Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Sebuah Lamaran


__ADS_3

Pagi hari suasana pesantren hiruk pikuk dengan suara para santri yang sedang mengaji. Setelah pengajian pagi mereka bersiap berangkat kesekolah yang masih dalam naungan yayasan pesantren.


Az dan Afif juga sudah siap untuk mengajar. Disana Az menjadi pengajar bahasa inggris untuk murid Tsanawiyah. Dia hanya mengajar seminggu tiga kali. Kalau Afif tentunya mengajar yang berbau agamis.


Sore harinya Az akan mengajar les bahasa inggris anak-anak pesantren.


"Setelah ini ada rencana kemana Fif?" tanya Az setelah jam mengajar mereka selesai. Saat ini mereka berada diruang guru yang masih sepi. Semua orang masih sibuk dengan kelas masing-masing.


"Sepertinya aku akan kebukit Az. Mau ngademin mata dan juga hati," jawab Afif sambil merapikan buku dimejanya.


"Kamu masih berharap bertemu dengan gadis itu?"


"Entahlah Az. Aku tidak mau terlalu berharap. Sudah sebulan ini juga dia tidak pernah muncul lagi," ujar Afif dengan raut kesedihan yang terlihat.


Afif juga manusia biasa yang mempunyai perasaan. Dia punya perasaan yang bisa merasakan yang namanya kesedihan. Dia punya hati untuk mencintai. Dan cintanya saat ini malah berlabuh pada gadis yang sama sekali tak dikenalnya. Salahkah ia berharap pada cinta yang belum pasti? Salahkah jika hatinya tetap mempertahankan rasa itu sampai sekarang? Apa yang akan dilakukan Afif ketika bisa bertemu lagi dengan gadis itu?


"Siapa Kak yang tidak pernah muncul lagi?" tiba-tiba sebuah suara menyahuti dari pintu masuk. Gadis muda berhijab merah maroon berjalan mendekati Afif.


"Kamu itu kalau masuk ucap salam dulu. Ini masuk langsung main nimbrung," ujar Afif pada adiknya yang bernama Syifa.


"Habisnya Kak Afif sama Kak Az serius banget ngobrolnya. Ngomongin siapa hayooo?"


"Anak kecil belum waktunya tahu." Afif keluar dari bilik mejanya. Lalu mengajak Az keluar dari ruangan guru.


"Kak Afif akhir-akhir ini aneh banget. Ada sesuatu yang terselubung kayaknya," gumam Syifa sendirian. Gadis manis itu tampak berpikir sebentar. Lalu menggelengkan kepalanya tak mau ambil pusing. Ia juga harus menggantikan guru yang sedang cuti. Diambilnya buku pelajaran yang terjajar rapi dilemari khusus buku-buku para guru.


Sedangkan Az dan Afif berjalan santai menuju bukit. Mereka menikmati pemandangan yang masih asri didesa itu. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Sebagian ada juga yang merantau kekota untuk mencari penghasilan yang lebih besar. Tapi kehidupan didesa adalah sebuah kedamaian. Kerukunan dan gotong royong terjalin erat.


Meski sebuah pedesaan tapi tempat itu juga dekat dengan kota. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam sudah sampai daerah perkotaan. Desa itu memang berada dekat perbatasan kota. Jadi kehidupan para warga sangat sejahtera.


*****


Guntur memasuki rumahnya dengan langkah panjang. Ia akan kekantor sebentar untuk mengecek pekerjaannya. Ketika melewati ruang keluarga, ada mama dan papanya yang sedang mengobrol.


Kaki Guntur sudah menginjak satu anak tangga hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Guntur, sini sayang!" panggil sang mama.


Guntur pun mendekat. Ia merasa akan ada yang dibicarakan dengan serius karena papanya juga berada dirumah. "Ada apa Ma? Guntur mau kekantor," ucapnya.


"Duduk dulu Gun. Papa mau bicara sebentar," pinta sang papa.


Guntur pun menurut. Ia duduk didekat mamanya.


"Begini Gun, umur kamu kan sudah matang untuk berumah tangga. Papa dan Mama ingin melihat kamu menikah," ucap Faisal ayahnya Guntur.


Guntur tidak terkejut dengan permintaan orang tuanya. Sudah sering ia diminta mamanya agar segera mencari calon mantu.


"Iya Pa, Ma. Guntur akan menikah tapi tidak sekarang."

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu terus menolak Sayang? Mama dan papa sudah semakin berumur. Kamu satu-satunya putra kami. Tolong mengertilah Gun!" ucap Sonia mamanya. Guntur memang anak tunggal dikeluarganya. Sang mama tak diperbolehkan mengandung lagi karena kondisi rahim yang tidak memungkinkan.


"Papa sudah punya calon untuk kamu. Kebetulan dia putri rekan bisnis Papa. Dia juga kuliah disini. Sebentar lagi lulus. Papa yakin dia gadis yang baik untuk kamu."


"Iya Guntur. Mama juga setuju dengan pilihan Papa kamu. Ayahnya juga orang yang baik. Anak gadisnya cantik. Cocok sama kamu,"


"Ok Guntur akan menikah. Tapi Guntur ingin menikah dengan janda."


Seketika ucapan Guntur membuat orang tuanya shock. Ia segera bangkit meninggalkan kedua orang tuanya.


"Anak kamu sudah gila mungkin Ma?"ucap Faisal melongo mendengar ucapan Guntur.


"Dia anak kamu Pa."


"Benar kata orang Ma janda memang lebih menggoda."


"Tapi perawan juga lebih menawan Pa."


Disudut lain Samuel sedang menguping sambil cekikikan. Bisa-bisanya Guntur malah ingin menikah dengan janda. Untuk menghindari tekanan orang tuanya Guntur memang ahlinya. Ada saja alasan yang dibuat. Kemarin katanya nunggu mapan dulu. Sudah mapan, bilangnya belum siap jadi pemimpin rumah tangga, takut tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Dia bilang mentalnya masih mental kacang. Eh, sekarang malah minta nikah sama janda. Besok-besok mungkin dia minta nikah sama nini-nini, agar orang tuanya menyerah.


"Duh, yang minta nikah sama janda. Kenapa mukanya asem gitu. Mau ditambahin gula biar manis. Supaya asem-asem seger gimana gitu," goda Samuel yang bersandar dipintu kamar Guntur.


Guntur tak menggubris godaan Samuel. Moodnya sedang tidak baik. Dia segera mengambil keperluan kantor dan memasukkan kedalam tas kerjanya.


Dia keluar kamar tanpa menoleh pada Samuel.


"Kamu naik motor saja. Aku buru-buru!" suara Guntur terdengar ketus.


"Bensinnya abis Kak. Gue nebeng lo aja ya!"


Guntur merogoh saku celananya. Mengambil uang kembalian saat tadi membeli makanan untuk para anak jalanan. "Nih, buat beli bensin." Guntur menarik telapak tangan Samuel dan menaruh selembar uang berwarna ungu disana. Kemudian berlalu pergi.


"Allahu akbar!" Samuel menepuk jidatnya dengan uang itu.


******


Shafa pergi lagi kebukit hari itu. Disana ia mendapat ketenangan. Pemandangan hijau dan semilir angin yang sejuk. Shafa duduk dengan damai disana. Dedaunan menari mengikuti irama angin. Ranting-ranting menggoyangkan tubuhnya dengan anggun. Semua seakan gembira tanpa beban. Suara kicauan burung terdengar seperti sebuah alunan musik.


Shafa memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Terbuai dengan bisikan lembut sang angin. Hingga ia tak menyadari kedatangan dua pria dibelakangnya.


"Assalamu'alaikum Ukhti!"


Seketika Shafa langsung bangkit dari duduknya dan memutar badan sambil menjawab salam. "Wa'alaikumsalam Akhi!"


Deg


Dunia seakan berhenti berputar untuk sesaat. Hati dan pikiran Shafa berusaha mencerna apa yang dilihat oleh matanya. Dua pria dihadapannya seperti bayangan masa lalunya. Salah satu diantara mereka berdua mirip Fachri dan satunya lagi mirip Aldi. Laki-laki yang sudah menghilang sejak kejadian yang membuatnya hancur. Dimana hari itu adalah hari yang sangat menyakitkan bagi dirinya.


Bagaimana bayangan dua wajah yang bertolak belakang itu kini ada dihadapannya?

__ADS_1


Tak hanya Shafa yang terkejut tapi juga Az. Dia merasakan hal yang sama, wajah gadis dihadapannya seperti tak asing baginya. Gadis yang dulu sempat mengisi hari-harinya. Gadis yang begitu ia cintai. Hingga sebuah kesalahan menghancurkan semuanya. Az berpikir mungkin itu hanya sebuah kebetulan mereka mirip.


Gadis didepannya terlihat anggun dengan memakai celana bahan dan kaos berwarna putih. Dilapisi cardigan panjang berwarna biru dan juga kerudung dengan warna yang sama. Wajah cantik berseri-seri seperti seorang bidadari. Setiap pria yang melihat pasti akan terbuai dengan kecantikan gadis itu.


"Afwan ukthi. Saya ingin tahu nama ukhti siapa?" tanya Afif sopan dengan suara indahnya.


"Panggil saja saya Shafa,"


"Saya Afif dan ini teman saya, panggilannya Az."


Shafa pun menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Senyum tipis terulas dari pipi manisnya. Menampakkan cekungan kecil yang menghiasi.


Az semakin heran, lesung pipi itu juga sama dengan milik gadis yang ia kenal. Apakah ini hanya sebuah kebetulan lagi?


Shafa sendiri baru teringat bahwa pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Afif adalah pria yang sama dengan seseorang yang pernah ia temui tempo hari ditempat ini juga.


"Apa Nona Shafa sudah mempunyai seorang pria yang sudah halal?" tanya Afif lagi.


Shafa bisa menangkap arah pembicaraan pria dihadapannya. Pria halal yang dimaksud pastinya seorang suami.


"Maaf! Saya tidak mempunyai suami," ucap Shafa. Hatinya mulai was-was. Orang yang baru dikenalnya menanyakan hal semacam itu.


"Alhamdulillah!" seru Afif. Shafa yang mendengarnya semakin merasa heran.


"Kalau begitu dengan bacaan Bismillahir-rahmaanir-rahiim izinkan saya untuk mengkhitbah ukhti. Menjadikan ukhti sebagai pendamping hidup saya," ucap Afif dengan sungguh-sungguh.


Shafa terperangah dengan lamaran itu. Hembusan angin yang semakin kencang seakan menerbangkan jiwanya. Sebuah pernyataan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Alam pun seolah menjadi saksi atas lamaran yang diucapkan Afif.


.


.


.


.


Dunia ini penuh dengan keajaiban


Terlukis duka dan tawa diatasnya


Banyak kejutan yang tak terkira


Semua orang ingin menggenggam dunia


Padahal dunia hanyalah tipuan yang sangat indah


Pilihannya adalah kamu ingin menggenggam atau digenggam?


See you guys...

__ADS_1


__ADS_2