Guntur Di Bumi Cinta

Guntur Di Bumi Cinta
Penyelidikan


__ADS_3

Shafa tampak serius berkutat dengan laptopnya. Seharian dia berdiam diri dikamar Guntur. Ini adalah hari ke tiganya berada di rumah itu. Kakinya sudah mulai membaik. Hanya tinggal sedikit nyeri saat dia berjalan. Mungkin kakinya sempat terkilir waktu bertarung. Lukanya juga sudah mengering. Guntur merawatnya dengan sangat baik.


"Hallo! Kalian cek data yang akan aku kirimkan. Tinjau secara langsung kebenarannya," ucap Shafa dalam sambungan teleponnya.


"Baik Nona. Kami akan melakukan penyelidikan yang Nona minta," jawab suara orang diseberang.


Shafa pun menutup panggilan. Setelah penyerangannya tempo hari, Shafa berusaha mencari tau siapa dalang di balik kejadian itu. Jika dulu yang sering mengganggunya adalah paman Maxime. Sekarang siapa lagi yang mengincar dirinya? Sedangkan paman Max masih berada di balik jeruji besi.


Pelaku penyerangan di Cafe tiga bulan yang lalu pun tak dapat dilacak. Mereka memalsukan plat mobil yang di pakai. Semua dilakukan dengan rapi. Sidik jari atau wajah mereka pun tak dapat di lacak. Karena memang waktu itu mereka menggunakan penutup wajah dan juga sarung tangan.


Steven pun tak mendapatkan petunjuk apa pun dari penyelidikan yang dilakukan anah buahnya. Tapi penjagaan untuk Olivia dan juga Gibran sudah diperketat.


Shafa sendiri di jaga oleh bodyguard bayangan yang handal. Karena Steven tahu nyawa Shafa yang paling di incar oleh musuhnya. Lebih tepatnya musuh mendiang orang tua kandung Shafa.


"Hallo Dad!" Shafa beralih menghubungi ayahnya.


"Iya Shafa. Ada apa?"


"Ada yang perlu Shafa tanyakan. Apa paman Max mempunyai keluarga?"


"Daddy tidak begitu tahu. Karena Max dulu selalu bersembunyi. Daddy pun tidak bisa mendapatkan informasi secara detail tentang dirinya. Apa kamu menemukan sesuatu?" Nada bicara Steven terdengar ingin tahu.


"Sejauh ini belum Dad."


"Ya sudah kalau begitu. Kamu jaga diri baik-baik. Jadi istri yang berbakti. Guntur adalah pria yang baik. Dia dulu juga berteman baik dengan Fachri."


"Iya Dad. Shafa udah tau kok. Ya sudah sampai disini dulu. Love you Daddy. Assalamu'alaikum."


Terdengar kekehan Steven dan juga jawaban salam. Shafa punq menutup panggilannya. Kemudian ia berpikir, kira-kira siapa yang bisa ia mintai bantuan. Ponsel yang ada di tangannya pun ia ketuk-ketuk diatas keybord laptopnya sambil mencari jawaban.


"Oh ya. Ada kak Alam yang bisa aku mintai bantuan." Akhirnya Shafa ingat seseorang yang sudah menjadi temannya semenjak berada di kota ini.


Shafa hendak menghubungi Alam. Tapi ia ingat sedang berada di rumah suaminya. Jadi, dia lebih dulu meminta izin pada Guntur jika akan ada temannya yang datang.


Setelah mendapat izin, Shafa segera menghubungi Alam dan mengirimkan alamatnya sekarang.


Sambil menunggu kedatangan Alam, Shafa kembali fokus dengan data yang ia cari. Orang atau pun sebuah instansi perusahaan ia selidiki satu-satu. Barang kali ia bisa menemukan keluarga paman Max.


Dengan hati-hati Shafa menuruni tangga sambil membawa laptopnya. Rumah memang sedang sepi. Samuel pergi ke kampus. Guntur harus mengurus pekerjaan di kantor.


"Bik, nanti kalau ada tamu teman saya, tolong antar ke taman belakang ya Bik. Saya ada disana," ucap Shafa pada bik Minah.


"Baik Non!" jawab bik Minah sambil menganggukkan kepala.


Shafa segera melangkah ke taman belakang. Dia juga menyapa si Kiki yang ada di kandangnya. Kucing itu sudah tampak sehat dan gemuk. Meski berwarna hitam tapi tampak imut dengan sorot matanya yang berwarna biru. Mungkin jika orang yang takut kucing akan memandangnya sebagai kucing yang seram.


Dengan langkah agak tertatih, Shafa menuju bangku yang ada di gazebo.


Setengah jam kemudian Alam sudah tampak menuju taman.


"Hallo Shafa! Aku kangen sama kamu. Udah lama kamu nggak main ke Cafe. Nikah juga nggak ngasih undangan. Udah lupa sama sahabat sendiri." Alam yang baru datang langsung nyerocos.


Shafa hanya mendengarkan apa yang dikatakan Alam. "Udah ngocehnya?"


"Belum selesai. Aku masih mau marah sama kamu Shafa."


"Marah aja kalau berani. Aku aduin sama Fachri," sungut Shafa.


Alam mengambil posisi duduk dihadapan Shafa. Lalu mereka mulai memasang wajah serius.

__ADS_1


"Ada masalah apa kamu sampai menyuruh aku datang kesini?" tanya Alam.


Shafa sedikit memajukan badan, kemudian kedua lengan sebagai tumpuan diatas meja. "Begini Kak Alam, beberapa hari yang lalu aku diserang oleh orang tak di kenal. Aku rasa ada kaitannya dengan paman Max."


"Apa kamu sudah mencoba melakukan penyelidikan?" tanya Alam yang tampak tenang. Dia sudah mengira terjadi sesuatu jika Shafa memanggilnya .


"Sudah, tapi sejauh ini masih belum ada petunjuk. Aku meminta bantuan Kak Alam untuk membantuku memecahkan masalah ini. Aku tak mau terus dalam bayang-bayang orang yang berusaha menyakitiku dan keluargaku. Selama tiga tahun terakhir memang aku bisa bersembunyi dan kali ini mereka sudah tau siapa aku."


"Baiklah Shafa. Aku akan membantu mu. Apa kamu masih menyimpan alat milik Fachri?"


"Maksudnya yang seperti ponsel mini itu?"


"Iya itu Fa. Kamu bisa gunakan itu untuk mengirim sinyal darurat padaku jika kamu dalam bahaya."


"Alat itu ada di rumah daddy. Nanti aku akan meminta Randi mengantarkannya."


"Ok kalau begitu, aku pamit dulu Fa."


"Baik Kak."


Saat Shafa berdiri dan berjalan tertatih, Alam merasa khawatir. Gadis itu sedang dalam keadaan tidak baik.


"Apa orang-orang yang menyerangmu berhasil meninggalkan luka di kakimu?"


Shafa pun mengangguk.


"Sini coba aku lihat dulu!"


Shafa pun kembali duduk. Alam berjongkok untuk memeriksa kaki Shafa.


"Sepertinya terjadi salah urat dengan kakimu Fa. Meski lukanya sudah kering tapi masih nyeri bukan?" tanya Alam sambil mendongakkan kepala menatap gadis yang sedang ia periksa.


"Kak Alam kenapa nggak buka panti pijat saja? Enak lho pijatan kakak," ucap Shafa.


"Kamu mau meledekku hah! Fachri pasti juga pernah melakukan pijatan seperti yang ku lakukan." Alam berdiri dari posisinya setelah menyelesaikan pijatannya.


"Iya memang."


"Kita kan satu perguruan jadi ya sedikit banyaknya pasti kemampuan kami sama. Bedanya Fachri dulu lebih menguasai ilmu tenaga dalam. Kalau aku tak sejago dia. Kamu pasti pernah diajari kan?"


"Pernah. Tapi sulit, aku belum bisa menguasainya," ucap Shafa sambil menggeleng. Fachri memang pernah mengajarinya untuk menguasai tenaga dalam. Namun hal itu belum berhasil.


Alam berdiri dibelakang Shafa. Hendak melakukan sesuatu.


"Kak Alam mau ngapain?"


"Udah diam saja. Tubuhmu perlu relaksasi. Maaf kalau aku harus memegang tubuhmu."


Alam pun melakukan aksinya. Shafa pun merasakan tekanan pada tubuhnya seperti yang dilakukan Fachri dulu. Ketika dirinya kelelahan pasti Fachri akan melakukan pijatan yang membuat tubuhnya kembali rileks.


Tanpa ada yang tahu. Dari dalam rumah ada sepasang mata yang mengawasi kegiatan Shafa dan Alam dengan tatapan sendu. Dia merasa masih belum berguna sebagai suami. Ternyata ia belum sepenuhnya mengenal siapa Shafa.


Apalagi saat melihat Shafa melakukan sparring dengan teman lelakinya itu.


"Kamu sepertinya harus sering berlatih lagi Shafa. Power kamu masih belum maksimal, dan satu lagi. Emosi, kamu harus bisa mengontrolnya dengan baik. Tetap fokus saat kamu bertarung. Apalagi jika musuhmu lebih kuat. Kapan-kapan kita latihan bersama di tempatku," tutur Alam sambil berjalan kembaki ke tempat duduk. Di ikuti oleh Shafa. Nyeri di kakinya sudah banyak berkurang setelah di urut oleh Alam.


"Ok. Nanti aku sempatkan ke tempat latihan Kak Alam."


Mereka pun istirahat sambil meminum jus yang di buatkan bik Minah.

__ADS_1


Alam meketakkan kembali gelas jusnya. "Oh ya, nama suami kamu siapa Fa?"


"Guntur," jawab Shafa singkat.


Alam menjitak kepala Shafa. "Durhaka kamu sama suami. Masak iya cuma panggil nama. Manggil aku aja pakek embel-embel kakak."


Shafa mendengus kesal. "Iiiihhh..." Shafa mengusap kepalanya yang sakit. "Kak Alam apaan sih? Dia aja nggak keberatan."


"Ingat Fa! Surga kamu sekarang ada pada suamimu. Meski pernikahan kalian karena perjodohan tapi hormatilah dia sebagai suami. Paling tidak panggil dengan sebutan "Mas". Jangan samakan posisi dia dengan Fachri! Kejadian di masa lalu harus kamu jadikan pelajaran. Berusahalah menjadi istri yang lebih baik," tutur Alam. Tentu ia tak mau melihat Shafa salah dalam mengambil sikap. Bagaimana pun juga ia berkewajiban mengingatkan gadis yang telah menjadi sahabatnya.


"Iya. Aku akan berusaha merubah panggilanku nanti."


"Nah begitu, Fachri pasti juga bahagia telah berhasil mendidik gadis kecilnya menjadi seorang yang sholehah. Apalagi kamu bisa melanjutkan hidup seperti sekarang. Tatalah lagi masa depanmu dengan baik. Bukankah itu pesan terakhir Fachri. Dia ingin kamu tetap bahagia meski tanpa dirinya. Semua ini sudah ada skenarionya Fa. Kamu tinggal menjalaninya," tutur Alam dengan serius.


"Tapi sangat sulit untuk menjalani ini semua. Meski aku tahu suamiku tulus menyayangiku. Bahkan dia meminta sebuah persahabatan agar bisa dekat denganku."


"Kamu sudah bisa merasakan sendiri, masih ada orang yang akan menyayangimu dengan tulus. Coba buka hatimu. Lihatlah cinta suamimu!"


"Tapi aku takut Kak, jika ada yang tau Guntur adalah bagian dari hal penting dalam hidupku. Keselamatannya akan terancam. Aku selalu dibayangi dengan bahaya. Aku takut hal yang sama akan terulang lagi. Sampai-sampai Fachri jadi korban. Kak Alam sudah tau kan bahwa kecelakaan yang menimpa Fachri adalah sebuah konspirasi dari musuhku. Bahkan supir truk itu lebih memilih mati dari pada mengatakan siapa yang menyuruhnya," ucap Shafa dengan berlinang air mata mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.


Fachri yang sedang mengejar dirinya ternyata sengaja di tabrak oleh truk dari arah yang berlawanan. Waktu itu Shafa menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang terjadi. Setelah Steven melakukan penyelidikan, ternyata itu adalah sebuah kesengajaan.


"Aku mengerti Shafa. Kejadian itu masih membekas dalam pikiranmu. Tapi kamu harus berani melawan takdir. Keluarkan dirimu dari masa lalu. Aku akan selalu membantumu menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Agar kamu bisa hidup tenang. Kita harus bekerja sama Shafa. Dan kamu harus bekerja sama dengan hatimu untuk membuka lembaran hidup yang baru," ucap Alam sambil memegang bahu Shafa. Hanya untuk sekedar memberi semangat.


Shafa pun menyeka air matanya, lalu mencoba tersenyum. "Terima kasih Kak Alam!"


Kemudian Alam pamit pulang. Saat sampai didepan, Shafa melihat mobil Guntur sudah terparkir digarasi samping. Berarti suaminya itu sudah pulang.


Alam sudah melenggang pergi dengan motornya. Shafa langsung masuk menuju kamar untuk menemui Guntur.


Di dalam kamar, Shafa mendapati Guntur sedang duduk santai bersandar di tempat tidur dengan pakaian rumahan. Tangannya sedang memainkan ponsel. Entah apa yang sedang ia lakukan dengan ponselnya itu.


Shafa mendekat dan mengulurkan tangannya. Guntur pun membalas uluran tangan istrinya, Shafa mencium punggung tangan suaminya. Kebiasaan baru yang harus ia biasakan saat suaminya pulang pergi kerja.


Guntut tampak cuek dan jarinya kembali memainkan layar ponsel.


"Tumben pulang siang?" tanya Shafa membuka percakapan.


"Iya. Kerjaan sudah beres, jadi aku pulang cepat," jawab Guntur tanpa menoleh.


Shafa agak merasa heran, tumben Guntur cuek. Biasanya laki-laki itu selalu punya banyak topik untuk dibicarakan. Selalu menyuguhkan wajah penuh semangat ketika ada dirinya. Shafa berpikir, mungkin suaminya itu lelah dengan pekerjaan kantor. Ia memutuskan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat.


"Mungkin ini kesempatan yang tepat untuk menjaga jarak sementara waktu dengan Guntur, sampai semua permasalahanku beres. Aku tak ingin dia berada dalam bahaya karena diriku," gumam Shafa dari balik pintu kamar mandi.


.


.


.


.


🎶Kalau sudah tiada


Baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga🎶


Lanjutin sendiri ya guys...😂

__ADS_1


__ADS_2