Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Penculikan


__ADS_3

Shafa sudah bisa menduga siapa orang-orang itu. Ternyata mereka masih mengincar dirinya.


"Sam, kamu tetap di mobil, jangan keluar dan jangan sampai mereka bisa nyentuh kamu. Aku akan keluar." Ucapan Shafa yang terdengar serius membuat Samuel hanya mengangguk. Ia tak tahu situasi yang terjadi sekarang.


"Aku akan menemani kamu Fa. Kita hadapi mereka bersama." Guntur juga tampak serius.


"Jika terjadi sesuatu kamu harus kabur dan hubungi daddy dengan ponselku. Kamu mengerti kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Shafa yang semakin serius.


Samuel mengangguk mengerti. Lalu, Shafa dan Guntur segera keluar dari mobil. Samuel semakin merasa cemas didalam mobil. Tangannya mencengkeram erat stir dalam genggamannya.


Dia melihat Shafa dan Guntur mulai adu kekuatan dengan orang-orang misterius itu. Mobil lain datang, dan keluar orang berpakaian serupa. Musuh semakin banyak. Samuel semakin panik, dia hendak membantu pun percuma. Dirinya tak pandai berkelahi.


Dua bodyguard yang ditugaskan mengawasi Shafa juga sudah datang membantu. Tapi mereka dengan mudah dilumpuhkan karena lawan yang dihadapi tak seimbang.


"SAM.... Lariiii...!!!" teriak Shafa dari kejauhan.


Dengan gugup, Samuel menyalakan mesin mobil. Dia ingat pesan Shafa tadi. Mobil melesat dengan cepat. Dibelakang ada sebuah mobil yang mengejar. Samuel yang dulu sering ikut balapan, bukan hal yang sulit kebut-kebutan di jalanan. Hingga ia bisa meloloskan diri.


Sedangkan, Shafa dan Guntur sudah dalam kendali para musuhnya. Mereka berdua memang sengaja mengalah agar bisa tahu siapa dalang dibalik penyerangan itu. Shafa dan Guntur dibawa masuk ke mobil dengan tangan terikat dan mata tertutup. Mereka akan mengikuti permainan lawan.


Disisi lain, Samuel yang merasa sudah aman segera mencari ponsel milik Shafa didalam tas. Dicarinya kontak milik tuan Steven. Tertera nama kontak "Daddy" disana. Samuel pun segera menghubungi nomor itu. Setelah tersambung, Samuel menceritakan apa yang terjadi.


Steven langsung panik mendengar putri tersayangnya dalam bahaya. Tanpa menunggu lama, ia membangunkan Randi agar segera memesan penerbangan ke kota Y.


****


Shafa dan Guntur dibawa kesebuah bangunan kosong dipinggiran kota dekat dengan hutan. Mereka berdua sudah terikat di kursi setelah para penjahat itu membuka penutup mata.


"Dimana bos kalian?" tanya Shafa gusar.


"Tenang Nona, sebentar lagi bos akan kesini!" jawab salah satu dari mereka.


"Ayo kita keluar! Mereka tidak akan bisa kabur."


Orang-orang suruhan itu segera keluar meninggalkan Shafa dan Guntur yang sudah terikat.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Fa?" Guntur tampak cemas. Pasalnya, ia tak pernah berada dalam situasi seperti ini. Meski ia tahu resiko berada disamping gadisnya adalah seperti sekarang.


Shafa memandang suaminya dengan wajah setenang mungkin. "Jangan khawatir! Sebelum matahari terbenam aku pastikan kita sudah bisa keluar dari tempat ini. Daddy akan melacak keberadaan kita," ujarnya menenangkan Guntur.


"Sekarang mendekatlah padaku! Kita coba saling melepas ikatan," ucap Shafa lagi.


Mereka berdua pun berusaha saling mendekat dengan menggerakkan tubuh agar kursi bisa berada pada posisi saling membelakangi.


Guntur lebih dulu mencoba meraba tali yang mengikat Shafa. Ia berusaha mengurai simpul tali. Memang cukup susah dengan posisi tangan yang juga terikat. Tapi Guntur terus berusaha.


Hingga pintu terbuka dengan diiringi suara seorang pria.


"Usaha kalian untuk melepaskan diri hanya sia-sia saja. Haha...!"


****


Brakkkk


Steven membuka pintu kamar Barra dengan kasar. Saat ini ia sudah berada dipenginapan milik Alam bersama Randi dan juga beberapa orang-orangnya.


Barra yang saat itu sedang bermain dengan putranya terkejut. Ia tak mengerti dengan pertanyaan Steven. Arsyad mendekap kaki ayahnya karena ketakutan.


"Apa maksud Om?" Tangan Barra mengusap lembut kepala putranya agar lebih tenang.


"Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti yang sudah menculik Shafa dan Guntur."


"Saya tidak tahu soal itu Om. Buat apa juga saya menculik Shafa."


"Hajar dia sampai mau mengakui perbuatannya!" perintah Steven pada orang-orangnya.


Barra tak bisa melawan ketika tubuhnya dihujani pukulan orang-orang Steven. Arsyad yang melihat ayahnya dipukuli menangis histeris. Kemarahan Steven membuat ia tak menghiraukan keberadaan makhluk kecil diruangan itu. Randi lah yang berinisiatif menggendong anak itu.


"Jangan pukul papa! Hwaaaa... aaaa... Jangan pukul papanya Al!" Arsyad berucap sambil terus terisak dalam gendongan Randi.


"Tuan, sebaiknya kita dengar dulu penjelasannya. Saya rasa Barra bukan pelakunya. Dia saja punya putra kecil, mana mungkin dia berbuat jahat," ucap Randi. Ia merasa iba mendengar tangisan Arsyad. Anak kecil itu terus melihat adegan kekerasan terhadap ayahnya.

__ADS_1


"Hentikan...!!!" teriak Steven.


Orang-orang itu pun berhenti. Barra sudah babak belur, nafasnya tersengal-sengal sampai ia terbatuk-batuk. Arsyad meronta dari gendongan Randi lalu berhambur memeluk ayahnya.


"Meleka jahat Pa. Al nggak suka olang jahat. Meleka buat Papa sakit." Bocah lima tahun itu memeluk ayahnya dengan erat. Tentu hal itu menimbulkan trauma bagi anak sekecil Arsyad.


"Apa yang bisa kau jelaskan padaku Barra?" tanya Steven yang masih dengan tatapan tajamnya.


Barra menggeser tubuhnya bersandar pada ranjang sambil memeluk putranya. "Aku sama sekali tidak terlibat dalam penculikan Shafa. Om Stev sudah salah paham kepadaku," ujar Barra dengan susah payah. Dada dan perutnya terasa nyeri.


Disaat bersamaan masuklah orang-orang Barra. Mereka tampak kaget dengan keadaan bos mereka. Apalagi ada orang-orang tak dikenal.


"Maaf Bos! Kami gagal melindungi nona Shafa. Tuan Robert berhasil membawa nona Shafa dan suaminya," lapor anak buah Barra.


Seketika Steven mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah menyeràng orang yang salah.


Alam dan Samuel juga datang kekamar Barra. Samuel membawa tas ransel milik Shafa dipunggungnya.


"Om, lebih baik kita periksa barang Shafa terlebih dahulu. Mungkin ada petunjuk disini," ucap Samuel sambil menurunkan tas di punggungnya.


"Baiklah, kamu keluarkan laptop Shafa. Dia pasti menyimpan sesuatu disana," ucap Steven yang kemudian duduk di shofa menunggu Samuel mengeluarkan barang putrinya.


Dengan teliti Steven membuka setiap file yang ada. Lalu ia menemukan file yang terkunci. Steven mengingat-ingat sandi yang biasa dipakai putrinya. Setelah beberapa saat ia sudah bisa membuka file itu. Benar saja, ia menemukan petunjuk disana.


"Shafa berada didaerah pinggiran kota dekat hutan. Kita harus bergegas kesana. Rand, siapkan orang-orang kita. Saya akan kirimkan koordinat lokasi Shafa," ucap Steven tegas.


Randi segera melaksanakan perintah. Kemudian Steven mendekati Barra.


"Maaf, saya salah dengan menuduh kamu tanpa bukti yang jelas." Steven menepuk bahu Barra.


"Tidak masalah. Saya mengerti perasaan Om saat ini. Saya akan ikut menyelamatkan Shafa."


"Apa kamu yakin dengan kondisimu saat ini?"


Barra mengangguk dengan penuh keyakinan. Lalu ia menyuruh anak buahnya untuk menjaga Arsyad selama ia pergi.

__ADS_1


Semua orang bergegas menuju lokasi yang telah dikirim oleh Steven.


__ADS_2