Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Batal atau tidak


__ADS_3

Pagi harinya Shafa baru pulang ke rumah kontrakan. Semalam ia sudah pamit untuk menginap dirumah salah satu temannya. Tentu hal itu hanya untuk membuat teman-temannya tidak curiga. Dia belum bisa mengatakan bahwa ia menginap dirumah orang tua angkatnya.


"Assalamu'alaikum!" ucap Shafa ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam!" jawab semuanya serentak.


"Alhamdulillah kamu sudah pulang Fa!" seru Alza.


Shafa duduk disofa bersama Silvia dan juga Aira. Alza sedang memakai sepatunya.


"Iya Fa, setelah ini kita ke pesantren. Syifa mengundang kita kesana. Ada acara syukuran kelulusan gus Afif," ujar Aira.


"Bukannya gus Afif udah lulus dari tahun kemaren ya?" ucap Shafa.


"Iya sih Fa. Cuma, kata Syifa, kakaknya itu baru mau ngadain syukuran sekalian sama acara peringatan hari berdirinya pesantren," imbuh Alza.


Shafa pun juga segera bersiap. Dia hanya berganti hijab dan melapisi pakaiannya dengan cardigan.


Setelah itu mereka berempat menuju pesantren. Silvia yang biasanya tidak berhijab, terpaksa harus meminjam hijab milik Alza.


"Kamu itu sebenarnya tambah cantik lho Vi pake hijab," ucap Shafa.


Silvia tersenyum malu-malu. "Jangan bikin kepalaku besar Fa!"


"Kepala kamu memang sudah besar Vi. Lebih besar dari buah semangka malah," sahut Aira.


"Berarti seger dong ya!" Silvia cengar cengir sambil mengerlingkan mata.


"Iya, ntar habis dari pesantren kita belah bareng-bareng ya Za, Fa!" ujar Aira.


"Sip lah..." Shafa ikutan menanggapi candaan Aira. Mereka berempat pun berjalan sambil diiringi canda ringan. Namun dengan tawa yang lirih. Walau bagaimana pun mereka adalah kaum perempuan. Harus bisa menjaga adab.


Shafa jadi berpikir. Mungkin yang membuat Gibran menyukai Silvia, karena memang gadis itu selalu terlihat ceria dan suka bercanda. Berbalik dari sifat Gibran yang lebih banyak diam. Semoga mereka adalah pasangan yang bisa saling melengkapi. Itulah harapan Shafa.


Dia sendiri pun saat ini tidak terlalu dekat dengan kakaknya itu. Padahal dulu Gibran adalah anak yang periang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Bermain, bercanda ria, tertawa bersama. Rasanya Shafa sangat merindukan masa-masa yang dulu. Begitu juga dengan Randi. Sahabat yang selalu menemani masa sulitnya. Shafa sangat menyayangi dua pria dimasa kecilnya itu.


Tanpa terasa kini mereka sudah memasuki gerbang pesantren. Tenda-tenda dan kursi sudah dipersiapkan. Para tamu juga mulai berdatangan memenuhi kursi undangan.


Keempat gadis itu disambut oleh Syifa. Mereka pun diajak duduk diteras setelah sowan pada orang tua Syifa.


Lagi-lagi Shafa dibuat terkejut dengan kedatangan dua pria yang dikenalnya. Mungkin memang benar kata pepatah dunia tak seluas daun kelor.


Padahal daun kelor mah cuma selebar kuku ya! Apa dunia sesempit itu? Mungkin bagi Shafa iya.


"Assalamu'alaikum... " ucap Az dan Afif bersamaan.


Keempat gadis itu berdiri sambil membalas salam. Syifa pun juga ikut berdiri.


Pandangan Az dan Afif terpaku pada Shafa yang tak berani memandang mereka berdua.


"Kenalin Kak Afif, Kak Az. Ini Shafa dan Silvia," ujar Syifa menunjuk kearah dua gadis yang ia sebut namanya. "Kalau Alza dan Aira udah kenal kan!" serunya dengan ramah.


"Iya Syifa. Aku juga sudah kenal Shafa dan Silvia. Kita satu kampus," ucap Az. Pandangannya tak beralih dari Shafa.


Afif pun tak menyangka bahwa Shafa juga kenal dengan teman-teman adiknya. Dia masih menyimpan harapan pada gadis yang sempat menolak lamarannya kemarin.


"Wah, kebetulan sekali kalau kalian sudah saling kenal," ucap Syifa.


"Gus Afif, udah punya calon belum. Kalau belum, ada lho yang lagi menanti mau jadi makmumnya Gus Afif." Kini Silvia yang angkat suara sambil mengarahkan pandangannya pada Alza.


Tentu saja yang disana bisa menangkap kode dari Silvia. Semua tersenyum melihat Alza yang tersipu malu. Kecuali Afif yang hanya menampilkan wajah datar.


Az dan Afif pamit masuk kedalam. Silvia dan yang lain menuju tempat acara.

__ADS_1


Didalam Afif menatap Az penuh tanda tanya. "Kamu sudah mengenal Shafa?" tanyanya. "Sejak kapan?" lanjut Afif.


Az menanggapi dengan senyuman. "Baru kemarin ketemu dikampus Fif. Aku juga baru tau kalau ternyata Shafa temannya Silvia dan kita satu kampus."


"Ada sesuatu diantara kalian?"


Sesaat Az terkejut, memang ada sesuatu antara dirinya dan Shafa. Tapi hal itu tak mungkin ia katakan pada Afif. Bagaimana pun juga ia hatus menutup aib yang telah ia perbuat. Demi nama baik Shafa juga. "Duh, seorang Afif bisa cemburu juga ya," goda Az untuk mengalihkan perasaannya.


"Astaghfirullohal'adzim!" Afif mengusap wajahnya. Ia sadar dirinya sudah diluar kendali. "Aku harus belajar untuk lebih ikhlas, Az. Maafkan aku!"


Az merangkul bahu Afif. "Sudah Fif. Itu sifat manusiawi kok. Ayo kita ketempat acara!" ajaknya kemudian.


****


Acara demi acara telah berlalu. Kini para tamu undangan menikmati jamuan. Setelahnya mereka berangsur-angsur meninggalkan tempat. Shafa dan ketiga temannya masih berada disana. Mereka ikut bantu beres-beres bersama Syifa dan para santriwati lainnya.


Ketika semua sudah beres dan mereka beristirahat. Shafa meminta izin untuk berkeliling pesantren. Ia melihat para santriwati yang sebagian bercanda ria dan sebagian lagi membentuk kelompok belajar.


Pesantren itu dibangun dengan suasana asri. Ada taman sederhana didepan kamar para santri. Shafa pun merasa nyaman disana. Disetiap sisi area santriwati dibangun pembatas.


Perhatian Shafa tertuju pada beberapa santriwati yang sedang mendebatkan sesuatu. Mereka duduk melingkar beralaskan tikar ditaman. Beberapa diantara mereka duduk bersandar pada pagar pembatas.


Nggak batal wudlunya Nana, kan mereka sudah suami istri.


Batal Sa. Orang tua aku bilang itu membatalkan wudlu meski mereka suami istri.


*Terus ini jawabannya gimana? Mana yang benar coba. Ada yang bilang batal, ada yang bilang enggak.


Bingung jadinya. *Aku telan aja ya kitabnya biar pinter dadakan**.


Shafa yang mendengar perdebatan para santri itu mengulas senyum. Lalu ia berjalan mendekati mereka dan ikut bergabung.


"Lagi bahas apa kalian? Kedengarannya seru," ujar Shafa ramah.


"Iya Kak. Kita kan belum nikah masak dikasih pertanyaan tentang suami istri," sahut yang lain.


"Memang kalian kelas berapa?"


"Kita kelas tiga Madrasah Aliyah Kak."


Shafa pun mengangguk mengerti. "Lalu pertanyaan yang kalian bahas tentang apa?" tanyanya lagi.


Satu diantara mereka membuka buku dan membacakan pertanyaan.


"Gini Kak pertanyaannya. Apakah jika suami istri bersentuhan bisa membatalkan wudlu?"


Shafa pun menatap mereka satu persatu. Usia remaja seperti mereka memang sudah perlu untuk diajari tentang ilmu fikih demi masa depan mereka. Bukan salah ustadz yang memberi pertanyaan. Juga bukan salah para santri yang kebingungan menjawab karena memang pertanyaan itu dibuat agar mereka tahu.


Lalu, apakah Shafa bisa menjelaskan tentang pertanyaan mereka? Mengingat background pendidikannya yang bukan dari pesantren.


Tanpa ia sadari pun ada banyak pasang mata dan telinga memperhatikan interaksi Shafa dan para santri itu.


"Gimana Kak?" tanya salah satu diantara mereka.


Shafa pun membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Begini, jawaban dari pertanyaan kalian itu berbeda-beda. Ada yang berpendapat membatalkan wudlu dan ada yang berpendapat tidak membatalkan wudlu.


"Mayoritas muslim di negara kita menganut imam siapa? Ada yang tahu?" tanya Shafa sebelum menjelaskan lebih lanjut.


"Imam Syafi'i Kak."


"Tapi orang tua saya menganut imam Maliki, Kak," sahut santri yang lain.

__ADS_1


"Nah, karena itu tadi kalian ada yang bilang wudlunya batal dan ada yang bilang wudlunya tidak batal. Kan muslim indonesia mayoritas menganut imam Syafi'i. Jadi, wudlunya suami istri batal jika mereka bersentuhan. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Dengan syahwat atau pun tanpa syahwat tetap membatalkan wudlu."


"Tapi kan suami istri sudah halal Kak. Kenapa tetep batal?" sanggah salah satu santri.


"Meskipun istri sudah halal bagi suami tapi asal usul istri tetaplah orang lain atau biasa disebut wanita al ajnabiyyah. Mereka bukan saudara dan dia wanita yang halal untuk dinikahi. Karena itu wudlunya tetap batal jika bersentuhan," terang Shafa.


Mereka pun mengangguk mengerti. Sedikit banyaknya mereka pasti sudah mendapat pelajaran yang tentang siapa saja wanita yang haram dinikahi dan wanita yang halal dinikahi.


"Nah, sedangkan menurut imam yang lainnya seperti, imam Hanafi. Berpendapat tidak membatalkan wudlu. Kalau menurut imam Maliki dan imam Ahmad, jika ada syahwat dalam sentuhan itu maka membatalkan wudlu, jika tanpa syahwat maka tidak batal wudlunya.


Pada dasarnya setiap imam mempunyai landasan yang kuat dalam berpendapat. Jadi kita harus menghargai setiap perbedaan. Kita ikuti imam yang kita jadikan panutan. Maka dari itu, kita harus tetap rukun karena kita sama-sama umat muslim."


"Terimakasih ya Kak, sudah dijelaskan. Kita jadi tahu jawabannya."


"Sama-sama. Kakak disini juga masih belajar. Kalian yang rajin belajarnya. Manfaatkan waktu selagi masih ada kesempatan. Karena masa muda kalian tidak akan bisa terulang lagi. Jangan sampai penyesalan datang suatu saat nanti," ucap Shafa dengan lembut.


"Sipp Kak!" seru mereka sambil mengacungkan dua jempol diiringi senyuman tulus dari wajah polos mereka.


Setelah itu mereka juga belajar bahasa arab. Dan ternyata Shafa juga bisa membantu mereka mengerjakan tugas. Para santri lain pun juga ikut bergabung. Mereka belajar bersama.


Disisi lain para sahabatnya juga kagum dengan Shafa. Ternyata dia bisa tahu mengenai pelajaran itu. Padahal dirinya adalah mahasiswa jurusan bisnis.


Afif yang kebetulan lewat diseberang jalan pagar pembatas, juga mendengarkan hal itu. Tidak salah jika hatinya tertarik pada gadis itu. Tapi apa daya, takdir belum mengizinkan gadis itu bersanding dengannya.


***


Keempat sahabat itu sudah sampai dirumah kontrakan ketika hari menjelang sore. Saat memasuki rumah, Shafa dihadang oleh ketiga sahabatnya.


"Kamu itu sebenarnya siapa?" tanya Aira dengan wajah serius. Alza dan Silvia juga memasang wajah yang sama sambil bersedekap didepan Shafa.


Wajah Shafa sedikit memucat, ia terkejut dengan pertanyaan itu. Takut kalau sahabatnya tahu siapa dia yang sebenarnya.


"A-aku ya Shafa yang kalian kenal," jawab Shafa gugup.


"Bohong! Kamu bukan Shafa yang kami kenal," seru Silvia.


Shafa semakin dibuat deg deg an oleh para sahabatnya. "Apa maksud kalian?"


Namun tiba-tiba suara gelak tawa terdengar dari Aira, Silvia dan Alza. Shafa bernafas lega, ternyata mereka sedang menjahili dirinya.


"Kalian tega ya ngerjain aku!" seru Shafa. Kini mereka sudah mengambil posisi duduk.


"Eh, lucu banget lho wajah kamu kalau lagi takut gitu," ucap Aira.


"Kita tadi denger obrolan kamu sama santri dipesantren. Dari mana kamu bisa paham masalah seperti itu? Padahal setahu kami, kamu itu mahasiswi jurusan bisnis. Apalagi ternyata kamu juga mengerti tentang bahasa arab," ujar Alza.


Aira juga tak sabar ingin tahu dan ikut bertanya. "Iya Fa. Kamu kayaknya nyembunyiin sesuatu dari kita. Jangan-jangan kamu anaknya ustadz ya! Atau kamu memang anaknya seorang kyai."


"Bukan. Aku dulu pernah diajari oleh seseorang," jawab Shafa.


"Seseorang siapa Fa?" tanya Aira.


Sedangakan Silvia pergi karena ada panggilan masuk ke ponselnya.


"Seorang teman Ra. Udah dulu ya, aku mau bersih-bersih badan." Shafa pun bangkit menuju kamarnya. Meninggalkan Aira dan Alza yang masih penasaran dengan dirinya. Karena belum mendapat jawaban yang memuaskan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika ada yang salah mohon koreksinya ya!


__ADS_2