Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

Pagi itu Gibran datang keķontrakan Silvia, hubungan mereka memang belum membaik. Berkali-kali Silvia minta putus dari Gibran.


Kebetulan Alza dan Aira sedang libur kuliah jadi mereka sedang santai bertiga didepan Tv.


"Assalamu'alaikum!"


Serentak ketiga gadis itu menjawab salam. Silvia menghampiri Ģibran yang masih berdiri didepan pintu.


"Kamu kurang kerjaan pagi-pagi udah datang kesini?" suara Silvia teŕdengar sinis.


"Aku datang sepagi ini supaya bisa ketemu kamu Vi. Setiap aku datang kamu selalu nggak ada." Gibran berucap selembut mungkin. Dia berharap hubungannya masih bisa dipertahankan.


"Kan sudah aku bilang, kita putus Bran. Kita sudah tak ada hubungan lagi."


"Kenapa kamu keras kepala Vi? Shafa itu adikku, dia adikku Via...!" ucap Gibran penuh penekanan.


Silvia tersenyum mengejek. "Hah, adik? Kamu pikir aku percaya begitu saja. Shafa saja bilang dia yatim piatu sejak kami bertemu. Dia juga tidak punya saudara. Lalu bagaimana aku bisa percaya?"


"Kami berdua saudara angkat Vi, papa yang merawat dia sejak kecil. Orang tuanya memang sudah meninggal," terang Gibran.


Silvia mengibaskan tangannya tidak percaya. "Udahlah Bran! Aku capek ngomong sama kamu. Terima saja kalau kita udah putus." Silvia pun masuk kedalam kamarnya.


Alza dan Aira mengajak Gibran duduk diteras.


"Kalau Silvia tidak bisa diajak memperbaiki hubungan kalian, ikhlasin aja Bran. Toh, kàmu juga tampàn. Banyaklah cewek yang naksir sama kamu," ucap Aira dengan nada sedikit bercanda. Dia hanya ingin memberi sedikit hiburan pada Gibran.


"Kalau gitu kamu sama kamu aja ya. Kamu naksir tidak sama aku?" tanya Gibran dengan senyuman jahil. Terus bersedih tak ada gunanya juga. Status pun masih pacaran belum menikah. Tapi tetap saja hati Gibran merasakan sakit.


"Sorry ya Bang! Saya tidak menerima bekas sahabat sendiri. Dikiranya teman makan teman."


Gibran jadi terkekeh, begitu juga dengan Alza.


"Gimana kabar Shafa sekarang?" kini Alza yang bertanya.


Gibran meletakkan kedua tangannya dimeja sambil saling menautkan jari-jarinya tanpa menatap lawan bicaranya. "Sejauh yang aku tahu dia baik-baik saja," jawab Gibran.:


"Maksud kamu gimana Bran? Kalian tidak tinggal serumah?" tanya Alza bingung.

__ADS_1


Baru saja Gibran hendak buka suara, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari mamanya. Gibran sangat terkejut mendengar penjelasan mamanya bahwa Shafa dan Guntur diculik.


"Ada apa Bran?" tanya Alza cemas.


"Shafa diculik Za. Aku harus membantu papa dan yang lain menyelamatkan Shafa," jawab Gibran yang kemudian bangkit dari duduknya menuju mobil. Alza dan Aira juga ikut panik. Mereka mengikuti kemana mobil Gibran meluncur.


****


"Siapa sebenarnya anda dan apa tujuan anda mengincarku?" Shafa langsung melontarkan pertanyaan tanpa rasa takut. Pria itu tampak gagah dan tampan tapi tersirat kelicikan dalam wajahnya.


"Hahaha.... " Orang itu malah tertawa sambil mendekat kearah tawanannya. "Kamu benar-benar sudah lupa denganku Shafa sayang," ucapnya lagi dengan membungkukkan badan mendekatkan wajahnya pada Shafa.


Bukannya takut, Shafa malah memberikan tatapan menantang. "Aku tidak pernah ada urusan denganmu tuan," ucap Shafa dengan penuh penekanan.


Pria itu menarik tubuhnya untuk berdiri tegak. "Ternyata kecelakaan itu benar-benar menghapus ingatanmu secara permanen. Bahkan kejadian 13 tahun yang lalu masih jelas dalam ingatanku. Meski kau baru berumur 5 tahun, tapi ingatanmu sangat kuat. Kau terlahir sebagai gadis yang berIQ tinggi. Pemikiranmu sudah seperti orang dewasa,Shafa."


Shafa sendiri berusaha menggali ingatannya kembali. Ada hal yang tak pernah Steven ceritakan padanya.


"Padahal dulu aku berharap kau mati bersama kedua orang tuamu dan juga saudara kembarmu. Tapi ternyata takdir berbaik hati padamu. Dia mengambil ingatanmu agar kau hidup tenang. Sekarang aku akan mengingatkanmu Shafa," ucap Robert lagi. Dia terus berusaha menekan Shafa dengan cerita masa lalu yang menghilang dari gadis itu.


"Kau ingat Shafa kebakaran hebat dirumah mendiang nenek kita. Oh bukan, dia hanya nenekmu. Dia sangat menyayangimu. Sampai tak memperdulikanku, karena aku hanya cucu dari anak angkatnya. Sampai akhirnya aku dan ayah merencanakan sesuatu. Awalnya kami hanya ingin menakut-nakuti nenek tua itu. Tapi ternyata rumah itu terbakar sampai habis. Ayahmu mengetahui itu adalah ulah kami. Jadi, sekalian kami ingin menghabisi kalian. Saudara kembarmu terbakar disana. Kau dan kedua orang tuamu melarikan diri dengan mobil. Tapi ayah berhasil menembak salah satu ban mobil dan terjadilah kecelakaan. BOOM....!!!" ucap Robert dengar keras diakhir katanya.


Seketika Shafa berteriak histeris. "Tidaaakkkk...!!!" Mata Shafa sudah berkaca-kaca. Kilasan masa lalunya mulai berkelebat dalam ingatannya.


Flashback


Boom.... Duaaarrr...!!!


Ledakan keras terdengar dari sebuah rumah mewah milik kediaman keluarga Kemal. Asap hitam diiringi kobaran api menghiasi suasana malam itu.


"Daddy...!" rintih Shafa yang berada dipojok ruangan. Ia sudah dikelilingi oleh asap tebal. Fikri saudara kembar laki-lakinya berusaha meraih Shafa. Mereka berdua berusaha lari menuruni tangga.


Suara teriakan sang mama mulai menggema. Michael dan Maxime terlibat cek cok dan perkelahian. Sementara sang nenek terjebak diruang kerja. Shafa kecil dan Fikri berusaha membuka pintu ruang kerja untuk menolong nenek mereka.


Pintu berhasil terbuka, sang nenek terbatuk-batuk karena asap yang sudah mendominasi ruangan.


"Shafa, tolong jaga boneka ini buat nenek! Setelah besar kamu buka boneka ini." Begitulah pesan terakhir sang nenek. Kemudian ibu mereka menyusul dan membawà mereka keluar dari ruangan itu. Menyelamatkan diri adalah pilihan terbaik saat itu dalam pikiran Alfiya.

__ADS_1


Barra yang saat itu berusia 10 tahun juga berusaha menolong Shafa dan Fikri serta tantenya. Barra mencoba mencari jalan keluar. Atap-atap mulai runtuh dan api sudah bergejolak kemana-mana.


Pertengkaran Michael dan Maxime masih berlanjut. Alfiya meneriaki Michael agar segera keluar dari rumah.


"Kau benar-benar keterlaluan Kak, kenapa kau tega melakukan semua ini? Apa kau sudah gila Kak?" teriak Michael dengan emosi.


"Hahaha...!!! Aku memang sudah gila. Kau dan keluargamu harus mati. Tak akan ada penerus keluarga Kemal selanjutnya," ucap Maxime.


Michael berusaha lari dengan kondisi tubuh lemahnya. Setelah dengan susah payah ia bisa lolos dari kejaran kakaknya.


Sementara itu, Fikri ditarik masuk lagi oleh Robert, kakaknya Barra. Fikri terlempar kedalam kobaran api. Seketika Shafa dan mamanya berteriak histeris. Sedangkan Robert tertawa puas telah berhasil membantu ambisi ayahnya.


Barra segera menarik Shafa dan tantenya menuju mobil yang terparkir dihalaman. Bersamaan dengan itu, Michael juga berhasil keluar. Mereka bertiga menaiki mobil dan langsung menyelamatkan diri. Shafa terus menangis sambil memeluk boneka pemberian sang nenek. Alfiya juga terisak sambil memeluk putrinya.


Suara tembakan terdengar dari mobil yang mengejar mereka. Michael berusaha sebisa mungkin menghindar. Maxime memang benar-benar gila. Dia masih berambisi untuk menghabisi seluruh keluarganya. Michael menyuruh istrinya untuk menghubungi Steven. Meminta bantuan sahabat baiknya.


Tak lama kemudian ban mobil terkena tembakan. Laju mobil tak terkendali. Alfiya membuka pintu samping dan melempar Shafa keluar dari mobil. Hingga akhirnya mobil itu menabrak sebuah toko dipinggir jalan. Dari kejauhan Shafa yang setengah sadar melihat bagaimana mobil itu ringsek. Dia melihat kepala mamanya bersimbah darah keluar dari pintu mobil. Sebuah trauma besar yang dialami oleh Shafa hari itu.


****


Shafa kecil terbangun, ia sudah berada disebuah ruang rawat. Disampingnya ada seorang pria yang seumuran dengan ayahnya. Shafa tampak bingung, ia tak ingat apa yang terjadi. Hingga ia menganggap orang itu adalah ayahnya.


"Daddy...!" panggil Shafa. Entah kenapa gadis kecil itu bisa menganggap orang disampingnya adalah sang ayah.


Steven langsung memeluk putri sahabatnya itu sambil berurai air mata. "Iya ini daddy sayang," ucapnya kemudian. Sebuah keajaiban baginya Shafa kecil menganggap ia adalah ayahnya.


Sebelumnya Steven juga mendapat amanat dari Michael agar menjaga putrinya dan juga perusahaan yang ia miliki dari Maxime. Semua surat-surat penting berada di rumah milik Michael sendiri. Sedang yang terbakar adalah rumah milik ibunya.


"Ingat siapa nama kamu?" tanya Steven setelah meregangkan pelukannya. Dokter sempat memberi tahu bahwa kemungkinan Shafa akan mengalami amnesia karena benturan saat ia terlempar dari mobil dan juga karena shock berat yang ia alami.


Gadis kecil itu hanya menggeleng. Steven memberikan senyuman terbaiknya agar terlihat baik-baik saja dihadapan putri sahabatnya.


"Nama kamu Clara, sayang dan daddy adalah daddy Steven. Daddy nya Clara."


Gadis kecil itu pun mengangguk. Shafa memang pernah beberapa kali bertemu dengan Steven sebelumnya. Jadi, Steven pun sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2