
Pagi harinya, Guntur kembali ke kamar. Dia melihat Shafa sudah siap dengan mukenanya. Guntur pun meminta Shafa untuk menunggunya. Tak berselang lama Guntur sudah siap dengan baju koko. Membuat dia tampak lebih mempesona. Shafa pun terbawa perasaan. Tidak dipungkiri ia juga hanyut dalam pesona Guntur. Laki-laki yang baru menikahinya. Tapi rasa itu segera ditepiskan. Pikirannya berusaha kuat untuk menolak tapi hatinya tak bisa berbohong.
Untuk pertama kalinya, Shafa kembali merasakan mempunyai seorang imam. Hatinya pun merasakan kesyahduan mendengar lantunan ayat yang terucap dari bibir Guntur. Tak disangka suaminya itu adalah sosok yang alim juga.
Setelah selesai melaksanakan ritual Shubuh, Guntur mengambil Al Qur'an yang ia simpan dalam rak yang ada diujung kamarnya. Dengan jiwa yang masih berkabut akan kekagumannya pada Guntur, ia menikmati setiap alunan nada dari ayat yang terlontar dari suara suaminya.
Tak terasa air mata mulai berlinang, ia teringat kembali pada sosok Fachri. Tuhan seperti mengirimkan Fachri kembali padanya dengan wujud orang lain. Apakah ia sanggup menahan gejolak hatinya yang tak menentu?
Di sisi lain hatinya masih terikat cinta dengan Fachri. Tapi dalam realita yang sekarang, dia sudah menikah lagi dan berkewajiban mengabdikan diri pada suaminya dengan sepenuh hati. Dia seakan tak sanggup untuk melakukan hal itu.
"Kamu teringat pada Fachri?" suara Guntur menyadarkan sang istri dari kemelut hatinya. Tentu laki-laki itu sangat paham dengan apa yang dirasakan wanita dihadapannya. Selama kurang lebih empat tahun dia mencintai gadis itu dalam diam.
Shafa mengangguk pelan sambil menyeka air matanya. "Maafkan aku!" ucapnya lirih.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti Shafa. Aku pun tidak melarangmu untuk selalu menyimpan Fachri dalam kenanganmu. Dia juga sempat menjadi sahabat dan guru yang baik untukku. Kau tentu tahu dulu aku sempat bekerja diperusahaan ayahmu bersama Fachri," ucap Guntur dengan suara lembutnya. Meski ada rasa sedikit tersayat, tapi dia tak mau egois dengan hanya mementingkan perasaannya tanpa peduli dengan apa yang dirasakan oleh Shafa.
"Ya, Samuel pernah bercerita padaku," ucap Shafa tanpa menatap Guntur yang ada dihadapannya.
Hati Guntur seakan ikut sakit melihat orang yang ia cintai menangis. Terlebih itu bukan air mata untuknya. Tapi untuk orang lain yang sudah tiada.
"Maaf atas ke egoisanku!" ucap Shafa lagi sambil bangkit dari duduknya untuk melipat mukenanya.
Guntur masih terdiam dalam duduknya. Hingga Shafa hilang dari pandangannya di balik pintu.
"Kau tidak egois Shafa. Dirimu hanya belum bisa menerima kenyataan," gumam Guntur sendirian.
Shafa sendiri menuju ke baawah. Ia ingin membantu memasak didapur. Di sana sudah ada pembantu yang sedang menyiapkan bahan masakan.
"Mau masak apa Bik?" tanya Shafa dengan ramah.
Pembantu paruh baya itu tersenyum menyambut nona barunya. "Eh, Nona Shafa. Ini Non, saya mau masak nasi goreng seafood untuk sarapan," jawabnya kemudian.
"Itu menu kesukaan Samuel ya Bik?" Shafa pun membantu menyiapkan bahan.
"Bukan Non, ini menu sarapan favorit den Guntur. Kalau den Samuel mah sukanya nasi goreng biasa sama telur ceplok," ucap pembantu itu.
Shafa pun merasa aneh. Bukankah ketika dalam chat, Samuel bilang suka nasi goreng seafood. Tapi ini malah menu favorit Guntur.
"Biar saya saja Bik yang buat sarapan." Shafa mengambil alih untuk membuat sarapan. Dia harus membuat dua menu sarapan yang berbeda.
"Baiklah Non. Saya akan menyiapkan bahan memasak untuk makan siang."
"Oh ya, Bibik namanya siapa?" tanya Shafa sambil menyalakan kompor dan menyiapkan penggorengan.
__ADS_1
"Panggil saja saya Bik Minah, Non," jawab wanita paruh baya yang ternyata bernama Minah.
Shafa tersenyum sambil mengiyakan pekataan bik Minah. Dia sangat cekatan dalam memainkan alat dapur. Maklum saja, Shafa sudah terbiasa memasak saat bekerja di Cafe.
"Samuel sangat menyukai sayur ya Bik, sampai Bibik mengeluarkan banyak sayur!" seru Shafa.
"Non salah lagi. Yang suka sayur itu den Guntur, kalau den Samuel tidak begitu suka dengan sayur."
Lagi-lagi Shafa heran. Kenapa justru semua berbanding terbalik dari yang ia ketahui tentang Samuel. Semua yang ia ketahui malah mengarah pada suaminya sendiri.
Selesai memasak, Shafa kembali ke kamar. Sampainya diatas, ia melihat Samuel keluar dari kamarnya dengan bersenandung ria. Sepasang headset ada ditelinganya.
Tatapan penuh tanda tanya tampak dari sorot matanya. Tapi Samuel tak menyadari itu. Ia hanya menyapa Shafa sebentar. Kemudian turun ke bawah.
Sebelum Shafa masuk ke kamar, Samuel sempat menatap balik kearah sahabat lamanya itu. Ada sesuatu yang dapat ia tangkap dari sorot mata Shafa.
"Kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Shafa ketika melihat Guntur sudah tampak segar dengan pakaian santai. Tentunya lelaki itu sudah mandi.
"Tidak Shafa. Mana mungkin papa mengizinkanku masuk kantor setelah sehari menikah. Bersiaplah! Aku akan mengantar kemana kamu ingin pergi," ucap Guntur yang kemudian melangkah keluar.
Ada terbesit rasa bersalah dibenaknya. Padahal Shafa memang meminta untuk tinggal di kontrakan sampai skripsinya selesai. Itu adalah kesepakatan yang ia ajukan pada suaminya.
*****
Semuanya pun memulai sarapan bersama. Shafa sudah mengambil posisi duduk tepat disamping Guntur. Dia juga mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Tumben masakan Bibik terasa beda hari ini? Lebih enak Bik," ucap Guntur saat bik Minah datang menyiapkan minum.
"Itu tadi Nona Shafa yang masak Den. Bibik mana bisa masak ala masakan chef seperti Non Shafa," ujar bik Minah yang kemudian undur diri setelah menaruh minuman di meja.
Guntur pun terdiam sambil melirik ke arah Shafa. Samuel yang bisa membaca situasi segera buka suara.
"Paman, Bibi, Sam berangkat kuliah dulu ya!" Samuel berdiri dan memakai tas ranselnya. Kemudian menyalami paman dan bibinya.
"Kak, gue berangkat dulu ya. Selamat menikmati masa libur!" Samuel menepuk bahu Guntur. Kemudian beralih pada wanita disamping kakak sepupunya itu. "Bye Shafa!" seru Samuel yang kemudian pergi.
"Hati-hati Sam!" seru Faisal. Samuel pun menjentikkan jari membentuk huruf O.
Tak lama kemudian Faisal juga pamit untuk ke kantor. Guntur dan Shafa juga pamit. Shafa akan pergi ke kampus.
Dalam perjalanan pun dua insan itu tak banyak berbicara. Entah bagaimana mereka bisa bertahan dalam kebekuan.
Setelah menempuh perjalanan yang tak begitu jauh, akhirnya mereka sampai.
__ADS_1
"Sesuai kesepakatan yang kau minta, kau boleh tinggal lagi bersama teman-temanmu. Aku yang akan mencari alasan jika papa dan mama bertanya," ucap Guntur sebelum Shafa turun dari mobil.
Entah kenapa ada rasa berat yang sempat menahannya untuk turun dari mobil. Tapi, bukan Shafa namanya jika dia lemah. Dia akan tetap pada pendirian awalnya.
"Baiklah. Terimakasih!" Shafa pun turun dari mobil suaminya.
Guntur segera melajukan mobilnya pergi dari parkiran kampus. Shafa juga segera melangkahkan kakinya masuk. Hari itu ia ada janji bertemu dengan dosen pembimbingnya.
******
"Guntur, mana Shafa?" tanya mama Sonia ketika melihat putra kembali seorang diri.
Guntur mendekati mamanya yang sedang duduk di sofa sambil membaca surat kabar. "Shafa sibuk dengan kuliahnya Ma."
"Tapi nanti kamu akan jemput dia lagi kan?" tanya Sonia lagi.
"Tidak Ma, dia sementara waktu akan tinggal dulu bersama teman-temannya. Guntur harap Mama bisa mengerti posisi Shafa. Agar dia tidak tertekan dengan keadaan ini," ucap Guntur dengan tatapan sendu.
Sonia pun mengusap kepala putranya sambil tersenyum. "Iya Sayang. Mama akan berusaha mengerti keadaan kamu dan Shafa."
Guntur pun kembali bermanja dalam pangkun sang mama. Hal seperti itu adalah cara dia mencari ketenangan. Dan ketenangan yang sesungguhnya ada dalam dekapan sang ibu.
Sebagai seorang ibu Sonia pun bisa merasakan kegundahan hati putranya. Guntur selalu datang dalam pangkuannya saat putranya itu sedang sedih atau jika sedang ada masalah.
"Maafkan Mama dan Papa, Guntur! Kamu harus berada dalam posisi sulit karena keinginan kami berdua," ucap Sonia sambil terus membeli kepala putra semata wayangnya.
"Jangan minta maaf Ma! Guntur justru bahagia karena Mama dan Papa memaksaku untuk menikah. Jika Mama dan papa tidak memaksa, mungkin Guntur tidak akan pernah bisa bersanding dengan Shafa. Kita hanya perlu waktu untuk saling mengenal dan terbiasa dengan status baru kami. Tapi yakinlah Ma, Guntur bahagia dengan pernikahan ini." Guntur berucap sambil memandang mamanya dengan senyuman.
Sonia terharu dengan ucapan putranya. "Terima kasih Sayang!"
"Guntur yang harusnya berterima kasih sama Mama."
Sonia pun memberi kecupan kecil di kening putranya. Meski sudah dewasa tapi Guntur tetaplah putranya. Putra yang selalu ingin dia belai. Mencurahkan kasih sayangnya yang tanpa batas. Menjadi seseorang yang selalu menguatkan saat seorang putra butuh penyemangat.
.
.
.
.
Sampai ketemu lagi di part selanjutnya readers!
__ADS_1
Thanks....