Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Resah Jiwa


__ADS_3

"Fachri... Fachri..." panggil Shafa di alam bawah sadarnya. Gibran masih tidur disofa. Karena lelah menguasai dirinya hingga tak mendengar suara Shafa. Sejak kejadian penyerangan di Cafe, Gibran sulit tidur. Baru dini hari tadi, ia terlelap. Meskipun sudah ada mama dan papanya yang ikut menjaga Shafa.


"FACHRIIII...." teriak Shafa kemudian, seiring dengan matanya yang terbuka. Nafas Shafa tersengal-sengal. Ia baru saja terbangun dari mimpi panjangnya. Saat sadar pertemuannya tadi dengan Fachri hanyalah mimpi belaka, Shafa menitikkan air mata. Dirinya dikuasai kerinduan yang mendalam. Dia mencoba bergerak tapi badannya terasa kaku semua. Ada rasa sakit yang mulai ia rasakan. Rasa panas seperti membakar dirinya. Ditambah lagi rasa nyeri yang mulai menjalar. Apa yang terjadi dengannya, dia belum ingat. Semakin kesadarannya kembali rasa sakit mendera tubuhnya. Nyeri hebat seakan hendak menarik lepas tulangnya. Shafa mengeram kesakitan. Efek racun masih meninggalkan jejak yang cukup menyiksa Shafa.


Gibran terbangun saat teriakkan Shafa menarik kesadarannya kembali. Lalu tampak orang-orang memasuki ruang rawat. Dengan sigap Gibran berulang kali menekan tombol darurat.


"Kamu kenapa Shafa?" tanya Gibran panik didekat ranjang Shafa.


"Sayang ini mama Nak. Kamu harus kuat," ujar Olivia sambil mengusap kepala putrinya. Setidaknya ia berusaha menenangkan Shafa.


Steven tertegun melihat keadaan putrinya. Sebelumnya Shafa tak pernah sakit parah. Daya tahan tubuhnya sangat bagus. Hanya mag yang biasa terjadi saat putrinya telat makan. Randi yang juga berada disana hanya menyaksikan apa yang ia lihat dengan perasaan iba. Sahabat kecilnya sedang tersiksa. Tapi dirinya juga tak bisa berbuat apa-apa.


Dokter datang memeriksa keadaan Shafa. Suster menyuruh semua orang menunggu diluar.


"Siapa Fachri Pa? Tadi Gibran sempat mendengar Shafa meneriakkan nama itu?" tanya Gibran.


Steven jadi termenung mengingat Fachri. Apakah ia berhak menceritakan masalah yang sempat menimpa Shafa? Steven tak seceroboh itu, mengingat Shafa sangat keras kepala. Tidak semua orang boleh mengetahui masa lalunya. Bahkan selama ini ia lebih memilih menjauh dari orang-orang yang mengenal dirinya. Memendam sendiri kesunyian jiwanya.


"Papa tidak tahu Bran," jawab Steven. Tentu saja ia berbohong. Biarlah Shafa sendiri yang menceritakan masa lalunya.


"Rand..." Gibran beralih pada Randi. Berharap pemuda yang selama ini dekat dengan Shafa memberitahunya sesuatu.


"Maafkan saya Mas Gibran!" jawab Randi sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.


Suasana menjadi hening. Olivia yang duduk bersebelahan dengan Steven, masih canggung dengan keadaan. Sesekali ia hanya bisa melirik kearah suami yang sudah ia tinggalkan selama lebih dari tujuh tahun itu. Laki-laki disampingnya masih tampan seperti dulu. Tak banyak perubahan yang ia lihat. Hanya Clara yang berubah drastis menjadi sosok Shafa.

__ADS_1


Steven sendiri hanya memikirkan keadaan Shafa. Dia sangat menyayangi putri mendiang sahabatnya. Putri yang sudah ia rawat sejak kecil. Tak ada hal lain dipikirannya sekarang kecuali Shafa.


Dokter yang menangani Shafa sudah keluar dan memberitahukan bahwa Shafa baik-baik saja. Dokter menyuntikkan lagi obat penenang. Gadis itu dibuat tak sadar untuk beberapa waktu selama masa pemulihan. Karena kerusakan yang diakibatkan racun itu lumayan parah. Jika Shafa dalam keadaan sadar ia akan merasakan sakit luar biasa.


****


"Bagaimana Fif? Sepertinya gadis itu tidak akan datang lagi?"


Az dan Afif berada dibukit, menunggu gadis yang dimaksud oleh Afif. Rasa penasaran mereka perlu sebuah jawaban. Akan tetapi waktu masih belum mau berkompromi. Sudah seminggu ini mereka berdua mendatangi bukit. Tapi sama sekali tak ada gadis yang datang kesana.


"Aku tidak tau Az. Mungkin dia hanya iseng kesini. Ayo pulang!" ajak Afif. Rasanya ia hampir menyerah pada takdir. Gadis yang membuatnya jatuh cinta tak kunjung menampakkan diri. Mungkin memang belum saatnya. Ia harus bersabar lagi.


Az segera mengikuti langkah kaki Afif yang sudah didepannya. Afif harus menata hati lagi. Ia harus ikhlas jika memang tidak berjodoh.


"Tenang Fif. Aku yakin dia pasti datang lagi kesini," ucap Az dengan merangkul bahu laki-laki yang berjalan disampingnya. Hanya ulasan senyum tipis yang Az lihat dari wajah Afif. "Untuk mendapatkan cinta memang harus penuh perjuangan Fif," ucapnya lagi.


"Jangan menyerah Fif. Kau harus mendapatkan cintamu."


"Biarlah takdir yang akan menuntunku kelak. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Karena Dia pasti akan memberi yang terbaik untuk kita." Afif berucap dengan tangan menunjuk keatas. Dia memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi mungkin cintanya cukup sampai disini. Gadis yang diharapkannya tak kunjung menampakkan diri.


****


Semilir angin mengajak dedaunan menari-nari dengan riang. Mematahkan ranting-ranting yang sudah putus asa bertahan pada dahan yang tak lagi bersahabat. Menerbangkan serbuk bunga untuk mencari tempat berlabuh.


Semilir angin berubah menjadi hembusan kencang. Mengumpulkan awan-awan untuk bersatu padu. Menciptakan gumpalan-gumpalan besar. Saat titah tuhan sudah terseru. Tumpahan air langit mengguyur bumi.

__ADS_1


Kehidupan baru akan tumbuh setelahnya. Aroma khas tanah yang terguyur air langit menyeruak kedalam hidung pada dia yang bernafas. Menciptakan hawa sejuk yang menenangkan.


"Bagaimana Kak?" tanya Samuel pada kakak sepupunya.


Guntur hanya menatap lekat air hujan yang menderas diluar sana. Ia berdiri didepan pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.


"Nothing!" jawab Guntur singkat. Hatinya resah sejak kemarin. Ara nya tak ada kabar sama sekali. Menghilang tanpa jejak seperti asap.


"Dia pasti baik-baik saja. Dia gadis tangguh. Tak ada yang bisa melukainya. Anggap saja dia sedang sibuk dengan kuliahnya." Samuel menepuk bahu Guntur. Menyalurkan semangat agar kakaknya tak larut dalam kesedihan.


Hari ini tak ada cek cok diantara mereka seperti hari-hari sebelumnya. Guntur dan Samuel sama-sama jahilnya. Tiada hari tanpa kejahilan buat mereka. Tapi semenjak Ara nya hilang kabar. Guntur sering terdiam. Keceriannya seakan melayang entah kemana. Hatinya berkata bahwa Ara nya tak baik-baik saja.


Hujan terus bertumpah ruah, bumi semakin basah dibuatnya. Guyuran hujan tak mampu menepiskan kekhawatiran Guntur. Bahkan tak mampu menyejukkan jiwanya yang ikut merasakan perih. Tak mampu menumbuhkan semangat dalam dirinya.


Sedangkan Shafa masih setia dengan matanya yang terpejam. Hati dan jiwanya melalang buana kealam mimpi.


Semua keluarganya tengah berkumpul seperti yang diharapkannya selama ini. Namun ketika saat-saat yang diharapkannya terwujud, dirinya harus berjuang untuk tetap hidup. Bermain dengan takdir yang terus menggoda.


.


.


.


Ada yang bilang kesempatan itu seperti matahari terbit, jika kau terlalu lama menunggu. Maka, kamu akan melewatkannya. Tapi yakinlah kesempatan akan memberi ruang untuk kita berjuang. Selama masih bisa melihat matahari terbit. Jangan pernah menyerah!

__ADS_1


See you....


__ADS_2