Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Bertemu Aldi


__ADS_3

Suasana dikontrakan Shafa pagi itu sungguh tak bersahabat. Silvia selalu memberikan tatapan sinis pada sahabatnya. Aira dan Alza juga tak mengerti dengan perubahan sikap Silvia. Mereka hanya berpikir, mungkin Silvia sedang ribut dengan pacarnya.


Shafa pun berangkat kekampus tanpa motor. Ia sudah berpesan pada Alza untuk memakai motornya. Di jalan, tanpa diduga Shafa bertemu dengan sang ayah.


Steven pun mengajak putrinya untuk mampir ke coffee shop. Tentu saja Shafa tidak menolak. Ia juga rindu mengobrol dengan sang ayah.


Mereka berbincang-bincang sebentar, setelah itu Steven mengantar Shafa kekampus.


Shafa sedang memilah-milah buku di perpustakaan. Setelah mendapat apa yang ia cari Shafa keluar dari sana dan memasukkan bukunya kedalam tas. Kemudian menuju ketaman yang ada dibelakang kampus. Dia berniat mengerjakan skripsinya disana dengan suasana tenang dan ditemani oleh bunga warna warni.


Tetapi sesampainya di tempat itu, Shafa melihat pria sedang memainkan gitar.


Dengan langkah ragu-ragu dia mendekati pria itu dan duduk disampingnya.


"Hobi kamu masih sama ya! Suka bermain musik, bahkan para mahasiswi sampai tergila-gila sama suara kamu," ucap Shafa dengan santai.


Yang disapanya sungguh terkejut. Pria itu memandangi Shafa tanpa mampu berkata-kata. Shafa mencoba bersikap biasa dan menepiskan rasa benci dan kecewa yang sempat bercampur menjadi sebuah rasa sakit dan kenangan pahit.


Pria itu pun meletakkan gitarnya disamping bangku yang ia duduki. Lalu menoleh kearah gadis disebelahnya. Dia memegang bahu Shafa dengan tatapan sendu. Air menggenang dipelupuk matanya."Maaf!" Satu kata yang keluar dari mulut Aldi.


Mereka diam untuk sesaat. Shafa sendiri tak mengira bisa berhadapan langsung dengan pria masa lalunya. Kemarin dia memang sempat takut untuk bertemu Aldi.


"Maafkan aku Shafa! Aku sungguh berdosa padamu. Hukum aku sesuka hatimu. Asal kamu bisa memaafkanku," ucap Aldi dengan derai air mata penyesalan. Dia menyatukan kepalanya dengan kepala Shafa. Tanpa ada sentuhan kulit dengan kulit. Karena kepala Shafa juga terbalut hijab.


Jika mungkin bisa, Aldi pasti sudah memeluk erat gadis dihadapannya. Tapi ia tentu tahu siapa mantan pacarnya sekarang.


"Aku sudah memaafkanmu Al. Aku sudah memaafkanmu!" Shafa juga berderai air mata. "Semua sudah terjadi. Kita hanya perlu memperbaiki masa lalu itu."


Aldi pun melepaskan bahu Shafa dan mengangkat kepalanya. "Terimakasih Shafa! Terimakasih sudah memaafkan kesalahanku." Aldi pun kembali menghadap kedepan mengusap air matanya. Begitu juga dengan Shafa. Ia memang sudah bertekad untuk memaafkan kesalahan Aldi. Meski hal itu telah meninggalkan luka yang bekasnya tak akan pernah hilang.


"Bagaimana kau bisa setegar ini Shafa?" tanya Aldi dengan suara paraunya.


Shafa tersenyum. "Fachri yang telah menguatkanku. Dia menjadikanku perempuan tangguh," ucapnya.


"Sekali lagi maafkan aku! Telah membuat hidupmu hancur malam itu," ujar Aldi dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Ya, aku memang hancur. Tapi Fachri telah menyelamatkanku dari kehancuran dengan menikahiku pada waktu itu. Aku sempat sangat membencimu Aldi. Sangat membencimu." Shafa menekankan kata-kata terakhirnya sambil menoleh pada Aldi. "Tapi Fachri mengajariku agar tidak menjadi orang yang pendendam," lanjut Shafa.


"Fachri memang laki-laki yang pantas bersanding denganmu Shafa."


"Tapi dia juga telah meninggalkanku sendirian, semua karena salahku. Karena kesalahanku Fachri pergi untuk selamanya." Air mata kembali membanjiri wajah manis Shafa. Dia akan sangat sedih mengingat kepergian Fachri. Tapi sorot matanya tetap memperlihatkan betapa ia terus berusaha kuat meski sedang rapuh.


Aldi pun memperhatikan Shafa. Semua memang gara-gara ulahnya, hingga Shafa harus mengalami penderitaan tak berujung.


"Kenapa waktu itu tiba-tiba kau menghilang Al? Bahkan Samuel tidak tahu kemana kau pergi," tanya Shafa kemudian.


Aldi menghela nafas yang tiba-tiba terasa berat. Dia memang menghilang setelah menghancurkan masa depan kekasihnya. Tapi tanpa ada yang tahu keluarganya juga hancur waktu itu. "Papaku meninggal pada malam itu juga, karena serangan jantung," ucapnya.


Shafa sendiri hanya diam, ingin mendengar kelanjutan cerita Aldi. Shafa dapat menangkap gurat kesedihan mendalam diwajah tampan mantan kekasihnya.


"Mungkin itu karma karena perbuatanku padamu. Perusahaan papa bangkrut dan semua aset disita oleh pihak bank. Hal itu yang membuat papa terkena serangan jantung. Hingga keesokan harinya setelah pemakaman papa, aku dan mama harus pergi dari rumah," lanjut Aldi.


"Apa itu semua karena daddy?" tanya Shafa penasaran. Karena ia tahu, ayahnya akan menghancurkan siapa saja yang mengusik keluarganya.


Aldi menggelengkan kepala, lalu pandangannya mengarah kebawah dengan senyum yang dipaksakan. "Tuan Steven tak sekejam itu padaku dan keluargaku, Shafa." Kemudian Aldi menoleh pada Shafa dan tersenyum lembut.


"Papa bangkrut karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Bukan karena tuan Steven, ayahmu. Beliau pun datang pada saat pemakaman papa. Kemudian menawarkan bantuan untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi, mama menolak. Kerena tak ingin bergantung pada siapa pun. Terlebih lagi ternyata mamaku adalah teman mamamu. Yakinlah Shafa, ayahmu adalah orang yang sangat baik," terang Aldi.


"Ya, aku dan mama pindah ke kota ini. Kembali ke rumah nenek yang sudah lama tidak ditempati. Mama juga merintis usaha baru disini. Kita mulai semua dari nol lagi," ucap Aldi yang kini terdengar lebih santai.


Shafa pun menatap Aldi. "Kau juga banyak berubah sekarang Al," ucapnya.


"Lebih ganteng kan ya!" seru Aldi dengan sok percaya diri.


"Mulai deh narsisnya." Shafa pun tersenyum. "Kamu itu sekarang terlihat lebih dewasa," lanjutnya.


"Umurku kan juga bertambah Fa. Dan lagi semua proses hidup ini yng mengajariku untuk lebih dewasa. Apa lagi aku juga berteman dengan Afif. Tentunya ketularan lah dikit-dikit," ujar Aldi sambil terkekeh. Shafa pun ikut terkekeh. Sikap Aldi masih tak jauh berbeda dari yang dulu.


"Kamu tau nggak Fa? Afif sedih banget pas kamu nolak lamarannya," ucap Aldi tiba-tiba.


Shafa pun sempat terhenyak dengan perkataan Aldi. "Kamu tahu kan kenapa aku tidak bisa menerimanya. Terlebih lagi nama Fachri masih melekat dalam ingatanku. Aku sangat mencintai Fachri, Al. Tidak mudah untuk melupakannya begitu saja."

__ADS_1


"Aku mengerti Fa. Samuel juga sempat cerita tentang kamu."


"Kamu sudah bertemu Samuel?"


"Iya Fa. Kemarin tak sengaja kita bertemu."


Untuk sesaat mungkin keduanya terdiam. Tapi tak lama, Shafa dan Aldi kembali mengobrol. Tapi hanya sebentar. Shafa ingin melanjutkan mengerjakan tugas dikantin.


Hari sudah menjelang siang. Shafa memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.


Shafa mengucapkan salam ketika memasuki rumah yang pintunya terbuka. Pasti salah satu temannya sudah ada yang pulang. Didalam, ternyata ada Alza dan Syifa.


"Duduk dulu sini Fa. Ada yang mau diomongin Syifa sama kamu," ujar Alza.


Shafa pun ikut duduk bergabung bersama mereka. "Maaf! Apa yang ingin kamu bicarakan, Syifa?"


"Ini mengenai kak Afif, Mbak Shafa," ucap Syifa dengan hati-hati.


Sedikit banyaknya Shafa sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan jika mengenai Afif. "Ada apa dengan gus Afif?" tanya Shafa.


"Sekali lagi, saya ingin menyampaikan lamaran kakak saya pada Mbak Shafa."


Tentu saja ucapan Syifa membuat Shafa terkejut. Ternyata Afif masih menaruh harapan pada dirinya. Tapi, Shafa sungguh tak bisa menerima lamaran itu. Terlebih lagi, dia sudah mempunyai jodoh yang telah dipilihkan oleh sang ayah.


Alza pun sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Syifa. Hatinya terasa sesak. Rasa ngilu mulai menjalar dihatinya. Bagaimana tidak, dia memendam perasaan pada Afif. Tapi ternyata Afif malah tertarik pada sahabatnya sendiri. Kandas sudah harapan Alza.


.


.


.


.


Selamat Hari Raya Idul Adha readers!

__ADS_1


Hati-hati jangan sampai ada yang korban perasaan ya!😉


.


__ADS_2