
Seperti apa yang dikatakan Shafa, bahwa ia hanya pergi selama dua jam. Tadi, setelah dari kantor suaminya, Shafa langsung kembali kerumah sakit.
"Masya Allah Sam! Kamu tadi ngemil sebanyak ini?" seru Shafa saat memasuki ruangan Samuel dan mendapati bungkus Snack masih berserakan diatas meja. Pemuda itu membuka mata saat mendengar suara Shafa.
"Kamu bandel banget sih Sam! Minum air es juga ya kamu?"
"Tadi ada tamu tak diundang pulang tak diantar," jawab Samuel ngasal.
"Ya kali Sam ada boneka kayu makan beginian!"
"Kalau nggak percaya ya udah. Yang penting bukan gue yang makan itu semua."
Shafa mendekat kearah Samuel. "Maaf ya Sam! Mungkin aku perginya kelamaan. Ayo sini makan dulu buburnya!" Shafa mengambil mangkok bubur yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Shafa berpikir mungkin Samuel kelaparan, hingga dia makan Snack.
"Boleh nggak kalau makan yang lain? Bosen Fa makan bubur terus. Makan soto Padang gitu, yang kuahnya banyak, panas plus pake sambel yang banyak." Samuel melakukan penawaran.
"Kamu mau cepet mati ya?" ketus Shafa. "Pencernaan lagi nggak beres malah minta yang enggak-enggak. Nanti kalau udah sembuh terserah kamu. Mau makan sambal satu mangkok pun tak masalah," lanjutnya dengan nada agak tinggi.
"Iya-iya, jangan marah-marah gitu! Tambah cantik tau. Hehe..."
Shafa tak menghiraukan ucapan Samuel, sudah biasa mendengar bualan sahabatnya itu. Lalu ia menyentuh dahi Samuel.
"Syukurlah panas kamu kembali turun. Udah lebih enakan belum badannya?" tanya Shafa lembut sambil menyuapkan bubur.
Samuel mengangguk. Setelah minum obat memang rasanya lebih enteng. Pusing juga sudah berkurang. Diarenya pun sepertinya tidak. Karena semenjak Shafa pergi dia belum kekamar mandi lagi.
"Cepet sembuh ya! Biar bisa seru-seruan lagi di rumah."
Samuel menyunggingkan senyuman, entah kenapa dia sangat bahagia diperhatikan oleh Shafa. Tatapannya pada perempuan itu sekarang juga lain. Sebuah perasaan yang memang sulit dikontrol oleh Samuel.
Sore harinya Guntur sudah datang. Dia dan Shafa menginap lagi di rumah sakit. Hari demi hari keadaan Samuel semakin membaik. Setelah empat hari dirawat ia sudah boleh pulang. Selama itu pula Shafa yang membantu merawat pemuda itu. Sonia dan Faisal baru kembali dihari kelima kepergian mereka.
Hari itu mereka sudah pulang dari rumah sakit. Guntur menuntun Samuel menuju kamarnya.
"Nggak usah dipegangin juga kali Kak. Gue bisa jalan sendiri."
Si Guntur malah mendorong tubuh Samuel, hampir saja pemuda itu terjengkang.
"Eh busyet, malah didorong gue." Yang terdorong protes. Yang mendorong malah acuh tak perduli. Tadinya menolong malah sekarang menganiaya.
Shafa heran dengan tingkah dua saudara itu. Padahal salah satunya baru sembuh, udah dijahilin aja.
"Bodo amat." Si Guntur jadi cuek dan melangkah kedapur mengambil air minum.
Samuel pun langsung menuju kamarnya untuk istirahat. Shafa juga ikut naik keatas. Pakaian kotor dari rumah sakit sudah ia taruh ditempat cucian.
Sesampainya dikamar, Shafa merebahkan tubuhnya sejenak. Lalu beranjak kekamar mandi, adzan dhuhur sebentar lagi. Jadi sekalian ia bersiap-siap.
Guntur juga sudah berada dikamar saat istrinya itu keluar dari kamar mandi.
"Mas siap-siap gih! Kita sholat jama'ah," ucap Shafa.
Suara lembut istrinya itu membuat Guntur mengulas senyum. Bahagia telah diizinkan bersanding dengan perempuan yang dicintainya. "Iya, tunggu sebentar!" Guntur segera mengambil air wudhu.
Setelah itu mereka turun untuk makan siang. Shafa meminta izin pada Guntur untuk memasak makanan sendiri buat Samuel. Karena baru sembuh, jadi Shafa ingin membuatkan makanan khusus.
__ADS_1
"SAAAMMM.... Turun!" teriak Guntur dari bawah saat Shafa memintanya memanggil Samuel karena masakannya sudah siap.
"Iiihhh.... Mas....!" Shafa melotot pada suaminya.
"Apa Sayang....?" Suara menggoda dari Guntur telah keluar. Dia mendekat pada Shafa dan memeluk dari belakang.
"Jangan teriak-teriak begitu!"
Samuel sudah turun dan melihat pasangan yang sedang bermesraan. Meski hatinya agak mencelos, tapi dia sadar diri dan berusaha bersikap biasa. "Tarzan udah migrasi kesini ya Fa. Tapi gue kok nggak lihat ada bapak Gorila? Jangan-jangan dia nyasar ya atau rumah ini udah jadi hutan rimba." Samuel berceloteh sambil duduk menghadap meja makan.
"Kan kamu yang jadi bapak Gorila Sam," ucap Guntur yang sudah melepaskan Shafa. Lalu bergabung dimeja makan.
"Gue kan bapaknya clown fish."
"Cocoklah Sam." Shafa berkomentar.
Nasi sudah berada di piring Samuel, saat ia hendak mengambil daging, centong nasi melayang ditangannya.
"Aduh... Apa-apaan sih Fa!"
"Jangan makan daging terus! Nanti kolestrol, lemak darah terus darah tinggi, jantungan, bisa-bisa stroke juga. Mau mati muda?" Nyonya Shafa mulai otoriter terhadap makanan Samuel. "Nih...!" Shafa menyodorkan semangkuk sup yang hanya berisi sayuran. "Makan sayur biar sehat," lanjutnya.
"Allohu Akbar....! Gue bukan kelinci Shafa," seru Samuel.
"Lalu siapa yang bilang kamu kambing? Cepet makan jangan protes! Aku masak khusus buat kamu itu."
Guntur pun terkikik melihat ekspresi Samuel yang memang tak menyukai sayuran. Disuruh makan sayur mungkin berasa kayak nahan perasaan yang tak sampai.
"Alamaaaakkk... Ini namanya penyiksaan Shafa." Samuel terlihat manyun menatap sayur dihadapannya.
"Sekalian ya dikasih sianida!"
"Bosan hidup Bang?" ledek Shafa.
Akhirnya dengan malas dan keterpaksaan, Samuel menyendok sayurnya. Jika bukan Shafa yang memasak khusus untuk dirinya, mungkin sayur itu tak akan disentuhnya. Demi menghargai sahabat yang sudah menginfeksi dirinya dengan virus merah jambu, Samuel menghabiskan sayurnya.
Tapi virus merah jambu itu justru menyesatkan hati Samuel. Gimana enggak? Virus itu menempel dengan tidak tahu dirinya. Membuat Samuel lebih tersiksa. Kepergian Anin dari hidupnya tak lagi ia pikirkan. Toh, gadis itu pasti bisa bahagia dengan jodoh pilihan orang tuanya. Yang harus dipikirkan adalah masa depannya sendiri sekarang. Juga bagaimana caranya mengusir virus merah jambu itu dan menempatkannya pada tempat yang tepat. Jangan sampai salah nemplok lagi!
Samuel merebahkan dirinya didalam kamar setelah selesai makan. Dia tak akan sanggup melihat kemesraan Shafa dan Guntur. Selama dimeja makan tadi, ia harus melihat mereka berdua saling suap-suapan. Sudah seperti siksaan batin baginya.
Rasa bosan menghampiri Samuel, dia pun bangkit dan menuju balkon. Ternyata cuaca sedang mendung, udara jadi terasa sejuk. Cukup untuk mendinginkan perasaannya yang bergejolak.
****
"Mas Guntur sibuk ya?" Shafa ikut duduk disamping Guntur. Saat ini mereka sedang ada dikamar. Guntur memangku laptopnya sambil duduk diatas ranjang.
"Ada pekerjaan yang harus aku periksa ulang Fa. Cuma sebentar." Guntur menoleh sekilas dan kembali fokus pada layar yang menunjukkan gambar sebuah desain bangunan.
Setelah beberapa saat, dia menghembuskan nafas berat sambil menyisir rambutnya kebelakang. Wajahnya tampak terbebani.
"Ada masalah serius Mas?" Shafa tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Hanya masalah kecil Fa, bisa diatasi." Guntur tersenyum dan mengusap kepala Shafa yang masih berbalut hijab.
"Butuh bantuan?"
__ADS_1
"Memang bisa?"
"Sedikit. Kan dulu aku juga pernah terlibat proyek Fachri. Kalian kan satu profesi."
Guntur menaruh laptopnya diatas meja. "Iya percaya. Tapi masalah ini hanya masalah kecil Shafa. Dan juga proyek ini tidak terlalu besar. Aku terima proyek ini karena tempatnya yang bagus. Bisa sekalian buat liburan. Kapan-kapan kita kesana," usul Guntur.
Shafa pun sudah bersandar di bahunya. Untuk sesaat Guntur membiarkan seperti itu. Lalu ia memegang kepala Shafa agar saling berhadapan. Kini wajah mereka semakin dekat, hembusan nafas bisa saling menerpa wajah masing-masing. Arah pandangan Guntur menuju bibir ranum istrinya. Jemari kokohnya pun mulai berani membelai bibir itu.
Shafa memejamkan mata, ia tentu bisa membaca situasi. Tubuhnya mulai menegang. Rasa takut dan gugup membuat keringat dingin keluar dari pori-pori kulit lembutnya.
Guntur menyadari ketakutan Shafa. Kenapa trauma itu masih saja membekas?
"Buka matamu Shafa! Tatap mataku, buang rasa takutmu itu." Suara Guntur terdengar tegas, membuat Shafa membuka mata dengan sorot ketakutan yang terpancar. Nafasnya mulai tak beraturan. Tubuh Shafa bergetar meski tangan Guntur memegangi kedua bahunya.
"Ma-af aku belum bisa!" ucapan Shafa bergetar.
Guntur segera memeluk Shafa. Dia harus lebih bersabar lagi. "It's ok Shafa. Jangan takut!" Belaian lembut tangan Guntur bisa Shafa rasakan. Air mata tak bisa terbendung lagi.
"Mas Guntur pasti kecewa sama aku. Maaf Mas! Aku benar-benar istri tak berguna." Suara itu terdengar dari sela Isak tangis.
"Kita bisa coba lagi lain waktu. Kamu harus tahu rasanya tidak akan sakit. Buat dirimu rileks Shafa."
"Tapi waktu itu sakit sekali."
Guntur melonggarkan pelukan dan menatap wajah istrinya. "Itu terjadi karena paksaan Shafa. Hubungan itu jika dilakukan dengan cinta tak akan ada yang disakiti. Lagi pula itu adalah sebuah ibadah untuk kita. Aku pria normal Shafa. Mana bisa aku terus tidur dengan seorang perempuan halal tanpa melakukan apapun. Aku bukan Fachri, Shafa." Guntur mulai mengeluarkan sedikit tekanan. Hal itu ia lakukan agar Shafa mau berusaha melawan traumanya. Tak ada niat untuk menyakiti. Justru karena dia sangat mencintai Shafa.
Guntur turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Shafa masih termenung dengan perkataan suaminya. Ya, Guntur pastinya lelaki normal yang punya hasrat untuk disalurkan. Hal yang tak bisa dipungkiri lagi.
Shafa kembali terisak karena ketidakberdayaannya. Dirinya memang salah.
"Sudah jangan menangis terus!" ucap Guntur lembut. Dia sudah selesai dari kamar mandi.
Shafa tak menjawab, lalu Guntur membawa tubuh Shafa berbaring. Tangan kokohnya juga mengusap air mata sang istri dengan lembut.
"Ayo istirahat! Maaf jika kata-kataku menyinggung tadi."
Shafa memiringkan tubuhnya membelakangi Guntur. Air mata masih belum bisa berhenti. Guntur bisa memahami perasaan Shafa. Dia memeluk tubuh dihadapannya sambil memejamkan mata. Mereka berdua terlelap sejenak siang itu.
Sedangkan Samuel masih berdiri dibalkon menikmati kerumitan hatinya. Kenapa dia harus dihadapkan pada situasi yang tak seharusnya? Langit mendung seakan ingin menemani jiwanya yang berkabut.
.
.
.
Hai... Hai... Hai... ! Kita ketemu lagi. Maaf aku yg selalu slow up date. Masih belum dapat hp baru.ðŸ˜
Jadi ini AQ pake hp nya bocil. Untung dia ngerti punya emaknya lagi rusak. Jadi boleh aku pake.
Untuk cerita Samuel akan segera dirilis. Masih mikirin judul sama nama tokoh yang cocok buat pasangan Samuel selanjutnya.
Meski cerita ini sepi pembaca, akan tetep lanjut. Karena ini adalah hobiku. Ada yg baca alhamdulillah kagak ada ya Masya Allah.😅😅😅
Santuy gaes.....kreatifitas tanpa batas. Biar otak aktif terus. Kagak mikirin mulu dunia nyata yang tak seindah bulan. Eh, bulan kan benjol" juga ya penampakan aslinya.😅
__ADS_1
Ok see you all...