
"Kenapa Kak mukanya gitu? Ngerasa tersindir ya!" ucap Samuel mengejek. Pasalnya, Guntur menatap jengkelh kearah adiknya itu.
Tadi setelah Samuel bernyanyi, Shafa dan Guntur mendekat.
"Yang patah hati kamu kenapa malah nyindir aku," protes Guntur.
Samuel hanya tertawa, dulu dia memang sering menyebut Guntur pecundang dan pengecut karena tidak berani jujur pada Shafa. Malah menjadikan dirinya sebagai pion. Untung saja Shafa gampang diluluhkan. Jadi, masalah sudah clear.
"Masih aja kesindir, padahal udah lewat. Gue cuma cari hiburan aja kali, nggak ada niat nyindir."
"Maksudnya apa kok malah bahas sindir menyindir?" Shafa tak mengerti.
"Tuh, suami kamu dulunya peng...." ucapan Samuel terhenti karena Guntur membekap mulutnya.
"Punya mulut dikasih rem napa Sam, jangan buka aib orang!" bisik Guntur ditelinga Samuel agar Shafa tak mendengar. Bisa ternoda harga dirinya.
"Udah Mas, jangan digituin Samuelnya! Dia masih sakit," lerai Shafa.
Guntur pun menyadari apa yang dia lakukan. Tangannya yang menyentuh kulit Samuel merasakan panas yang menyengat.
"Badan kamu masih panas Sam," ucap Guntur khawatir. Kemudian ia memeriksa kening Samuel dan meraba seluruh wajahnya.
"Nggak ah, gue baik-baik saja. Ya udah, gue kekamar dulu. Tuch ada Randi." Samuel menunjuk kearah Randi yang berjalan kearah mereka. Dia pun segera pergi dan menyapa Randi sebentar. Badannya memang mulai terasa gemetar, kepalanya pun terasa berat. Karena itu ia lebih memilih kekamar. Didalam sudah ada Steven dan keluarganya. Ada juga teman-teman Shafa. Samuel hanya menyapa sebentar, ia ingin segera merebahkan tubuhnya kembali. Obat yang ia minum hanya bereaksi sebentar. Demamnya kembali tinggi.
Sementara itu ditaman, tiga orang tadi berbincang-bincang.
"Seneng deh lihat Non sekarang udah kelihatan bahagia lagi," ujar Randi yang sudah duduk disalah satu bangku.
"Kamu juga sebentar lagi berbahagia kan. Mau nikah nggak bilang-bilang."
"Bukannya nggak bilang-bilang Non, tapi emang belum sempet bilang."
"Terus kapan Rand jadinya kamu nikah?" tanya Guntur.
"Diundur sampai beberapa bulan kedepan kayaknya, rencananya kan bulan depan. Berhubung sibuk ngurus permasalahan kemarin jadinya nunggu sampai semua stabil."
"Sorry ya Rand! Gara-gara masalahku kamu juga kena imbasnya."
"Santai aja kali Non. Kendalanya bukan cuma itu saja. Perusahaan tuan Steven dan perusahaan Non Shafa juga lagi sibuk-sibuknya. Tuan Steven sampai sering lembur. Makanya, Non cepet pulang dan ngurus perusahaan. Sekarang pak Andi pasti lagi kerja keras sendirian karena kita tinggal," terang Randi. Selama kepergian Randi dan Steven, sekretaris Andi lah yang menghandle urusan kantor.
"Aku nggak nyangka lho Rand kamu bakal nikah sama mbak Salsa. Secara, umur mbak Salsa empat tahun diatas kamu."
"Cinta nggak pandang umur lah Non. Non Shafa sama Guntur, eh maaf aku panggil nama. Harusnya panggil Den Guntur. Hehe...," ucap Randi sambil nyengir.
__ADS_1
"Panggil nama saja Rand, biar enak. Kamu kan sudah seperti putra papa Steven. Benerkan Fa?" Guntur beralih pada Shafa.
"Bener itu Rand. Kamu manggil aku Shafa saja, nggak usah pake Non lagi."
"Itu sudah panggilan paten Non. Aneh kalau panggil nama saja."
Beberapa saat kemudian, ada Barra dan juga teman-teman Shafa menghampiri. Ada Alza dan Aira tapi tak tampak Silvia.
"Assalamu'alaikum..." ucap mereka serentak.
Shafa dan yang lain juga menjawab salam bersamaan. Arsyad yang berada dalam gendongan Barra meminta turun. Anak kecil itu langsung berhambur memeluk Shafa.
"Uuuhhh... anak ganteng manjanya!" seru Shafa sambil tersenyum ramah.
"Alsyad kangen sama tante cantik," ucap Arsyad yang belum fasih mengucapkan huruf R, padahal umurnya sudah lima tahun.
"Kamu seperti papa ya! Lama cadelnya, belum bisa ngucapin R."
Barra pun tergelak, Shafa masih ingat masa kecilnya dulu. "Kamu kok bisa masih ingat sih Fa?"
"Ya ingatlah, dulu Daddy sering banget godain Kak Barra. Ternyata cadelnya nurun ke Arsyad," ucap Shafa sambil terkekeh.
"Kamu udah pantes deh Fa punya baby. Gimana, udah ngisi belum?" goda Aira.
Shafa memindahkan Arsyad kesamping. Lalu memegang perut ratanya. "Ini udah ngisi buat celengen di toilet."
"Bang Guntur harus usaha lebih keras lagi kayaknya, kalau perlu ajak Shafa lembur." Alza malah ikutan menggoda.
"Kalian jangan godain Non Shafa terus. Kasihan yang disebelahnya mukanya bingung gitu." Randi menimpali.
Shafa berdiri sambil menggendong Arsyad. "Udah, yuk kedalam cari minum! Aku haus kalian godain mulu." Shafa pun segera melangkahkan kakinya.
Semua orang pun juga mengikuti. Mereka melanjutkan perbincangan didalam. Dengan telaten Shafa menyuapi Arsyad cemilan. Mereka juga bermain dan bercanda.
Hal itu pun tak luput dari perhatian Guntur dan para orang tua.
"Kamu harus segera memberikan papa cucu Gun," bisik Faisal. Papanya Guntur juga pulang ketika mendapat kabar bahwa besannya akan datang.
"Bener itu Gun, kamu harus cepet bikin cucu biar Mama punya baby yang bisa diajak jalan-jalan," tambah Olivia.
Yang lain juga menyetujui usulan itu. Sedangkan Guntur tak tahu harus menjawab apa. Meskipun hubungan mereka sudah dekat bahkan sudah saling menyatakan cinta, tapi untuk hubungan yang lebih intim, Guntur belum berani. Apa lagi Shafa baru saja melewati hari-hari sulit. Ditambah trauma dimasa lalu yang mungkin masih membekas dalam ingatan Shafa. Bahkan Fachri pun tak pernah menyentuh Shafa selama pernikahan mereka.
Sementara itu, dikamar atas. Samuel tengah menahan rasa sakitnya sendiri. Ia menggigil kedinginan karena demam yang terlalu tinggi. Sakit hati yang ia rasakan ternyata benar-benar berimbas buruk pada tubuhnya.
__ADS_1
Hari sudah semakin sore, semua orang sudah berpamitan pulang. Setelah membantu beres-beres, Shafa naik keatas. Sedangkan Guntur masih mengobrol dengan papanya.
Ketika melewati kamar Samuel, Shafa teringat keadaan sahabatnya yang tadi kondisinya belum membaik. Shafa mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Lalu, ia memberanikan diri membuka pintu. Ia pun terkejut melihat Samuel meringkuk dilantai. Tangannya memeluk tubunnya sendiri yang menggigil.
"Kamu kenapa Sam?" tanya Shafa panik sambil memegang tubuh Samuel yang sangat panas.
Shafa pun keluar dari kamar dan berteriak meminta tolong. Lalu ia kembali kedalam meletakkan kepala Samuรจl dipangkuannya.
"Kamu bertahan ya Sam sebentar lagi kita kerumah sakit," ucap Shafa sambil mendekap kepala Samuel.
"Di-ngin Fa. Gue nggak tahan," ucap Samuel gemetar. Tubuh panas dan dia menggigil kedinginan.
Shafa sampai meneteskan air mata melihat keadaan sahabatnya yang lemah. Bisa dibayangkan betapa jiwa Samuel tenggelam dalam nestapanya. Ada kalanya cinta itu menguatkan. Ada kalanya cinta itu melemahkan. Ada kalanya cinta menyehatkan yang sakit dan ada kalanya cinta menjadi penyakit bagi yang sehat. Cinta memang sebuah rasa yang penuh dengan keajaiban.
Semua orang dibawah panik mendengar teriakan Shafa dari atas. Mereka berhambur menuju sumber suara.
Melihat keadaan Samuel yang semakin parah, Guntur dan papanya segera mengangkat tubuh lemah Samuel. Sedangkan Shafa langsung berlari mendahului mereka untuk menyiapkan mobil.
Sekarang Samuel sudah berada didalam mobil dan Shafa yang memilih menemani pria itu dibelakang. Lalu Guntur yang menyetir. Sedangkan orang tua Guntur mengikuti dari belakang membawa mobil sendiri.
"Di-ngin..." rintih Samuel yang kepalanya berada dipangkuan Shafa.
"Iya Sam. Kamu harus kuat, sebentar lagi kita sampai kerumah sakit. Kamu tidak boleh lemah," ucap Shafa.
"Nggak kuat Fa." Suara Samuel terdengar semakin lemah. Hingga akhirnya Samuel hilang kesadaran.
"Saaam....!" teriak Shafa.
Guntur juga ikut panik melihat keadaan adiknya seperti itu. Ia pun menambah laju kecepatan mobil menerobos jalanan yang cukup ramai.
"Kamu akan baik-baik saja Sam." Shafa mendekap lagi kepala Samuel.
.
.
.
.
Hai semua!
Mungkin ini part terakhir yang bisa aku tulis. Ponsel yang aku pakai error. Nggak bisa dicharger. Ini batrai tinggal 37%, jadi aku stop dulu.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi jika aku udah dapat ponsel baru ya! ๐๐๐๐
Bye... Bye.... Sampai ketemu lagi dilain kesempatan. Love you all.