bahagia menyelimuti hatinya.
"Fachri....!" Tanpa sadar Shafa menyebut nama itu dengan wajah berbinar. Air mata kembali mengalir tanpa diminta.
Pemuda itu pun bangkit dari duduknya dan pergi tanpa berucap sesuatu.
.
.
.
Thanks untuk partisipasi kalian!😊
__ADS_1